Wirdaniel

Wirdaniel
Orang Ketiga?



"Kak, kita ke toko buku itu dulu, yuk!" ajak Wirda yang berjalan sambil menggandeng tangan Daniel.


Daniel menatap toko buku didepan sana, dan dia langsung mengangguk setuju. Mereka berdua sudah berjalan mengelilingi mall selama setengah jam, dan ini adalah toko ketujuh yang akan mereka datangi. Dari sekian banyaknya toko, Wirda ataupun Daniel belum membeli satu barang apapun, itu dikarenakan Wirda yang terus menolak ketika Daniel akan membelikannya barang.


Menurut Wirda, Daniel berbeda dengan kakaknya Wildan. Ia tak enak jika harus membeli barang dengan uang Daniel. Sudah cukup banyak Wirda merepotkan Daniel, bahkan lelaki itu sering meneraktirnya makan. Dan Daniel sering sekali memberikannya barang-barang yang tak ia harapkan.


"Daniel!" panggil Ayla yang melambaikan tangannya kearah Daniel dari kejauhan.


Gadis itu berlari kecil hingga akhirnya sampai dihadapan Wirda dan Daniel. "Kalian lagi belanja?" tanya Ayla yang menatap Wirda dan Daniel silih bergantian.


"Iya, tapi dari tadi belum beli apapun. Wirda susah diajak matre kayak lo." celetuk Daniel yang langsung mendapat pukulan dari Ayla.


"Kalo ngomong jangan terlalu jujur, Niel."


Wirda terkikik geli, dia menatap Ayla yang ikut berjalan disamping Daniel. "Kak Ayla sendirian aja?"


"Iya, kan sekarang gue jomblo. Jadi gak ada yang mau nemenin gue jalan."


Wirda mengangguk paham dan menggeser tubuh Daniel hingga laki-laki itu mundur beberapa langkah karena Wirda. Gadis itu mendekati Ayla dan berjalan berdempetan sambil mengobrol ria.


Sedangkan Daniel, dia menghela nafas singkat menatap tak percaya pada Wirda. Gadis itu bilang ingin pergi jalan dengannya, tapi kenapa sekarang ia ditinggal dan dia berjalan dengan Ayla?


"Dah!" panggil Daniel yang tak diindahkan oleh Wirda.


Ayla dan Wirda memasuki toko buku itu secara bersamaan. Baru masuk saja wangi buku sudah menyeruap kedalam indra penciuman Wirda. Gadis itu paling suka dengan wangi buku-buku baru.


Mereka berpencar, Ayla berjalan kearah rak buku tentang ilmu pengetahuan. Sedangkan Wirda berjalan kearah rak buku yang menyimpan banyak buku-buku novel. Hari ini ia mendapat kabar bahwa novel dari penulis kesukaannya sudah bisa dibeli ditoko buku terdekat.


"Dah, kita pergi ketempat lain, yuk!" ajak Daniel yang menarik-narik tas milik Wirda.


"Bentar dulu, aku mau liat-liat novelnya dulu." ujar Wirda yang pandangannya terus menatap novel-novel didepanya.


"Dah..."


"Ketemu!" pekik Wirda sambil memegang novel ditangannya, mata gadis itu berbinar menatap novel itu, senyum sumringah terulas dibibirnya yang ramun.


Daniel sendiri heran, apa bagusnya membaca novel percintaan yang pastinya akan mencampur adukkan perasaan si pembaca. Sejak dulu Daniel benci dengan novel-novel romansa. Ia lebih suka membaca buku tentang sains daripada itu.


"Udah yuk pulang!" Daniel menarik tangan Wirda, namun gadis itu justru berbalik menarik tangan Daniel.


"Kita bilang dulu sama kak Ayla,"


Daniel menghela nafas panjang, dan mengikuti Wirda yang terus menarik tangannya. Laki-laki itu menjadi penurut karena Wirda.


"Kak Ay---" ucapan Wirda tercekat, ia membeku kaku menatap seseorang yang berdiri didepan Ayla. Dia...


"Kak Redgar," lirih Wirda menata Redgar dan seseorang disampingnya.


Daniel maju beberapa langkah dan berdiri disamping Ayla, ia menggenggam tangan gadis itu yang tertunduk lesu.


"Gak usah ganggu dia lagi," ketus Daniel yang menatap angkuh Redgar dan tunangannya.


Wirda terdiam, ia menatap tangan Daniel yang terus saja menggenggam tangan Ayla. Ada sedikit rasa sesak dan sakit di dadanya, hatinya perih rasa ditusuk belati.


"Niel, lo jangan salahpaham dulu." ujar Redgar.


"Gue gak salahpaham, sejak awal lo emang kayak gini."


"Lo salah nilai gue, Niel."


Daniel berdecak kesal, lantas menarik Ayla untuk pergi dari sana. Wirda menatap kedua orang itu, lantas ia berjalan lemas mengikuti mereka.


Sakit. Satu kata itu yang berhasil mendefinisikan perasaan Wirda sekarang, ia tak pernah menyangka. Seseorang yang ia pikir kawan, ternyata sebuah ancaman untuknya.


Matanya memerah menahan tangis, ia memegang erat tali tas miliknya. Wirda mencoba terlihat baik-baik saja, toh lagipun saat ini Ayla juga sedang bersedih. Dia bertemu dengan mantan kekasihnya dengan tunangannya.


"Kita makan eskrim dulu sebelum pulang, dan lo gak boleh nangis." ucap Daniel pada Ayla.


Daniel berjalan mencari tempat koskng untuk mereka duduki, setelah menemukannya ia langsung pergi memesan eskrim untuk sahabat serta mantan pacarnya itu.


"Maafin gue ya, Wir. Gara-gara gue, lo gak bisa jalan berduaan sama Daniel." ujar Ayla.


Wirda tersenyum masam. Sejauh ini ia tak pernah merasa cemburu berlebihan seperti ini, terlebih lagi pada Ayla. Wirda terlalu naif, dulu dia yang membuat Ayla berada diantara hubungannya dengan Daniel. Dan sekarang ia tak suka jika Ayla berdekatan dengan Daniel.


"Eskrim datang!" seru Daniel yang menaruh tiga cup eskrim berukuran sedang diatas meja.


"Maafin gue yang selalu ngerepotin lo, Niel." Ucap Ayla yang menatap penuh sesal.


Daniel tersenyum tulus, dan mengusap halus rambut Ayla. Mereka berdua terlihat sangat serius, tulus dan hangat. Tanpa disadari, disitu justru Wirda menahan tangisnya.


...***...


"Kalian hati-hati dijalan," ujar Wirda yang melambaikan tangannya setelah turun dari mobil Daniel.


Daniel membuka pintu mobilnya, dan berlari kecil menghampiri Wirda. Ia tersenyum manis saat menatap wajah gadis itu yang terlihat murung. Dengan sekali tarikkan, Daniel membawa Wirda pada dekapannya.


"Maaf, harusnya hari ini kita jalan-jalan berdua. Maafin aku," bisik Daniel disamping telinga Wirda.


Wirda menyunggingkan senyumannya saat Daniel mengatakan itu. Jujur saja, awalnya ia takut Daniel akan melupakan atau bahkan mengabaikannya. Tapi sekarang tak lagi, Daniel berhasil membujuknya dan meluluhkan hatinya. Mau bagaimanapun sikap Daniel, Wirda akan dibuat diam olehnya, dia tak bisa marah pada Daniel yang ketus itu.


"Besok pagi jemput aku, kita ke sekolah bareng." ucap Wirda disela pelukkannya.