Wirdaniel

Wirdaniel
Aksi Konyol



Aku memandangi pintu gerbang yang menjulang tinggi di depanku. Sekarang jam 7 lewat 45 menit. Dan 10 menit yang lalu, bel masuk mungkin sudah berbunyi. Sedangkan aku masih disini, di depan pintu gerbang yang terkunci rapat.


"Semua ini salah kak Daniel." ucapku yang menatap Daniel dengan kesal. Sedangkan yang di tatap hanya diam bergeming dan menatapku datar.


"Jangan nyalahin gue, gue gak salah."


"Kalo aku gak nyalahin kak Daniel, terus aku nyalahin siapa? Aku?"


"Lo salahin jalanan tadilah." jawabnya enteng.


Tak ada baiknya jika aku terus meladeninya seperti ini. Daniel keras kepala dan selalu merasa benar, jadi lebih baik aku mengalah. Meski di kamusku tak pernah ada kata mengalah, tapi setelah datangnya Daniel, kata itu langsung hadir tanpa menyapa.


"Ikut gue!" titah Daniel yang tanpa aba-abanya langsung menarikku entah mau kemana.


Aku sendiri merasa terseret oleh Daniel yang langkahnya jauh lebih lebar dan cepat dariku. Entah kemana dia menyeretku, tapi aku rasa ini seperti menuju ke bagian belakang sekolah.


"Kak, lepasin." rengekku dengan tangan kanan yang berusaha melepaskan cengkraman tangan Daniel.


"Lo bisa diem gak sih? Cerewet banget jadi cewek."


Daniel melepaskan cengkramannya dari tanganku saat kami sudah sampai. Aku sendiri mengusap tanganku yang sakit dan memandangi dinding yang tak terlalu tinggi didepanku. Sedangkan Daniel, dia sibuk mencari sesuatu entah apa di semak-semak.


"Kak, kita ngapain kesini?" tanyaku heran.


"Masuk ke sekolah. Lo gak mau bolos, kan?" aku hanya mengangguk kecil mengiyakan ucapan Daniel.


"Kak Daniel nyari apaan?"


"Tangga,"


"Buat?"


Daniel menatapku datar, sudah aku pastikan jika dia pasti akan bicara yang tidak-tidak sekarang, atau mungkin ia akan mengomel.


"Lo tahu kegunaan tangga?" tanya dia yang langsung aku angguki.


"Tahu, buat manjat." jawabku antusias, pasalnya Daniel tak marah.


"Kalo lo tahu, kenapa nanya?"


Dia menyudahi aktivitasnya yang mencari tangga di semak-semak dan memilih berjalan kearahku. Tak tanggung-tanggung Daniel kini mengetuk dinding itu dan berdiri setengah berjongkok.


"Naik!" titahnya yang tak aku pahami.


"Maksudnya?"


"Lo injek tangan gue, terus lo naik." ketusnya yang kemudian menumpuk tangannya dengan sikap siap siaga.


"Hah?"


"Lo mau gue tinggal di sini?"


"Tapi---"


"Gue gak akan macem-macem, lo bukan tipe gue." ucapnya berusaha meyakinkanku.


Aku menatapnya beberapa detik dan kemudian aku pasrah saja. Aku menginjak tangannya dan mulai menggapai dinding itu. Kuusahakan agar aku bisa sampai diatas sana, sedangkan setelah aku sampai aku langsung memilih cara untuk turun.


Tak mungkinlah aku turun dengan cara melompat begitu saja, yang ada aku langsung terjatuh karena tubuhku yang tak kuat lagi ini. Tapi untungnya tak jauh dariku duduk sekarang ada sebauh meja dan kursi yang tertumpuk, jadi aku hanya perlu menggeser tubuhku dan turun. Sudah aku pastikan jika saat ini aku berada di gudang belakang.


Dengan susah payahnya aku menuruni kursi dan meja yang tertumpuk itu, dan setelah aku benar-benar sampai di bawah. Aku langsung menatap keatas, seakan mencari sosok Daniel, meski itulah kenyataannya.


"Kak Daniel..." panggilku dengan suara yang sedikit melirih.


Tak lama dari itu, aku melihat diri Daniel yang sudah berjongkok di atas dinding itu, dan kemudian ia melompat begitu saja, turun kebawah.


