Wirdaniel

Wirdaniel
Rumah Daniel



Wirda menghentikan langkahnya, dan menatap sekeliling dan seketika ia tersadar, ia berada di depan kompleks perumahan Daniel.


Dan tiba-tiba saja Wirda terduduk jatuh, ia memegangi dadanya yang terasa sakit karena terlalu lama berjalan. Kepalanya juga terasa pusing karena terlalu lama menangis.


"Bunda..." gumam Wirda yang menatap kearah jalan raya.


Setelah merasa lebih baik, Wirda langsung berdiri dan melanjutkan perjalanannya menyusuri jalan raya. Mungkin malam ini ia akan pergi kerumah Renata untuk menginap. Ia tak mau pulang kerumahnya.


Daniel yang saat itu keluar dari kompleks perumahannya seketika langsung membelalakkan matanya saat ia melihat gadis yang sangat ia cintai berjalan di trotoar.


Seketika Daniel langsung menancap gas dan berhenti tak jauh dari Wirda. Ia bergegas turun dari mobilnya dan langsung melepas jaket yang ia kenakan.


Dengan gerakkan kilat, Daniel langsung memakaikan jaket miliknya ke tubuh Wirda sambil memeluknya dari arah belakang.


Wirda yang terkejut dengan seseorang yang memeluknya secara tiba-tiba ingin melepaskannya, namun perlahan ia menyadari, tangan kekar ini milik Daniel. Dan wangi parfum ini, sudah pasti Daniel.


"Kamu ngapain malem-malem keluyuran di pinggir jalan raya?" tanya Daniel yang melepaskan pelukkannya dan membalikkan Wirda untuk berhadapan dengannya.


Tak ada jawaban dari Wirda, yang ada hanya air mata yang mengalir di temani isak tangis.


"Aku anter kamu pulang, ya?"


"Gak mau, aku gak mau pulang."


"Kamu mau bunda cemas nyariin kamu?"


Wirda terdiam. Dia memandang Daniel dengan mata sayunya.


"Aku gak mau pulang,"


"Terus kamu mau kemana?"


"Aku mau kerumah Renata,"


Daniel membawa Wirda menaiki mobilnya, lalu ia mulai memutar balik untuk pergi.


Sesampainya di tempat tujuan, Wirda langsung terdiam menatap rumah yang menurutnya, ini rumah Daniel bukan Renata.


"Kak, kenapa kerumah kakak?"


"Kenapa? Kamu takut aku macem-macem sama kamu?"


wirda yang mendengar itu langsung memalingkan wajahnya kearah jendela, rasanya malu jika dia harus mengakuinya.


"Tenang aja, ada mama aku kok."


Daniel turun lebih dulu, lalu ia memutari mobilnya dan membuka pintu untuk Wirda.


Wirda berjalan dibelakang Daniel dengan tangan yang di genggam erat oleh sang empu. Ia melirik sekilas mobil yang terparkir di depan garasi mobil, mobil itu sepertinya pernah di lihat oleh Wirda. Namun, dimana? Dan mobil siapa itu?


"Ma," panggil Daniel saat memasuki rumah.


"Kak, gak usah teriak-teriak kali." ucap Wirda pelan.


"Biarin," ketus Daniel yang menarik tangan Wirda menuju dapur.


Ini kali pertama Wirda memasuki rumah Daniel, biasanya ia hanya akan melewatinya saja saat ingin kerumah Agatha yang kebetulan memang satu kompleks dengan Daniel.


"Ma..." teriak Daniel lagi saat melihat orang tuanya yang sedang berdiri menghadap kompor.


"Gak usah teriak-teriak kali. Ini rumah, bukan hutan!" kesal Ayla yang berdiri didepan meja makan.


"Terserah gue, rumah-rumah gue. Apa urusannya sama lo?"


Wirda yang melihat Ayla berada disini langsung membulatkan matanya. Ia mulai paham sekarang, jadi mobil tadi adalah milik Ayla. Pantas saja jika Wirda mengenalinya.


"Kak Ayla," lirih Wirda yang menatap Ayla.


"Loh, Wir. Lo kok ada disini? Lo diculik sama dia?" Ayla berjalan kearah Wirda, lalu ia menunjuk Daniel tepat didepan matanya.


