
Aku menapakkan kakiku dirooftop, tak ada Daniel yang duduk di tepi gedung itu. Tapi aku melihat tubuh yang tergeletak begitu saja di sana. Iya, itu pasti Daniel. Perlahan aku mulai mendekatinya. Dengan alas tangan yang ia gunakan sebagai bantal, Daniel terlihat tidur sangat nyenyak di siang hari yang lumayan mendung ini. Kali ini, cuaca melakukan pergantian musim.
Aku duduk disampingnya, lantas mengamati wajah yang terlihat sangat damai itu. Sebelum akhirnya aku menatap langit yang mungkin sebentar lagi akan menurunkan air hujan.
"Kak, cuaca hari ini mendung, ya?" aku menatap Daniel sekilas yang masih belum juga membuka matanya.
"Sama kayak hati aku," gumamku yang kembali menatap sendu langit.
"Aku takut, banyak hal yang bikin aku takut. Salah satunya aku takut kehilangan kakak,"
"Aku gak suka kalo kakak cuekin aku. Aku paling gak suka di diemin, apalagi sama kakak."
"Aku emang salah, kak Daniel mungkin masih marah sama aku. Tapi aku punya alasan yang gak seharusnya kakak tahu sekarang," kuhela nafasku panjang sambil menatap segerombolan burung yang beterbangan menuju sarangnya.
"Aku minta maaf," lirihku dengan menundukkan kepalaku.
Beberapa detik setelah aku mengatakan itu, semuanya hening. Tak ada suara apapun, dan mungkin saja Daniel masih tetap tertidur.
Kali ini aku benar-benar seperti orang gila yang berbicara sendiri. Entahlah, apa yang sedang aku pikirkan. Yang kutahu, kali ini aku merasakan kekosongan tanpa sosok Daniel yang ceria seperti dulu.
"Kak, aku kangen kak Daniel yang dulu. Yang selalu ketus kalo ngomong, yang suka nyuruh aku buat minta maaf sama kakak, yang suka bikin aku kesel. Aku kangen sama kakak yang dulu."
Aku semakin menundukkan kepalaku. Namun tiba-tiba ada salah satu tangan yang memeluk bahuku, dan aku rasa ada kepala yang menopang di bahu kiriku.
Aku ingin melepaskan tangan itu, namun aku mencium aroma parfum yang sama, parfum yang sering Daniel pakai. Dan juga, pelukkannya padaku cukup kuat.
"Kak."
"Sebentar aja, Dah. Aku pengen peluk kamu kayak gini." ucap Daniel dengan nada lembut.
"Kak Daniel---"
"Aku denger semuanya, aku minta maaf. Aku gak bermaksud buat cuekin kamu." ucap Daniel yang memotong ucapanku.
Seketika senyuman seperti bulan sabit terbit di bibirku. Malu bercampur senang merasukiku. Aku harap semuanya akan kembali seperti semula.
...***...
Ting...
Suara dentingan lonceng di pintu cafe berbunyi, yang mana menandakan kalau ada pelanggan yang masuk atau keluar.
Gadis berambut cokelat caramel yang panjang, dengan memakai rok hitam diatas lutut, baju panjang berwarna coksu yang menutup setengah lehernya, memasuki cafe.
Ia menatap kearah sekitar seolah mencari seseorang. Pandangannya jatuh pada laki-laki yang sedang duduk dengan tenang di pojok sana. Perlahan dia mulai melangkahkan kakinya mendekati laki-laki itu. Semakin dekat, semakin ia mengeratkan pegangannya pada tali tas selempeng miliknya.
"Kak Wildan." panggilnya saat sudah sampai.
Wildan yang saat itu merasa terpanggil langsung menoleh dan menurunkan handphone yang sedang ia mainkan.
"Dah, hey. Kok kamu ada disini? Udah pulang?" tanya Wildan yang kemudian dijawab dengan senyuman oleh gadis itu.
"Kak, aku boleh duduk disini, kan?"
