Wirdaniel

Wirdaniel
Bakso



"Ihhh, gue kesel banget sama pak Botak." ucap Agatha yang memaki guru fisika kami.


Tadi memang ada ulangan harian fisika, dan itu pelajaran yang paling di benci banyak murid. Termasuk Renata dan Agatha.


"Yang sabar, Tha. Kata bunda, gak boleh memaki guru. Nanti ilmunya gak berkah." ujarku yang mengambil duduk di depan Renata dan Agatha.


Ingatkan kami jika saat ini kami ada di kantin, dan belum ada yang mengajukan untuk memesan apa.


"Lo kebanyakkan kata bunda." celetuk Renata.


"Emang bener, kalo gak percaya tanyain aja sama bunda."


"Iyain aja, anak bunda mah gak akan pernah kalah." ledek Agatha.


"Hallo Sweety."


Seketika aku langsung menatap kearah sampingku. Dan benar saja, Angga dan Albi langsung duduk di sampingku. Mereka mengapitku.


"Wir, gue pinjem Agatha, ya?" izin Angga.


"Gue juga, gue pinjem Renata." tambah Albi.


"Iya, pergi sana." ucapku yang langsung di turuti oleh mereka.


Dengan semangat 45 Renata, Agatha, Angga dan Albi pergi meninggalkan meja yang kini aku tempati. Satu kata, sepi.


"Serius mau pada ninggalin aku?" tanyaku tak percaya.


"Iyalah, lagian bentar lagi juga doi datang." ucap Agatha yang membuatku menatap masam mereka.


"Ish, nyebelin banget sih."


"Katanya gak boleh memaki, kok lo sendiri memaki sih?"


"Tahu ah."


"Yah, marah. Kita pergi ajalah." ucap Agatha dan beberapa detik kemudian, hening.


Hening menurutku, meski banyak orang di sekitar sini.


"Makan." suara seseorang di sebelahku mengintrupsiku dengan menaruh semangkuk bakso di depanku.


Lalu dia pindah duduk di depanku. Bahkan sampai sekarang aku masih tak tahu siapa itu, aku hanya melihat sekilas seragamnya, sebelum fokusku pada bakso di depanku.


"Gue bilang makan, bukan di liatin doang. Lo pikir cuman dengan di liatin tuh bakso bisa abis apa?" ketusnya.


Dan sekarang aku tahu itu pasti Daniel. Akupun mendongak untuk memastikan, dan ternyata benar apa adanya. Dia Daniel si cowok bermulut ketus.


"Sekarang lo liatin muka gue." ucapnya yang langsung membuatku salah tingkah.


"Kak Daniel ngapain disini?" tanyaku heran.


"Ngasih makan anak kucing."


"Hah? Mana?"


"Tuh di depan gue."


Dasar Daniel, dia memang menyebalkan. Entah dari apa Tuhan menciptakannya, mungkin saja bukan tercipta dari tanah liat, melainkan api dan batu. Dia semacam manusia setengah iblis bermulut ketus.


"Dasar."


"Yaudah makan cepetan, lambat banget sih lo."


Akupun menatap bakso itu dengan ragu. Jujur aku takut jika saja Daniel memberikan sesuatu ke makananku. Bagaimana setelah memakan bakso ini aku langsung kejang-kejang dan mati di tempat? Kan tidak ada yang lucu. Okay, itu terlalu berlebihan.


"Ngapain di liatin lagi?" tanya Daniel yang membuatku langsung menatapnya,"Gue gak kasih racun makanan itu."


"Hah?" aku terkejut, bagaimana bisa dia tahu apa yang sedang aku pikirkan, apa dia cenayang?


"Kok kak Daniel tahu?"


"Apanya?"


"Aku mikirin kak Daniel ngasih racun di bakso ini, terus pas aku makan nanti aku kejang-kejang dan terakhir mati di tempat."


"Lo berlebihan banget sih jadi orang, kalopun iya, gue gak akan sebodoh itu ngeracunin lo di tempat umum kayak gini."


"Jadi kalo di tempat sepi kak Daniel bakalan ngelakuin hal yang sama?"


"Mungkin."


