
Dalam kamar nuansa putih-pink ini, aku duduk dikursi samping rak buku yang menjulang tinggi. Ditemani secangkir susu buatan bunda, aku kembali mencari beberapa nada balok untuk musikku yang belum terselesaikan.
Kali ini, aku ingin membuat alunan musik yang indah untuk Daniel. Musik ini akan menjadi karya milikku yang tak akan terlupakan.
Dalam waktu dekat ini, ujian mungkin akan dilaksanakan. Aku harap, aku bisa menyelesaikannya sebelum ujian itu berakhir. Pasalnya, karyaku kali ini akan menjadi hadiah ulang tahunnya, sekaligus sebagai hadiah atas kelulusannya. Atau mungkin, ini menjadi hadiah perpisahan untuk kami.
Aku tak tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Tapi yang pasti, itu sudah direncanakan oleh-Nya.
"Dah."
Aku menoleh ke asal suara, dan ternyata itu bunda yang berdiri diambang pintu kamarku.
"Iya, kenapa bun?"
"Ada Daniel."
Apa? Bagaimana bisa ia datang? Bukankah hari-hari lalu ia masih marah padaku? Ia bahkan tak menjawab teleponku waktu itu.
"Oh, suruh masuk aja bun, aku lagi males ke bawah." ujarku yang langsung di sambut senyuman simpul dari bunda.
Ini aneh menurutku, seorang Daniel mengesampingkan egonya untukku? Bagaimana bisa? Sekarang aku semakin yakin kalau aku sudah terlalu jauh merubah Daniel. Daniel yang dulunya selalu kasar dan ketus, berubah menjadi lembut.
"Kenapa gak teleponin aku, gak kangen emang?" ucap Daniel yang berjalan dengan membawa buket bunga lily putih di tangannya.
"Kangen sih, tapi males. Kan waktu itu kak Daniel yang gak mau angkat teleponku."
"Udah sehatan?" lagi-lagi Daniel bertanya seperti bunda. Dia duduk bersandar pada meja didepanku dengan menyodorkan bunga lily itu padaku.
"Wangi." gumamku saat mencium bunga lily itu, mungkin Daniel baru membelinya, terlihat jika bunganya masih sangat wangi juga segar, tak layu.
"Udah sehatan?" ulang Daniel yang membuatku tersadar.
"Eh, iya kak, aku sehat kok, udah sembuh juga. Kan, kemarin cuman kecapean aja."
"Baguslah."
"Kakak ngapain ke sini?"
"Emang gak boleh, ya? Aku nengokin pacar sendiri?" Daniel menatapku dengan tatapan tajam.
Mati aku, jika sudah seperti ini, aku pastikan kalau Daniel akan salah paham dan marah. Daniel itu seperti wanita menurutku, dia posesif dan gampang terpancing emosinya.
"Kita jalan-jalan yuk kak, aku bosen di rumah terus." alibiku yang mengalihkan topik, dan itu langsung di angguki oleh Daniel.
"Yaudah, aku tunggu di bawah. Sekalian mau ngobrol sama bunda." ucap Daniel seraya beranjak pergi, tak lupa sebelumnya ia mengelus lembut surai rambutku
...***...
"Kak, aku mau es krim cokelat." pintaku yang melihat kedai es krim di jalan menuju danau.
"Yaudah, kamu di sini ya, aku beli dulu." Daniel turun dari mobil dan berjalan menuju kedai itu.
Sambil menunggu Daniel, aku melihat-lihat kearah danau. Tempat yang indah itu terlihat sepi, padahal hari ini cuaca sedang sangat bagus. Alih-alih aku menatap seseorang yang menurutku tak asing, itu seperti Redgar, lalu siapa perempuan yang menggandeng tangan Redgar dan bersandar di pundaknya? Aku tahu perempuan itu bukan Ayla, karena Alya tak pernah semanja itu pada Redgar, paling Ayla hanya akan menggandeng tangan Redgar, tak lebih dari itu.
