Wirdaniel

Wirdaniel
Bertemu



Aku melangkahkan kakiku keluar dari kamarku setelah menyelesaikan tugasku. Namun aku yang penasaran dengan keadaan kak Wildan langsung berjalan kearah kamarnya yang ada di sebelah kamarku.


Setelah kulihat, pintunya tak ditutup. Dan tak ada orang di dalamnya, mungkinkah kak Wildan belum pulang sejak dia berlari tadi? Ah, aku tak tahu. Tapi tampangnya dia seperti terburu-buru. Mungkin saja ada urusan mendadak.


Aku yang tak mau ambil pusing langsung turun ke lantai bawah, rumah sudah terasa sangat sepi, padahal ini masih pukul 21.05. Bunda juga sudah tak ada, biasanya jam segini dia masih duduk di depan tv.


"Orang-orang hari ini kenapa jadi pada aneh sih," gumamku yang membuka kulkas dan menuangkan air dalam botol kedalam gelas.


Selintas, aku jadi teringat sesuatu. Tadi siang aku melihat pedagang sate di depan kompleks yang baru buka lagi setelah beberapa bulan terakhir tutup. Aku rasa, aku ingin memakan sate malam ini.


Dengan berlari kecil aku kembali ke kamarku untuk mengambil uang, handphone dan juga jaketku. Aku ingin meminta izin terlebih dahulu pada bunda, namun rasanya tak tega membangunkannya yang sedang istirahat. Dia mungkin saja kelelahan karena kerja seharian.


Aku berjalan keluar rumah dan melihat pak Budi yang sedang bermain catur dengan satpam tetangga. Ahh, mendengar kata catur. Sebenarnya aku masih bingung dengan permainan itu, aku bahkan tak pernah mengerti dengan permainan yang satu ini.


"Pak, Ndah keluar dulu, ya." ucapku pada pak Budi.


"Mau kemana neng? Udah malem,"


"Mau beli sate di depan komplek."


"Sama bapak aja neng, kan depan kompleks teh lumayan jauh."


Aku hanya tersenyum ramah dan menggeleng pelan, "Gak usah pak, Ndah bisa sendiri kok. Bapak jaga rumah aja biar gak ada maling,"


"Yaudah, kalo gitu hati-hati ya, neng."


Aku hanya mengangguk dan berjalan melewati gerbang rumahku. Jalanan kompleks masih terlihat ramai. Masih banyak orang-orang yang berada di luar rumahnya, dan beberapa orang yang mengenalku langsung menyapaku.


Aku mungkin tak terlalu kenal dengan para tetanggaku, tapi mereka mengenalku dengan jelas karena bunda. Aku mulai membayangkan, apa mungkin setelah umurku dewasa nanti, perkumpulanku akan seperti bunda dan ibu-ibu lainnya? Yang sering melakukan arisan? Yang entah-berentah tak aku mengerti.


Aku menatap sekilas langit malam yang terlihat sangat terang sekarang. Banyak bintang-bintang yang bertaburan menemani bulan yang sendirian.


Mengingat sendirian, aku langsung sadar akan diriku. Iya, aku tersenyum miris saat menyadari diriku yang terlihat menyedihkan. Banyak orang yang sudah aku tinggalkan demi keegoisanku semata. Aku bahkan tak sanggup jika nanti Daniel membenciku.


Bukankah memang tak ada seorangpun yang sanggup melihat orang yang mereka sayang membencinya. Karena itu sangat menyakitkan.


"Hey,"


Aku yang mendengar seseorang memanggilku langsung tersadar dari lamunanku dan menatap seseorang yang mengendarai motor dengan helm fullface yang berhenti tepat disampingku.


Aku menatapnya lekat seolah mencari tahu siapa dia, dan seketika aku terkejut saat orang itu telah membuka helm miliknya, dia..


"Kak Daniel?" panggilku yang masih tercengang.


Pasalnya, baru kali ini aku melihat Daniel mengendarai motor dan itu membuat dia berlihat beribu-ribu kali lebih tampan dan keren dari biasanya.


"Ngapain malem-malem kayak gini masih diluar? Mau kemana?" tanya Daniel yang membuatku senang.


Senang karena aku rasa Daniel tak lagi marah padaku.


"Aku mau kedepan,"


"Depan mana?"


"Depan kompleks,"


"Ngapain?"


"Mau beli sate."


"Emang bunda gak masak?" tanya Daniel dengan wajah yang terlihat sangat menggemaskan sekaligus mengesalkan karena pertanyaannya.


"Terus kenapa masih mau makan sate?"


"Karena aku pengen aja. Puas?"


Kenapa sekarang Daniel menjadi banyak bertanya? Sebelumnya Daniel orang yang lumayan cuek, dan dia tak akan melontarkan pertanyaan sebanyak ini. Apa ini efek karena ia sudah putus denganku? Mustahil.


"Kakak ngapain ada di sekitar kompleks aku? Kan ini bukan kompleks kakak."


"Nyasar."


"Hah?" aku terkejut mendengar perkataan Daniel yang singkat itu. Tak mungkinlah ia lupa jalan pulang.


"Ayo naik, biar aku anter kamu ke depan."


"Gak usah, aku bisa jalan sendiri kok."


"Nurur aja bisa gak sih? Lagian masih jauh juga." ketus Daniel yang terlihat mulai kesal.


"Gak mau. Kak Danielnya aja ketus kayak gitu sama aku. Nanti gimana kalo tiba-tiba kakak ngebut terus buat aku jatuh di tengah jalan."


"Gak mungkinlah, kan aku sayang kamu. Yaudah naik,"


Dengan sekuat tenaga aku menahan senyumanku agar tak terbit. Daniel bahkan masih bisa mengatakan itu saat kami jelas sudah menjadi mantan. Dia masih suka mengungkapkan perasaannya tanpa rasa malu.


"Tapi kakak gak minta ongkosnya, kan?" tanyaku yang berhasil membuat Daniel berlihat kesal.


"Kamu kira aku tukang ojek?"


"Ya mungkin aja, iya. Kan gak menutup kemungkinan," aku terkekeh melihat Daniel yang kesal dan memilih untuk memakai helmnya kembali.


"Ayo naik! Jangan lambat, dasar pendek."


Aku mengerucutkan bibirku saat Daniel kembali memanggilku dengan sebutan itu. Dan dengan kesal aku mulai menaiki motor Daniel dan berpegangan pada pundaknya.


"Pegangan,"


"Ihh, ini udah pegangan." kesalku yang memukul pundak Daniel.


Daniel mengambil kedua tanganku yang ada dibahunya dan menaruhnya di pinggangnya. Hal ini membuat jantungku berdekup tak karuan. Rasanya aku ingin menghilang saja sekarang.


"Peluk yang kenceng." ucap Daniel yang melirikku sekilas.


Aku yang mendengar semua itu dari mulut Daniel langsung merasa hangat. Aku menyandarkan kepalaku pada punggung Daniel yang kokoh saat Daniel mulai menjalankan motornya. Rasanya aku rindu kebersamaan seperti ini. Aku, Daniel dan kenangan yang kami ciptakan.


Aku harap waktu berjalan sangat lambat agar aku bisa memeluk Daniel seperti ini untuk selamanya.


...***...


Hallo kalian semua,,


Makasih yang udah baca cerita WirDaniel.


Maafkan jika ada kesalahan. Mohon dukungannya ya kalian.


Salam kasih dari author😊


Mohon vote, comment & like nya, ya.


...terimakasih...