Wirdaniel

Wirdaniel
Masalalu



Ini sudah hari keempat aku di Bandung, dan tepat saat aku sampai di Bandung tempo hari, aku dapat pesan dari kak Redgar, dia bilang jika nanti camping akan di undur sebulan lagi. Aku rasa ini cukup adil, pengumuman itu terlalu cepat, terlalu mendadak bagiku yang memang minggu ini aku harus check up.


Ah, teringat tentang Daniel, ini sunggu kali pertama aku merasakan LDR-an dengan seorang pacar, rasanya tak enak namun perhatiannya semakin bertambah, bahkan sejak itu Daniel semakin manis, ia tak pernah melemparkan kata-kata yang bisa membuatku kesal.


Tepat saat pulang sekolah hari itu, aku langsung dikabari pesan oleh bunda kalau om Jordan sudah pulang ke Indonesia. Dan dia memintaku agar aku mau menemaninya ke Bandung untuk beberapa hari. Lantas, Daniel tentu saja mengizinkannya. Dia tak punya hak apapun kalau menyangkut keluargaku. Itu yang dia ucapkan.


"Ngelamun aja dari tadi, mikirin apa sih?"


Aku tersentak kaget dengan suara itu, suara yang memang familier bagiku. Aku mendongakkan kepalaku, menatap sosok yang berpakaian jas putih layaknya dokter. Siapa lagi jika bukan om Jordan.


"Om." lirihku yang kemudian menggeser dudukku dan menyuruhnya duduk disampingku.


"Mikirin apa sih? Pacar kamu?" tanya om Jordan.


"Gak tahu, bingung."


"Bingung? Kalo bingung, ya telepon aja."


Sebenarnya aku ingin sekali menelponnya, tapi aku ragu. Benerkah dia akan mengangkatnya? Kemarin dia bilang kalo hari ini jadwalnya akan padat, belum lagi dia harus ikut les 3 kali seminggu. Daniel memang tipe orang yang sibuk, tapi aku salut, sesibuk-sibuknya dia. Daniel bisa membagi waktu untukku. Manisnya.


"Dah, kamu rindu dia ya?" kata om Jordan, namun aku malas untuk menjawabnya, bukan tak mau tapi jawabannya mungkin sudah diketahui olehnya, "Yaudah, nanti sore kita pulang."


"Serius om? Ndah udah boleh pulang? Alhamdulillah." ucapku syukur, dan tak lupa dalam hatiku ini sedang menjerit kegirangan.


"Iya, tapi inget. Jangan banyak pikiran, dan jaga kesehatan, kondisi kamu menurun sekarang. Jadi baik-biak ya, sayang. Om bakalan pulang ke Amerika." pesannya lalu tersenyum tulus kearahku.


"Siap, yaudah kalo gitu Ndah pamit ya. Mau jalan-jalan ke taman dulu." pamitku dan tanpa menunggu jawabanpun aku sudah beranjak pergi dari sana.


Jadi seperti inilah yang namanya perpisahan sementara, sedih saat pergi, lalu bahagia lagi saat akan bertemu. Sungguh cinta, kamu memang ajaib.


Langkahku terus membawaku berjalan menuju taman, senyuman dalam wajahkupun tak pernah pudar.


"Wirda."


Aku tersentak mendengar panggilan itu, dan tanpa aba-aba akupun langsung memutar tubuhku. Sungguh terkejutnya diriku, setelah melihat orang itu semuanya pudar seketika, senyumanku, keceriaanku, dan juga langkahku langsung terhenti.


"Wir, gimana kabar kamu?"


Tak ada jawaban dariku, aku benar-benar tak ingin bicara dengannya sekarang.


"Wirda, aku minta maaf. Aku kesini cuman mau minta maaf, udah. Aku pengen jadi teman kamu lagi, kayak dulu." pintanya, namun tak kuusik, aku malah berjalan pergi menjauhinya.


"Wirda." panggilnya lagi.


"Stop disana!" tegasku, lalu mengambil handphoneku yang sedari tadi berdering, kulihat nama yang tercantum di layar ponselku, ternyata Daniel.


"Hallo." sapaku.


"Maaf baru nelpon sekarang, tadi mama minta dianterin ke butik." kata Daniel disebrang sana.


"Oh, iya gak papa kok. Aku ngerti."


"Kamu kenapa? Kok ngomongnya kayak orang ketakutan gitu."


Mampus! Bagaimana aku harus menjawabnya? Aku tak mungkin bilang kalau disini ada Andrew, aku juga tak ingin membohongi Daniel terus-menerus. Ya Allah, bagaimana sekarang? Aku sungguh bingung.


