Wirdaniel

Wirdaniel
Dia



Di jam pukul 14.15 ini, semua murid membubarkan diri dari kelas masing-masing. Ada yang berjalan lesu menuju gerbang, juga ada yang berjalan dengan semangat menuju gerbang, seakan gerbang adalah santapan nikmat bagi mereka yang kelaparan.


Beginilah sekolah, yang di tunggu-tunggu oleh semua murid adalah istirahat dan pulang. Bukan begitu? Oh iya, jangan lupakan jam pelajaran yang kosong.


"Wir, gue duluan ya." pamit Agatha yang kemudian berjalan menuju parkiran di dalam lingkungan sekolah.


Aku hanya mengangguk mengiyakan.


"Gue juga, udah di tungguin sama Albi." ujar Renata.


Dan lagi-lagi aku hanya mengangguk mengiyakan. Mereka pergi, benar-benar pergi meninggalkanku di depan koridor.


Aku kembali melangkahkan kakiku menuju pintu gerbang yang menjulang tinggi itu, banyak para murid yang berdesakkan di sana. Begitupun dengan kendaraan-kendaraan yang tak mau mengalah.


Sebenarnya, di SMA Cahaya Pelita ini parkiran terbagi menjadi dua. Didalam dan diluar, kebanyakan dari mereka menyimpan kendaraannya di luar karena nanti tak perlu lagi menunggu atau berdesakkan dengan para murid yang pejalan kaki.


"Wir!" panggil seseorang yang entah dari mana, akupun tak tahu.


Baru saja aku keluar dari pintu gerbang, sudah ada saja yang memanggil. Dan dimana pak Budi? Bukankah bunda bilang dia akan menjemput? Okay, itu nanti biar ku cari. Sekarang fokusku pada seseorang yang memanggilku, kuedarkan pandanganku untuk mencari si pemanggil, hingga tatapanku terjatuh pada satu laki-laki yang berlari kecil menuju arahku.


Dia...


"Ngapain lo disini?" tanyaku tak bersahabat.


Pasalnya dia disini, dia---Andrew seharusnya di Bandung.


"Aku kesini buat kamu. Aku mau minta maaf."


"Maaf? Buat kesalahan yang mana?"


"Sayang..."


"Seberapa banyak cewek yang lo panggil sayang?"


"Wir."


"Kalo kedatangan lo kesini cuman buat hancurin gue. Mending lo pergi."


"Tapi aku kesini dengan niat baik."


"Pergi!" bentakku dengan nada yang lebih tinggi.


Namun sepertinya tak di indahkan oleh Andrew, laki-laki itu masih di sini, diam menatapku dengan tatapan yang sama seperti satu tahun lalu.


"Drew, laki-laki itu di pegang janjinya. Bukan omong kosongnya doang. Jangan pernah janji jika akhirnya hanya untuk diingkari."


"Aku minta maaf, maafin aku." ucapnya seraya ingin menyentuh tanganku, namun dengan gerakkan cepat aku menyembunyikannya dibelakang punggungku.


"Dari mana lo tahu gue sekolah di sini?" aku menatap datar Andrew.


"Gak penting, Wir."


"Itu penting buat gue! Karena ini hidup gue, dan gue gak mau orang-orang yang udah nyakitin gue kembali lagi dengan tujuan yang sama, yaitu menyakiti lagi."


"Aku khilaf waktu itu. Aku gak sengaja ngebentak kamu. Aku gak bermaksud sama sekali buat mempermalukan kamu, Wir."


"Dan kalo mereka gak ada. Gue gak tahu apa yang bakalan terjadi lagi sama gue saat itu."


"Aku minta maaf, Wir. Aku gak tahu kalo saat itu kamu sak---"


"Gue sakit atau enggaknya, harusnya lo ngerti dong. Dan sekarang, dengan datangnya lo lagi di depan gue. Itu cuman bikin gue tambah sakit."


"Yuk, cabut!" suara itu, Daniel. Dia datang tiba-tiba dan diam di sampingku dengan memandang remeh Andrew.


"Lo siapa?" tanya Andrew menatap sengit Daniel.


"Harusnya gue yang nanya, lo siapa? Berani nginjekin kaki di SMA gue? Punya nyali berapa lo?" kulihat Daniel mulai menyunggingkan senyum sinisnya.


Laki-laki itu ternyata jauh dari apa yang aku pikirkan.


"Lo mau pulang sama gue, apa masih mau sama bajingan ini?" tanya Daniel yang beralih menatapku.


Aku hanya menghela nafas panjang dan mengangguk mengiyakan. Aku yakin, jika berlama-lama disini dengan Andrew, itu hanya akan membuat lukaku terbuka kembali. Padahal aku sudah menguburnya rapat-rapat.


"Gue masih punya urusan sama cewek gue." ucap Andrew dengan angkuhnya.


Tapi entah kenapa. Menurutku, Daniel jauh lebih angkuh dan sombong, juga songong.