"Apaan sih, siapa juga yang nyulik. Lo fitnah gue,"


"Heh, udah-udah. Yuk makan." ucap Dania yang menaruh sayur dimeja makan.


"Ma, calon mantu mama datang."


Dania yang saat itu sibuk menaruh makanan di meja makan langsung terdiam dan menatap Daniel. Lalu tatapannya jatuh pada gadis disamping anaknya.


"Ya ampun Daniel, malem-malem bawa anak orang." Dania berjalan kearah Wirda lalu menangkup wajahnya.


"Cantik," satu kata, namun berhasil membuat Wirda tersipu malu atas pujian Dania.


"Makasih, tante."


"Kalian makan dulu aja, Daniel ada urusan sebentar."


"Mau kemana lagi lo?" ucap Ayla yang langsung berdiri dihadapan Daniel.


"Iya, kamu mau kemana? Makan dulu, abis itu boleh pergi."


"Bentar doang, ma. Abis itu juga Daniel pulang kok, gak akan lama."


"Beneran?"


"Iya,"


Daniel menyalami tangan Dania lalu berdiri dihadapan Wirda.


"Ma, jagain dia. Dah, aku pergi bentar,"


"Hati-hati." ujar Wirda yang langsung diberi senyuman tulus oleh Daniel.


Wirda menatap punggung Daniel yang kemudian menghilang dibalik pintu utama. Suasana disini mungkin sedikit canggung, karena ia belum terbiasa dengan Dania. Dan ini pertama kalinya Wirda bertemu dan bicara langsung pada ibu mantan kekasihnya itu.


Wirda, Ayla dan Dania makan bersama sambil sesekali bercanda. Mereka terlihat sangat akrab, beruntung Wirda bisa langsung beradaptasi dengan Dania.


Selepas makan bersama Ayla berpamitan pergi pulang, ia tak bisa menginap malam ini karena orang tuanya sedang berada dirumah.


"Wirda, sayang."


Wirda yang mendengar panggilan itu langsung menatap kearah Dania.


"Kamu kenapa? Ada masalah?"


"Nggak kok, tan."


"Daniel tadi bilang kalo kamu mau nginep disini?"


"Kak Daniel bilang begitu?" Wirda yang tadinya terlihat santai kini menjadi tegang, ia tak habis pikir dengan Daniel sekarang.


"Iya, yuk tante anter ke kamar Daniel,"


Wirda tersenyum simpul dan berjalan mengekori Dania, ia melirik kanan-kiri untuk menghafal jalan dirumah Daniel yang terbilang sangat besar.


"Ini kamarnya, nanti kalo Daniel pulang dia bisa tidur di kamar tamu." ucap Dania yang membuka kamar Daniel dan membawa Wirda masuk kedalamnya.


Wirda menatap kagum dengan kamar Daniel yang terbilang sangat luas ini. Ada banyak buku yang tertata rapi diatas rak buku, sekarang Wirda tak heran kenapa Daniel sangat pintar, namun sangat disayangkan karena ia terlalu malas dan sering membolos.


"Kamarnya rapi, tan." ucap Wirda girang.


"Yaudah, kalo gitu tante pergi dulu, ya."


"Iya, tan. Makasih banyak, maaf ngerepotin,"


"Sama-sama,"


Setelah kepergian Dania, Wirda langsung berjalan kearah meja belajar Daniel, dan disana ia melihat banyak foto dirinya dan Daniel saat masih berpacaran dulu.


"Kak Daniel," lirih Wirda yang tersenyum menatap foto Daniel dan dirinya saat memakan eskrim ditepi danau dulu.


Wirda beranjak dari tempatnya, lalu berjalan kearah piano yang berada di dekat pintu kaca menuju balkon. Ia duduk didepan piano itu, lalu menatap langit malam dari dalam. Pikirannya kalut sekarang, ia sendiri tak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Semuanya tak menentu.


"Belum tidur?"


Wirda membalikkan tubuhnya dan menatap Daniel yang menaruh tas diatas meja belajar. Tas itu, bukankah itu tas milik Wirda?


