
"Dah..." panggil Wildan yang berjalan kearah Wirda sambil memegang segelas susu hangat di tangannya.
"Kak Wildan." pekik Wirda yang langsung menutup bukunya dan memutar kursinya menghadap Wildan.
"Minum dulu." Wildan menyodorkan gelas itu kearah Wirda dan langsung diterima oleh sang empu.
"Kakak ngapain kesini? Butuh sesuatu?" tanya Wirda setelah meminum sedikit susu itu.
"Kakak boleh minta tolong sama kamu?"
"Minta tolong apa?"
"Kamu jangan ngomongin soal ayah lagi, ya?"
Wirda menaruh gelas itu diatas meja, lantas menatap lekat Wildan. "Emang kenapa?"
"Tadi kakak pergi ke kamar bunda, badan dia panas. Kamu tahu, bunda paling takut kalo misalkan kamu tahu semua ini. Terlebih lagi kalo misalkan kamu nyari tahu lebih jauh tentang ayah." jelas Wildan.
"Bunda demam?" tanya Wirda dengan cemasnya.
"Iya, kemarin juga bunda bilang kalo dia takut kamu ninggalin kita semua. jadi kamu bisa, kan. Gak usah cari tahu lagi tentang ayah."
"Kak."
"Kakak ngerti kok, sulit buat kamu nganggap ayah udah meninggal pas kamu justru udah tahu kebenarannya. Tapi kamu juga harus ngerti Dah, bunda sayang banget sama kamu. Dia bisa ngelakuin apapun buat kamu, tapi kalo untuk ketemu ayah, dia gak akan pernah izinin kamu."
Wirda terdiam, sekarang pikirannya menerawang. Ia kembali mengingat semua hal-hal yang sudah bundanya lakukan untuknya. Dan jika dihitung ada begitu banyak hal yang sang bunda lakukan untuknya dan itu tak terhitung jumlahnya, bahkan bunda harus banting tulang mencari uang untuk pengobatannya ini.
"Aku tahu bunda bisa lakuin apapun buat aku. Terus gimana sama kakak? Apa kakak juga bakalan lakuin apapun buat aku?" ujar Wirda yang beranjak dari duduknya dan memilih duduk di tepi ranjang miliknya.
"Apapun itu. Kakak bisa lakuin apapun buat kamu sama bunda," sahut Wildan. Ia berjalan mengekori Wirda dan duduk disamping gadis itu.
"Kalo aku minta kakak buat donorin jantung kakak buat aku nanti, gimana?"
"Jangankan jantung. Ginjal, paru-paru, mata, hati, darah atau apapun itu bakalan kakak donorin buat kamu. Apapun buat kamu."
"Brengsek!" pekik Wirda yang langsung memukul dada Wildan, lantas memeluknya dengan sangat erat. "Kalo misalkan kakak donorin semua itu buat Ndah, terus siapa yang bakalan jaga Ndah sama bunda? Kakak mau lepas dari tanggung jawab?"
Wildan tertawa kecil, ia langsung membalas pelukkan Wirda dengan sangat erat. Matanya memerah, ada rasa sesak didadanya saat memeluk adik tersayangnya ini. Andai-andai dan andai, pikiran Wildan hanya berandai-andai sekarang. Untuk saat ini ia masih menyembunyikan satu hal lagi dari adiknya ini. Bagaimana nanti jika Wirda kembali mengetahuinya dari orang lain?
Keadaan saat ini mulai membaik, tapi kalau ia kembali bercerita, sudah pasti Wirda akan kembali mengalami tekanan yang sama seperti saat itu.
"Dah, om Jordan bilang kalo kamu udah bisa ngelakuin operasi." ucap Wildan yang membuat Wirda diam seketika.