"Cewek lo?"


"Kak Daniel udah. Ayo." aku berjalan menuju mobil Daniel, begitupun Daniel yang mengikuti.


"Wir, Wirda. Aku minta maaf, Wir." panggil Andrew yang terus saja tak aku indahkan.


Andrew yang sekarang mungkin bisa berubah. Tapi entah mengapa, saat aku melihatnya, aku selalu saja melihat kenangan-kenangan itu, kenanganku dengan seseorang yang selalu melindungiku saat Andrew justru menggangguku.


Kenangan itu datang dengan rindu yang memburu.


...***...


Didalam mobil, hening, tak ada yang bersuara. Aku masih bergulat dengan pikiranku, sedangkan Daniel fokus pada jalanan Jakarta yang ia belah.


Entah mengapa, aku menjadi merasa bersalah. Entahlah, sikapku pada Andrew tadi, benar atau salah.


"Kak Daniel," panggilku dengan menatap Daniel dari samping.


"Kak, aku ngomong loh ini." kesalku dengan menaikkan setengah suaraku.


"Gue tahu lo ngomong, kalo lo gak ngomong berarti lo bisu dong."


"Apaan?"


Aku menatap ragu Daniel yang masih fokus pada jalanan,"Kak Daniel pernah punya rasa?"


"Pernahlah, kalo boleh jujur, gue ngerasa iri sama lo yang selalu bisa marah-marah."


"Bukan itu maksud aku."


"Terus?"


"Kak Daniel pernah jatuh cinta?"


Daniel terdiam. Itu artinya dia mungkin saja sedang berpikir, atau mungkin ia malu mengatakannya. Entahlah, akupun tak tahu.


"Kak, kok di cuekin sih?"


"Lo nanya apaan tadi?"


Ayolah, jangan biarkan aku mengulangi perkataanku lagi, karena itu tak menyenangkan.


"Kak Daniel pernah jatuh cinta?"


"Sama?"


"Manusialah, masa hantu."


"Entahlah, mungkin pernah, mungkin juga nggak pernah."


"Dasar ya, kak Daniel emang gak punya hati!" ketusku yang kemudian mengerucutkan bibirku sendiri.


"Kalo gue gak punya hati, gak mungkinlah gue anterin lo pulang." celetuk Daniel yang membuatku berpikir ulang.


"Yaudah turunin aja, lagian aku juga gak minta kak Daniel buat anterin pulang."


"Telat!" Daniel memberhentikan mobilnya dan menatapku lekat, tatapannya membuatku risih,"Udah sampe rumah aja, baru minta berhenti."


Aku langsung menatap kearah samping, dan benar saja, aku sudah di depan rumah. Ah, mengapa aku baru menyadarinya.


"Ngapain masih di sini? Keluar sana." ketus Daniel yang seakan membentak dan mengusirku.


Tunggu, aku ingin bertanya, apa bedanya ketus dengan membentak? Samakah? Atau beda?


"Kak Daniel ngusir aku?"


"Iya."


"Ish, bener-bener ya."


"Bener-bener ganteng maksudnya?"


Kuusap dada agar tak terbawa emosi dan kuucapkan kata-kata yang mungkin membuatku sedikit tenang.


"Udah, kan? Keluar sana."


"Kak Daniel..."


"Kenapa lagi? Ini mobil gue, jadi gue berhak dong mau ngusir siapa aja."


Aku menatap sinis Daniel, lalu aku mulai membuka pintu dan keluar. Kubanting pintu mobil itu hingga menimbulkan suara nyaring, mungkinkah sebentar lagi Daniel akan mengomel?


Daniel membuka kaca jendela mobilnya, dan disana menampilkan wajahnya yang menyebalkan itu.


"Gak usah marah-marah kali."


"Terserah aku dong,"


"Heh, lo lupa bilang sesuatu sama gue."


"Apa lagi? Kak Daniel nyebelin? Atau apa?"


"Makasih?"


Kuhela nafasku panjang, Daniel selalu saja bertingkah seperti ini. Dia memang menyebalkan.


"Makasih. Udah sana pergi."


"Lo ngusir gue?" ucap Daniel sewot.


"Iya, kenapa? Inikan depan rumah aku, jadi terserah aku dong mau ngusir siapa aja." kataku yang seperti meniru ucapan Daniel sebelumnya.


"Okay, gue pergi."


Daniel langsung menghidupkan mobilnya, dan langsung melajukannya dengan kecepatan diatas rata-rata.


Marahkah dia?


Daniel memang lucu menurutku, dia tampan, tapi ucapannya bisa menampar hati orang-orang yang sedang bicara dengannya.


Tingkahnya itu mengingatkanku pada seseorang, seseorang yang terus menjagaku karena ia tahu aku sakit-sakitan.


Aku merindukannya.


Bisakah aku kembali bertemu dengan dia yang selalu memberiku kebahagiaan yang tak pernah aku dapat dari orang lain, selain bunda tentunya.


...***...