"Hei." panggil seseorang yang menepuk pundakku, aku terkejut. Dan saat itu aku sudah mendapati Daniel yang duduk di sampingku, tepatnya di kursi pengemudi.
"Kak Daniel ngagetin aja deh." kesalku menatap tajam Daniel, yang di tatap malah terkekeh.
"Maaf, abisnya kamu ngelamun, liat apa?"
"Itu tadi aku liat kak Redgar berduaan sama cewek."
"Sama Ayla?" tanya Daniel sambil menyodorkan dua cup es krim padaku, aku rasa ia memintaku untuk memegangnya.
"Bukan, aku juga gak tahu dia siapa, yang jelas aku baru liat." ucapku seraya mengambil es krim itu.
Aku hanya mendengar kata "oh" saja dari Daniel, sepertinya ada sesuatu yang Daniel sembunyikan dan tidak aku ketahui, tapi apa? Aku hanya di buat bingung dengan semua ini. Dan tak lama dari itu Daniel kembali melajukan mobilnya menuju parkiran di dekat Danau.
Aku dan Daniel memilih tempat di pinggir Danau, sesekali aku memakan es krim yang di belikan oleh Daniel, aku bersyukur karena di masa-masaku sekarang, aku bisa merasakan rasa bahagia yang di beri Tuhan lewat sosok Daniel.
Dia sosok yang berhasil membuatku kembali semangat.
"Kak, es krim aku abis. Aku mau yang kakak ya." pintaku dengan mata berbinar.
Daniel hanya meresponnya dengan senyuman dan menyodorkan sesendok es krim itu padaku, tanpa menunggu lama aku langsung membuka mulutku dan melahapnya.
"Enak?"
"Enaklah, apa lagi di suapin sama kakak." ucapku yang langsung di sambut kekehan dariku dan Daniel, sepintas aku langsung teringat dengan hubungan Ayla dan Redgar, hal itu membuatku penasaran.
"Kak, aku mau nanya. Kak Redgar sama kak Ayla itu udah lama ya pacarannya?" tanyaku yang kemudian memakan es krim yang ada di tangan Daniel.
"Iya, mereka udah pacaran tiga tahun."
"Langgeng ya, aku juga mau kisah cinta kita kayak mereka."
"Jangan." selang Daniel dengan cepatnya, aku yang tak mengerti hanya mengernyitkan dahiku.
"Kenapa?" tanyaku bingung, lalu kembali memakan es krim yang Daniel sodorkan kearahku.
"Kayak kak Daniel tadi?"
"Iya,"
"Kalo ada pertemuan, pasti ada perpisahan."
"Kalo kamu di kasih tiga pilihan sama Tuhan untuk akhir cinta kita, mana yang bakalan kamu pilih? Pertama, kita berdua sama-sama bahagia. Kedua, salah satu dari kita bahagia, dan yang satunya lagi menderita. Dan pilihan ketiga, sama-sama menderita." tutur Daniel yang membuatku berpikir keras.
"Aku pilih nomor dua." ucapku dengan tangan yang membentuk huruf 'v'.
"Kok gitu?" tanya Daniel heran, bahkan tangan Daniel yang ingin menyuapkan sendok berisi es krim itu tertahan di udara.
"Karena, kalo kita gak bisa sama-sama bahagia, maka biarin aku yang mengalah kak, aku pengen kakak bahagia, meski bukan aku yang membuat kakak bahagia nantinya. Biarkan aku yang menderita demi kakak bahagia." lirihku yang menatap sendu Daniel.
Kulihat Daniel yang sepertinya berpikir keras, dan aku yang merasa kesal langsung menyosor memakan es krim yang ada di tangan Daniel. Daniel yang melihat tingkahku hanya tersenyum, dia menatap gemas atas tingkahku. Jangan salahkan aku, dianya saja yang lambat.
"Kak Daniel lambat." ucapku pura-pura kesal.
"Ya maaf, lagian kamu sih. Bikin aku pusing sama kata-kata kamu."
