
Angin siang berhembus kencang mengibaskan rambutku yang tak diikat. Aku kembali menengadahkan pandanganku ke seluruh gedung yang menjulang tinggi dari atas sini.
Kali ini aku dan Daniel sedang di rooftop sekolah, duduk di sisi gedung dengan kaki yang sengaja di turunkan. Jujur saja aku takut sebenarnya, tapi setelah mencobanya aku rasa tak semenakutkan yang aku pikirkan. Malah menantang dan menyenangkan.
Aku memilih makanan yang ada di sampingku dan kembali memakannya, entah seberapa banyak makanan yang sudah masuk ke perutku, akupun tak tahu.
"Gimana perasaan lo?" tanya Daniel yang melirikku sekilas.
"Baik."
"Lo suka?"
"Suka."
"Kalo gue?"
Aku melirik Daniel yang sedang menyeringai menatapku, tatapan itu sulit untuk aku jelaskan, karena akupun tak tahu itu tatapan apa.
"Nggak, aku gak suka sama kak Daniel." ketusku dan kembali menyuapkan roti ke mulutku.
"Nanti juga suka." ucap Daniel seakan meremehkan.
"Jangan terlalu percaya diri, itu sama aja kayak kakak menjatuhkan diri sendiri."
"Gue gak pernah ngejatuhin diri sendiri, emang kenyataannya kayak gitu. Nanti juga lo suka sama gue."
"Kepedean."
"Ya gak papa."
"Ihh, kak Daniel nyeselin banget sih jadi orang."
"Ralat, ngangenin kali." ujar Daniel yang kemudian mengambil minuman botol milikku dan meminumnya hingga tandas.
"Gak sopan banget sih jadi orang."
"Salah sendiri, kenapa gak beliin buat gue."
Daniel menutup kembali botol itu dan membuangnya ke bawah. Bagiku itu benar-benar tak baik.
"Kak Daniel bisa gak sih, gak nyampah? Kan kasian yang di bawah." omelku dan Daniel hanya mengangkat bahunya serasa omelanku itu tak penting baginya.
Menurutku, hal yang di lakukan oleh Daniel itu suatu pelanggaran besar dalam hidupku. Bayangkan saja jika ada orang yang berjalan di sana dan tertimpuk oleh botol yang di lempar oleh Daniel tadi, kan bahaya. Dia selalu saja bertindak sesukanya dan selalu saja memerintah tanpa mau di perintah.
"Lo liat kebawah." ucap Daniel yang membuatku mengikuti arah pandangnya.
Jujur aku sedikit ngeri jika melihat kebawah, ingatlah kami berada di rooftop yang berlantai 3. Dan saat aku melihat kebawah, aku tak menemukan apapun. Hanya ada lapangan luas, kursi-kursi yang berjejer rapi di pinggir lapangan yang mengarah pada taman, juga tempat sampah.
Tunggu, apa tadi? Tempat sampah? Tidak mungkinkah Daniel...
"Gue menjaga kebersihan, dan gue gak buang sampah sembarangan." sergah Daniel sebelum aku bertanya.
"Serius bisa sampe situ?" tanyaku tak percaya.
Kenyataannya, tempat sampah itu sangat jauh dari ketinggian ini.
"Iyalah. Minta maaf?"
"Iya, maaf."
"Yang ikhlas dong." pinta Daniel yang membuatku malas harus menuruti keinginannya. Karena jika tidak, maka Daniel akan terus memaksa sampai apa yang dia inginkan tercapai.
"Aku minta maaf ya kak Daniel." ucapku dengan memasang senyuman simpul yang tak ada keikhlasannya sama sekali.
"Gue maafin."
"Lo asli Bandung?" tanya Daniel yang melirikku sekilas.
"Kok tahu?"
"Gak penting. Ngapain lo pindah ke sini?" ketus Daniel dengan menatap sinis kearahku.
"Kalopun aku tahu bakalan ketemu sama cowok kayak kak Daniel di sini. Pastinya aku gak akan pernah mau sekolah disini."
"Nikmati, syukuri, jalani. Itu tips supaya hidup lo nyaman dan damai. Dan satu hal yang harus di hindari, mengeluh."
Aku yang mendengar kata-kata itu hanya menatap Daniel tak percaya, pasalnya laki-laki ketus seperti Daniel juga masih bisa berkata bijak.
Daniel yang seakan merasa di perhatikan langsung menatapku, sejenak tatapan kami bertemu, namun kuputuskan kontak itu karena aku yakin, jika berlama-lama bertatapan dengan Daniel akan membuat pertahananku goyah seketika.
"Gue tahu, gue ganteng." celetuk Daniel dengan pedenya.
Aku mengernyitkan dahiku. Heran rasanya dengan Daniel yang selalu percaya diri ini, meski aku tahu Daniel memanglah tampan.
Kuambil handphoneku dan melihat ada pesan dari bunda lewat WhatsAap.
...📚📚📚...
...Bundanya Ndah bukan kak Wildan💕...
Udah minum obat?
^^^Udah kok bun. Tadi sebelum istirahat^^^
Nanti pulangnya di jemput sama pak Budi ya.
^^^Loh emang kak Wildan kemana bun?^^^
Belum juga aku membalas pesan dari bunda tadi, namun handphoneku terburu di rebut oleh Daniel. Satu hal yang aku takutkan, handphoneku terjatuh ke bawah.
"Kak Daniel apaan sih!" kesalku yang berusaha mengambil handphoneku dari tangan Daniel, namun tangan lelaki itu cukup panjang hingga aku kesulitan saat ingin mengambilnya.
"Gue gak suka sama orang yang kalo lagi sama gue, dia malah asik sama handphonenya." ujar Daniel yang kemudian menaruh handphoneku di saku celananya.
