Wirdaniel

Wirdaniel
Melepas Rindu



"Kak, kesini."


Kutarik Daniel yang sedang mendorong troli, kuambil tiga butir cokelat kesukaanku. Lalu memasukkannya kedalam troli, kurasa semuanya sudah lebih dari cukup, makanan yang kami beli sudah sangat banyak.


"Udah kak, udah penuh."


"Bentar, kamu mau es krim?"


"Boleh."


"Ambil gih, aku rasa cokelat."


"Oke."


Aku mengambil dua butir es krim yang paling aku dan Daniel sukai. Jujur, sebelum mengenalku Daniel bukanlah tipe cowok yang menyukai es krim, dia lebih menyukai kopi. Dan bisa di bilang, sebenarnya sampai sekarang Daniel memang belum terbiasa dengan makan-makanan manis. Tapi setelah mengenalku, dia berusaha masuk ke duniaku, dan belajar menyukai apa yang aku sukai.


"Kak udah semua."


Daniel mengangguk, dan kami pergi ke meja kasir yang saat itu lumayan kosong. Ah, melihat ini aku jadi ingat dengan cafe start. Apakah kak Wildan sedang disana sekarang?


"Mbak, ini." ujar Daniel yang memberikan belanjaannya.


Ini sangat banyak, aku yakin ini semua pasti lebih dari tiga ratus ribu. Ah, tapi jika belanja seperti ini saja tak akan membuat Daniel bangkrut, bukan? Aku yakin itu.


"Semuanya 743.000." kata si mbak kasir.


Sudah kuduga, ini terlalu banyak. Dan aku rasa, aku harus mengganti uang Daniel nanti.


Setelah menerima belanjaan itu, aku dan Daniel kembali ke dalam mobil. Aku membuka tasku dan mengambil uang tujuh ratus lima puluh ribu saat Daniel menyimpan belanjaan itu di kursi penumpang. Lalu kusodorkan uang ini saat Daniel kembali dan duduk di sampingku.


"Kak." panggilku, dan itu berhasil membuat Daniel menghentikan aktivitasnya.


"Kenapa?"


"Ini." kusodorkan uang itu, persis seperti yang Daniel berikan pada sang kasir tadi.


"Buat apa?"


"Tadikan belanjaannya banyak banget, yaudah ini aku ganti uang kakak."


"Gak usah."


"Tapi kak, aku gak enak sama kakak. Lagian itu juga belanjaan bulanan aku."


"Kamu siapa aku?"


"Pacar kakak."


"Yaudah."


Oh, ayolah. Jangan ucapkan kata itu, itu sungguh membuatku pusing tujuh keliling. Daniel selalu saja membuatku tak mengerti seperti ini.


"Maksudnya?"


"Kamu mau ganti belanjaan itu?"


"Iya."


"Yaudah."


"Yaudah ini." kusodorkan kembali uang itu pada Daniel, namun Daniel hanya menatapku dengan senyuman yang membuatku kebingungan.


"Kamu bakalan bayar semuanya, tapi aku gak akan ambil uangnya."


"Hah? Maksudnya?"


Daniel tak menjawab, dia hanya tersenyum simpul dan melajukan mobilnya kembali. Entah kemana, tapi yang jelas ini seperti jalan yang akan menuju ke mall?


Setelah 10 menit berlalu, akhirnya aku dan Daniel sampai di mall, jadi benar dugaanku.


Kuturunkan kaki ini dari mobil saat Daniel membukakan pintu untukku, namun saat aku akan melangkahkan kaki pergi, Daniel menarikku dan memakaikan hoodie miliknya di pundakku.


"Udaranya mulai dingin." ucap Daniel yang seakan tahu maksudku.


Daniel sungguh lelaki cekatan.


Aku hanya mengangguk lalu memakai hoodie itu dengan benar, setelahnya kami masuk ke dalam mall. Sedari tadi tangan kiriku terus menggandeng tangan Daniel, sedangkan tangan kanannya kupakai untuk memakan es krim yang aku beli tadi dengan Daniel. Ralat, Daniel yang membelinya.


"Kita mau kemana sih, kak?" tanyaku penasaran.


"Yaudah, iya."


Daniel mengedarkan pandangannya mencari kursi kosong, setelah mendapatkannya, ia langsung memesankan makanan untukku. Aku tak menyangka jika Daniel tahu makanan kesukaanku. Daniel kerapkali sangat sulit di pahami meski dia telah bicara. Perkataannya itu seperti teka-teki yang sulit di pecahkan. Seperti 'Yaudah', kata itu sulit untuk kupecahkan. Satu kata dengan beribu makna.


