
Aku memasang headset dikedua telingaku dan memutar musik yang ada di ponsel milikku. Sambil menunggu bus berhenti, sesekali aku memejamkan mataku hanya untuk mencari kedamaian dari bisingnya orang-orang dalam bus.
Aku rindu suasana Bandung, aku rindu sekolahku dulu, aku rindu bermain biola di Cafe milik kak Wildan. Dan aku rindu dia. Rasanya aku ingin kembali ke masalalu-ku. Masa-masa dimana aku dilindungi dan dijaga dengan baik olehnya.
"Wir, Wirda."
Aku melepas sebelah headset-ku dan menengok kearah Renata yang duduk disampingku. Iya, aku duduk dengan Renata karena sebab Daniel sudah tak ada. Ia pulang lebih dulu tanpa memberitahuku.
"Apa?"
"Pak Ilan manggil lo."
"Mana?" aku mengedarkan pandanganku kearah depan, namun tak ada.
"Disini."
Suara tegas itu berasal dari arah belakang. Sepertinya om Ilan duduk dengan Albi dibelakangku.
Aku memutar kepalaku kearah belakang dengan tersenyum lebar.
"Om Ilan..." ucapku dengan senyuman terbaikku.
"Kamu mau mampir ke cafe kakak kamu dulu, gak?"
"Emang boleh?" tanyaku polos.
"Om yang izinin."
"Serius om?" aku menatap tak percaya pada om Ilan.
"Iya, tapi kamu harus traktir om sama temen-temen kamu juga."
"Siap."
Jujur, aku sangat rindu suasana di cafe itu. Cafe yang menjadi awal pertemuanku dengan Daniel. Cafe yang dulu sering aku pakai untuk menunjukkan bakatku. Aku yakin, para pengunjung setia cafe itu pasti merindukanku juga.
"Anak-anak, bapak minta perhatiannya sebentar." suara lantang itu terdengar dari arah depan, yang tak lain adalah om Ilan. Aku saja tak tahu kalau om Ilan sudah berjalan tadi.
"Kenapa, pak?" tanya Angga yang duduk disebrangku.
"Kita bakalan mampir dulu ke cafe paling keren di Bandung, plus di traktir sama adik pemilik cafe-nya."
"Hah? Serius pak?" Ayla yang duduk di depanpun ikut menimbrung.
"Iya,"
Orang-orang yang berada dalam bus mulai bersorak ria. Akan aku pastikan kalau kak Wildan tak akan menagih sepeserpun dariku.
Butuh waktu 30 menit untuk sampai di cafe milik kak Wildan dari perjalananku tadi. Biasanya jam segini cafe baru saja buka.
Aku menginjakkan kakiku di depan pekarangan cafe, bahkan dari kejauhan aku sudah mencium wangi kopi dari dalam sana. Ah, sulit kubayangkan kalau pada akhirnya aku bisa kemari lagi.
"Wir, ini serius cafe punya abang lo?" tanya Renata yang berdiri di sebelahku. Dilihat dari wajahnya sepertinya ia tak percaya.
"Kalo gak percaya masuk aja."
Renata menatapku sesaat, setelahnya ia pergi dengan yang lainnya. Aku masih terdiam ditempatku, sebelum akhirnya aku memilih keluar dari pekarang cafe, dan menatap SMA disebrang jalan.
Sepi. Satu kata itulah yang mampu menyimpulkan sekolahan di hari libur. Dulu, aku sempat sekolah di SMA Hagia High School, sebelum akhirnya aku pindah ke Jakarta dan sekolah disana.
Ada banyak kenangan yang tersimpan disana, ada seseorang yang aku rindukan. Namun tak bisa aku temui. Biarlah ia menemukan kebahagiaannya sendiri tanpaku. Aku harap seperti itu.
"Loh, Wirda?" aku menatap lelaki bertubuh tinggi yang baru saja turun dari mobilnya.
Dia kak Sean, teman kak Wildan. Sekaligus manajer di cafe Start ini.
"Kak," aku tersenyum ramah padanya.
"Kapan datang? Sama kakak kamu juga?"
"Aku baru aja dateng, sama temen-temen aku."
"Ouhh."
"Kak Sean," aku memanggilnya dengan nada lebih rendah.
"Iya?"
"Jadi ceritanya aku kesini sama temen-temen aku, sekaligus sama om Ilan juga. Tapi, aku gak bawa uang banyak. Jadi..."
"Kakak ngerti kok, nanti kak Sean yang bilang ke kakak kamu."
Senyuman lebar terukir diwajahku, rasanya aku masih tak percaya kalau kak Sean mau membantuku. Memang ia yang terbaik.
"Yaudah, masuk yuk." ajaknya yang langsung aku angguki.
Sebenarnya selain itu, ada hal lain yang ingin aku tanyakan pada kak Sean. Namun aku ragu, dan gengsiku terlalu mendominasi.
Dengan arah yang berlawanan, aku dan kak Sean berpisah setelah memasuki cafe. Tak ada yang berubah, panggung kecilku masih sama, dan disudut dinding sana, masih ada fotoku dengan kak Wildan yang ukurannya lumayan besar. Dan bahkan barang-barang klasik milik kak Wildan tak ada yang berkurang.
Aku berjalan menuju meja nomor 13 yang lebih tepatnya telah diisi oleh Renata dan Agatha.
