Wirdaniel

Wirdaniel
Camping II



"Wir, keluar yuk. Bentar lagi api unggunnya nyala, loh." ajak Agatha yang keluar duluan dari tenda.


"Bentar dulu, aku masih capek."


Semenjak tenda jadi tadi aku tertidur, dan kini malam datang, rasanya aku sangat lelah.


"Gue duluan, ya. Kasian Angga udah nunggu."


"Iya."


Setelah kepergian Agatha, aku langsung mengambil obatku dan meminumnya, rasa pusing dan sesak memang masih terasa. Tapi aku harus menahannya, aku tak boleh lemah. Terlebih aku sedang jauh dari keluarga.


"Hey." sapa Daniel yang datang tiba-tiba dan duduk di tendaku.


"Kakak."


"Ngapain masih disini? Bentar lagi api unggun nyala."


"Aku sengaja disini."


"Maksudnya? Kamu sakit?" Daniel menaruh punggung tangannya di dahiku, aku yang melihat wajah Daniel khawatir malah ingin tertawa.


"Aku masih disini, karena aku pengen kak Daniel yang jemput aku."


Seketika Daniel langsung tersenyum manis, entah kenapa saat melihatnya seperti ini, membuat hatiku menjadi tenang dan nyaman. Sebut saja aku sedang bahagia melihat Daniel. Memang itu kenyataannya. Dan entah kenapa, rasa nyeri juga datang disaat yang bersamaan. Aku merasa takut Daniel pergi. Akupun takut jika nantinya Daniel tersakiti. Aku merasa bersalah.


"Bisa aja kamu." tangan Daniel yang tadinya di dahiku langsung mencubit hidungku gemas,"Yaudah, yuk kesana."


"Yaudah." aku beranjak dari dudukku dan berjalan kearah kerumunan, begitupun Daniel yang mengekoriku dari belakang.


Ini hari sabtu, tepatnya malam minggu. Bukankah menurut banyak orang malam minggu itu malam yang sangat indah dan romantis? Tapi seharusnya sekarang aku chek up, pantas saja dadaku sakit.


Bukannya mendingan, dadaku justru bertambah sesak dan sakit. Sejak api unggun di nyalakan aku hanya diam seolah-olah aku ini bisu, bahkan Daniel yang bertanyapun tak aku jawab, aku hanya melempar senyum keterpaksaan, seolah aku baik-baik saja.


"Anak-anak, malam udah semakin larut, mari masuk ke tenda masing-masing. Besok kita bakalan seneng-seneng disini." pesan guru, dan langsung membubarkan kerumunan.


Semua orang sudah masuk ke tenda masing-masing, terkecuali aku, Renata, Agatha, dan Ayla.


"Wir, udah malem. Tidur yuk." ajak Ayla yang mengajakku ke tenda.


"Kalian duluan aja, nanti aku nyusul."


"Bener lo gak papa? Muka lo pucet tahu." selidik Ayla, yang terus mengamati wajahku.


"Gak papa, kak. Aku cuman belum ngantuk aja, nanti kalo udah ngantuk aku ke tenda kok."


"Bener, ya."


"Iya."


"Yaudah, Wir. Kita duluan ya, hati-hati, kalo ada apa-apa langsung teriak aja." pesan Renata, lalu mereka pergi memasuki tenda.


Kini tinggallah aku sendiri disini, mengamati bintang dan bulan, sekaligus menahan rasa sakit di dadaku.


"Dah, ngapain kamu disini?"


Aku tahu itu suara siapa, suara itu sudah familier bagiku. Suara yang sangat aku rindukan.


Bukannya menjawab, aku malah memeluk Daniel yang ikut duduk disampingku. Entahlah, aku ingin seperti ini dulu, setidaknya sampai aku membaik.


"Dah, kamu kenapa?" tanya Daniel membalas pelukanku, sesekali tangannya mengusap lembut pucuk kepalaku, hal itu memberi ketenangan tersendiri bagiku.


"Aku pengen meluk kak Daniel dulu. Boleh, kan?"


"Ya, bolehlah. Kamu kedinginan? Kenapa kamu masih disini, yang lain udah pada tidur, loh."


