Wirdaniel

Wirdaniel
Takdir



Pintu mobil terbuka. Daniel yang membukakan pintupun langsung menyuruhku masuk. Akan tetapi, sejak tadi ada beberapa pertanyaan yang mengganggu di benakku. Hal itu terjadi setelah aku dan Daniel menonton tadi.


Miris rasanya ketika aku melihat wanita dan lelaki yang saling mencintai itu harus berpisah dengan tiba-tiba. Gadis itu meninggal. Ah, harusnya tadi aku tak menonton film yang Agatha rekomendasikan. Itu sangat menggangguku. Bagaimana jika kisahku dan Daniel seperti itu? Aku takut jika nanti Daniel berbuat nekat. Secara dia adalah orang yang gegabah, dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Seolah semesta harus berputar untuk memenuhi keinginannya saja.


"Kak Daniel." panggilku saat Daniel sudah masuk kedalam mobil.


Dia menatapku dengan sebelah alis yang terangkat. Seakan dia mengatakan apa atas panggilanku itu.


"Kak, gimana kalo misalkan takdir kita kayak yang di film tadi?" tanyaku hati-hati. Dan hal itu berhasil menghentikan aktivitas Daniel. Dia menatap lekat kearahku.


"Aku akan menentang takdir."


Deg...


Apa itu tadi? Danielkah yang mengatakannya? Sudah kubilang, dia akan menghalalkan apapun yang dia inginkan. Dan mungkin saja Daniel memang serius padaku. Bukankah dia pernah bilang, dia hanya akan jatuh cinta sekali, dan itu hanya padaku. Mungkinkah itu benar? Jika iya aku takut.


"Kak Daniel gak bisa nentang takdir."


"Kenapa? Aku berhak menentangnya jika takdir bersikap tak adil." ujar Daniel yang menaikkan suaranya lebih tinggi.


"Takdir itu adil, kak."


Daniel tak menjawab ucapanku itu, dia hanya menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya menuju jalan raya. Hari sudah malam, dia memang harus mengantarku pulang.


Dalam perjalanan kami hanya saling diam. Sesekali aku melirik Daniel yang sedari tadi hanya fokus pada jalanan. Dia bahkan tak mau menatapku. Marahkah dia? Mungkin saja iya. Aku sudah menyinggungnya. Aku mengatakan sesuatu yang bahkan tak pernah ingin Daniel dengar.


Aku yakin, meski saat ini pandangannya fokus pada jalanan, tapi hati dan pikirannya tengah bertengkar karena obrolan kami tadi. Daniel bukanlah tipe orang yang akan dengan mudahnya melupakan sesuatu. Apa lagi pertanyaan konyolku tadi. Rasanya aku ingin menghilang saja dari sini. Daniel tak mengeluarkan suara apapun, dia hanya diam. Dan hal itu membuat malam yang dingin dan menyeramkan ini semakin seram dan sunyi. Dia telah membuat keadaan sekitar menjadi hening. Dingin.


Jika aku samakan, mungkin Daniel dan kak Wildan sama. Mereka akan diam saat marah. Bukan tak apa, tapi setahuku kak Wildan diam saat marah karena dia menahan dirinya agar tak berkata kasar, memaki, ataupun bermain fisik dengan lawannya yang membuat ia kesal. Contohnya adalah aku. Dan Daniel, mungkin saja ia sama. Apa semua lelaki itu sama?


"Udah sampe," ucap Daniel dengan wajah datarnya.


"Kak Daniel marah, ya?"


"Nggak, aku udah baikkan." aku menatap lekat Daniel, dan lelaki itu menunjukkan senyuman manisnya kearahku. Dia bertingkah seakan meyakinkanku.


"Beneran?" tanyaku dengan serius.


"Iya."


"Yaudah, aku pulang."


Aku membuka sabuk pengaman dan menggendong tasku. Daniel, ia sudah turun duluan, ia mengambilkan belanjaan itu untukku. Ah, rasanya satu bulan ini aku akan merdeka dengan makanan sebanyak ini.


"Ini." Daniel menyodorkan beberapa kantung plastik berisi makanan itu kearahku yang langsung kusambut dengan kedua tanganku.


"Makasih, kak."


"Iya, sama-sama."


"Oh iya, aku mau minta sesuatu, boleh?" ucapku dengan cepatnya. Pasalnya aku tak mau jika aku terlambat memberitahu Daniel.


"Apa?" Daniel menatapku dengan alis yang terangkat sebelah.


"Kak Daniel harus janji, kalo misalkan kita gak jodoh. Atau mungkin suatu hari nanti aku harus terpaksa pergi ninggalin kakak. Kak Daniel jangan nekat, ya? Jangan menentang takdir. Takdir adil, kak."


"Gak mau,"


"Kak..." mohonku dengan menunjukkan wajah memelasku. Biasanya kak Wildan akan luluh dengan cara ini, tapi tidak tahu dengan Daniel.


Daniel menghela nafasnya panjang dan menatapku kembali. Beberapa saat ia hanya menatapku, sebelum akhirnya tersenyum dan mengangguk.