"Kalo aku ngomong jujur, kak Daniel bakalan marah?" tanyaku berhati-hati.


"Ngomong apa emangnya?"


"Aku lagi ditaman, dan disini aku ketemu lagi sama Andrew." jelasku dengan nada sedikit takut.


Tak ada jawaban apapun dari Daniel, mungkinkah dia marah? Sudah kuduga,  kejadian akan seperti ini.


"Kak Daniel, marah?"


"Nggak, kamu beresin dulu hubungan kamu sama mantan kamu itu, setelahnya baru telpon aku lagi."


"Kenapa?"


"Karena aku gak mau menjalin hubungan, sedangkan kamu sendiri masih terikat sama masalalu kamu."


Tegas, itulah yang kudengar dari nada suara Daniel. Dan kata-kata itu, sungguh menusuk hatiku. Perkataan Daniel yang memang penuh dengan pernyataan, membuatku tersadar kembali akan kenangan yang aku alami.


"Dia cuman minta maaf sama aku."


"Yaudah maafin."


"Dia juga minta supaya aku mau jadi temannya."


"Yaudah temenan aja."


"Kak Daniel gak marah?"


"Aku ini masa kini kamu, sedangkan dia masalalu kamu yang harus kamu selesaikan. Aku gak ada hak mencampuri masalalu kamu."


"Maaf, harusnya sejak dulu aku menyelesaikannya terlebih dahulu sebelum menjalin hubungan sama kakak." sesalku dan menatap Andrew sekilas.


"Gak perlu minta maaf, yaudah beresin gih sana. Aku tutup teleponnya."


Setelah itu Daniel memutuskan sambungan teleponnya, dan dengan langkah pelan aku berjalan mendekati Andrew, lelaki itu sungguh setia menungguku sedari tadi.


"Drew, gue maafin lo." ucapku dengan nada yang tak bisa di jelaskan.


"Bukan karena keinginan gue, tapi Daniel. Pacar gue." ku tekan setiap kata terakhirku itu, seakan aku sedang memberikan penjelasan lebih pada lelaki itu.


"Setelah ini, kita bakal temenan, kan?" tanya Andrew, kulihat matanya yang begitu meminta persetujuan dariku, rasanya aku kasihan melihatnya seperti ini.


"Mungkin." jawabku tak menentu.


"Wir, besok aku bakalan pergi ke Kanada."


"Hah?"


Tubuhku sedikit tersentak, bahkan mataku membulat sempurna. Entahlah, aku sendiripun ragu, kenapa aku harus bersikap seperti ini. Harusnya aku itu bahagia karena dia akan pergi, namun entah kenapa rasanya tak tega jika dia harus pergi. Egoiskah diriku?


"Tapi, kan. Sebentar lagi bakal ujian." ucapku sekedar basa-basi, aku tak ingin ia pergi. Tapi bagaimana lagi, egoku terlalu tinggi. Aku tak bisa terus terang.


"Ya, sebenarnya sih aku pangen sekolah disini sampe lulus. Tapi kata papa, mama harus jalanin pengobatan disana."


Jujur, aku sangat merasa bersalah. Kenapa dulu aku tak percaya padanya. Dulu aku memang egois, padahal akupun tahu, seorang Andrew itu memiliki sosok ibu yang tengah berjuang untuk sembuh dari penyakitnya. Tapi aku sudah dibutakan oleh semuanya, aku tak mau mengerti keadaannya waktu itu, aku hanya ingin Andrew itu memperhatikanku saja, akupun pernah bilang kalau aku ingin menjadi prioritas pertamanya. Dulu, waktu Andrew memutuskanku, itu semua bukanlah kesalahannya. Itu murni kesalahanku yang tak mengerti dirinya, mungkin saat itu dia muak denganku yang selalu mengaturnya ini-itu. Hingga akhirnya dia membentakku di depan umum.


"Maaf." ucapku dengan menundukan kepala, kata-kataku sungguh terdengar sangat tulus.


"Buat?"


"Masalalu."


"Gak perlu minta maaf Wirda, lagian aku juga yang salah. Yang harusnya minta maaf itu aku, maafin aku yang dulunya udah ngebentak kamu di depan umum. Jujur saat itu aku lagi banyak pikiran, dan kejadiannya jadi kayak gitu."


Mendengar nada suara Andrew yang seperti ini membuatku ingin menangis, lelaki itu begitu baik padaku, padahal aku sudah sangat jahat padanya.