"Kak, aku ke toilet dulu, ya." pamitku yang langsung diangguki oleh Daniel.


Lima menit aku diam di dalam toilet, dada ini kembali sakit. Dengan cepat aku mengambil obat serta air minum yang selalu aku bawa dalam tasku, untuk jaga-jaga saat aku haus atau sakit nanti. Kutatap pantulan wajahku dari balik cermin. Pucat, satu kata itulah yang mendefinisikan keadaanku sekarang.


Selepas merasa sedikit lega, aku kembali ke kursiku, ternyata di meja sudah banyak makanan. Ah, Daniel memang lelaki yang baik.


"Maaf, aku lama." ucapku yang membuat perhatian Daniel beralih padaku, dia langsung kemasukan handphonenya kembali ke kantung celana sekolahnya.


Iya, kami memang belum mengganti seragam. Yang benar saja, Daniel memaksaku untuk menemaninya jalan tanpa pulang terlebih dahulu.


"Yaudah, makan gih."


"Kak..." panggilku, namun detik berikutnya langsung menyuapkan makanan ke mulutku.


"Hm..."


"Kakak gak kangen gitu sama aku?"


"Nggak." jawab Daniel acuh tak acuh, dia masih sama, selalu menjawab dengan enteng seakan tak berperasaan.


Ini... Sungguh membuatku kesal setengah jengkal. Ralat, setengah hidup.


"Kak Daniel kok nyebelin, sih." ketusku yang menaruh sendok dan garpu dengan kasar.


Ku palingkan wajah ini kearah lain, kutatap laki-laki dan wanita di sebrang tempatku. Mereka sangat romantis, tapi entah kenapa, laki-lakinya harus memakai kursi roda. Hal itu berhasil membuatku gagal fokus.


"Aku bukanlah cenayang, bukan pula psikolog. Aku tak tahu apa isi hatimu, karena itu, bisaku, cuman menanyaimu."


Deg....


A-apa ini? Daniel berkata demikian? Kutatap mata elang milik Daniel, mata itu memancarkan kedamaian yang abadi. Dan sekarang aku baru tahu jika seorang Daniel bisa berubah menjadi puitis seperti ini, kata-katanya sungguh bijak. Meninggalkan kesan kagum untuknya dariku.


"Kak Daniel apaan sih, gombal." cercaku yang berusaha menutupi kegugupanku, tapi mungkin tidak untuk pipiku yang mulai memanas ini.


"Ya, gak papa."


"Kak..."


"Hm?"


Kutatap Daniel yang sedang minum, lalu kembali menyimpan minuman itu dan memfokuskan diri terhadapku. Sepertinya dia cukup serius ingin mendengarkan.


"Kakak ketularan kak Angga, ya?"


"Maksudnya?"


"Mo-dus." suara tawa memenuhi gendang telingaku.


Hah, Daniel itu sungguh lucu. Harusnya dia marah atau kesal karena aku sudah mengatainya, tapi sekarang dia malah tertawa, tawanya mengundang banyak orang hingga mereka menatap kita. Aku rasa Daniel memiliki perubahan besar setelah berpisah dariku tempo hari.


"Kak, udah ketawanya. Malu."


"Lagian, suruh siapa ngebandingin seorang sultan Daniel sama dia. Kamu tuh ada-ada aja, kita jelas bedalah Wirdah,"


"Iya-iya, maaf." ucapku sambil memanyunkan bibirku. Lantas aku kembali makan.


"Oh, iya. Kamu mau nonton apa?" tanya Daniel membuka pembicaraan.


"Mau nonton?" tanyaku dengan mengusap mulutku dengan tisu.


"Iya."


"Agatha bilang ada film baru, kita nonton itu aja, ya?"


"Terserah kamu."


"Yaudah, ayo."


Aku berdiri dari dudukku dan diikuti oleh Daniel, tentunya sebelum pergi Daniel membayar makanan kami tadi terlebih dahulu.


Daniel memang lelaki idaman, setelah berpacaran, dia selalu memanjakanku. Menuruti apa yang aku pinta, bahkan tanpa meminta. Sejauh ini, aku mengenal Daniel yang berbeda. Dia tak seperti yang orang-orang katakan. Jauh dari lubuk hatinya, Daniel adalah lelaki yang baik dan lembut. Hanya saja ia menutupinya dengan sikap arogan dan ketusnya itu.


...***...