
"Dah, tuh Daniel datang." ujar Wildan yang duduk disamping Wirda.
Wirda meneguk susu hangatnya hingga tandas, lalu berdiri mengambil tasnya. Ia berjalan kearah sang bunda dan menyalami tangannya.
"Ndah pamit ya, bun."
"Iya, hati-hati."
Wirda berjalan keluar rumahnya, dan masuk kedalam mobil milik Daniel.
"Maaf lama," ucap Wirda sambil memakai sabuk pengamannya.
Daniel tersenyum manis kearah Wirda. "Gak apa-apa,"
Wirda diam, pandangannya menatap jalanan yang kian ramai oleh kendaraan. Pikirannya kabut, ia memikirkan tentang seseorang yang mengiriminya pesan semalam. Pesan tanpa nama.
Entahlah, akhir-akhir ini Wirda seringkali mendapati pesan misterius, bahkan hadiah yang tak tahu asal-usulnya. Ia teringat seseorang yang pernah ia temui saat di Bandung, seseorang yang memberinya saran untuk melanjutkan sekolah di Belanda. Ana? Bukankah nama gadis itu Ana?
"Dah, kamu kenapa?" tanya Daniel yang melirik Wirda sesekali. Memang dari tadi ia melihat gadis kecil itu terus saja melamun. Bahkan saat menaiki mobilnya, Daniel tak melihat semangat dari diri Wirda.
Wirda memperbaiki posisi duduknya dan menatap Daniel dengan senyum simpul. "Aku gak apa-apa kok, kak."
"Kamu udah liat pengumuman di forum sekolah?" tanya Daniel.
"Udah, katanya jum'at sekarang bakalan diadain acara Wisuda buat kelulusan kelas 12."
"Kamu udah nyiapin hadiah buat aku?" tanya Daniel yang tersenyum menggoda Wirda.
Wirda tertawa kecil sambil mencubit lengan Daniel pelan. "Emang yang ada di pikiran kak Daniel cuman hadiah, ya."
"Haruslah, kan jarang-jarang dapet hadiah dari kamu."
"Mas mantan tenang aja, aku udah siapin kok." ujar Wirda yang langsung membuat Daniel terkikik geli.
...***...
Wirda berjalan bergandengan tangan dengan Daniel, disepanjang koridor kelas banyak orang yang melihatnya iri. Entahlah, tapi hari ini ia selalu ingin menempeli Daniel. Ia merasa sangat merindukan laki-laki itu, padahal kemarin mereka bertemu.
"Kita mau kemana?" tanya Daniel pada Wirda.
"Ketempat paling nyaman disekolahan ini."
Daniel menyunggingkan senyuman manisnya pada Wirda, ia tahu kemana Wirda akan membawanya. Selama satu minggu ini, mereka dibebaskan, namun sayangnya masih harus tetap pergi kesekolah untuk mendapatkan info. Wajarlah, guru-guru sedang sibuk menyusun raport dan acara perpisahan yang akan diselenggarakan disekolah.
Wirda merentangkan kedua tangannya dan memejamkan matanya saat angin berhembus menerpa tubuh dan wajahnya. Ia akan sangat merindukan saat-saat seperti ini bersama Daniel disekolahan ini.
"Nanti, setelah aku lulus. Aku bakalan sering-sering kesini, nemenin kamu bolos di rooftop." ujar Daniel yang memeluk tubuh Wirda dari belakang dan menopang dagunya dibahu Wirda.
"Siapa juga yang mau bolos." ejek Wirda seolah menyindir Daniel.
"Kamu,"
Wirda terkikik geli mendengar Daniel bicara demikian, sikap Daniel kekanak-kanakkan dan manja saat bersama Wirda. Namun ia suka itu.
"Kakak masih inget gak? Waktu pertama kali kakak bawa aku kesini? Kita duduk ditepi sana." Wirda menunjuk ujung gedung yang ada sebuah coretan bertulis WirDaniel selamanya. "Kakak bilang, aku cantik. Tapi kakak gak suka poni aku yang dikedepanin."
"Inget, kamu sering bilang kalo aku itu nyebelin. Terus aku bakalan meralatnya jadi ngangenin." Daniel menatap kedepan seolah melihat bayangannya dulu saat bertengkar dengan Wirda.
Tangan Wirda bergerak menyentuh tangan Daniel yang memeluknya, "Aku inget momen-momen kebersamaan kita. Kakak nembak aku pas digedung perusahaan sambil main piano. Kakak kasih aku kalung, yang sampe sekarang aku pakai. Kakak kasih aku biola, dan masih banyak lagi."
Wirda memutar tubuhnya menghadap Daniel, ia menyentuh pipi Daniel dan menatapnya intens. "Aku pengen kita kembali kemasa-masa itu lagi. Masa-masa kita jalan berdua."
Daniel mengerutkan alisnya heran, hari ini Wirda sedikit berbeda dari biasanya. Ada apa dengannya?
"Hari ini kamu kenapa sih? Aneh banget, gak kayak biasanya." tanya Daniel heran.
