
"Dah," panggil Wildan pada Wirda yang baru saja keluar dari ruangan dokter Keyra.
"Kakak kenapa masih disini?"
"Kakak khawatir sama kamu. Dokter Keyra bilang apa tadi?"
"Ndah baik-baik aja kok, kak. Cuman kecapekan karena terlalu keras belajar."
"Kan kakak udah bilang, jangan terlalu keras belajarnya. Sekarang liat, baru pertama ujian udah masuk rumah sakit aja." omel Wildan sambil mengambil tas milik Wirda.
"Kalo kakak peduli sama Ndah, kakak harus turutin semua kemauan Ndah hari ini."
"Kakak turutin, tapi jangan yang aneh-aneh."
"Nggak kok. Ndah cuman mau makan eskrim cokelat, abis itu makan siomay, terus jalan-jalan keliling kota, ke taman hiburan, pulangnya beli baju baru, sepatu baru, tas baru, terus kita beli tanaman bunga lily buat bunda. Dan terakhir, kakak harus bantuin Ndah rekaman nanti di studio. Ndah tahu kok, kakak pasti gak akan nolak, karena kak Wildan emang yang paling baik. Ndah makin sayang deh sama kakak." oceh Wirda yang kemudian berjalan mendahului Wildan kearah pintu rumah sakit.
Sedangkan Wildan, dia yang melihat adiknya berulah itu hanya melongo. "Kok bisa ya? dia buat pemaksaan jadi keliatan tulus." lirih Wildan yang tak habis pikir dengan Wirda.
...***...
"Kak, buruan sini."
Wildan menghela nafas lelah dan berjalan lebih cepat menghampiri Wirda. Ia menatap sang adik yang memegang dua buah baju ditangannya.
"Bagusan yang mana?" tanya Wirda dengan wajah sumringah.
"Dua-duanya juga bagus."
"Ihhh, aku mintanya kakak pilih salah satu dari dua baju ini!"
"Beli aja dua-duanya." usul Wildan. Dia meletakkan paper bag yang berisi barang belanjaan adiknya itu dilantai.
"Masa aku beli dua baju yang modelnya sama," Wirda menatap kedua baju itu dengan wajah cemberutnya.
"Tapi, kan warnanya beda. Ambil aja keduanya, nanti kakak yang bayar."
Wirda masih terdiam menatap kedua baju itu sebelum akhirnya ia menyerahkan baju-baju itu ke pegawai untuk di bungkus. Sedangkan Wildan, ia kembali memungut barang-barang belanjaan Wirda yang sempat ia taruh dilantai tadi.
Wirda menyerahkan kartu debit milik Wildan kearah pegawai itu, dan menerima barang belanjaannya tadi untuk diserahkan pada Wildan. Ya, inilah Wirda, disaat berbelanja ia akan selalu menggunakan Wildan sebagai alat yang mampu membawakan barang belanjaannya itu.
Jangan salahkan Wirda kalau ia bersikap semena-mena pada kakaknya. Dan juga, bukankah tugas seorang kakak harus selalu ada disaat adiknya membutuhkan? Terlebih lagi sejak kecil hingga dewasa Wildan selalu memanjakan Wirda. Ia selalu menuruti keinginan adiknya itu meskipun itu hal aneh sekalipun.
"Dah, pulang yuk! Kakak udah capek." ujar Wildan yang menghentikan jalan Wirda.
"Pulang? Ini baru juga belanja sama makan eskrim, belum beli bunga, jalan-jalan keliling kota, sama masih banyak lagi."
"Besok lagi aja, ya? Kan kamu masih harus belajar buat ujian besok. Masa belajar cuman sekali doang," bujuk Wildan yang menyenggol tubuh Wirda dengan barang belanjaan yang ada ditangannya.
Wirda mendengus kesal dan berjalan cepat meninggalkan Wildan.
"Dah! Pelan dikit dong," rengek Wildan yang tertinggal jauh dari Wirda.
"Katanya mau pulang, ayo cepetan." kata Wirda. Wildan yang mendengar itu langsung berlari dengan semangat 45 mengejar Wirda.
...***...