"Kok tas aku ada disini?" tanya Wirda yang beranjak dari duduknya.


"Tadi aku kerumah bunda,"


Daniel berjalan kearah Wirda, lantas membawanya untuk duduk ditepi tempat tidur.


"Kenapa kakak kesana?"


"Minum dulu," ucap Daniel yang menyodorkan segelas susu untuk Wirda.


Ia tahu Wirda selalu meminum segelas susu hangat saat ingin tidur, itupun ia tahu dari bunda yang memberitahunya dulu.


"Kakak ngasih tahu bunda kalo aku nginep dirumah kakak?" tanya Wirda setelah menghabiskan setengah gelas susu hangatnya.


"Iya, sekalian bawain seragam sama tas sekolah kamu buat besok."


"Terus gimana?"


"Gimana apanya?"


"Gak jadi,"


Daniel menatap Wirda yang memalingkan wajah darinya, senyumnya terbit saat melihat Wirda yang kembali meminum susunya hingga tandas. Bukan tak tahu maksud Wirda, sebenarnya Daniel hanya ingin Wirda berterus terang saat bertanya. Tidak berbelat-belit seperti ini. Dulu mungkin masih ada banyak hal yang Daniel tak mengerti mengenai perkataan Wirda yang menurutnya seperti teka-teki. Tapi sekarang berbeda, dia berusaha untuk mengerti diri Wirda. Karena keegoisan dan ketidakpekaannya dulu hampir saja membuat dirinya kehilang gadis itu. Gadis yang sangat ia cintai hingga sekarang.


"Kamu gak mau nanya keadaan bunda sama kak Wildan?" tanya Daniel yang ngambil gelas ditangan Wirda.


"Buat apa? Gak penting,"


Bohong, bagaimana mungkin Wirda tak perduli? Sedangkan sejak tadi merekalah yang mengganggu pikirannya.


"Bunda sama kak Wildan khawatirin kamu," ucap Daniel yang berterus terang. Namun Wirda yang mendengarnya hanya diam dan menunduk, raut wajahnya kembali sedih.


"Yaudah kalo gitu, kamu tidur sana."


Daniel menaruh gelas itu diatas nakas beserta handphone Wirda yang ada dalam saku celananya. Setelahnya ia langsung membenarkan selimut yang dipakai Wirda.


"Terus kakak tidur dimana?" tanya Wirda yang menatap Daniel.


"Kenapa? Mau tidur bareng aku?" ucap Daniel yang menggoda Wirda hingga langsung mendapat cubitan diperutnya.


"Apaan sih,"


"Aku tidur di kamar tamu, nanti pagi aku anterin kamu ke sekolah." ucap Daniel sambil mengusap lembut pucuk kepala Wirda.


"Kakak gak kesekolah?"


"Buat apa? Kan semuanya udah beres, tinggal nunggu surat kelulusan terus wisuda."


"Gak nyangka, ya? Perasaan baru aja kemarin aku ketemu kakak, istirahat, pulang-berangkat bareng kakak. Eh, sekarang kakak udah mau ninggalin aku,"


"Gak ada yang ninggalin kamu. Nanti kalo ada waktu aku bakalan anter-jemput kamu, kok. Lagian aku juga tetep kuliah disini."


"Gimana kalo misalkan nanti aku yang ninggalin kakak?"


"Aku kecewa,"


Wirda terdiam, sekarang ia tak tahu harus bagaimana. Ia takut jika saja nanti sebuah jawaban menyeretnya pergi dan meninggalkan Daniel sendirian.


Wirda mengambil tangan kanan Daniel dan menciumnya dengan lama, ia sungguh tak ingin ditinggalkan ataupun meninggalkan. Ia ingin seperti ini untuk selamanya.


Dengan tangan kanan Daniel yang dipeluk erat olehnya, serta tangan kiri Daniel yang masih mengusap kepalanya. Wirda mulai terlelap dengan sendirinya.


...***...


Hallo kalian semua,,


Makasih yang udah baca cerita WirDaniel.


Maafkan jika ada kesalahan. Mohon dukungannya ya kalian.


Salam kasih dari author😊


Jangan lupa vote, comment & like nya, ya.


...terimakasih...