"Wir, Aku boleh meluk kamu, untuk saat ini aja. Setelah ini aku bakalan pergi jauh." pintanya, dan aku hanya tersenyum simpul, senyuman yang Andrew sendiri tahu kalau aku menyetujuinya.


"Makasih Wir, aku sayang sama kamu. Kamu jaga diri baik-baik ya, aku bakalan pergi." lirihnya disela pelukannya padaku, aku hanya diam tak membalas pelukannya.


Perlahan tapi pasti, Andrew melepaskan pelukan itu, "Setelah aku pergi, aku yakin pacar kamu itu bakalan bikin kamu selalu bahagia. Dan aku minta, coba jangan pernah bersikap egois lagi. Dulu aku selalu bertahan dengan keegoisan kamu itu, tapi aku gak tahu kalau Daniel bisa." jelasnya yang membuatku mengangguk dan menggeleng ragu. Aku tak tahu, aku bingung.


"Aku pamit. Selamat tinggal Nadir."


Setelahnya Andrew pergi meninggalkanku, kutatap punggungnya yang mulai menjauh. Ternyata benar apa kata Daniel, setelah masalalu terselesaikan maka hubungan baru akan tetap aman dan terasa damai. Begitu pula sekarang, aku merasa lebih baik setelah memaafkan Andrew.


Selamat tinggal masalalu, maafkan aku yang egois terhadap dirimu dulu.


Kulangkahkan kaki ini untuk pulang, entahlah rasanya aku sudah bosan melihat taman ini.


"Wirda."


Panggil seseorang yang aku sendiri tak tahu siapa, kuedarkan mataku untuk mencari asal suara itu. Dan ya, aku menemukannya.


"Wirda, gue kangen banget sama lo." ucapnya sambil memelukku sangat erat.


Dia Mentari, kakak kelasku saat aku masih sekolah SMA di Bandung. Dia hanya satu tahun lebih tua dariku. Sama seperti Daniel.


"Sama, aku juga kangen banget sama kakak." ucapku yang memeluknya erat.


"Lo kemana aja sih? Pake acara pindah sekolah segala lagi." ucapnya setelah melepaskan pelukanku.


"Maaf, kak Wildankan punya bisnis di Jakarta, ditambah kak Wildan juga kuliah di sana." jelasku, aku tak berbohong, memang itu kenyataannya.


"Iya-iya. Percaya aja sama anak TK mah."


"Aku udah SMA, bukan anak TK lagi." gerutuku yang tak terima saat dipanggil anak TK.


"Iya, Wirda." ucapnya pasrah dan menyudahi, "Tadi gue liat lo ngobrol sama Andrew. Hubungan kalian baik, kan?"


"Baik." jawabku seakan acuh tak acuh, lagipula itu tak penting lagi bagi diriku, tapi sepertinya tidak bagi batinku. Jujur saja aku masih merasa bersalah karena aku sudah menyakitinya.


"Lo tahu, Wir. Semenjak kepergian lo, seseorang jadi ancur karena kangen sama lo. Bahkan gue gak pernah liat dia senyum lagi sampe sekarang, "


"Aku minta maaf, aku gak bermaksud ninggalin dia."


"Beberapa bulan lalu ada anak pindahan dari luar negeri. Dia berani banget, bahkan dia memperbudak tuh anak sampe nurut. Lo kalo liat pasti ngeri." ujar Mentari yang kemudian terkekeh kecil. Dia menganggap bahwa ini hiburan? Ayolah, bagaimana mungkin dia bahagia saat temannya justru ditindas. Mentari kerapkali terlihat kejam.


"Kalian ngebiarin gitu aja?"


"Apa boleh buat. Gue gak bisa lakuin apapun."


"Kalian bener-bener, ya." ucapku tak percaya sambil menggelengkan kepala.


"Gue rasa, dia bakalan jatuh cinta lagi."


"Semoga, aja. Akupun berharap begitu."


"Sekarang lo ada disini, apa lo gak ada pikiran buat nemuin dia, gitu? Dia kangen sama lo."


Seketika aku kembali terdiam, aku bungkam. Rasa bersalah itu kembali menghantuiku, kenapa bukan aku saja yang tersakiti. Kenapa harus dia. Aku telah melukai dua hati sekaligus. Pertama Andrew dan kedua dia. Aku takut.


Saat itu, aku benar-benar butuh Daniel, aku ingin meluapkan semua rasa kesalku, gelisahku dan juga rasa kebersalahanku dibahu lelaki itu. Aku ingin menangis sejadi-jadinya di bahu Daniel.


'Daniel, aku rindu."


...***...