Arghh...
Suara itu terdengar nyaring ditelingaku, tepat disampingku. Iya, dengan cerobohnya aku menyenggol seseorang yang sedang membawa cup kopi hingga menyebabkan kopi itu tumpah dan mengenai tangan pemiliknya.
"Maaf-maaf, tadi aku gak sengaja." ucapku dengan paniknya.
"It's okay, cuman luka kecil." kulihat senyuman tipis yang menghiasi wajahnya.
Cantik, satu kata itulah yang terlintas dibenakku saat melihatnya. Wajah bak bidadari itu menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan. Rautnya seperti tak ada rasa kesakitan. Padahal kopi tadi sangat panas.
"Bentar, kak. Kakak duduk dulu disini, aku mau ambil es batu dulu."
Aku berlari kearah dapur, dan membuka lemari es. Tak aku usik orang-orang yang terkejut dan bertanya saat melihatku. Yang ada dipikiranku sekarang adalah, bagaimana jika orang tadi melaporkanku ke polisi? Kan tak ada yang lucu.
Aku menggeser kursi dan duduk tepat didepan orang itu, yang aku sendiri belum tahu siapa namanya. Dengan cekatan aku mengompres tangan sang empuh dengan sangat hati-hati. Pasalnya aku tak ingin ia kesakitan.
"Maaf ya, kak. Tadi aku gak sengaja. Pasti panas banget, ya?" ujarku yang sesekali menatapnya.
"It's okay... Kamu Wirda, bukan?"
Seketika aku langsung menghentikan aktivitasku, dan langsung menatapnya dengan lekat.
"Tahu darimana?" tanyaku heran sekaligus curiga.
"Aku Alana, kamu bisa panggil aku Ana... Ternyata dunia sesempit ini, ya?"
Aku yang mendengar penuturannya hanya terheran-heran. Pikirku, semakin hari, manusia semakin aneh saja. Sebelumnya kami belum pernah bertemu, tapi...
"Oh, ya. Setelah lulus SMA, kamu mau lanjut kuliah dimana?"
"Entah, aku masih belum mikirin mau lanjut kemana." jawabku yang kemudian kembali mengompres tangannya.
"Belanda."
"Belanda?" ucapku mengulang kalimatnya.
"Manurutku kamu harus kesana, akan ada banyak kejutan untukmu disana. Aku yakin, kamu pasti punya beberapa pertanyaan yang hanya bisa kamu temukan jawabannya disana."
"Aku masih gak ngerti."
Orang itu, yang tak lain Ana. Menarik tangannya dariku dan mengambil sesuatu di dalam tas selempeng miliknya, lantas ia menyodorkannya padaku.
"Ini kartu namaku. Kalau kamu ingin menanyakan sesuatu, kamu bisa menghubungiku. Oh ya, kalau kamu setuju untuk melanjutkan study mu di Belanda, akan aku pastikan kamu mendapat beasiswa penuh di kampus yang kamu mau."
"Tapi, kak..."
"Jangan memanggilku dengan sebutan kakak. Namaku Ana, kita masih seumuran, kok."
Aku tertegun dengan penuturannya. Suaranya lembut, dan bahasanya sedikit formal. Ia sepertinya memang bukan asli Indonesia. Wajahnya seperti orang Eropa.
"Ana, ayo."
Seseorang datang dari arah belakangku dan berdiri tepat di depan Ana. Dilihat dari perawakannya, sepertinya dia masih sekolah SMP. Mungkin saja adik Ana.
"Sudah kubilang bukan, kamu tak perlu membelikanku makanan ini. Atau kamu memang sengaja ingin aku gemuk?"
"Aku cuman gak mau kamu sakit. Simpan dulu dietmu, makanlah untukku."
Aku yang melihat perkelahian kecil mereka merasa terhibur. Rasanya aku seperti melihat diriku dan kak Wildan yang memang selalu bertengkar.
"Okey... Oh iya, Jhon. Ini Wirda."
Aku tersenyum ramah saat lelaki itu mulai menatapku. Tapi, tatapannya berbeda. Ia seperti terkejut.
"Ehh, bagaimana bisa dia ada disini?" kejut lelaki itu sambil menunjukku.
"Dia orang yang berbeda."
"Benarkah?"
Lelaki yang disapa Jhon itu menelitiku, lantas ia tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya kearahku. Dengan perasaan yang masih kebingungan akupun menerima jabatan tangannya.
"Jhon. Tunangan Ana." kenalnya padaku.
"Dia sering bercanda. Jangan terlalu di percaya," ujar Ana yang membuatku tersenyum tipis.
"Iya,"
"Jhon, ayo. Setelah ini aku ada urusan lain. Wirda, aku pamit." ucap Ana padaku.
"Iya,"
Aku menatap kepergian kedua orang itu. Satu kata dibenakku saat ini, membingungkan. Aku bingung, siapa sebenarnya mereka? Bagaimana bisa wanita bernama Ana itu mengenalku? Padahal sebelumnya kami tak pernah bertemu.
...***...
Hallo kalian semua,,
makasih yang udah baca cerita WirDaniel.
Maafkan jika ada kesalahan. Dan maafkan author yang sudah menggantungkan cerita ini selama beberapa minggu terakhir.
Mohon vote, like & komen nya, ya. Jika kalian suka sama cerita ini😃
...terimakasih...