"Iya, tapi disetiap pilihan pasti ada pengecualian, bukan? Aku gak janji buat selamanya. Kalo gitu aku pergi,"


Daniel mengusap kepalaku dan mencium keningku untuk sesaat sebelum ia pergi. Aku terdiam, senyumku mengembang. Setidaknya Daniel mau berjanji demikian meski tak tahu sampai kapan.


Selepas kepergiannya Daniel, aku mulai memasuki rumah. Tepat saat aku membuka pintu, aku melihat bunda yang sudah terduduk manis di depan tv sambil menyesap teh manis kesukaannya itu.


"Udah pulang, sayang?" ujar bunda padaku.


"Iya, bun." aku berjalan kearahnya dan mencium punggung tangannya itu dengan penuh rasa hormat.


"Tadi udah makan?"


"Udah, bun. Ndah makan banyak tadi sama kak Daniel. Dia baik banget," ucapku di barengi kekehan kecil. Begitupun bunda yang ikut terkekeh melihatku.


"Itu apaan?" Bunda menunjuk kantung plastik yang aku bawa.


"Oh, ini. Ini dari kak Daniel, dia beliin cemilan buat Ndah. Bunda mau?"


"Nggak. Yaudah, mandi sana. Udah itu langsung tidur,"


"Siap, bun." aku mencium sekilas pipi bunda dan langsung lari menaiki tangga.


Baru saja aku sampai di lantai atas dan akan pergi ke kamar. Tapi langkahku terhenti, aku teringat sesuatu. Tadi pagi kak Wildan meminjam sesuatu dariku.


Dengan mundur beberapa langkah, aku berdiri tepat di depan pintu kamar kak Wildan. Kubuka pintu itu dengan perlahan, lantas melihat keadaan di dalam. Kosong. Kemana kak Wildan? Ah, masabodo. Bukankah aku kesini mau mengambil jam tangan milikku? Lalu kenapa aku memperdulikannya?


Aku melangkah menuju meja milik kak Wildan dan mencari jam itu di dalam lacinya. Ya, baru saja membuka laci miliknya itu, aku sudah melihat banyak sekali masker di dalam sana. Bukan hanya itu, tapi skincare lainpun ada di sana. Aku rasa, perlengkapan skincare kak Wildan sama persis seperti wanita biasanya. Lengkap.


"Ngapain kamu di sini?"


Kutengok kearah belakang dan melihat kak Wildan di sana. Ia berjalan kearahku dan duduk di kursi.


"Ngambil jam. Jam aku mana?"


"Dipake sana kakak, nanti kakak balikin kalo jam kakak udah selesai di benerin," ucapnya sambil mengeluarkan kaca dalam laci kedua dan menaruhnya di atas meja.


"Kenapa gak beli lagi aja sih, kak. Kan kakak banyak uang." kutatap kak Wildan yang masih terlihat sangat tenang. Mungkin ia baru saja mandi, terlihat dari rambutnya yang masih basah.


"Barang mungkin bisa di beli, tapi kenangannya gak bisa di transportasi. Ngerti?"


"Iya, aku ngerti kok. Yaudah, nanti kalo udah selesai kasih ke aku, kak." ucapku pasrah.


Aku berjalan meninggalkan kamar kak Wildan dan pergi ke kamarku yang bertepatan di samping kamar kak Wildan.


Aku rasa kak Wildan mulai lagi tadi. Aku jadi curiga, apa semua lelaki sama seperti kak Wildan? Mengandalkan skincare untuk ketampanannya? Ah, aku bingung.


"Kak Wildan bikin aku merinding," ucapku sambil menaruh tas dan belanjaan itu diatas meja belajar. Akan tetapi, aku teringat sesuatu. Kotak itu masih ada diatas meja belajarku, sejak kemarin belum aku buka sama sekali.


Kuambil kotak itu, dan membawanya keatas ranjangku. Hampir setiap bulan ada seseorang yang mengirimkan paket untukku. Lebih tepatnya hadiah. Entah dari siapa, yang pasti aku yakin orang itu mengenalku. Tapi siapa? Bahkan si pengirim tak pernah menuliskan namanya dalam surat di kotak ini, dia hanya menulis ucapan selamat, apa kabar, atau apalah itu.


"Hadiah lagi?" lirihku sambil menatap sepatu dan jaket yang ada di dalam kotak itu.


Ini benar-benar cantik, aku yakin ini pasti sangat mahal. Dari luar saja sudah kelihatan sangat nyaman jika dikenakan. Apalagi jika benar-benar di kenakan.


Aku mengambil selembar surat yang ada diatas sepatu itu, lantas membacanya dengan tenang.


...🍂🍂🍂...


Dear Wirda...


...Bagaimana kabar kamu? Aku harap kamu baik. Tadi siang aku pergi berbelanja dengan ayah, tapi aku teringat kamu. Jadi aku membelikan kamu jaket dan sepatu itu, aku harap kamu suka. Semoga ukurannya pas....


...Oh ya, sebentar lagi kamu kelas 12, bukan? Aku sangat berharap kalau setelah lulus SMA, kamu bisa kuliah di Belanda....


...Aku menunggu......


^^^Dari seseorang yang sangat menyayangimu.^^^


...🍂🍂🍂...