
Aku menelungkupkan kepalaku diatas meja, sesekali helaan nafas berat keluar dari mulutku. Pelajaran kali ini membosankan, biasanya aku semangat ketika pelajaran seni budaya. Tapi kali ini? Entahlah. Semuanya membosankan.
"Wir." aku menatap kearah kiriku, disana ada Agatha yang sedang menatapku.
"Kantin, yuk!"
Renata yang bertepatan ada di depanku langsung menatap kearah kami. Ia yang seakan mengerti maksud dari Agatha langsung mengangguk.
"Gue bosen ngedengerin bu Lina ngomong terus," ucap Agatha dengan suara lirih.
Kutegakkan kembali tubuhku, lalu menatap sayu kedua orang itu. Ah, sejujurnya aku mau saja membolos dengan mereka. Tapi aku takut, bagaimana jika nanti aku tertangkap basah oleh guru lain? Bagaimana jika guru itu memanggil bunda ke sekolahan karena diriku? Sungguh aku tak bisa bayangkan bagaimana nanti bunda menghukumku.
"Aku mau sih, tapi kalo ketahuan gimana?"
"Ya gak gimana-gimana." jawab Agatha dengan entengnya.
"Yaudah, gue sama Agatha duluan aja. Terus udah itu lo, ya?" ujar Renata yang kemudian berbalik kearah depan.
"Hah?"
"Ibu." panggil Renata sambil memegangi perutnya.
"Iya?"
"Saya izin ke toilet ya, bu. Perut saya sakit banget."
Bohong. Bagaimana Renata bisa berbohong pada guru? Apakah dia tak takut jika nanti ilmu itu tak berkah?
"Yaudah, sana."
"Sama Agatha ya, bu. Soalnya saya takut sendiri." ucap Renata lagi, dan dengan mudahnya bu Lina mengiyakan?
Alasan klasik. Bagaimana mungkin mereka bisa berbohong dengan alasan yang itu-itu saja? Dari SMP hingga sekang, aku sering mendengar alasan itu. Mereka selalu izin ke toilet, lalu ujungnya mereka berbelok ke kantin. Ah, aku tak habis pikir dengan mereka.
Aku kembali menelungkupkan wajahku pada meja, jika seperti ini aku lebih baik tidur. Toh, bu Lina juga tak akan marah karena aku salah satu dari murid kesayangannya. Nilaiku paling tinggi di kelas ini. Sesekali tidur di saat jam pelajaran tak apa, bukan?
Ting!
Suara pesan masuk datang dari handphoneku. Cepat-cepat aku membukanya dengan keadaan masih menelungkup. Itu pesan dari Agatha, dia menyuruhku agar cepat keluar. Kutatap jendela di luar sana yang menunjukkan wajah Renata dan Agatha, mereka terus saja mengibaskan tangannya seakan memberi isyarat agar aku kesana.
Sial, alasan apa yang harus aku katakan pada guru di depan papan tulis itu? Apakah alasan klasik seperti mereka? Atau yang lainnya?
"Bu Lina." panggilku sambil berdiri.
Bukan hanya bu Lina, tapi semua murid juga menatapku sekarang. Sungguh aku gugup.
"Iya, Wirda?"
"S-saya izin, bu." ucapku gugup, bahkan tubuhku hampir saja bergetar.
"Izin?"
Kuhela nafas panjang untuk menetralkan keadaanku. Lalu kutatap lagi guru di depan yang masih menatapku dengan penuh tanda tanya.
"Anak-anak selalu izin buat ke toilet. Tapi banyak yang bohong dibalik alasan klasik itu. Jadi saya mau jujur, bu. Saya izin ke kantin."
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik...
Hening. Tak ada yang mengeluarkan suara satu katapun. Semua orang melongos menatapku, bahkan Renata dan Agatha yang ada di luarpun ikut terdiam setelah mendengar penuturanku itu.
"Wir. Lo serius?" tanya Ari, si ketua kelas di kelas ini dengan tatapan masih tak percaya.
Aku mengangguk mantap, lagian bohong itu tak baik bukan? Jika bisa jujur, mengapa harus bohong? Bukankah itu dosa?
"Jadi... Boleh atau nggak nih, bu?" tanyaku lagi sambil menggigit bibir bawahku.
"Beruntung kamu murid pintar, Wirda. Yaudah sana." ujar bu Lina kembali ke tempat duduknya itu.
"Serius, bu?" tanyaku tak percaya. Dalam hati sudah kegirangan.
"Iya."
Kulangkahkan kakiku keluar dari mejaku dan berlari kecil melewati banyak murid hingga mencapai keluar. Sesampainya di luar, aku melihat Renata dan Agatha yang berlari kearahku.