"Kalo gitu, kita jalan-jalan sekarang. Kita pergi ketempat yang pernah kita datengin, oke?"
"Iya."
...***...
Daniel melirik jam yang melingkar ditangannya, lalu kembali mengedarkan pandangannya mencari Wirda.
Dari kejauhan ia melihat gadis itu melambaikan tangannya sambil mengeratkan jaket yang melekat ditubuhnya.
"Kak Daniel nunggu lama, ya?" tanya Wirda yang mulai duduk disamping Daniel.
Daniel menggelengkan kepalanya dan memberikan satu cup es krim rasa cokelat kesukaan Wirda.
Mereka berdua mulai diam dan memakan es krim. Suasana hari ini benar-benar bagus, terlebih lagi sekitar danau sepi tak ada pengunjung. Wajar saja karena ini masih jam kerja atau jam sekolah.
"Masih inget gak, waktu dulu kita pernah kesini dan bilang tentang tiga pilihan Tuhan?" Wirda angkat bicara sambil menyandarkan kepalanya dibahu Daniel.
"Masih,"
"Aku pernah bilang, kalo aku pengen liat kak Daniel terus bahagia. Meski bukan aku yang buat kakak bahagia nantinya."
"Kamu ngomong apaan sih, Dah? Aku gak ngerti." Daniel menaruh cup es krim miliknya diatas rerumputan.
Wirda mengangkat kepalanya dari bahu Daniel dan menatap laki-laki itu dengan intens. Kedua tangannya bergerak menangkup wajah Daniel. Perlahan dia mendekatkan wajahnya pada Daniel, dan...
Cup...
Wirda menyatukan bibirnya dengan bibir Daniel. Tentu hal itu membuat Daniel terkejut, ada sebuah benda kenyal dan manis menempel pada bibirnya. Wirda mencium Daniel lama dan kembali menjauhkan wajahnya dari Daniel.
"Aku cinta kak Daniel." lirih Wirda membuat Daniel bergeming.
Laki-laki itu masih diam tak berkutik sedikitpun, ia masih berada di alam bawah sadarnya. Tentang ciuman itu, Daniel tentu terkejut, dan tadi Wirda bilang apa? Cinta? Demi apapun, ini adalah kali pertama Wirda mengatakan cinta padanya.
"Kamu bilang apa?" ujar Daniel mengerjapkan matanya lucu.
"Aku cinta kak Daniel."
Dengan refleks Daniel langsung membawa Wirda pada pelukkan nya. Entahlah, hari ini ia sangat bahagia karena mendengar Wirda mengatakan cinta padanya. Dan lagi, gadis itulah yang telah mengambil ciuman pertamanya. Bukan hanya Daniel, namun Wirdapun begitu, ini ciuman pertamanya dan ia berikan pada Daniel. Laki-laki yang akan dicintainya sampai maut memisahkan.
"Ada satu hal lagi yang aku mau kak Daniel tahu," ujar Wirda setelah melepaskan pelukkan nya.
"Apa?"
"Aku sakit kak. Aku sakit jantung, dan mungkin setelah pembagian raport sekarang aku sama bunda dan kak Wildan bakalan pindah ke Amerika buat transplantasi jantung. Kita bakalan tinggal disana selama 1 tahun."
Daniel bergeming, ia tak pernah menyangka kalau Wirda menyembunyikan hal seperti ini darinya.
"Sejak kapan?"
"sejak kecil."
"Aku udah pernah curiga, tapi bodohnya aku terus menyangkalnya. Obat yang kamu bilang vitamin, itu sama kayak obat yang dikonsumsi sama nenek aku dulu sebelum meninggal." Daniel tertawa kecil dan menundukkan kepalanya. Hatinya sakit, sangat sakit.
"Aku gak ada niatan buat bohongin kak Daniel," Wirda menangkup wajah Daniel, dan melihat mata Daniel yang memerah. "Aku takut kalo misalkan aku kasih tahu kak Daniel dari awal. Kakak gak mau deket-deket aku lagi karena penyakitan."
"Aku gak suka kamu ngomong gitu. Kalo kamu udah rencanain buat ke Amerika, aku juga bakalan kesana. Aku bakalan minta papa buat urus pendaftaran disana."
Wirda tersenyum senang. Akhirnya, setelah sekian lama ia menutupi ini semua dari Daniel. Ia bisa juga mengatakannya. Ia merasa lega, Daniel tak marah padanya. Dengan menarik nafas panjang dan mengedipkan matanya keatas. Wirda langsung memeluk Daniel. Dia menangis dipelukkan pemuda yang sangat ia cintai itu.
Daniel mengusap punggung Wirda sayang, ia merasa sedih, senang dan kecewa secara bersamaan. Namun ia salut pada Wirda yang mau berterus terang padanya. Dengan begitu, Daniel semakin yakin kalau suatu hari nanti Wirdalah gadis yang akan ia pinang menjadi istrinya. Dia sudah sangat-sangat mencintai Wirda. Dan itu tulus dari hatinya yang paling dalam.