"Aku gak bisa tidur, kakak kenapa kesini?"


"Sama."


"Aku kengen kak Daniel."


"Lah, emangnya aku kemana?"


Dasar laki-laki, apa dia tak mengerti apa yang dimaksud perempuan? Memang, ya. Laki-laki itu kurang peka, padahal perempuan sudah memberinya kode.


"Ke alam kubur."


"Enak aja kalo ngomong." Daniel mencubit hidungku disertai kekehan kecil dariku dan dia.


"Yaudah, tidur sana."


"Gak ngantuk kak." ucapku keras kepala.


"Nanti juga ngantuk."


"Nanti aja, aku masih mau disini."


"Wirdah." ucap Daniel yang mirip seperti teguran.


"Iya, aku ke tenda." ucapku ketus, lalu melepaskan pelukan Daniel dan berjalan meninggalkannya.


"Dah."


"Apa lagi?!" aku memberhentikan jalanku dan meliriknya sekilas, terdengar jelas dari nada bicaraku yang mulai kesal.


"Makasih." ketusku lalu pergi.


"Gak usah bilang makasih kalo gak ikhlas."


Apa katanya? Tak ikhlas? Ah, Daniel memang seperti itu. Itupun aku yang mengajarinya, tapi kenapa harus aku pula yang kena imbasnya? Ihh, kali ini aku memang sudah benar-benar marah.


...***...


Pagi ini, adalah pagi yang baik bagiku, tentunya sebelum aku ingat Daniel. Aku teringat jaket yang aku pakai sekarang, ini jaket Daniel.


"Wirda!" teriak Agatha yang berjalan mendekatiku.


"Ish! Gak usah teriak bisa?"


"Iya, maaf. Lagian dari tadi gue liat lo ngelamun sih, ngelamunin apa sih? Daniel?"


"Bukan."


"Yang bener?"


"Iya, Agatha." ucapku meyakinkan.


"Sarapan yuk! Gue laper banget dari tadi."


Aku mengikuti Agatha yang berjalan terlebih dulu, kulihat di bawah pohon Renata sedang duduk dengan hanphone di tangannya serta makanan di depannya. Gadis itu sangat fokus pada handphonenya hingga dia tak sadar jika aku dan Agatha sudah datang dan duduk di sampingnya. Bagaimana nanti kalau ada orang yang mengambil sarapan kami?


"Renata!" teriak Agatha, teriakan yang berhasil membuat Renata terperanjak kaget dengan tangan yang memegang dadanya, sepertinya dia terkejut.


"Lo bisa gak sih, gak ngagetin. Kalo gue jantungan gimana? Lo mau tanggung jawab." seru Renata, aku yang mendengar pertengkaran itu hanya berkekeh kecil. Jika tidak sekarang, maka kapan lagi? Aku ingin mengabadikan moment seperti ini, ingin rasanya selalu ada mereka di hidupku.


"Kalo lo jantungan, tinggal gue suruh dokter buat ngambil jantung lo terus di ganti pake beton yang kuat, keras dan kokoh." cercak Agatha dengan senyum menyeringai.


Mereka berdua memang aneh, jika saja Renata tak mengalah, maka selamanya mereka akan berdebat. Mungkin sama denganku dan Daniel, yang sama-sama keras kepala.


"Eh, kak Daniel mana?" tanyaku yang ingat padanya, dan sesekali aku memakan pop mie yang ada di depanku. Tak baik memang mengawali sarapan dengan mie, tapi aku sedang tak nafsu memakan roti atau sebagainya, meski disini ada.


"Dia lagi sarapan sama temennya."


"Temen?"


"Pacar gue sama Angga." kesal Renata, ini masih pagi, tapi dia sudah marah-marah tak jelas.


"Ohh." aku hanya mengangguk-angguk, dan kembali memakan makananku, aku sekarang ingat, dimana Ayla? Kenapa dia tak disini? Apa dia sedang bersama Redgar? Mungkin saja.


"Wir, abis ini gue mau jalan-jalan sama Angga, lo mau ikut?" aku hanya menggelengkan kepala, untuk apa aku ikut dengan Agatha, aku tak ingin jadi nyamuk.