"Wir, itu bu Lina serius? Lo? Di izin gitu aja?" tanya Agatha tak percaya yang kemudian di angguki oleh Renata.
"Seriuslah. Hebatkan aku bisa ngeluluhin hati guru killer itu?" ucapku percaya diri.
"Bu, kok si Wirda diizinin gitu aja sih, bu?"
"Dia itu murid pintar, baik dan jujur. Gak kayak kamu."
"Ibu kok jadi bandingin saya sama dia, sih? Gak boleh banding-bandingin loh, bu. Nanti dosa."
Samar-samar aku mendengar percakapan itu. Tak mau tahu lebih banyak, akupun berjalan dengan percaya dirinya menuju kantin. Tentunya dengan kedua temanku di sampingku.
Sejak SD, aku kerapkali membuat banyak orang iri terhadapku. Guru-guru seringkali memberikan perhatian lebih padaku. Bahkan tak jarang aku menjadi perwakilan sekolahku saat mengikuti lomba kejuaraan olimpiade antarkota. Banyak medali dan piagam yang sudah kuraih, tapi untuk tahun ini dan seterusnya mungkin aku tak akan mengikuti perlombaan apapun lagi. Semuanya telah bertentangan.
"Wir, kantin sepi. Lo cari tempat duduk aja, gue sama Renata yang pesenin makanan." ujar Agatha di sampingku.
"Okay. Aku cuman mau siomay sekarang."
"Gue pesenin, gratis deh buat hari ini."
Aku mengangguk dan tersenyum kecil kearah mereka. Kupilih meja yang dekat dengan pohon mangga di kantin ini. Menurutku, sekarang meja ini menjadi meja favorit kami bertiga. Bahkan ketika jam istirahatpun kami akan tetap memilih meja ini untuk di duduki.
Kulihat jam tangan yang melingkar di tanganku itu, dan ternyata masih jam sembilan. Kulirik kanan dan kiriku, ternyata masih sepi. Tak ada siapapun. Lantas akupun meronggah saku rok milikku dan mengeluarkan sebuah pil obat yang sudah di siapkan oleh bunda dari rumah.
Aku mengambil satu botol mineral yang ada diatas meja, dan dengan cepat aku langsung meneguk air itu bersamaan dengan obat milikku. Tersiksa, membosankan, lelah. Itulah yang aku rasakan dua tahun belakangan ini. Aku yang sakit-sakitan harus terus bertahan hidup dengan obat-obat dan peralatan dokter itu. Bayangkan saja, betapa tersiksanya aku selama ini. Kalau bukan demi bunda dan kak Wildan, akupun tak mau bertahan hidup barang sedetikpun saat ini. Tapi ternyata takdir mulai mempermainkanku lagi dengan cara mengundang banyak orang yang mencintai, menyayangi, dan perhatian padaku.
"Dah."
Aku tersentak kaget mendengar panggilan itu, untung saja air dalam mulutku sudah kutelan. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi.
"Kak..." rengekku sambil menatap Daniel yang duduk disampingku sambil meminum air mineral bekas milikku.
Entah sudah berapa kali Daniel mengambil makanan dan minuman milikku secara tidak meminta izin. Dia bahkan tak merasa bersalah setelah melakukannya.
"Kak itu punya aku, lohh." ujarku tak terima setelah Daniel benar-benar menghabiskan air dalam botol itu. Ah, sepertinya ia kehausan.
"Minta,"
"Kalo ngambil sesuatu yang bukan milik kakak tanpa izin itu gak baik. Itu sama aja kayak mencuri."
"Kalo nyuri itu, ngambil pas si pemilik gak nyadar kalo barangnya ilang. Tapi, kan kamu liat aku ambil minum punya kamu. Jadi gak nyuri, dong."
Baiklah, aku kalah telak. Daniel benar-benar pintar dalam urusan berdebat. Dan entah bagaimana aku bisa jatuh hati pada laki-laki bermulut ketus ini. Ah, aku bingung.
"Ngapain disini? bolos?" tanya Daniel akhirnya.
"Iya, pelajaran bu Lina ngebosenin. Kak Daniel sendiri ngapain disini?"
"Sama, bolos. Tadi kamu minum obat. Itu obat apa?" tanya Daniel yang membuatku menegang. Pasalnya, aku takut kalau Daniel mengenali obat itu. Aku takut kalau ia mencurigaiku terus-menerus nantinya.
"Hah?!"
"Tadi kamu minum obat apaan? Kamu sakit lagi? Mau aku anter pulang?"
"E-eh... Nggak usah, kak. Aku baik-baik aja kok."
"Beneran?" tanya Daniel menatapku lekat. Dan hal itu membuatku salah tingkah.
