
Daniel berjalan mundar-mandir didepan pintu ruang UGD. Sudah hampir setengah jam ia menunggu dokter keluar, berharap dokter itu memberitahunya bagaimana keadaan Wirda didalam sana.
"Daniel." Indah datang bersama Wildan yang memasang wajah khawatir.
"Bun."
"Gimana keadaan Wirda?"
"Daniel gak tahu, sampe sekarang dokternya belum keluar juga." ucap Daniel.
Wildan membawa sang bunda untuk duduk dikursi depan ruang UGD. Sejak dulu hingga sekarang, ini adalah pertama kalinya Wildan sangat-sangat mengkhawatirkan Wirda. Ia tak pernah menyangka hal ini akan terjadi pada adiknya.
Clekk...
Pintu ruangan terbuka dan dokter berjas putih keluar dari sana. Itu dokter Keyra, dokter yang biasa mengobati Wirda.
"Key, gimana keadaan Wirda?" tanya bunda Indah yang bangkit dari duduknya.
"Dia udah melewati masa kritisnya, keadaannya sekarang lebih parah dari sebelumnya. Lebih baik melakukan transplantasi jantung secepatnya." ujar dokter Keyra.
Wildan memeluk tubuh sang bunda dari samping, ia tahu, mendengar itu tubuhnya pasti akan melemas. Ia tak tega melihat Wirda terbaring lemah tak sadarkan diri diatas brankar.
"Maafin Daniel, bun. Daniel gak bisa jagain Wirda." sesal Daniel yang menundukkan kepalanya didepan Indah.
Wildan menghela nafas pasrah dan menepuk pundak Daniel. "Ini bukan salah kamu, tapi udah takdir."
"Niel, kamu boleh pulang. Besok kamu masih harus sekolah bukan? Biar bunda yang jagain Wirda." ujar Indah memasang senyuman yang terlihat dipaksakan.
"Daniel pamit bun,"
Daniel menyalami tangan Indah dan pergi meninggalkan rumah sakit. Ia tak tahu siapa yang melakukan ini, tapi semuanya terasa janggal. Banyak yang bilang jika gadis itu pergi bersama Ayla sebelum kejadian ini terjadi. Apa mungkin Ayla? Atas dasar apa gadis itu mendorong Wirda? Mereka berteman baik. Ayla tak akan mungkin melakukan hal sekejam itu.
...***...
2 hari kemudian...
Daniel membuka pintu ruangan, ia tersenyum tulus menatap gadis kecil yang berbaring diatas ranjang. Dia meletakkan buket bunga lily yang dibawanya diatas meja dan duduk disamping Wirda.
"Kenapa dateng?" tanya Wirda lemah.
Daniel menekuk wajahnya menatap sebal Wirda. Gadis itu, tak tahukah Daniel yang rindu melihat wajah dan suaranya? Bisa-bisanya ia bertanya kenapa Daniel datang, padahal Daniel menunggu momen ini. Dimana Wirda sadar dan ia bisa berbincang ria lagi. Sungguh, selama 2 hari ini Daniel kesepian, ia selalu menemui gadis itu yang tak sadarkan diri. Ia merindukan Wirda yang bermanja padanya.
"Kamu gak suka aku dateng?" tanya Daniel ketus.
"Bukan gitu. Besokkan acara Wisuda kakak."
"Kan besok, bukan sekarang. Lagian aku juga kangen sama kamu. Udah 2 hari aku nungguin kamu bangun."
"Tapi kan sekarang aku udah bangun." celetuk Wirda membuat Daniel geram.
Daniel menghela nafasnya pasrah dan menaruh kepalanya disamping Wirda. Tatapannya terlihat sayu dan kelelahan. Wirda yang melihatnya langsung mengusap halus rambut Daniel. Ia tahu, pasti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Namun Daniel ragu.
"Kakak gak mau bilang apapun lagi?" tanya Wirda yang menatap Daniel lekat.
"Kejadiaan hari itu... Apa bener Ayla?" tanya Daniel ragu.
Wirda terdiam sebentar, ia tak tahu siapa yang mendorongnya saat di rooftop. Yang ia tahu, hanya ada seorang gadis berambut pirang yang mengulurkan tangannya. Namun tak dapat Wirda gapai.
"Bukan, aku yang ceroboh. Kakak jangan salahin kak Ayla, ya?" ujar Wirda berbohong.
Ia tak mau masalah ini diperpanjang.
"Kamu serius?" tanya Daniel tak yakin.
"Iya,"
Daniel mengangkat kembali kepalanya dan meraih tangan Wirda. Ia menciumnya lama sambil memejamkan matanya.
Daniel sangat merindukan Wirda. Namun hari ini ia juga harus ke pulang. Terlebih hari sudah mulai gelap. Mungkin ia akan pergi setelah Wildan kembali dari urusannya.
...***...
"Bagaimana keadan Wirda?" tanya Ana pada Wildan. Gadis itu melipat kedua tangannya didepan dada dan menaruh kaki kirinya diatas kaki kanannya.
"Baik."
"Jelasin apa?"
"Victoria, Wirda harus tahu tentang itu."
"Ini belum saatnya, gue takut kalo keadaan dia memburuk."
