Wirdaniel

Wirdaniel
Rahasia Dikamar Bunda



"Wir!"


Aku yang mendengar panggilan itu langsung menghentikan langkahku dan menatap kearah belakang. Sudah kuduga, Agathalah yang memanggilku tadi. Dan ada yang asing menurutku, apa Agatha berangkat bersama Angga?


"Hai Wir," sapa Angga saat sudah sampai di depanku.


"Hai kak."


"Yuk bareng," Agatha yang tadinya menggandeng tangan Angga langsung berganti menggandeng tanganku.


"Loh, honey. Aku gimana?" Angga yang merasa dibuang langsung berbicara.


"Kamu, kan bisa sendiri. Aku mau sama sahabat aku dulu, bye."


Agatha menarikku dan meninggalkan Angga yang masih terdiam ditempatnya. Aku tertawa kecil menatap Angga yang memasang wajah masam. Ah, Agatha memang pintar. Bisa-bisanya ia seperti ini.


"Wir, besok jadikan belajar barengnya?" tanya Agatha saat kami akan memasuki kelas.


"Jadi dong, Renata ikutkan?"


"Apa?" aku melirik Renata yang duduk dibangkunya sambil menatapku.


"Belajar bareng,"


"Kayaknya gue gak bisa deh."


"Loh, kenapa?"


"Gue mau jalan sama Albi,"


"Pacaran mulu, kapan pinternya kalo gitu." celetuk Agatha yang duduk disampingku.


"Heh, lo juga sama kali," Renata memukul tangan Agatha dengan buku yang dipegangnya.


"Lah, gue mah ada porsinya kali. Bentar lagi ujian, gue harus bisa ngalahin Wirda. Iya gak, Wir?"


"Hah? Aku?" aku menunjuk diriku sendiri tak percaya.


Aku tak habis pikir, rupanya Agatha memang sedikit lebih harus di waspadai. Inilah yang dinamakan sahabat lebih berbahaya dari musuh, atau lebih tepatnya musuh dalam selimut. Karena kita tak akan tahu, kapan dan dimana mereka bisa mencuri kesempatan dalam kesempitan.


"Heh, lo jangan gitu dong, Tha. Kita inikan sahabat, jadi siapapun yang nilainya lebih tinggi, kita harus bangga." ucap Renata yang langsung aku beri anggukan.


"Iya-iya, gue paham. Lagian gue juga becanda kali,"


"Becanda lo kelewatan."


"Heh, Ren. Kok lo nyolot gitu sih sama gue,"


"Kenapa? Gak suka?"


"Mulut lo--"


"Heh, udah-udah. Malu sama yang lainnya," ucapku melerai keduanya.


Renata dengan wajah kesalnya langsung berbalik menghadap kedepan dan membuka handphone miliknya. Begitupun dengan Agatha yang melakukan hal yang sama. Mereka seperti Tom & Jerry, kadang bertengkar, kadang berdamai.


"Wirda!"


Aku yang mendengar teriakkan itu langsung terkejut. Bagaimana tidak, Renata dan Agatha berteriak sangat kencang di dekat telingaku.


"Jelasin sekarang!" ucap Renata dan Agatha bebarengan sambil menunjukkan handphone mereka.


Aku mengamati handphone milik keduanya, dan itu hal yang sama. Mereka menunjukkan postinganku di instagram yang semalam.


"Maksud lo ini apaan?" tanya Agatha yang mendekatkan handphone miliknya ke wajahku dan menatap lekat diriku.


"Sate," jawabku jujur.


"Kalo iya kenapa?"


"Lo liat postingan lo sekarang. Liat komentar anak-anak tentang lo sama Daniel."


"Komennya positif atau negatif?" tanyaku dengan polosnya.


"Keduanya, lo bikin orang penasaran tahu gak, sih?"


"Nih, ya Wir. Gue tanya sama lo, sebenernya lo udah putus atau belum sih sama si Daniel?" ucap Agatha setelah menaruh handphonenya.


"Udah putus."


"Terus kenapa masih jalan bareng?" kesal Renata dan Agatha secara bersamaan dan menatap lelah diriku.


...***...


"Assalamu'alaikum, Ndah pulang." ucapku berteriak saat membuka pintu rumah.


Tak ada yang menjawab, rumah masih terlihat sangat sepi. Mungkin saja bunda dan kak Wildan belum pulang.


Aku berjalan ke kamarku untuk berganti pakaian, dan setelahnya aku langsung mengambil biolaku untuk menghafal beberapa note balok yang kemarin diberikan oleh orang itu.


Rasanya aneh, bagaimana bisa orang itu mengetahui semuanya tentangku? Tentang apa yang aku sukai dan apa yang tidak aku sukai. Seolah dia mempunyai ikatan batin denganku.


"Selera dia bagus juga, sama kayak yang aku suka." gumamku setelah menghafal beberapa balok.


Tapi aku rasa note balok ini seperti potongan note milik bunda. Jika saja aku mencari buku note balok milik bunda dan menggabungkannya, mungkin ini akan lebih indah.


Aku berjalan menuruni tangga dan berjalan masuk ke kamar bunda. Isi kamarnya sangat rapi, berbeda dengan kamarku yang jelas seperti kapal pecah jika sudah bermain violin.


Aku membuka beberapa laci di kamar bunda, namun buku itu masih tak kutemukan. Seolah itu buku penting yang harus disembunyikan. Bunda benar-benar sangat rapi menyembunyikannya.


"Maaf, bun. Ndah cuman mau cari buku bunda doang, kok." lirihku yang dengan sangat hati-hati mulai membuka lemari milik bunda.


Kubuka laci lemari itu, dan menemukannya. Tapi ada sesuatu yang menggangguku. Kulihat ada sebuah foto, foto itu seperti bunda saat masih muda, dia sedang mengandung? Ah, mungkin saja itu saat ia mengandungku. Dan kulihat ada anak laki-laki kecil yang sangat tampan dan imut. Aku tahu itu pasti kak Wildan.


"Pantesan, dari kecil aja dia udah ganteng begini." aku tersenyum simpul.


Namun senyuman itu luntur saat aku melihat disebelah kak Wildan ada seorang gadis yang sangat cantik, dan juga seorang laki-laki yang aku sendiri tak tahu itu siapa.


Saat pertama kali aku melihat foto gadis itu, aku langsung terpana. Bagaimana bisa, gadis itu berparas seperti bidadari. Kulitnya sangat putih, dan wajahnya itu seperti orang Eropa pada umumnya.


Dan laki-laki itu, siapa dia? Apa dia ayahku? Ah, aku tak mau berpikir panjang. Dengan menyampingkan rasa penasaranku, aku menaruh foto itu kembali. Tapi tunggu, aku melihat koran yang dimana orang yang ada difoto itu sama dengan orang yang ada di koran.


Kali ini rasa penasaranku semakin memuncak, sebenarnya siapa dia? Kenapa ia ada di dalam koran ini? Apa dia orang penting?


Kutarik koran itu, dan membaca sedikit artikel di dalamnya. Dan ya, bukan suatu kekeliruhan yang membuatku sangat terkejut.


"Bunda..." lirihku yang mulai menatap kosong, pikiranku berkecamuk dan aku jelas tak bisa berpikir jernih sekarang.


...***...


Hallo kalian semua,,


Makasih yang udah baca cerita WirDaniel.


Maafkan jika ada kesalahan. Mohon dukungannya ya kalian.


Salam kasih dari author😊


Jangan lupa vote, comment & like nya, ya.


...terimakasih...