
Setelah dua hari tak sekolah, akhirnya hari ini aku kembali bisa sekolah. Dirumah memang membosankan, ditambah aku sudah lama tak mendengar teriakkan Renata dan Agatha, aku rindu mereka.
"Dah." panggil kak Wildan yang berdiri di hadapanku, aku berhenti membenarkan sepatuku dan beralih menatapnya.
"Kenapa?"
"Pacar kamu tuh udah nungguin di depan. Lagi ngobrol sama bunda."
Apa? Akhir-akhir ini bunda sering sekali mengajak mengobrol Daniel, entah apa yang mereka bicarakan, namun aku tetap berpikir positif.
"Bunda, kak Daniel." teriakku yang berlari menuruni tangga.
Aku sudah tak memperdulikan kak Wildan dan bunda lagi yang sedari tadi hanya bicara Jangan lari nanti jatoh. Aku bosan mendengar kata-kata seperti itu, seakan aku anak kecil yang masih dalam pengawasan orangtuanya.
"Kamu ini nakal banget sih." omel bunda saat aku sudah di depan mereka, aku hanya menyengir tak jelas.
"Bunda, Daniel sama Wirdah pamit pergi ya, bun." pamit Daniel yang langsung menyalami tangan bunda, begitupun aku.
"Iya, hati-hati. Bunda titip anak bunda sama kamu ya, Niel. Dia lemah." ucap bunda, namun dia sedikit berbisik di kata-kata terakhirnya.
Bunda memang menyebalkan, dia tak melihat keadaan, aku tak tahu apakah Daniel menganggapnya serius atau bukan, yang pasti Daniel hanya tersenyum dan mengangguk.
"Bunda mah gitu.... Ndah pamit, assalamu'alaikum." aku dan Daniel berjalan menuju teras.
Aku pikir mobil Daniel ada di depan garasi, namun ternyata di depan gerbang. Dan hal itu mengulur waktu, aku malas harus berjalan. Tak biasanya Daniel memarkirkan mobilnya di depan gerbang.
"Kakak ngobrolin apa tadi sama bunda?" tanyaku setelah Daniel memasuki mobil.
"Kenapa emangnya?"
"Kak, jawab." tegasku, namun masih di hiraukan oleh Daniel, dia hanya fokus pada jalanan saat ini.
"Yang mana?"
"Tadi sebelum aku dateng."
Daniel selalu bersikap sok polos, padahal aku tahu dia hanya mengulur waktu agar bisa menggodaku.
"Yang tadi pagi?"
Ya iyalah yang tadi pagi, orang masih pagi belum siang.
"Iya, ngomongin apa tadi?"
"Ngomongin kamu."
"Tentang?"
"Calon suami."
"Siapa?"
"Aku." jawab Daniel dengan mantapnya, dan jawabannya itu seperti tak ada keraguan sedikitpun di setiap kata yang aku ajukan. Daniel memang yang terbaik, untuk saat ini.
"Terlalu percaya diri, emang kakak yakin aku jodohnya kakak?"
Aku melihat manik mata Daniel dari samping, tak ada yang perlu di jelaskan, wajah Daniel memang sempurna, sangat sempurna tanpa cacat. Aku mengaguminya, pantas saja banyak wanita yang tergila-gila terhadapnya. Dan tanpa disadari, ujung bibirku melengkung membuat sebuah senyuman, aku mengagumi Daniel dari segi apapun, karena dia, aku kembali merasakan Surga dunia yang disebut cinta.
"Harus dong, kamu emang jodoh aku." yakin Daniel yang sesekali menatapku.
"Tahu dari mana?" aku mengerutkan dahiku tak paham.
"Tuhan."
"Dari mana kakak tahu kalo Tuhan ngomong kayak gitu?"
"Kan aku selalu minta kamu buat jadi jodoh aku."
"Kalo aku bukan jodoh kakak?"
"Maka jadikanlah aku jodohmu."
Seketika bulu kudukku merinding, Daniel selalu mempunyai banyak cara untuk membuatku melayang. Kali ini aku benar-benar melihat sosok Daniel yang sebenarnya. Aku tak paham kenapa Daniel bisa seserius ini dengan ucapannya, dia mengucapkannya tanpa ada keraguan sama sekali. Terlalu percaya diri dan sedikit egois.
"Kalo aku gak mau jadi jodoh kakak gimana?" aku menaikan sebelah alisku, menatap Daniel penuh dengan penasaran.
"Kita liat nanti." jawaban Daniel kurang memuaskan bagiku, dan itu sedikit misterius.
Biar takdir yang menjawabnya, aku dan Daniel hanya bisa mengikuti alurnya.
"Oke!"
...***...
Sesampainya di area sekolah, banyak pasang mata yang menatapku dan Daniel, aku yang tak tahu ada apa hanya memberikan tanda tanya. Sepertinya mata-mata itu memandang tak suka padaku dan Daniel, tapi apa yang terjadi? Sepertinya aku tertinggal cerita lagi.
"Udah gak usah di liatin."
Suara bass milik Daniel itu mengintrupsi diriku, dia sepertinya tahu apa yang ingin aku tanyakan hingga langsung bicara demikian.
"Kak, sebenernya ada apa sih? Kakak buat onar lagi ya?" aku menatap tajam Daniel, namun yang di tatap hanya acuh tak acuh dan berjalan dengan santai, dia tak memperdulikan sekitar, bahkan tak merasa risih sama sekali.
"Udah gak usah di pikirin terus, ke kelas sana. Aku mau ke kantor dulu."
"Tuh, kan. Kakak pasti bikin onar lagi, iya kan?"
"Enggak Wirdah, aku cuman kamu ketemu kepala sekolah doang, tadi dia ngirim pesan katanya ada barang yang mau di titipin buat papah."