Ana menyunggingkan sebelah bibirnya yang berwarna merah muda. Ia bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Wildan didalam cafe.
Gadis berumur 18 tahun itu mengendarai mobil miliknya kearah rumah sakit dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya disana ia langsung masuk, banyak orang yang menatapnya kagum. Bagaimana mungkin, Ana terlihat sangat cantik, terlebih lagi pakaiannya yang membuatnya terlihat lebih elegan dan berkuasa.
Ana membuka pintu ruangan Wirda, dan disana ia langsung menatap Wirda tanpa memperdulikan Daniel. Senyuman simpul yang menyeramkan tercetak dibibirnya, ia melepas kacamata hitamnya, dan berjalan lebih dekat pada Wirda.
"Hai, Wirda Citra Van Dira." sapanya membuat Wirda cukup terkejut.
"Kak Ana?" Wirda mengerutkan dahinya bingung. Bagaimana bisa dia tahu kalo Wirda dirawat dirumah sakit ini?
"Lama tak jumpa."
"Lo siapa?" ketus Daniel yang berdiri dari duduknya.
"Daniel Carlent, kita bertemu lagi." Ana melangkah mendekati Daniel, dan tersenyum hangat padanya. "Senja Alana."
Daniel membuang muka kearah lain, ia seolah enggan melihat gadis itu.
"Aku ingin bicara dengan Wirda. Berdua." ucap Ana yang menekan kata-kata terakhirnya.
"Gue gak akan pergi dari sini, gue gak tenang ninggalin Wirdah berduaan sama cewek kayak lo!" sentak Daniel yang menatap tajam Ana.
Wirda memegang tangan Daniel, seolah mengisyaratkan agar laki-laki itu tenang. "Gak apa-apa, kak. Kakak pulang aja, bentar lagi juga kak Wildan datang. Ndah baik-baik aja kok."
Daniel menatap Wirda lama seakan mencari kebenaran dari kata-kata gadis itu. Jujur sebenarnya ia enggan meninggalkan Wirda dengan gadis yang ia tak sukai. Terlebih Ana adalah gadis yang menurutnya tak biasa. Mengingat apa yang pernah Ana katakan padanya waktu itu, Daniel geram. Namun apa daya, Wirda yang meminta.
Dengan rasa berat Daniel menggendong tas miliknya dan pergi meninggalkan ruangan Wirda. Sebelum itu ia sempat mencium kening Wirda.
Dan disinilah sekarang. Diruangan yang sepi, dan bernuansa putih. Ana menaruh tasnya diatas meja, dan duduk dibangku samping Wirda. Tangannya bersidekap, dan kakinya saling menumpuk. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan menatap Wirda lekat.
"Ada yang mau kamu katakan, Wirda?" tanya Ana terus terang.
Wirda terdiam sebentar, ia bingung, apa maksud Ana? Kenapa ia menanyakan hal itu.
"Kamu gak mau tahu tentang seseorang yang kamu lihat di rooftop?" tanya Ana lagi.
"Kak Ana tahu?"
Ana menyunggingkan senyumnya dan mengotak-atik handphone miliknya, lalu menunjukkan pada Wirda. Didalam handphone itu ada foto seorang gadis yang sangat cantik. Gadis yang ia lihat saat akan jatuh dari rooftop sekolah.
"Dia siapa?"
"Victoria Van Dira, kakak kamu. Dia meninggal 5 tahun yang lalu, tepat saat ulang tahunnya yang ke-20."
Deg....
Bak tersambar petir disiang bolong, Wirda sungguh terkejut mendengarnya. Ia tak pernah menyangka kalo ia punya kakak perempuan. Kenapa bunda ataupun Wildan tak memberitahunya? Kenapa ia harus tahu dari orang lain? Wirda masih tak percaya. Ini semua pasti bohong pikirnya.
"Dia bunuh diri, diatas gedung berlantai 80. Sebelum meninggal, ia menembak dirinya sendiri, ada 5 bekas tembakkan di tubuhnya dan dia menjatuhkan diri dari atas gedung itu." jelas Ana yang menatap Wirda.
"Kak Ana bohong. Iya, kan?" tanya Wirda tak percaya. Matanya terasa memanas. Ia tak percaya kenapa ada gadis yang memilih bunuh diri dengan cara tragis seperti itu?
"Terserah kamu mau percaya atau nggak. Aku sudah mengatakannya, dia ada disini. Disampingku."
Wirda langsung mengedarkan pandangannya. Namun ia tak melihat apapun, sampai akhirnya Ana memegang tangan Wirda dan Wirda langsung melihat sesosok gadis yang sangat cantik bak bidadari bergaun putih. Yang saat ini tersenyum manis menatapnya.
"Wirda..." panggilnya lembut, suaranya sungguh sangat lembut.
Victoria berjalan mendekati Wirda dan menyentuh pipi gadis itu. Wirda sedikit merinding, ia merasakan sebuah tangan yang sangat dingin menyentuhnya.
"K-kakak?" gugup Wirda ketakutan.
Jangan bodoh, ini adalah pertama kalinya Wirda berkomunikasi dengan seseorang yang sudah mati. Dan itu cukup mengerikan.
"Ikut kakak, oke?"