"Tapi tadi bunda aku loh kak."
"Nyokap lo ini, bukan nyokap gue."
"Ihhh, ngeselin banget sih jadi orang."
"Ngangenin kali."
"Bodoamat." rajukku yang mengkerucutkan bibirku.
"Lo lucu." ucap Daniel di susul kekehan darinya.
Aku yang berusaha menutupi kesalah tingkahanku hanya tersenyum masam kearahnya,"Makasih. Tapi aku bukan badut."
"Siapa juga yang bilang lo badut?"
"Lah."
"Apaan? Mau ngajak berantem lagi? Emang tuh mulut gak capek apa marahin orang terus?"
"Abis kak Danielnya aja ngeselin... Gak jadi deng, takutnya nanti di ralat lagi."
"Lo cantik, ya."
Bagaikan di siram oleh air dingin dari kulkas di pagi hari oleh kak Wildan, aku yang mendengar Daniel mengatakan demikian malah terkejut. Dia terlalu blak-blakan jika bicara, seakan yang diajak bicara itu tidak merasakan apapun.
Andai dia tahu jika wanita itu mudah sekali baper, mungkin ia tak akan mengatakan itu. Secara, wanita itu tercipta dari tulang rusuk yang mudah patah, dan tulang rusuk itu dekat dengan hati. Jadi wajar jika wanita mudah baper dan kecewa dalam sewaktu-waktu.
"Tapi sayangnya gue gak suka poni lo yang di ke sisiin. Jadi gak keliatan kayak anak kecil."
"Suka-suka aku dong, inikan rambut aku. Kenapa kak Daniel yang ngatur, emang kak Daniel siapanya aku."
Itulah aku ketika bersama Daniel, entah aku yang menggas, ataukah Daniel. Itu sama saja.
"Perkataan lo kayak yang ngarep." Daniel kembali menatap ke depan dengan mata yang kembali ia tutup.
"Maksudnya?" tanyaku tak mengerti.
Aku menatap Daniel dari samping, ia masih diam, tapi senyuman aneh tercetak di bibirnya.
"Ya, lo berharap jadi pacar guelah. Apa lagi?"
Aish, Daniel memiliki kepedean tingkat dewa sepertinya. Dia terlalu percaya diri tanpa ingin tahu kedepannya mungkin ia dapat penolakkan atas tingkah percaya dirinya itu. Aku yakin itu, di masa depan, Daniel akan menerima akibatnya atas kepercayaan dirinya itu.
"Serius? Gak kebalik?" aku mengangkat sebelah alisku dan mengulas senyum meremehkan.
"Kebalik juga gak papa."
"Udah, ah."
Aku mulai diam, tatapanku beralih ke depan untuk melihat lalu lalang orang-orang, termasuk siswa-siswi di lapangan. Kulihat banyak dari mereka yang memilih istirahat dan tidur di taman. Dibandingkan di kelas, taman jauh lebih menarik untuk menjadi tempat tidur, udara yang sejuk, teduh dan banyak angin sepoi-sepoi, menjadi ciri khas taman di SMA Cahaya Pelita ini.
Tapi entah kenapa, rooftop kini menjadi tempat favoritku. Meski cuaca sekarang kurang mendukung karena sinar matahari yang sangat terik, tapi itu bukan halangan bagiku.
Aku menyukainya, karena dari atas sini aku benar-benar mendapat kedamaian, ketenangan dan kesenangan. Walaupun aku tahu, orang di sampingku ini tidak menyenangkan dan selalu saja mengajak ribut.
"Oh, ya. Soal biola lo, nanti gue ganti, ya?" ujar Daniel yang memecahkan keheningan.
"Gak perlu, karena mau semahal dan sebagus apapun yang kak Daniel ganti nanti, gak akan pernah berharga buat aku."
"Kok gitu?"
"Biola itu buatan kakak aku, itu hadiah dari dia pas ulangtahunku yang ke-14 tahun."
Aku kembali teringat kejadian masa duluku, masa di mana kak Wildan mulai membuka studionya sendiri dan mulai membuat peralatan musik, semacam gitar dan masih banyak lagi. Dan biola itu, biola pertama yang dia buat, khusus untukku. Aku selalu ingat itu. Tapi apa boleh buat jika justru biola itu harus rusak karena Daniel. Meski yang patah bukanlah badannya, tapi tetap saja. Tanpa bridge, biola tak akan menghasilkan suara apapun, karena bridge adalah jantung dari biola sendiri. Ya, bridgelah yang patah, karena saat itu posisi jatuhnya terbalik.
Sangat di sayangkan bukan?
"Gue gak tahu, tapi gue bakalan tetep ganti kok." ujar Daniel penuh kepercayaan.
Sebenarnya aku tak yakin, karena memang bagiku mau sebagus, semahal, semirip dan sebanyak apapun barang pemberiannya itu, jika tak bisa mengembalikkan kenangan yang sudah berlalu, lantas untuk apa lagi? Tak ada gunanya, bukan?
"Terserah kak Daniel aja." pasrahku.
"Ayo." Daniel berdiri dan mengulurkan tangannya kearahku.
Aku yang tak paham hanya mengernyitkan dahiku dengan menatap Daniel, juga tangannya silih berganti.
"Kemana?"
"Ke kelaslah, lo mau belajar bolos?"
Kutatap datar Daniel yang lagi-lagi bicara ketus seperti tadi. Dan dengan gerakan seribu aku langsung berdiri dan berjalan melewati Daniel yang masih seperti tadi. Dengan tangan yang dia ulurkan maksudnya.
"Heh, gue udah baik, ya. Jadi gak usah sok jual mahal sama cowok ganteng kayak gue!" teriak Daniel yang masih di tempatnya.
...***...