Wirdaniel

Wirdaniel
Epilog



...***...


Dear kak Daniel....


...Kalo kakak baca surat ini, itu artinya aku udah pergi jauh ninggalin kakak. Kakak jangan pernah tanya ke siapapun tentang keberadaan aku saat itu. Dan aku berharap kakak bisa jalanin hidup kakak dengan baik....


...Oh iya... Kakak udah putar mp3 yang aku buat? Itu kado buat ulangtahun kakak yang ke-18, sekaligus hadiah kelulusan kakak. Aku harap kakak suka....


...Aku gak tahu harus bilang apa, tapi kata yang terlintas dibenak aku cuman, aku sayang kak Daniel, aku cinta kak Daniel. Aku rindu semua tentang kebersamaan kita....


...Dimasa depan nanti, kalo ada cewek yang kakak suka, jangan ketus-ketus. Gak semua orang kayak aku yang bisa nerima sifat kekanak-kanakkan dan ego kakak....


...Selama ini aku gak pernah bersalah sama siapapun. Terkecuali kak Daniel, aku udah bohongin kakak tentang keadaan aku. Maafin aku, kak....


...Jelas-jelas saling mencintai, tapi dipaksa pisah karena keadaan......


...Aku harap kak Daniel bisa bahagia tanpa aku....


...Berbahagialah,,,...


^^^Dari seseorang^^^


^^^yang sangat mencintaimu,^^^


^^^Wirda Citra Nadira.^^^


...***...


Daniel menutup surat itu dan menyelipkannya diantara buku harian milik Wirda. Dengan handset yang menyumbat kedua telinganya, ia menerawang menatap kerumunan dibawah sana.


1 tahun sudah berlalu semenjak kepergian Wirda, dan 1 tahun itu pula ia menempuh pendidikkan di Amerika.


Kepulangannya kali ini untuk melihat acara kelulusan SMA angkatan Wirda. Ia sangat berharap melihat Wirda tersenyum lebar dan mengatakan kalau ia sudah lulus.


"Selamat hari kelulusan Wirdah..." gumam Daniel menutup matanya. Ia membiarkan angin menerpa wajahnya.


"Kak Daniel..."


Perlahan Daniel membuka matanya kala mendengar suara itu. Suara yang sangat tidak asing di telinganya. Ia menatap kearah samping dan mendapati Wirda berdiri disana dengan memakai dress putih selutut, wajahnya terlihat sangat cantik ditambah rambutnya yang terurai indah.


Daniel terperangah untuk beberapa detik, ia menelan ludahnya serat dengan mata yang tak lepas dari Wirda.


Wirda tersenyum manis dan duduk disamping Daniel, tangan kanannya bergerak menyentuh pipi Daniel yang mulai dijadikan lintasan airmata.


"Kakak kenapa nangis?" tanya Wirda sedih.


Daniel menggelengkan kepalanya cepat. Sungguh ia tak mengangka akan bertemu Wirda lagi disini, diatas rooftop sekolah SMA Cahaya Pelita. Tempat favorit mereka dulu.


"Ini beneran kamu, kan?" tanya Daniel masih tak percaya. Senyumnya mengembang lebar saat melihat Wirda mengangguk kecil.


"Satu tahun ini kamu kemana aja? Aku kangen kamu. Setiap kali aku nanya ke yang lain, mereka selalu ngalihin perhatian. Kak Wildan sama bunda juga pindah."


Wirda mendekatkan wajahnya pada Daniel, dan mencium pipi laki-laki itu lembut.


"Aku balik kesini karena kakak." ucap Wirda tulus, tatapannya begitu sayu saat menatap Daniel.


"Aku bawa kue kesukaan kamu, kita rayain hari kelulusan kamu bareng-bareng, ya?" ujar Daniel yang diangguki Wirda.


Dengan cepat Daniel mengambil kue bolu yang berada disamping kirinya tadi, namun saat ia menghadap kembali kearah Wirda, gadis itu sudah tak ada disana. Perlahan senyum Daniel memudah.


Lagi-lagi ini hanya halusinasinya. Derup harap selalu menghampirinya. Dalam hati, ia bertanya, ke manakah gadis pujaannya itu pergi? Jika dia sudah meninggal, dimana pemakamannya? Jika ia masih hidup, dimana ia tinggal? Sungguh Daniel tersiksa oleh rasa rindu yang memburu hatinya ini.


1 tahun itu sudah berlalu, dan Daniel selalu berhalusinasi tentang Wirda, sampai saat ini ia masih sangat merindukan gadisnya itu. Ia bahkan sampai memutar mp3 yang diberikan Wirda itu selama 30 kali dalam sehari, atau bahkan bisa sampai lebih.


"Kamu pergi lagi." kata Daniel yang tersenyum miris. Ia tertawa meratapi nasibnya yang buruk. Daniel memukul-mukul pelan dadanya yang terasa sesak, isakkan tangis dan tawa itu keluar bersamaan kala Daniel merasakan sakit yang sangat hebat.