
"Tha, Wir. Yang ini bagus gak, sih?" tanya Renata
Aku menatap Renata yang sedang memegang dua baju yang berbeda. Begitupun Agatha.
"Bagusan yang warna biru langit." jawab Agatha yang langsung aku angguki.
Hari ini, hari kami berbelanja untuk persiapan besok. Jujur, sebenarnya aku tak perlu lagi berbelanja. Keperluan yang aku butuhkan sudah siap semuanya. Dan aku rasa, aku akan memakai jaket dan sepatu pemberian orang itu untuk besok.
"Wir, lo gak beli apa gitu?"
"Gak perlu, yang aku butuhin udah ada. Mungkin udah ini kita ke toko buku."
"Toko buku?"
"Iya, ada novel baru yang harus aku baca."
"Dasar kutu buku."
Aku memutar bola mataku malas. Lantas kakiku melangkah meninggalkan toko baju itu, begitupun dengan Renata dan Agatha yang menyusul setelah membayar belanjaan mereka itu. Biar saja mereka bicara apa, lagipula itu tak masalah untukku. Aku senang, dan tak peduli.
Menemani Renata dan Agatha berbelanja itu sama seperti menemani kak Wildan berbelanja. Mereka sama-sama merepotkan. Selalu sulit untuk memilih barang, padahal beli saja keduanya. Tak perlu membandingkan yang akhirnya berujung penyesalan.
"Wir, gue tunggu di kursi itu, ya. Sekalian beli minuman. Gue haus banget dari tadi." ujar Renata saat aku akan memasuki toko buku.
"Gue juga sama," sosor Agatha dengan semangatnya.
Aku hanya mengangguk dan berjalan kedalam. Inilah surga dunia bagiku, mencuci mata dengan melihat banyaknya tumpukkan buku yang ingin kubaca, dan mungkin itu akan terasa sangat nikmat bila saja aku membacanya dengan di temani oleh secangkir cokelat panas dan musik. Ah, membayangkannya saja sudah membuatku sangat bersemangat.
Dulu, saat aku masih kecil. Aku sangat ingin menjadi penulis. Bahkan mungkin sampai sekarang keinginan itu masih ada. Tapi entah kenapa sangat sulit untukku mewujudkannya. Bukan karena bunda ataupun kak Wildan melarang. Tapi aku takut tak dapat menyelesaikan cerita ini nantinya.
"Hei."
Kutengok kearah kiriku dan menatap seorang lelaki di depanku. Siapa dia? Aku tak mengenalnya. Aku menunjuk diriku sendiri seakan bertanya kalau dia memanggilku?
"Iya, lo Wirda, kan?"
"I-iya... Ada apa, ya?"
"Gue Max. Kakak kelas lo." dia mengulurkan tangannya kearahku. Dan dengan ragu aku membalasnya.
"Wirda," ucapku sambil melepaskan jabatan tangan kami.
Dia tersenyum kearahku, senyumannya manis. Tapi lebih manis senyuman milik Daniel dan kak Wildan. Ah, kenapa dalam keadaan seperti ini aku masih mengingat mereka?
Bicara tentang Daniel dan kak Wildan, aku jadi ingat. Bagaimana mereka sekarang? Apakah Daniel gusar karena sejak pagi tak mendapat kabar dariku? Dan kak Wildan, apakah dia sudah 2 jam menungguku di rumah sakit? Ah, aku terlalu kejam karena mengabaikan mereka berdua.
"Besok lo ikut keacara camping?" tanya lelaki disampingku, lebih tepatnya Max.
"Ikut."
"Mau bareng gue?"
"Hah?" aku terkejut seketika. Bahkan mungkin wajahku sekarang sudah tak karuan. Apakah Max tak tahu kalau aku sudah memiliki pacar? Tapi, bukankah hampir seluruh isi sekolah tahu kalau aku pacar Daniel. Lalu mengapa ia mengatakan itu? Apa dia benar-benar tak tahu?
"Lo mau satu bus sama gue?"
"Eh, enggak usah kak. Aku takut pacar aku marah."
"Daniel maksudnya?"
Aku mengkerutkan alisku. Rasanya sangat aneh jika dia tahu aku pacarnya Daniel, tapi dia masih tetap ingin mengajakku. Ada apa ini sebenarnya?
"Lo pasti bingung, kan? Gini aja, gue minta nomor telpon lo." lagi-lagi dia tersenyum kearahku. Dan sekarang menyodorkan handphone miliknya kearahku.
"Nomor, kak?" aku menatap ragu handphone itu. Aku takut jika nanti Daniel tahu, dan dia pasti akan marah.
"Iya. Kenapa? Gak boleh juga?"
"Bu-bukan. Tapi... Yaudah deh," aku mengambil alih handphone itu dan mengetik nomor handphone milikku di sana.
Max masih menjadi sosok misterius bagiku. Apa niatnya? Aku tak mengerti.
"Ini, kak. Kalo gitu aku pergi dulu. Kasian temen aku nungguin." aku tersenyum simpul pada Max sebelum akhirnya aku pergi membawa tiga buah buku novel yang aku beli.
Sepertinya aku juga harus pamit pada Renata dan Agatha, aku harus pergi ke rumah sakit. Kasihan jika kak Wildan kelamaan menungguku. Dia pasti jengkel karena aku tak datang-datang.
Ting...
Suara nyaring itu terdengar dari dalam tasku. Cepat-cepat aku mengambil handphone milikku dan membuka sebuah pesan dari Daniel. Iya, dia mungkin saja cemas karena sejak tadi aku belum juga menghubunginya.
...Kak Daniell...
Kamu kemana aja?
Kok gak ngabarin aku?
