Wirdaniel

Wirdaniel
Wirda Yang Mengetahuinya



"Dah, makan malemnya udah siap sayang. Ayo turun," teriak sang bunda dari arah dapur.


"Assalamu'alaikum, bun." Wildan yang baru saja datang langsung menyalami tangan bundanya itu.


"Waalaikumussalam, kamu dari mana aja? Semaleman gak pulang. Gak tahu bunda itu khawatir?"


"Maafin Ndan. Nanti Ndan ceritain semuanya sama bunda,"


"Cerita apa?" tanya Wirda menatap datar Wildan dan bundanya.


Ia berjalan kearah meja makan dan duduk berjauhan dengan bunda dan kakaknya. Ini tak seperti Wirda biasanya. Wildan dan bunda yang melihatnya langsung kebingungan.


"Kok kamu duduknya di situ sih sayang? Kenapa?" tanya bunda sambil menuangkan nasi kedalam piring Wildan.


"Kamu marah sama kakak?" Wildan berpindah duduk ke kursi samping Wirda namun gadis itu juga berpindah duduk kembali.


"Dah..." Wildan kembali berpindah duduk, dan merangkul bahu Wirda. Namun baru saja ia memegangnya, sudah di tepis oleh sang empu.


"Ndah mau ngomong sesuatu sama kalian," ucap Wirda yang sejak tadi diam kini mulai bersuara.


"Ngomong apa sayang?" tanya bunda setelah menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Ndah mau lanjut sekolah di Belanda,"


Uhuk... Uhuk...


"Bun, ini minum dulu." kata Wildan yang memberikan segelas air.


Wirda yang melihat tingkah sang bunda semakin dibuat penasaran, sebenarnya apa yang bundanya sembunyikan darinya. Dan usul dia tadi, itu karena ia teringat dengan seseorang yang menyuruhnya lanjut kuliah di Belanda, gadis bernama Ana yang masih menjadi teka-teki untuk Wirda.


"Ndah, kamu bercanda, kan sayang?" tanya bunda yang ingin memastikan kalau anaknya ini hanya asal bicara.


"Ndah serius. Lagian buat apa Ndah bercanda kayak gitu." ucap Wirda dengan tatapan datarnya.


"Bunda gak izinin,"


"Kenapa? Apa ada yang bunda sembunyiin dari Ndah? Ohh, jangan-jangan ini menyangkut masalah bunda yang cerai sama ayah?"


"Maksud kamu?" bunda berdiri dari duduknya dan menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan Wirda.


Ia terkejut, bagaimana bisa Wirda mengetahui itu?


"Kenapa? Bunda kaget?" Wirda menyandarkan tubuhnya di kursi, dan senyuman sinis terbit dari sudut bibirnya.


"Wirda, jaga ya ucapan kamu di depan bunda." ucap Wildan yang menahan amarahnya.


"Kenapa? Aku cuman ngomong itu doang, kok. Aku gak minta bunda buat jelasin alasan dia cerai sama ayah, apalagi tentang bunda yang bohongin aku selama ini dengan bilang kalo ayah udah meninggal, padahal dia masih hidup."


"Ndah, kita makan dulu. Nanti kita bahas lagi masalah ini," ucap sang bunda yang kembali duduk.


"Kenapa gak dijelasin sekarang aja? Udah tanggung," Wirda melipat kedua tangannya di depan dada.


"Dah, kamu jangan bertingkah gak sopan kayak gini. Apalagi sama bunda,"


"KENAPA AKU GAK BOLEH BERTINGKAH KAYAK GINI, KAK?!!! AKU JUGA BUTUH PENJELASAN. BUNDA UDAH BOHONGIN AKU SELAMA INI! SELAMA 17 TAHUN. DAN DIA BILANG JELASINNYA NANTI? KAKAK GAK TAHU PERASAAN AKU KAYAK GIMANA SETELAH TAHU SEMUA INI!"


Plakk...


"Wildan!" bunda yang melihat anak laki-lakinya menampar sang adik langsung berdiri, dia terkejut dengan kekacauan yang terjadi sekarang. Sebelumnya ini tak pernah ada dalam bayangannya.


"Kakak nampar aku? Selama ini aku pikir kakak gak akan pernah nyakitin aku, aku pikir kakak gak akan ngecewain aku. Tapi ternyata..." Wirda memberhentikan ucapannya dan memegangi pipinya yang masih terasa sangat panas, bahkan sekarang air matanya mengalir dengan deras.


Dan Wildan, dia mulai sadar dengan apa yang sudah ia perbuat, dia menatap tangannya yang refleks menampar Wirda.


"Dah, kakak---"


"Aku cuman minta buat sekolah di Belanda aja kok, gak lebih. Ndah belum selesai ngomong bun, kak. Ndah juga mau janji sama kalian kalo kalian ngizinin Ndah sekolah disana, Ndah janji mau di operasi, Ndah janji bakalan berjuang." Wirda menatap pilu sang bunda dan kakaknya. Ia tak dapat menyembunyikan isak tangisnya, antara sakit hati, kecewa, dan panas di pipinya. Dia benar-benar merasa sangat hancur sekarang.


"Tapi kalian malah marah sama Ndah. Kakak bahkan nampar Ndah kenceng banget." Wirda dengan tubuhnya yang gemetar, perlahan berjalan mundur.


"Ndah, sayang. Bunda minta maaf," bunda yang mulai menangis langsung berjalan kearah Wirda dan memeluknya dengan erat.


"Ndah, kakak minta maaf. Kakak---"


"Ndah kecewa sama kalian berdua," ucap Wirda yang melepas paksa pelukan sang bunda dan berlari keluar rumah.


"Dah."


Wildan ikut berlari kearah luar, namun sebelumnya ia mengambil jaket dan kunci mobilnya terlebih dahulu yang sempat ia simpan dikamarnya.


"Pak Budi liat Wirda gak?" tanya Wildan saat akan memasuki mobilnya.


"Tadi neng Ndah lari kearah sana sambil nangis den. Punten atuhnya, aya naon ini teh?" tanya pak Budi setelah menunjukkan arah Wirda pergi.


"Nanti Ndan jelasin pak, bapak jaga rumah aja."


Wildan dengan bergegas langsung memasuki mobilnya dan langsung melajukannya dengan kecepatan sedang.


Namun anehnya, Wirda tak terlihat di pinggir trotoar, kemana dia? Apa mungkin dia lewat jalan kecil disamping rumah-rumah di kompleks?


"Dah, kamu kemana sih?" ucap Wildan yang terus menengok kanan-kiri.


Sedangkan dibalik gerbang rumah tetangganya yang terlihat sepi, Wirda melihat mobil sang kakak yang berjalan jauh melewatinya.


Wirda keluar dari persembunyiaannya dan berjalan melewati gang-gang kecil dalam kompleks, ia berjalan sampai akhirnya tiba di depan kompleks. Dengan keadaaan yang masih menangis Wirda berjalan menyusuri jalan raya. Pikirannya kalut, ia tak dapat berpikir jernih. Ia bahkan tak tahu tujuannya sekarang. Yang ia tahu, ia tak ingin pulang terlebih dahulu, ia ingin menenangkan pikirannya dulu sekarang. Terlebih dia masih takut bertemu dengan kakaknya yang menamparnya tadi.


...***...


Hallo kalian semua,,


Makasih yang udah baca cerita WirDaniel.


Maafkan jika ada kesalahan. Mohon dukungannya ya kalian.


Salam kasih dari author😊


Jangan lupa vote, comment & like nya, ya.


...terimakasih...