Wirdaniel

Wirdaniel
Dia Pulang



Ini sudah satu minggu, dan Daniel belum juga pulang. Bahkan ujian semester terakhirpun sudah berakhir. Entah ada apa dengan lelaki itu disana hingga selama ia pergipun tak pernah sekalipun mengirimi Wirda pesan. Sangat menyedihkan.


"Ndah, Ndan, ayo turun sarapan!" teriak bunda dari bawah.


Wirda yang saat itu sedang memainkan biolanya langsung berhenti dan berjalan kearah pintu.


Dan secara bersamaan saat itu pula Wildan keluar dari kamarnya, mereka membuka dan menutup pintu secara bersamaan. Sekejap mereka saling pandang, Wildan menatap sang adik dengan tatapan lesu, ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya berjalan melewati Wirda begitu saja.


"Kak Wildan lesu banget pagi ini, kenapa? Ada masalah?" tanya Wirda yang menyamai langkahnya dengan langkah Wildan.


"Gak apa-apa, cuman kurang pemasukkan karena diperas selama seminggu."


Wirda menghentikan langkahnya dan melongo, dia menatap Wildan yang terus berjalan lesu menuruni tangga.


"Hah, aku? Kapan aku meras dia?" Wirda tertawa kecil dan menunjuk dirinya sendiri tak percaya.


Sedangkan Wildan, ia duduk menatap makanan yang ada diatas meja. Ini aneh, kenapa hari ini bunda masak begitu banyak? Apa ada perayaan?


"Kak Wildan!" teriak Wirda yang menuruni tangga dengan cepat dan duduk disamping pemuda itu. Matanya menatap tajam Wildan. Dan hal itu membuat bulu kuduk Wildan merinding.


"Apa?"


"Gak jadi, ini masih pagi."


Wirda membalik piring miliknya dan menatap makanan yang tersusun rapi diatas meja. Ia menatap Wildan seolah bertanya hari apa ini. Dan Wildan yang melihatnya hanya menggeleng seolah mengisyaratkan adiknya kalau iapun tak tahu apa-apa.


"Hehhh, kok malah pada telepati gitu sih," pekik bunda yang datang dengan semangkuk sup sayur yang ada ditangannya.


Namun seketika Wirda membelalakkan matanya menatap seseorang yang berjalan dibelakang bunda dengan sepiring ayam goreng ditangannya.


"Kak Daniel?"


Daniel tersenyum manis saat Wirda dengan polosnya menatap ia.


Wirda berdiri dari duduknya dan langsung berhambur kepelukkan Daniel saat lelaki itu sudah menaruh makanan yang ada ditangannya keatas meja.


"Kak Daniel kapan datang?" tanya Wirda yang sudah melepaskan pelukkannya.


"Kemarin malem,"


"Giliran ada doi aja, abangnya ditinggalin." celetuk Wildan yang kemudian menuangkan nasi ke piringnya.


Wirda berjalan cepat dan duduk kembali ketempatnya, ia mendekati Wildan dan memegang tangan kakaknya itu. "Gak mungkinlah, kan kak Wildan kakak terbaik Ndah." ucapnya yang membuat Wildan menggidik ngeri.


"Geli kakak dengernya."


"Ck, kalo geli ya ketawa aja kali."


"Heh, udah makan. Hari ini bunda masak dibantuin sama Daniel," ujar bunda yang membuat Wirda dan Wildan menatap heran Daniel yang menuangkan nasi kedalam piring bunda dan miliknya.


Sifat Daniel hari ini seperti calon menantu yang ingin mengambil hati mertuanya.


"Serius kakak yang masak?" tanya Wirda tak percaya.


"Kenapa? Gak percaya? Cobain aja dulu,"


Daniel mengambil lauk dan menaruhnya dipiring milik Wirda, dan dengan penasaran Wirda langsung melahapnya. Terdiam beberapa detik, sampai akhirnya ia tersenyum sumringah dan memukul tangan Wildan keras-keras.


"Dah, sakit." ringis Wildan yang memegang tangannya.


"Nih kak, kak Daniel itu calon menantu idaman bunda. Udah pinter, jago masak. Intinya beda jauh deh sama kak Wildan yang bisanya cuman godain cewek."


"Heh, ya. Kalo cuman masak mah kakak juga bisa kali. Emang kamu."


"Ndah juga bisa kali!"


"Udah berantemnya?" tanya bunda dengan raut wajah horor. Dan itu membuat Wirda dan Wildan berhenti bicara.


Mereka mulai makan dengan tenang, meski sesekali Wirda atau Wildan membuat sebuah pertengkaran kecil. Tapi hal itu membuat semuanya semakin hangat. Begitupun Daniel, selama bertahun-tahun dan inilah moment yang sangat ia nantikan dengan keluarga. Ia rindu saat-saat keluarganya kumpul bersama, namun ia juga harus mengerti dengan kesibukkan orangtua nya yang selalu saja bekerja. Itulah sebab mengapa Daniel sering merasa canggung ketika duduk diantara orangtua nya tanpa ada Ayla. Dan hari, ia merasa sangat senang bersama keluarga mantan pacarnya itu.