"Bener, kak..." aku menatap Daniel penuh dengan rasa yakin. Entah percaya atau tidak, aku harap Daniel percaya.
Aku berbohong.
"Kamu belum jawab pertanyaanku yang tadi. Kamu minum obat apa?"
"I-itu... Itu vitamin, iya vitamin."
"Ohh."
Untuk kesekian kalinya aku kembali berbohong pada Daniel. Entah berapa banyak kebohongan yang aku ucapkan padanya, aku harap Daniel bisa memaafkan aku nantinya. Sejak awal, aku memulainya dengan penuh kebohongan, sedangkan Daniel? Dia penuh kejujuran. Ia selalu mengatakan semuanya padaku, lalu aku merahasiakan semuanya tentang diriku. Tak adil bukan bagi Daniel?
"Wir, ini siomay pesenan, lo." ujar Renata yang menaruh nampan di depanku, lantas ia duduk di depanku juga.
"Kok lo ada di sini?" kutatap Agatha dan Daniel silih bergantian. Tatapan mereka terlalu serius. Apalagi Daniel yang memangnya ketus.
"Kenapa? Gak boleh?"
"Gak juga sih."
"Eh, kalian tahu gak? Minggu depan acara camping diadain lagi." Renata menatap kami dengan girangnya. Ia menaruh handphone miliknya di meja dan memakan mie ayam miliknya itu.
"Camping?" tanyaku bingung.
"Iya, setiap tahunnya SMA kita selalu ngadain camping. Dan lo tahu, gue di kasih tahu kak Redgar tadi. Dia ngirim gue pesan supaya gue ngasih tahu anak-anak lain juga. Dadakan banget, kan?" ucapnya yang kemudian menyendok mie miliknya itu.
Aku terdiam, banyak pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di kepalaku. Dan jika aku ingin ikut, apa bunda mengizinkanku dengan keadaanku saat ini? Ah, aku rasa tidak akan. Bunda terlalu mengkhawatirkanku, dia pasti tak akan memberi izin.
"Kalo gak salah sih sekarang ke Bandung."
"Hah? Bandung?" ucapku spontan dengan kagetnya. Iya, inilah kesempatanku.
"Iya, tadinya mau ke bogor. Tapi karena tahun kemaren udah kesana, jadinya gak jadi deh." aku memangut-mangut mendengar jawaban Renata itu.
"Kamu ikut?" tanya Daniel yang menatap lekat diriku.
"Eh, nggak tahu. Kalo bunda izinin aku ikut, tapi kalo nggak, yaudah."
Daniel mengadukkan siomay milikku dan menyodorkan sedok kedepan mulutku. Kutatap Daniel seakan bertanya apa. Dan dia hanya memberi isyarat dengan matanya seakan mengatakan ayo.
Dengan ragu sekaligus malu aku memakan siomay yang Daniel sodorkan kearahku.
"Yaelah, mbak-mas. Kalo mau pacaran jangan di depan anak kecil. Kasian." celetuk Agatha yang menatap tajam Daniel, begitupun sebaliknya.
Mereka berdua terlihat tidak akur.
"Diem lo." ketus Daniel sembari mengambil mie ayam milik Agatha dan memakannya.
"Heh, Daniel kampret. Itu mie ayam gue!" teriak Agatha yang tak terima langsung merenggut mangkuk itu kembali memakannya.
"Gue minta dikit aja pelit banget, sih. Durhaka lo sama sepupu sendiri."
Hah? Apa katanya? Sepupu? Benarkah mereka sepupu? Ah, aku baru tahu.
Aku mengambil sendok milikku dan memakan siomayku dengan tenang, tentu tenang sebelum Daniel mengambil alih piring siomay milikku.
"Kak, itu punya aku, loh." gerutuku tak terima saat Daniel memakan siomay milikku.
"Gak boleh pelit sama pacar."
"Hah? Pacar? Kalian..."
"Kita pacaran, kenapa? Iri? Bilang boss." kata Daniel spontan yang memotong ucapan Renata.
"Baru kali ini gue tahu kalo lo bukan gay," ucap Renata dengan mata menatap Daniel tak percaya.
Banyak orang yang mengatakan kalau Daniel, Renata, Agatha dan Ayla sudah berteman sejak kecil. Sedangkan Daniel, Angga dan Albi baru berteman saat masuk SMP dulu. Aku sudah dengar waktu itu, dan sempat tak percaya lantas mengabaikan. Sampai akhirnya aku percaya itu saat bertemu dengan Redgar di perpustakaan bulan lalu, dia mengatakan semuanya tentang Daniel. Seolah mereka sudah berteman sejak lama. Tapi dia bilang, ia baru berteman dengan Daniel saat SMA. Apakah mungkin Ayla yang sudah memberitahunya? Mungkin saja iya.
...***...