^^^Aku abis beli buku, terus^^^
^^^sekarang juga mau pulang kok.^^^
^^^Tapi aku mau ketemuan sama^^^
^^^kak Wildan dulu.^^^
^^^kasian dia nungguin aku.^^^
^^^Gak usah, aku udah pesen taksi tadi.^^^
Yaudah, hati-hati.
...***...
Aku baru saja menuruni taksi, dan kini aku memasuki rumah sakit dan berjalan kearah lift. Jika ingin tahu,n sebenarnya aku tak asing lagi bagi mereka yang sudah lama bekerja disini. Jadi tak tanggung-tanggung beberapa perawat yang berlalu-lalang tersenyum dan menyapaku. Ini rumah sakit milik om Jordan yang kemudian di urus oleh dokter keysa. Sahabat om Jordan. Selama om Jordan di Amerika, dialah yang mengurus rumah sakit ini. Dan dia jugalah yang selalu merawatku selama aku sakit.
Dulu, saat aku masih tinggal di Bandung. Biasanya sebulan sekali aku akan pergi ke sini untuk pengobatanku. Mungkin ini juga salah satu alasan, kenapa aku, bunda, dan kak Wildan pindah ke Jakarta.
Kuketuk pintu berwarna putih yang ada di depanku, lalu masuk begitu saja. Ini sudah biasa aku lakukan. Dan sesampainya di dalam, suasana hening. Sepi. Tak ada seorangpun disana. Kemana dokter keysa? Apa dia sedang memeriksa pasien? Dan kak Wildan? Ia juga tak ada. Kemana mereka semua pergi.
"Mau aku bantu? Itu berat loh."
"Gak usah! Aku bisa sendiri, kok."
"Tapi, kan. itu berat. Aku gak mau kamu kecapekan,"
"Aku bilang gak usah, berarti gak usah. Ngarti gak sih?"
Samar-samar aku mendengar suara itu dari arah luar, dan saat aku akan melihatnya. Pintu itu terbuka dengan sendirinya dan menampilkan kak Wildan dengan seseorang yang menurutku tak asing. Ia membawa banyak tumpukkan buku dan berkas-berkas. Lantas menaruhnya di meja dokter Keysa.
"Kak Wildan," lirihku yang langsung disambut senyuman tengil dari kak Wildan.
"Dah. Kamu udah datang? Kirain kakak, kamu gak akan datang." ucapnya sembari membelai rambutku.
"Saya permisi dulu."
Aku yang melihat wanita itu akan pergipun langsung mencekal tangannya. Lantas mengamati wajah itu dengan sesama. Dan dugaanku benar, dia memang tak asing bagiku. Dia seperti dokter yang saat itu ada di sekolah dan mengobrol dengan Daniel.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya yang membuatku tersadar.
"Dokter yang waktu itu ada di sekolah, kan?" tebakku tanpa ragu.
"SMA Cahaya Pelita?"
"Iya, yang waktu itu ngobrol sama kak Daniel."
"Ohh, saya ingat. Kamu yang waktu itu sakit, kan?"
"Sakit?" kak Wildan dengan refleksnya menarik tanganku dan menatapku dengan tajam.
"Kamu sakit lagi disekolahan?"
"Itu udah lama, kak. Aku cuman kepanasan doang, kok."
"Cuman kamu bilang? Kamu gak tahu kalo---"
"Aku tahu, kak. Udah, ya?"
Terdengar helaan nafas panjang dari kak Wildan yang aku duga kalau dia sedang menahan kesalnya.
"Oh, iya. Dokter, kerja di sini?" tanyaku mengalihkan perhatian.
"Iya. Panggilnya kakak aja, biar akrab,"
"Kita ngobrol diluar yuk, kak."
Aku menarik tangan dokter itu dan pergi meninggalkan kak Wildan sendirian disana. Biar saja kak Wildan sendirian. Aku yakin, tadi ia berusaha untuk menggoda dokter ini. Tapi aku rasa, godaan kak Wildan tak mempan di dokter ini. Terbukti dari sikapnya tadi yang terlihat risih terhadap kak Wildan.
"Kakak masih kuliah?" tanyaku yang berjalan disampingnya.
"Iya. Kamu pacarnya Daniel, bukan?"
"Hah? Kok tahu?"
"Adik kakak sering cerita tentang Daniel. Dan waktu itu dia juga bilang kalau Daniel udah punya pacar, namanya Wirda. Itu kamu, bukan?"
Aku yang mendengar itu langsung tersipu malu. Aku rasa dokter ini memang kakaknya Ayla.
"Kakak, kakaknya kak Ayla, kan?"
"Tahu dari mana?" tanyanya dengan wajah yang nampak terkejut.
"Cuman nebak. Soalnya wajah kalian lumayan mirip, dan..." aku melirik name tag yang terpasang rapi di jas milik dokter itu. "Nama kalian juga hampir sama,"
Iya, nama dokter itu Alya. Kakak dari Ayla.
"Wirda, kamu udah dateng, sayang?"
Aku dan dokter Alya mencari asal suara yang terdengar dari samping kami. Itu dokter Keysa. Dia berjalan kearahku sambil memasukkan handphone miliknya kedalam saku jas putihnya itu.
"Assalamu'alaikum tante dokter Keysa." ucapku dengan sopan dan senyuman.
"Waalaikumussalam. Tante kira kamu gak akan datang lagi. Kakak kamu nungguin dari tadi siang. Kasihan dia."
"Ndah, abis beli buku tadi sama temen-temen. Jadi gimana, tan?"
"Kita periksa dulu, ya."
Aku mengangguk mengiyakan dan berpamitan pada dokter Alya. Setelahnya aku hanya mengikuti langkah dokter Keysa.
...***...