Aku hanya tersenyum manis melihat Daniel yang berpikir seperti itu. Kami memang memiliki kepribadian yang sama, yaitu selalu membuat teka-teki, yang kami sendiri tak tahu jawabannya. Biarlah takdir yang menjawabnya, kami hanya butuh waktu untuk menunggunya.
"Aku sayang kakak." lirihku yang kemudian bersandar di bahu kokoh Daniel, dan diapun sama menyandarkan kepalanya diatas kepalaku dengan tangan yang memeluk pundakku.
"Aku lebih sayang kamu."
"Aku lebih-lebih sayang kakak."
"Aku 100% sayang kamu."
"Aku 1000% sayang kakak."
"Kok jadi gini sih?" tanya Daniel bingung, aku juga bingung mengapa jadi seperti ini, yang jelas aku tak ingin kalah dari Daniel.
"Iya, yaudah pulang yuk, udah mulai sore juga." ajak Daniel yang kemudian beranjak dari duduknya, dan dia juga mengulurkan tangannya padaku untuk membantuku berdiri.
Di sepanjang jalan aku dan Daniel hanya mengobrol biasa, sesekali kami mempeributkan hal-hal yang spele.
Aku suka Daniel yang seperti ini, saat bersamaku dia sangat berbeda. Dan aku juga rindu dengan Daniel yang pendiam, ketus, pemarah dan datar.
Dulu aku memang pernah berpikir negatif pada Daniel, berpikir bahwa Daniel adalah laki-laki yang tak baik, laki-laki yang kasar pada perempuan, dan masih banyak lagi tentangnya. Tapi setelah tempo hari aku di jaga olehnya, aku menjadi tahu sifat asli Daniel, dia tak seburuk yang aku bayangkan. Selama ini Daniel hanya membentengi dirinya dari orang-orang, dia tak mudah menerima orang asing masuk dalam kehidupannya, tapi dia sendiri yang akan masuk ke kehidupan orang itu. Aku sendiri masih bingung kenapa Daniel masuk ke dalam kehidupanku, tapi sisi lain aku bersyukur dan sangat bahagia.
"Besok kamu sekolah?" tanya Daniel setelah sampai di depan gerbang rumahku.
"Iya kak, gak enak, kan sebenter lagi ujian." jawabku jujur.
"Aku jemput ya?"
"Iya."
"Gak kerasa, bentar lagi aku bakalan ninggalin kamu."
"Maksud kakak?"
"Sebentar lagi aku bakalan lulus sayang." ucap Daniel lembut, hal itu berhasil membuatku tersipu malu dan juga lega.
"Oh, aku kira kakak bakalan minta putus."
"Kok ngomongnya kayak gitu." ucap Daniel sewot, aku berhasil menyalurkan amarah Daniel sekarang.
"Aku yang salahpaham."
"Kakak gak mau masuk dulu?" tanyaku saat keluar dari mobil milik Daniel.
"Enggak deh, aku ada urusan. Salamin aja ke bunda, dari calon menantu." ujar Daniel, dan di kata-kata terakhirnya dia memberi penekanan yang membuatku tersenyum malu.
"Kak Daniel bisa aja. Yaudah sana."
"Kamu ngusir aku?"
"Iya, kenapa? Inikan rumah aku." ucapku dengan senyum meremehkan, aku rasa kata-kata itu sudah lama tak di gunakan, mengingat jika dulu kamipun pernah seperti ini.
"Oke, aku pulang." Daniel menatap datar padaku, setelahnya dia pergi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Aku menggelengkan kepala melihat perlakuan Daniel yang seperti anak kecil itu, dia masih saja sama, sering terbawa emosi meski aku tak bermaksud menyinggung.
...***...
Hallo kalian semua,,
makasih yang udah baca cerita WirDaniel.
Maafkan jika ada kesalahan. Dan maafkan author yang sudah menggantungkan cerita ini.
Mohon vote & like nya, ya. Jika kalian suka sama cerita ini😃
...terimakasih...