"Gimana kakak cara naiknya?" tanyaku penasaran saat Daniel berjalan kearahku dengan menepuk-nepuk tangannya yang kotor.


"Gue cowok, sedangkan lo cewek lemah." ketusnya yang lagi-lagi mengundang rasa kesalku.


Aku kesal, tapi bukan karena nadanya yang ketus, akan tetapi karena perkataannya yang menyayat hati. Dia berkata seolah-olah aku tak tersinggung, dia berkata seolah-olah aku baik-baik saja. Meski kenyataannya memang benar, aku hanyalah seorang gadis yang lemah, yang hiduppun entah-berentah akan bertahan ataukah kalah. Kalah akan permainan yang takdir mainkan. Dan sekarang, aku hanyalah penunggu. Penunggu yang menunggu Maha Pencipta berkehendak.


"Kak Daniel bisa gak sih, gak bikin orang lain sakit hati?" tanyaku dengan mengikuti Daniel yang mulai melangkah di depanku.


"Lo sakit hati?" Tanyanya balik, dan sekarang ia melirikku yang berjalan disampingnya.


"Iya, gara-gara kak Daniel."


"Emang lo udah ada hati sama gue?" Daniel menghentikan langkahnya dan menatapku dengan sebelah alis yang terangkat.


Aku dibuat bungkam olehnya. Kenyataannya aku kalah telak olehnya. Daniel memang lelaki yang hebat, karismanya memang mempesona, dan suara mampu menggetarkan hati seseorang, tapi justru ucapannya membuatku sebal. Jadi bagaimana mungkin aku memiliki hati padanya, dan jujur saja, bohong sebenarnya jika selama ini dinding pertahananku tak goyah olehnya.


"Kak Daniel mulai deh, kak." ujarku yang kemudian berjalan menaiki tangga dan menyusuri koridor yang kosong. Jangan tanyakan Daniel, sudah pasti dia mengikutiku.


"Gue cuman nanya, kalo lo sewot itu artinya lo beneran suka sama gue." Daniel berjalan kembali di sampingku.


"Aku gak sewot kok. Lagian siapa juga yang suka sama kak Daniel." ketusku yang kemudian berjalan sedikit lebih cepat. Namun tak lama Daniel menarik tanganku hingga tubuhku terbentur ke dinding.


"Kak Daniel---"


"diem!" sentaknya dengan cara menutup mulutku.


Jangan tanya dengan hatiku saat ini, jelas aku merasakan gugup dan detak jantungku berirama tak karuan. Daniel sangat dekat denganku saat ini.


Kulihat Daniel yang menghela nafas panjang seakan ia merasa lega. Tapi nahasnya, saat Daniel menatapku justru mata kami saling bertemu.


Mata itu, lagi-lagi membuatku teringat seseorang. Andai Daniel adalah dia, andai dia ada disini, disisiku. Andai aku tak pergi meninggalkannya, pasti semua ini tak akan terjadi. Aku pasti tak akan bertemu dengan lelaki menyebalkan macam Daniel.


"Udah," kata Daniel yang menyadarkanku dan menurunkan tangannya yang membekamku tadi.


Akupun mengatur kembali nafasku, dan berjalan cepat meninggalkannya. Bukan tak apa, hanya saja aku takut jika nantinya aku terjatuh pada Daniel. Dan itu sungguh tak lucu.


"Lo mau gue anter sampe kelas?" tanya Daniel berjalan mengikutiku.


"Gak usah, kak. Aku bisa sendiri kok. Lagian kak Daniel juga harus ke kelas, berharap aja gurunya belum dateng."


"Okay, gue duluan." pamit Daniel yang kemudian berjalan menaiki tangga yang menghubungkan lantai dua dan tiga.


Selepas kepergian Daniel, akupun kembali berjalan menuju kelas. Berharap saja semoga guruku belum sampai dikelas. Atau aku akan terkena masalah nantinya. Kan tidak lucu jika murid yang belum lama tinggal di sekolahan ini langsung masuk ruang BK. Bisa kena omel aku oleh bunda.


Aku berendap-endap melewati kelas demi kelas, nyatanya sudah ada guru yang mengisi kelas yang terjejer ini. Dan sekarang aku hanya perlu melewati satu kelas lagi untuk sampai di kelasku. Akan tetapi baru saja aku akan melangkah lagi, suara cempreng yang sangat indah dan yang paling aku kenal menyapa indera pendengaranku. Itu Agatha, dia berjalan dari arah belakangku dengan Renata di sampingnya. Aku sudah menduga jika mereka baru saja pulang dari toilet.