"Yaudah."
"Kasian banget ya ceweknya. Kalo dia tahu pacarnya selingkuh sama sahabat sendiri pasti nyesek banget."
"Iya, gue kalo jadi dia, udah di putusin aja tuh cowok. Gak punya perasaan banget, padahal udah punya cewek tapi masih selingkuh aja."
"Gue juga kasian sama pacar selingkuhannya, kalo dia tahu. Pasti langsung di putusin, gak nyangka."
Samar-samar aku mendengar gosip seperti seperti itu di depan kelas, bahkan di dalam kelaspun masih terdengar gosip seperti itu. Sepertinya ada yang serius hingga hampir semua orang menggosipkan hal itu hingga penjuru sekolah.
"Ada apa sih?!" tegasku sesampainya di depan kelas.
Anak-anak yang tadinya bergosip dengan asik, kini mulai terdiam dan menatapku. Mereka tersenyum canggung kearahku disertai dengan gelengan kecil yang menandakan tidak ada apa-apa.
Aku hanya menghela nafas kasar lalu duduk disamping Agatha. Begitupun Agatha dan Renata, sedari tadi mereka hanya diam menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kalian berdua kenapa? Kok ngeliatinnya gitu banget?" aku menatap heran dua anak yang duduk di depan serta sampingku.
"Hah? Ehh, gak papa kok." ujar Agatha sedikit gugup.
Aku bingung, ada apa dengan mereka semua?
"Ren, tha. Ngomong deh, ada apa sih?" paksaku yang mendesak mereka agar mau bicara.
Namun belum juga Renata dan Agatha menjawab, guru sudah datang.
...***...
"Wir, lo udah denger ceritanya?" tanya Renata dengan wajah serius.
Aku hanya menggeleng kecil lalu kembali memakan baksoku yang tersisa hanya satu suapan lagi.
"Kalo gue cerita, lo bakalan marah gak?" tanya Renata hati-hati, sepertinya dia dan Agatha merahasiakan sesuatu dariku.
"Tergantung." ucapku acuh tak acuh, kemudian menaruh mangkuk yang kini sudah kosong dan menyesap es jerukku.
"Kalo gitu, gak jadi deh."
"Loh, kenapa?"
"Kita takut lo marah, terus sedih." timpal Agatha dengan wajah yang sama persis seperti Renata.
Mereka kenapa?
"Yaudah cerita aja, dari pada aku marah ke kalian karena gak dikasih tahu, hayoh." aku beralih mengambil tisu dan mengelap bibirku yang berminyak.
"Sebenernya, anak-anak ngomongin ten__"
"Wirda."
Oh, ayolah. Siapa yang memanggilku dan memotong ucapan Renata? Apa dia tidak tahu aku sedang serius mendengarkan mereka?
"Wir, gue mau ngomong sama lo."
Aku mendongak menatap laki-laki yang berdiri di samping mejaku, Max? Kenapa dia? Sepertinya dia sedang buru-buru.
"Ada apa, ya kak?" tanyaku ragu.
"Gue minta waktunya sebentar, ikut gue yuk!"
...***...
"Kenapa?" Daniel menaikan sebelah alisnya menatap Ayla yang sedari tadi diam dan terus menunduk.
Sejak tadi Ayla memang bilang jika dia ingin membicarakan sesuatu dengan Daniel, tapi sedari tadi juga dia belum membuka mulutnya untuk bicara. Ada apa dengannya?
"Redgar..." lirih Ayla, namun detik berikutnya ia mendongak menatap Daniel dengan mata berkaca-kaca, kenapa lagi ini?
"Redgar kenapa? Dia nyakitin lo lagi?" Tanya Daniel namun mendapat gelengan Dari Ayla.
Seketika tangis Ayla pecah, ia terisak dengan sangat rapuh. Daniel yang melihat ini hanya menatap kasihan pada Ayla, sejak kecil Daniel tidak pernah melihat Ayla menangis seperti ini, ini pertama kalinya Ayla menangis karena laki-laki, dan itu Redgar.
"Redgar, gue minta putus sama dia. Dan dia mutusin gue Niel." seketika tangisnya semakin kencang, untung di taman belakang tak ada siapapun selain mereka jadi Ayla bisa dengan leluasa menangis.
Wanita memang membingungkan bukan, dia yang minta putus. Lalu setelah di putuskan mereka juga yang merasa paling dirugikan dan tersakiti.
"Dia jahat Niel, demi cewek itu dia ninggalin gue. Gue benci sama dia, dia brengsek." lirih Ayla, dan kemudian Daniel membawanya kedalam pelukannya.
Daniel tak tahu harus berbuat apa, kali ini dia benar-benar merasa bersalah karena telah membiarkan sahabatnya jatuh cinta pada laki-laki yang salah. Jika dia tahu akhir kisah Ayla dan Redgar akan seperti ini, maka dia tak akan membiarkan Ayla mengenal Redgar. Sekarang semuanya sudah terlambat, dia sudah kalah, Ayla merupakan kelemahan terbesar Daniel sebelum Wirda. Jadi dia tak akan membiarkan siapapun menyakiti sosok Ayla yang rapuh.
"Ada gue di sini, lo gak sendiri." ujar Daniel sambil mencium kening Ayla, dia semakin mempererat pelukannya pada Ayla seakan sedang menyalurkan kekuatan pada gadis itu.
"Kak Daniel."
...***...
Hallo kalian semua,,
makasih yang udah baca cerita WirDaniel.
Maafkan jika ada kesalahan.
Salam kasih dari Author
Mohon vote & like nya, ya. Jika kalian suka sama cerita ini😃
...terimakasih...