Wirdaniel

Wirdaniel
Akhir?



"Gue masih gak nyangka kalo kita udah lulus. Perasaan baru aja kemarin kita masuk ke sekolahan ini, sekarang udah lulus aja." ujar Angga tak percaya.


"Bukannya kemarin kita juga ke sekolah?" tanya Albi bodoh.


"Ck, iya in aja napa sih."


Daniel hanya tersenyum simpul melihat teman-temannya ini. Ia senang, juga sedih. Dihari bahagia ini, Wirda tak ada disampingnya.


"Niel!" Ayla berlari kearah Daniel dengan nafas terengah-engah.


Ia diam sejenak mengatur nafasnya dan kembali menatap Daniel panik.


"Lo kenapa?"


"Wirda."


"Wirdah kenapa?"


"Tadi kak Alya telpon gue, katanya kondisi Wirda kritis."


Deg...


Bagaikan disambar petir disiang bolong, jantung Daniel berhenti berdetak seketika. Tatapannya kosong, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan acara yang masih berlangsung ini.


...***...


Dalam ruangan bernuansa putih, Wildan duduk disamping Wirda dengan tersenyum getir. Ia menatap adiknya yang tak berdaya itu.


"Ndah tahu semuanya. Ndah punya kakak perempuan, kan?" tanya Wirda lirih.


Indah mengelus rambut putrinya sayang, "Maafin bunda yang nutupin semuanya dari kamu."


"Kemarin Ndah ketemu dia." Wirda tertawa kecil mengingat kejadian kemarin dan saat di atas rooftop.


Baik Wildan ataupun Indah, mereka menatap heran Wirda. Victoria sudah meninggal, lalu bagaimana Wirda melihatnya.


"Dia cantik." ujar Wirda sambil menatap mata bundanya.


Bohong kalau Wirda tidak sakit hati dan kecewa. Tapi bagaimanapun ia harus menerima kenyataan. Ia tak boleh egois.


"Kak, kalo misalkan Ndah gak hadir di hari pernikahan kakak nanti. Kakak jangan marah sama Ndah, ya?" lirih Wirda menatap Wildan yang duduk disamping ranjangnya.


Wildan menggeleng cepat, "Kamu harus datang. Nanti siapa yang gandeng tangan kakak sampe kedepan penghulu? Kamu harus sembuh, oke?"


Wirda mengambil nafasnya panjang dan menghembuskannya perlahan. "Kakak jangan genit-genit lagi sama cewek."


Wildan mengangguk patuh mendengar perkataan adiknya itu, dalam hati ingin sekali ia menjerit melihat ini.


"Bunda harus jaga kesehatan." ujar Wirda menatap sang bunda.


"Iya sayang, bunda bakalan jaga kesehatan bunda. Asal kamu juga harus kuat, ya?"


Wirda menggeleng pelan menanggapinya, bibirnya yang selalu tertarik keatas untuk membentuk senyuman langsung melorot turun kebawah.


Dia menangis, airmata dan suara isakkan itu lolos begitu saja kala mendengar Wirda mengeluh kesakitan padanya. Cepat-cepat ia menghapus airmatanya, dan kembali menatap Wirda dengan senyuman getir.


"Kakak peluk kamu, ya? Biar kamu gak kesakitan lagi." Wirda tersenyum senang mendengar itu.


Wildan beralih duduk diatas ranjang milik Wirda, dan membawa gadis itu kedalam pelukkannya. Ia memeluk Wirda dengan erat, dan mengusap halus rambut gadis itu.


"Ndah... Sayang... Kali-an."


Dan detik itu pula, pintu masuk terbuka, lalu suara monitor disamping Wirda berbunyi dengan sangat keras. Dilayar itu menampilkan garis panjang tak berujung.


Bunda yang melihatnya menjerit histeris. Dan Daniel yang baru saja masuk langsung kehilangan keseimbangannya. Kakinya terasa sangat lemas saat melihat pemandangan didepannya ini.


"Tidur yang nyenyak cantik, setelah hari ini, kamu gak akan kesakitan lagi." lirih Wildan sambil mencium kening Wirda lama. Setetes airmata mengalir membasahi rambut Wirda. Dan Wildan memejamkan matanya menikmati rasa sakit akan kehilangan yang mendalam.


Tak lama kemudian, suara isakkan keluar dari mulut Wildan. Ia sakit, benar-benar sakit melihat adik tersayangnya pergi dalam dekapannya.


Daniel berjalan mendekat keranjang milik Wirda. Wajahnya yang dibanjiri keringat serta darah yang mengalir di pelipisnya itu menatap linglung. Ia menyentuh tangan Wirda yang berada didekapan Wildan.


"Dah..." panggil Daniel lembut.


"Bun, kak. Wirdah lagi tidur, ya?" tanya Daniel polos. Demi apapun, Daniel terus menyangkal semua yang terjadi disini. Ia tak yakin dengan apa yang ia lihat dilayar monitor tadi.


Daniel menatap Indah dengan rasa bersalah, "Daniel datangnya terlambat, ya?"


Indah menggelengkan kepalanya dan terduduk lesu diatas kursi.


Daniel tak paham dengan semua keadaan ini. Dan didepan pintu, Ayla serta Alya berlari kearah Wirda. Alya memeriksa denyut nadi Wirda dan terdiam. Ia menatap adiknya dan Daniel lalu menggeleng.


"Kak Alya kenapa? Wirdah baik-baik aja, kan?" tanya Daniel kesal.


Ayla berjalan kearah Daniel dan memegang pundak laki-laki itu. "Wirda udah gak ada, Niel."


Daniel menggeleng cepat dan tersenyum getir, "Kalian bohong. Kemarin dia baik-baik aja kok,"


"Niel.."


"Dahh..." Daniel menyentuh pipi Wirda dan menatapnya nanar. "Dah... Kamu denger aku, kan?"


"Dah... Jangan gini, aku takut."


Airmata Daniel tak dapat dibendung lagi, ia menangis dan menepuk pipi Wirda. Namun tak ada respons dari sang empu. Suara Daniel menjadi gemetar.


Dan tiba-tiba saja suara decitan terdengar sangat keras ditelinganya. Kepalanya terasa sangat pusing, dan tak lama Daniel terjatuh ke lantai yang dingin karena kehilangan keseimbangannya.


...***...


Hai readers!!


Apa kabar? Maafkan author yang jarang update,, oh iya, ini bukan part akhir ya... Masih ada 1 part lagi yang bakalan nyusul.