"Lo kemana aja sih?! Gue kira lo gak sekolah lagi gara-gara kemarin. Lo juga gak ada absen hari ini. Ehh, tahu-tahunya malah disini." omel Agatha yang menepuk pundakku.


"Dikelas ada guru gak?" alih-alih aku menjawab, justru aku malah melempar balik bertanya.


Bukan tak ingin menjawab, tapi pasalnya aku sedang dalam keadaan darurat.


"Lo tahu sekarang pelajaran siapa?" tanya Agatha dengan senyum misteriusnya itu.


"Iya, aku tahu."


"Lo telat loh, Wir." ucap Agatha lagi yang membuatku mengangguk. Ingin rasanya aku menjerit dan menangis sekarang, dia menakutiku yang sudah semakin menciut karena harus menerima hukuman.


"Lo apaan sih, Tha. Anak orang lo jailin kayak gini. Kasian tahu." celetuk Renata sembari menoyor kepala Agatha pelan.


"Iya-iya, sorry. Lo beruntung kok, Wir." ucap Agatha akhirnya dan merangkulku seakan mengajakku kembali jalan.


"Beruntung gimana maksudnya?"


"Gurunya lagi ada urusan keluarga, selama tiga jam pelajaran kita gak akan kedatangan guru. Ya cuman, kita dikasih tugas buanyakkk banget." jelasnya yang membuatku termangut-mangut.


"Ehh, Wir. Lo kok bisa sih telat kayak gini? Terus gimana caranya lo masuk? Gak mungkinkan lo manjat tembok karena gak diizinin masuk sama penjaga sekolah." tanya Renata yang sedang merapikan rambutnya.


"Emang aku manjat."


"WHAT??!!!" teriak Agatha dan Renata bersamaan. Dan itu membuat telingaku seketika sakit karena suaranya cukup keras.


"Gimana ceritanya?"


"Lo manjat beneran, Wir?"


"Kaki lo ada yang patah?"


"Temboknya tinggi banget loh, gimana caranya?"


"Lo gak sendiri, ya?"


"Beneran lo gak sendiri?"


"Ehhh, udah dong. Tanyanya nanti aja, kita ke kantin dulu. Aku laper." ucapku yang menghentikan pertanyaan-pertanyaan beruntal dari teman-temanku itu.


"Lo punya hutang sama kita." sergah Renata yang kemudian menarikku menuju kantin.


Ah, jika mengingat kejadian tadi. Rasanya aku ingin tersenyum, tidak aku sudah tersenyum. Sikap Daniel tadi memang patut diacungi jempol. Dia memang lelaki yang bertanggungjawab. Aku menyukainya.


"Jadi lo bisa jelasin?" tanya Renata dengan tidak sabarnya, ia duduk didepanku begitupun Agatha yang duduk disampingnya.


"Jelasin apaan?" tanyaku heran.


"Gimana caranya lo bisa manjat?"


"Ohh, itu..."


Tak lama kemudian makanan pesananku dan merekapun datang, aku sengaja mentraktir mereka hari ini. Melihat hal bahagia itu, akupun ingin menyebarkannya dengan yang lain.


"Bentar, Tha. Jangan dulu di makan." cegah Renata memberhentikan aktivitas Agatha yang ingin menyuapkan makanannya kedalam mulutnya.


"Ada apaan?" Agatha mencebik kesal pada Renata, begitupun aku yang heran.


"Lo seriuskan traktir kita? Bukan cuman prank yang nanti kalo udah abis kita-kita yang bayar."


Aku yang mendapat pertanyaan itu langsung mengeluarkan dompet dari tasku dan menunjukkan uang 1juta lebih kearah mereka.


"Masih belum percaya?" aku menatap mereka dengan tatapan meyakinkan, dan hal itu malah membuat mereka mengernyitkan dahinya.


"Sejak kapan lo suka bawa dompet cowok, Wir?" Agatha menatap penuh selidik kearahku. Dan itu membuatku risih, dia selalu saja begitu.


"Bukan dompet aku."


"Terus?"


Aku hanya menyengir kuda kearah mereka.


...***...