...***...


"Gimana ujiannya?" tanya Daniel yang duduk di ruang tamu ditemani Wirda.


Wirda menghela nafas lelah dan menatap lesu Daniel. "Susah-susah gampang. Aku sampe gak bisa makan sama minun karena khawatir nilai aku jelek."


Laki-laki itu berteriak kesakitan membuat Daniel yang juga ada disana meringis ngeri menatapnya. Sungguh malang nasib Wildan.


"Sakit Dahhh," protes Wildan sambil memegang perutnya.


Wirda mengambil apel yang ada ditangan Wildan dan memakannya dengan rakus. Sesekali ia menatap tajam Wildan yang masih diam dan mengelus-elus perutnya yang terasa sakit.


"Kak, kita pergi aja yuk! Males kalo dirumah terus," ajak Wirda pada Daniel.


"Mau kemana?" Daniel membenarkan posisi duduknya dan menatap lurus Wirda.


Wirda memakan apel itu lagi sambil berpikir sebentar. Ia juga bingung, tempat mana yang ingin ia datangi sekarang? Danau? Taman hiburan? Mall? Bioskop? Ah, semua itu sudah pernah ia datangi dengan Daniel.


"Terserah kakak aja deh."


"Gimana kalo kita ke mall aja? Sekalian ke toko buku." usul Daniel yang langsung disetujui oleh Wirda.


"Oke, kalo gitu aku ambil tas dulu ya kak."


Wirda berdiri dari duduknya, memberi paksa apel yang sudah habis digerogoti olehnya pada Wildan. Dan ia berlari kearah tangga.


Wildan melihat jijik sisa apel miliknya yang sudah habis digerogoti oleh adiknya. Ia berjalan kearah tong sampah yang ada disudut tembok dekat lemari buku, dan membuang sisa apel itu kesana. Setelah itu ia kembali lagi dan duduk disamping Daniel sambil mengelap tangannya dengan tisu.


"Pemikirannya masih dangkal, sifatnya masih kayak anak-anak. Maafin adik kakak ya, Niel." ucap Wildan sambil menaruh tisu tadi.


Daniel tersenyum simpul menatap Wildan. "Daniel udah biasa kok kak. Lagian itu wajar, Wirda cewek, sifatnya emang selalu pengen dimanja."


"Daniel, Ndan. Ini makan dulu apelnya," ujar bunda yang datang dengan sepiring apel yang sudah dipotong.


Wildan menghela nafas kesal dan mengambil piring itu dari bundanya. "Ndah jahat sama Ndan, bun." adu Wildan memasang wajah cemberut.


"Jahat kenapa?"


"Masa tadi dia ambil apel Ndan gitu aja, terus sisanya dikasihin ke Ndan. Kan gak sopan."


Daniel terkikik geli melihat Wildan, kakak dari mantan pacarnya itu bertingkah sangat manja pada sang bunda. Wildan memeluk lengan bundanya sambil memakan apel dengan cemberut. Ini tontonan gratis yang menghibur untuk Daniel.


"Kak Wildan! Lepasin bunda Ndah!" teriak Wirda yang datang dan menarik tangan Wildan agar menjauhi bundanya.


"Tuhkan, bun. Ndan bilang juga apa, Ndah jahat." ujar Wildan yang menatap sang bunda dengan memelas, tapi anehnya tangannya itu tak berhenti memasukkan apel ke mulutnya.


"Dih, apaan. Kakak jangan asal fitnah ya."


"Heh, udah-udah. Kalian gak malu sama Daniel?" relai sang bunda.


Wirda dan Wildan menatap Daniel secara bersamaan dan membuat laki-laki itu menunjuk dirinya sendiri bingung.


"Yaudah, Ndah mau pergi aja sama kak Daniel... Bunda, Ndah pamit ya," ucap Wirda yang menyalami tangan bunda, begitupun Daniel.


"Hati-hati dijalan, pulangnya jangan kemaleman." pesan sang bunda yang langsung diangguki oleh Wirda dan Daniel.


"Ehh, tunggu." Wirda memberhentikan jalannya dan menatap Wildan yang mengintruksi.


"Apa?" ketus Wirda.


"ATM kakak gimana?"


"Aman kok, Ndah bakalan jagain ATM kakak sampe Ndah puas."


Wildan terdiam, ia menelan salivanya dengan susah payah. Kini jerih payah dia selama bertahun-tahun itu akan hangus ditangan adiknya.


...***...


Hallo kalian semua,,


Makasih yang udah baca cerita WirDaniel.


Maafkan jika ada kesalahan. Mohon dukungannya ya kalian. Maaf, karena author baru update lagi.


Salam kasih dari author😊


Jangan lupa vote, comment & like nya, ya.


...terimakasih...