Wirdaniel

Wirdaniel
Mengkhianati Dan Dikhianati



"Ndah sekolah dulu ya, kak. Assalamu'alaikum." pamitku yang kemudian pergi meninggalkan kak Wildan.


"Waalaikumussalam, hati-hati ya."


"Iya."


Umurku dan kak Wildan hanya berbeda 4 tahun saja, tapi wajahnya masih terlihat sangat muda, jika dikisarkan anak SMA, mungkin wajahnya seperti anak kelas 12. Sejak dulu banyak dari temanku yang mengira kalau kak Wildan adalah pacarku, mereka bilang kalau kami memang cocok, tapi apa kata takdir, dia harus jadi kakakku. Dan walaupun kak Wildan bukan kakakku, aku akan tetap tak mau berjodoh dengannya.


Menurutku wajahnya inilah yang membuat banyak wanita terpesona padanya, jika kuhitung, mungkin mantan pacarnya lebih dari 20. Setelah putus, beberapa hari kemudian ia dapat yang baru. Inilah kakakku, kakak yang brengsek serta playboy. Fakboy.


"Wirda."


"Kak Ayla." sapaku yang kebetulan bertemu dengannya di koridor menuju kelasku.


"Lo kapan pulang?" tanya Ayla, seperti biasa dia akan sangat-sangat semangat jika berbicara.


"Kemarin malam, kak Ayla apa kabar? Udah lama kita gak ketemu." ucapku sekedar basa-basi.


"Gue baik, tapi kayaknya Daniel buruk."


"Buruk? Maksudnya?" sebelah alisku terangkat, sudah sangat jelas kalau aku bingung sekaligus penasaran.


"Sejak lo pergi, dia terus aja di tempelin sama tuh cabe. Kayaknya tuh si Yerin gak punya harga diri ya, udah di tolak masih aja ngejar, udah tahu lo pacarnya Daniel masih aja gak terima. Rese emang tuh anak." cercak Ayla yang langsung membuatku melongos.


Bukan karena ucapannya yang begitu cepat, tapi karena mendengar Daniel yang terus di dekati oleh Yerin. Ada sedikit desiran tak enak di hatiku, entahlah akupun tak tahu apa. Tapi jika ini yang disebut dengan cemburu, maka aku ikhlas, biarkan saja aku yang cemburu, jangan dia. Aku tak ingin dia marah maupun menghindariku, biar aku saja. Aku yakin itu akan terjadi dengan seiring berjalannya waktu.


"Wir, Wirda! Woy!" teriak Agatha yang ada di depanku seketika membuyarkan pikiranku.


Pagi tadi setelah mendengar kata-kata itu dari Ayla, aku pamit untuk pergi ke kelas. Aku berpesan padanya agar tak memberitahu Daniel tentang keberadaanku yang sudah ada di sekolah. Aku sedang tak ingin bertemu dengannya sekarang, meski rindu namun egoku lebih tinggi hingga mengalahkan rasa rinduku itu.


"Wir, lo kenapa sih? Dari tadi bengong mulu. Ada masalah sama pacarnya?"


Aku tak mengusik ucapan Renata tadi, rasanya hari ini aku tak berselera untuk mengobrol dengan mereka. Sungguh sial nasibku hari ini, pertama masuk sekolah lagi, tapi paginya sudah diberi sarapan gosip yang tak mengenakan. Mendengar gosip Ayla tadi, membuat moodku menjadi buruk, aku lebih memilih gosip Renata dan Agatha untuk sarapan setiap pagiku, dari pada mendengar gosip Ayla yang mungkin sangat dibilang jarang untuk bergosip padaku, bahkan bertemu denganku pun sangat jarang.


"Wir, kita kekantin dulu ya? Lo mau ikut?" kutatap Renata yang berbicara lembut padaku, oh tidak, wajahnya terlihat sangat menyedihkan, mungkin karena menatap wajahku pula yang sangat memperihatinkan.


"Kalian duluan aja, aku lagi males keluar." tuturku lalu menelungkupkan kepalaku keatas meja, dengan alas tanganku yang menjadi bantalnya, aku sedang ingin pergi ke alam mimpi, jadi jangan mengganggu.


"Yaudah, kita pergi." pamit mereka.


Hening, keadaan di dalam kelas sungguh menegangkan, untung aku anak pemberani yang tak takut dengan hantu. Tapi membicarakan hantu, benarkah mereka ada? Atau hanya gosip belaka? Ahh, aku tak ingin menceritakan hantu. Aku hanya ingin orang yang peduli padaku.


Sesaat aku merasakan ada pergerakan di sampingku, mungkin Renata yang duduk disampingku. Ah, tapi tadi dia pamit ke kantin, lalu dia siapa? Mungkinkah hantu? Ya Allah, tadi aku lupa, harusnya tadi aku tak membayangkan kehadiran hantu disini.


Sesuatu menyentuh pundakku, akupun tak tahu apakah itu tangan manusia atau bukan, tapi yang pasti aku tak takut. Sentuhan itu berubah menjadi tepukan, tepukan yang mengulang kembali hingga itu sangat menggangguku.


"Renata diem." ucapku dengan nada tegas, seakan diri ini meyakinkan kalau itu memang benar-benar Renata.


Satu tepukan lagi di pundakku, kali ini tepukannya lumayan keras sehingga membuatku terusik dan membuka mata, namun masih enggan untuk menatap kesamping sana, posisiku saat ini memang sedang enak.


Satu tepukan lagi di pundakku.