Ini bukan kali pertama Wirda seperti ini. Tahun-tahun lalupun sama, setiap kali membicarakan tentang operasi Wirda akan mengelak dan mencari alasan agar tak jadi di operasi. Dia terlalu takut, ada banyak hal yang selalu ia takuti saat akan melakukan operasi, salah satunya, ia takut operasi itu gagal dan dia meninggal. Atau ia tak kuat dan akhirnya menyerah saat ditengah perjalanan saat operasi.
"Kalo kamu mau berhenti minum obat, kamu harus berani buat di operasi. Ngerti?"
"Kak, aku belum siap." ucap Wirda yang mulai gugup takut.
"Tenang aja, kamu masih punya waktu 3 bulan buat nyiapin diri."
Wirda menghela nafas panjang, lalu mengangguk yakin.
...***...
"Kak Daniel udah nunggu dari tadi?" tanya Wirda saat memasuki mobil Daniel.
"Iya,"
"Kenapa gak manggil aku sih?" gerut Wirda. Ia menatap Daniel yang terlihat sangat santai hari ini.
"Takut ganggu kamu yang lagi sarapan."
Wirda menghela kasar nafasnya, lalu membuka buku Biologi yang ada ditangannya.
"Belajar, cuman aku takut lupa lagi."
"Dah, pelajaran itu perlu di pahami, gak selalu harus dihafal. Kalo kamu fokus menghafal tapi gak paham, kamu bakalan kesulitan." komentar Daniel yang merenggut buku itu dari Wirda dan menaruhnya disampingnya.
"Kak Daniel,"
"Apa?" ketus Daniel. Ia menatap sekilas Wirda sebelum akhirnya fokus kembali pada jalanan.
"Gak jadi." Wirda menyandarkan tubuhnya pada kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Masih pagi, jangan ngambek gitu. Nanti kalo aku cium gimana?"
"Ihh, kak Daniel!!!" Teriak Wirda yang berhasil membuat Daniel tertawa lepas.
"Iya-iya, maaf." Daniel mengambil buku milik Wirda dan memberikannya kembali pada pemiliknya.
"Rencana kak Daniel hari ini apa aja?" tanya Wirda sambil memasukkan bukunya kedalam tas.
"Setelah antar kamu ke sekolah, aku bakalan ke Bandung nemenin Ayla liat-liat kampus pilihannya."
"Emang harus kakak banget, ya? Gak ada yang lain gitu?"
"Kenapa? Mbak mantan cemburu?"
"Kalo iya kenapa?"
"Ya gak apa-apa, itu artinya dihati kamu masih ada aku," ucap Daniel yang menatap sekilas Wirda.
"Berapa lama?"
"Paling cepet tiga hari."
"Itu lama namanya kak..."
Wirda memilih diam dan menatap kearah luar jendela. Dirinya tak habis pikir dengan Daniel, saat ini ia sedang butuh dukungan dari Daniel. Tapi lelaki ini justru ingin pergi dengan Ayla. Entah kapan akan pulang, yang pasti Wirda akan kembali kesepian.
"Udah jangan murung terus, belajar yang bener sana. Jawab soalnya jangan asal, pokoknya kamu harus jadi yang terbaik di kelas." kata Daniel setelah memberhentikan mobilnya di depan gerbang sekolah.
"Iya, aku ngerti."
"Jangan galak-galak bisa gak? Nanti kalo aku cari cewek lain di Bandung gimana?"
"Gak akan ada cewek yang mau sama cowok ketus kayak kakak!"
"Ada kok! Kamu."
Wirda bungkam, ia menatap kesal Daniel yang terkekeh. Belum juga ujian, tapi orang di sampingnya sudah berhasil membuat ia pusing tujuh keliling. Daniel memang menyebalkan.
...***...
Hallo kalian semua,,
Makasih yang udah baca cerita WirDaniel.
Maafkan jika ada kesalahan. Mohon dukungannya ya kalian.
Salam kasih dari author😊
Jangan lupa vote, comment & like nya, ya.
...terimakasih...