"Assalamu'alaikum bunda..." teriak Wirda saat memasuki rumahnya.
Wirda berhenti mendadak dan membuat Wildan yang ada dibelakangnya langsung ikut mengerem mendadak, hingga akhirnya terjatuh dengan barang-barang yang ada ditangannya berserakkan dilantai.
"Astagfirullah Wirda! Bisa gak sih kalo jalan itu jangan ngerem mendadak!" komentar Wildan yang dihiraukan oleh Wirda.
Wirda berlari kecil kearah orang yang ada di ruang tamu dengan senyum sumringah. Dengan sekali loncatan Wirda berhasil memeluk orang didepannya dengan sangat erat.
Sedangkan Wildan berdiri dan mengambil barang-barang tadi dibantu oleh sang bunda. " giliran ada om Jordan aja, kakak dilupain." ujarnya merajuk.
"Ehh, kak Wildan gak boleh cemburu, Ndah masih butuh ATM kakak kok buat belanja."
Gelak tawa terdengar sangat renyah dari orang-orang yang ada disana, terkecuali Wildan yang memasang wajah kusut saat mendengar Wirda mengatakan kalau dia hanya membutuhkan uangnya, bukan dirinya. Meskipun Wildan tahu itu hanya candaan belaka, tapi ia tetap saja kesal karena mulai dari sekarang kartu ATM-nya Wirda yang pegang.
"Anak nakal, jam segini baru pulang. Kemana aja?" sindir bunda yang duduk disamping Wirda.
Wirda memakan kue yang ada diatas meja, sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan sang bunda. " Ndah tadi abis belanja sama kak Wildan, tadinya abis itu mau beli bunga buat bunda. Tapi gak sempet. Keburu malem," jelas Wirda yang kembali memakan kue yang tersisa ditangannya.
"Om gak dibeliin apa-apa?" tanya Jordan yang menatap Wirda dan Wildan silih berganti.
"Harusnya Ndah yang nanya gitu. Ndah gak dibeliin apa-apa? Jajanan luar negeri gitu?" ucap Wirda dengan tak tahu malunya.
Gadis yang satu ini mulai menjadi-jadi, tingkahnya semakin hari semakin sulit dikendalikan. Bahkan Wildan sampai kewalahan menghadapi adiknya ini.
"Sekarang mulai berani ya?," Jordan mengambil salah satu paper bag yang ada di belakangnya dan memberikannya pada Wirda dan Wildan.
Dengan mata berbinar Wirda langsung mengambilnya dan melihat isi didalamnya, senyuman yang tadinya sangat manis seketika sirna saat ia melihat dan mengangkat isi didalam tas itu.
"Obat-obatan? Vitamin lagi? Om gak salah ngasih Ndah ini?" Wirda menatap tak percaya dengan apa yang ia dapat.
"Yehh, sepatu baru! Makasih om," ujar Wildan sambil memamerkan sepatu miliknya pada Wirda dengan wajah meledek.
"Kak Wildan kok dapet sepatu sih?!"
"Udah terima aja, kan tadi juga kamu udah belanja banyak. Ngabisin uang kakak, udah itu ATM-nya diambil lagi." cibir Wildan yang memelankan suaranya diakhir.
"Kak Wildan perhitungan banget sih jadi cowok!"
"Loh, siapa yang perhitungan? Kakak cuman ngomong fakta kok,"
"Itu sama aja!"
"Beda Ndah..."
"Ayo berantem, berantem aja terus." sindir bunda yang berhasil membuat Wirda maupun Wildan berhenti bicara.
"Ndah sayang, kalo kamu mau hadiah yang lain om bisa kasih kok." ucap Jordan pada Wirda.
"Serius om?"
"Iya, tapi nanti kalo kamu udah sembuh."
"Sama aja bohong," lirih Wirda yang kembali memasang wajah cemberutnya.
...***...
Hallo kalian semua,,
Makasih yang udah baca cerita WirDaniel.
Maafkan jika ada kesalahan. Mohon dukungannya ya kalian.
Salam kasih dari author😊
Jangan lupa vote, comment & like nya, ya.
...terimakasih...