"Hai." sapa Ayla yang datang tiba-tiba.


"Hai."


"Tha, Ren. Gue boleh ngomong sama Wirda? Berdua?" ucap Ayla dengan senyum ramahnya.


"Oh, boleh-boleh, kalo gitu kita pergi ya." pamit Renata yang pergi dengan membawa makanannya.


Disini hanya menyisakan aku dan Ayla, sedikit canggung memang, ditambah dia kakak kelasku.


"Santai aja, gue gak ngigit kok."


"Ada apa ya, kak?" tanyaku heran, bahkan langsung to the point.


"Lo cinta sama Daniel?"


Aku dibuat bungkam oleh pertanyaan itu, jika aku tak mencintainya, untuk apa pula aku menerimanya, sudah jelas jika aku memang mencintai Daniel.


"Aku cinta sama dia, kak. Tapi aku belum pernah ngungkapin perasaan aku, aku cuman bilang kalau aku sayang sama dia." aku tersenyum menerawang saat dimana Daniel bertanya tentang perasaanku padanya.


Tapi bukankah cinta tidak hanya perlu kata untuk mengungkapkannya?


"Kenapa? Terus gimana dia tahu perasaan lo ke dia? Sedangkan lo gak pernah ngungkapinnya."


"Cinta itu gak cuman diungkapin pake kata kak, aku pengen ngungkapinnya dengan cara yang berbeda, aku gak mau pake kata-kata. Karena aku gak mau cinta aku hanya jadi kata, aku pengen cinta aku jadi bukti dan tindakkan." lirihku, aku tersenyum tulus, rasanya aku seperti mengungkapkan semua perasaanku pada Ayla.


"Lo pengen denger gak, kenapa Daniel bisa datang di kehidupan lo?" aku hanya diam, memasang telinga dengan lebar, aku ingin Ayla menceritakannya.


"Dulu gue ke perpustakaan buat nyari Redgar, tapi dia gak ada di perpus. Terus pas gue mau balik, eh gue liat ada handphone diatas meja. Ya gue ambil, tadinya mau gue kasih ke penjaga perpus, tapi dia gak ada. Jadi gue terpaksa buka hanphone itu, gue liat walpeper lo sama cowok, bang Wilda. Gue kira lo selingkuhannya dia, eh pas diliat lagi ternyata kalian mirip. Dari situ gue nyangkanya lo adiknya.


Gue langsung nyari lo waktu itu, dan gue ketemu sama temen sekelas lo, gue nanyain lo. Katanya lo ada di kantin. Sebenernya gue udah di depan kantin waktu itu, gue juga liat lo lagi ngobrol sama Renata, Agatha. Dari situ gue jadi suka sama lo, lo terlalu polos di mata gue. Gue berencana buat nyamperin lo, tapi gue liat Daniel. Gue nyamperin dia supaya mau ngasihin handphone lo, sebelumnya dia nolak, tapi gue paksa." Ayla tertawa hambar saat menceritakannya. Seperti ada sesuatu yang aneh, "Akhirnya dia mau, dan dari situ gue jadi yakin, kalo lo bisa buat Daniel berubah jadi lebih baik lagi."


"Jadi gue minta sama lo, buat dia kayak gini terus, Wir. Gue percaya sama lo, cuman lo yang bisa bikin hidup dia lebih berwarna. Lo termasuk orang paling penting di hidup dia." aku hanya mengangguk mantap dan tersenyum manis.


Aku tak menyangka, ternyata aku orang penting untuk Daniel, lalu bagaimana jika dia tahu tentang penyakitku? Apa dia akan tetap sama? Aku tak ingin pergi meninggalkannya. Tapi jika tetap di sinipun aku hanya akan menyiksa Daniel nantinya. Dia hanya akan menderita jika terus bersamaku.


...***...


Hallo kalian semua,,


makasih yang udah baca cerita WirDaniel.


Maafkan jika ada kesalahan.


Mohon vote nya, ya. Jika kalian suka sama cerita ini😃


...terimakasih...