"Gak usah di pikirin. Makan baksonya, nanti keburu dingin. Atau lo emang sengaja biar gue suapin lo?"


"Ish, jadi cowok kepedean banget sih."


"Haruslah."


"Dasar nyebelin."


Akupun mengambil saus dan sambal, lalu aku tuangkan pada baksoku. Terlalu fokus pada makian yang aku lontarkan dalam hati untuk Daniel, membuatku lupa jika aku terlalu banyak menuangkan sambal.


Dengan rasa tak karuan aku mulai mengaduk baksoku dan memakannya. Satu kata, pedas. Bukan, dua kata saja, sangat pedas.


"Kenapa? Pedes?" tanya Daniel dengan sebelah alis yang terangkat, juga senyuman miring yang membuatku merasa dia meremehkanku.


"Menurut kakak?"


Daniel tak menjawab, dia hanya mengambil mangkuk punyaku, dan menyodorkan miliknya yang masih utuh kearahku. Sedangkan aku yang tak mengerti hanya memberikan tanda tanya untuknya.


"Lo kepedesankan? Itu punya gue masih utuh, belum di apa-apain. Makan aja."


"Gak dikasih racun, kan?"


"Lo masih aja nanyain itu. Jangan kebanyakkan nonton drama deh."


"Iya."


Aku mulai menambahkan saus kedalam baksoku dan sambal sedikit. Meskikah aku meralatnya jika itu bakso Daniel? Beritahu aku.


Kutatap Daniel yang mulai memakan bakso bekasku. Jujur ada rasa tak enak pada Daniel, tapi laki-laki itu juga yang memaksa. Daniel seperti tak merasa kepedasan sama sekali, bahkan dia makan dengan sangat tenang. Padahal aku memasukkan sambel sangat banyak. Atau mungkin dia menyukai pedas? Ah, aku belum tahu-menahu prihal itu, Agatha saja belum memberitahuku.


Biasanya setiap pagi sebelum masuk pelajaran pertama, Agatha selalu memberiku sarapan tentang Daniel. Sebelumnya juga aku heran, mengapa dia sangat mengetahui tentang Daniel. Hingga aku pikir jika semua itu karena Albi yang memang sangat dekat dengan Daniel, sekaligus ketua gibah SMA Cahaya Pelita di akun sosial medianya. Tapi nyatanya aku salah, Agatha memang memiliki hubungan khusus dengan Daniel, yaitu sebagai sepupu.


"Ngapain ngeliatin gue lagi?" ketusnya.


"Siapa juga yang ngeliatin. Orang aku cuman penasaran sama baksonya." elakku dengan memalingkan wajahku.


"Mau tukeran lagi, hah?"


"Gak mau, yang itu pedes banget."


"Kalo gue sakit perut lo tanggungjawab."


"Hah?"


"Lo racunin gue pake sambel."


"Ihhh, kak Daniel. Serius kak."


"Gue serius."


"Tahu, ah. Nyebelin."


Aku mengambil sendok dan garpu, lalu mulai melahap baksonya. Kulihat sekilas Daniel tersenyum sinis menatapku. Entahlah, tapi ada perasaan aneh saat Daniel menatapku seperti itu. Seperti rasa takut? atau mungkin semacamnya? Aku tak tahu, juga tak mengerti.


"Abis ini mau kemana?" tanya Daniel.


Kutelan dulu bakso itu sebelum menjawab pertanyaan yang di lontarkan Daniel,"Kemana apanya?"


"Mau ikut gue?"


"Kemana?"


"Tempat paling nyaman di sekolahan ini."


"Kantin?"


"Itu tempat kita nyari makanan, pendek. Lagian kita juga lagi di kantin."


"Terus?"


"Abisin dulu baksonya, abis itu ikut gue."


"Ish, nyuruh-nyuruh mulu, dasar nyebelin, ketus, cowok gak berperasaan, sok kegentengan lagi." makiku dengan nada suara yang terbilang sangat kecil, bahkan semacam bisikan.


"Gue denger. Jangan jadiin memaki sebagai makanan sehari-hari lo, gak baik."


"Iyain biar kelar."


...***...