"Renata!" dengan gerakan cepat aku mengangkat tubuhku dan menatap tajam orang yang sudah menggangguku, tak sadar tanganku yang ingin memukulnya seketika kaku, mataku membulat lebar, sudah jelas jika aku terkejut.


"Ini aku, Daniel. Pacar kamu."


Kutatap Daniel yang masih tersenyum manis di sampingku, aku tak cukup jelas mendengar katanya tadi. Aku hanya terdiam dengan pikiran yang mulai berkeliaran kemana-mana, entahlah bagaimana dia ada disini? Padahal aku tak memberitahunya kalau aku disini, apa mungkin Ayla yang memberitahunya? Tapi menurutku itu tak mungkin, setahuku Ayla orang yang sangat bisa dipercaya.


Aku yang tersadar akan tanganku yang terus mengepal diatas langsung aku turunkan. Malu? Tentu saja, aku sudah salah menebak nama lalu ingin memukulnya?


"Ngapain kakak kesini?" datar dan datar, itulah respon yang aku berikan untuk Daniel, sedangkan pandanganku sudah menghadap papan tulis di depan.


"Nemuin kamulah, emangnya siapa lagi?"


"Bukannya selama aku gak ada, kak Daniel deket ya sama kak Yerin?" ku tatap Daniel dengan senyuman sinis, eh kenapa sikapku hampir mirip dengannya? Bagaimana bisa? Aduh aku tertular sikap arogannya.


"Ohh, terus kamu cemburu?"


"Terus?"


"Ya aku gak suka aja kalo kak Daniel deket-deket sama cewek lain. Seakan selama ini aku di khianati." ku tekankan setiap kata-kata terakhirku, ya aku memberinya kode agar dia tak mendekati wanita itu lagi.


"Aku heran, sebenernya siapa sih yang mengkhianati dan dikhianati?"


"Jadi kak Daniel nuduh aku? Iya?" ku tatap mata Daniel lekat-lekat, seakan sedang meminta penjelasan yang lebih darinya.


"Ya, kalo kamu merasa."


Ihhh, ingin rasanya aku menjambak rambut Daniel, ingin rasanya aku mencincang dagingnya lalu membagikannya pada buaya yang sedang kelaparan. Kenapa dia selalu saja membuatku kesal?


"Aku gak pernah khianatin kak Daniel." yakinku yang berusaha membuat Daniel percaya, dan akupun bingung, bagaimana bisa aku mengkhianatinya? Sedangkan selama ini aku selalu menghubunginya.


"Masa?" ucapannya itu seakan sedang mengejekku.


"Beneran kak, aku gak pernah khianatin kakak. Aku berani sumpah." aku mengangkat kedua jariku membentuk huruf 'v'.


Seketika Daniel tertawa, aku tak tahu kenapa dia tertawa, yang pasti tak ada yang lucu.


"Kalo bukan mengkhianati, berarti selingkuh, dong."


"Siapa juga yang selingkuh."


"Ohhh, bagus deh kalo gak ngerasa. Berarti Andrew?"


Andrew, oh tidak. Sekarang aku tahu kenapa Daniel bicara demikian, ternyata itu karena ia berusaha memberiku kode tentang Andrew pasca hari itu.


"Andrew, kak?" tanyaku dengan wajah yang sedikit kebingungan.


"Menurut kamu siapa lagi? Emang dia, kan?"


"Tapikan aku udah bilang, aku sama Andrew itu udah berakhir, jauh sebelum aku kenal kakak."


"Ohh, kamu kenapa gak bilang kalo udah pulang?"


Skakmat, bagaimana sekarang? Aku harus bicara apa? Jika aku jujur pasti pilihannya ada dua, antara Daniel tertawa dan marah.


"Dah, aku ngomong! Malah ngelamun. Ngelamunin apa sih? Pacar kamu yang ganteng ini, ya?" ujar Daniel yang menyadarkan aku, dan aku rasa sikap percaya dirinya kambuh lagi.


"Tahu ah... Kak Daniel nyebelin, pokoknya aku masih marah, titik."


Ku palingkan wajah ini dan beranjak dari dudukku, satu langkah aku keluar bangku, tiba-tiba Daniel menarikku hingga aku kembali terduduk.


"Pulang sekolah bareng aku." pintanya dengan tangan yang masih menggenggam tanganku erat.


"Gak mau!" tolakku kasar.


"Harus!"


"Kak Daniel bisa gak sih, gak maksa aku!"


"Kamu kalo gak dipaksa gak akan pernah mau! Emang kamu gak rindu gitu setelah kita pisah?"


"Kak Daniel harusnya ngertiin aku dong, aku kayak gini karena aku rindu sama kakak, tapi pas dateng kakak malah deket sama cewek lain."


"Aku sama Yerin itu gak ada apa-apa! Kamu jangan salah paham dulu makanya, dengerin dulu penjelasan aku, aku gak pernah suka sama dia! Dihati aku cuman ada kamu, Dah. Cuman kamu."


Setelah kian lamanya, kini aku mendengar penjelasan Daniel yang lumayan panjang. Mataku yang mulai memanas kini mengeluarkan cairan bening yang melintas ke pipiku. Dan detik berikutnya dia langsung mendekapku.


"Maafin aku, aku gak bermaksud bikin kamu nangis."


Kudengar suara lembut itu keluar dari mulut Daniel, suaranya sungguh menghangatkan hatiku. Dan tanpa disadari kini aku tersenyum mendengarnya.


...***...