"Bolehlah, apa sih yang gak boleh buat adik kakak tercinta ini," ucap Wildan yang mulai berulah.
"Oh, ya. Kamu abis dari mana?"
"Nanti aja nanyanya, aku pengen eskrim."
"Kamu ini, giliran eskrim aja cepet banget,"
"Mbak," Wildan mengangkat tangannya dan dengan cepat, pelayan itu datang menemui meja mereka.
"Mau pesan apa mas?" tanya pelayan itu.
"Eskrim cokelat satu, ukuran besar,"
"Eskrim stroberi, bukan cokelat. Ukurannya sedang," kata Wirda yang menyela Wildan.
"Baik, tunggu sebentar mbak." pelayan itu pergi begitu selesai mencatat pesanan milik Wirda.
Wildan yang mendengar itu langsung menaikkan sebelah alisnya, heran dengan Wirda hari ini.
"Tumben banget rasa stroberi, biasanya kamu lebih suka rasa cokelat."
"Aku lebih suka stroberi."
Setelah beberapa menit menunggu. Akhirnya eskrim pesanan Wirda datang. Gadis itu langsung menyantap eskrim miliknya saat itu juga. Wildan yang melihat sifat adiknya yang kekanak-kanakkan itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Oh, ya. Kak Wildan hari ini sibuk gak?" tanya Wirda yang menatap Wildan dengan sesekali menyendokkan eskrim ke mulutnya.
"Nggak, kenapa emang?"
"Aku pengen jalan-jalan, berdua sama kakak."
"Terserah kakak."
Wildan terdiam beberapa saat, dia sedang berpikir mau kemana mereka pergi. Karena jujur, Wildan jarang sekali jalan-jalan. Ia selalu menghabiskan waktunya di kantor, studio ataupun di rumah dengan bundanya.
...***...
Dan disinilah mereka sekarang, Wirda menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sebelumnya ia juga ingin pergi ke dufan, hanya saja saat itu ia tak tahu harus mengajak siapa. Dan dengan bantuan kakaknya ini, akhirnya dia bisa datang kesini juga.
"Gimana? Kamu suka, kan?" tanya Wildan yang mulai mengajak Wirda berjalan.
"Suka kak, suka banget."
"Dulu kamu juga bilang sama kakak, kalo kamu pengen kesini pas kita baru pindah ke Jakarta. Tapi baru kali ini terwujudnya."
Wirda yang mendengar itu hanya tersenyum hambar, ia yang tak mau berpikir panjang langsung menggandeng tangan Wildan dan memeluknya dengan sangat erat seolah ia takut kehilangan.
"Kak, kita foto dulu yuk disini," kata Wirda yang mulai mengeluarkan handphone miliknya.
Wildan yang saat itu melihat wallpaper handphone milik adiknya berbeda dari biasanya hanya mengernyitkan dahinya tak paham. Biasanya Wirda tak pernah menggunakan foto dirinya untuk wallpaper handphonenya, Wirda lebih suka dengan foto pemandangan alam dan bisa dikatakan Wirda hampir tak pernah mengganti Wallpaper handphone miliknya.
"Kak sini," panggil Wirda yang menarik Wildan agar ia mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Wirda yang pendek.
Wildan tersenyum manis saat Wirda mulai memotret dirinya. Wildan dan Wirda melakukan beberapa gaya saat berswafoto dan itu berakhir saat Wirda merasa ini sudah cukup.
Dengan hati girang, Wirda mulai berjalan lebih dulu meninggalkan Wildan yang berjalan lambat.
"Dah," panggil Wildan yang kemudian sang empu langsung membalikkan tubuhnya dan..
Cekrek...
Wildan berhasil memotret Wirda yang sedang tersenyum menatapnya.
Cantik... Gumamnya sambil menatap hasil fotonya
Wirda yang saat itu menyadarinya langsung menghampiri Wildan dan melihat hasil foto kakaknya itu, ia senang. Namun akan lebih senang jika Wirda mulai bermain sekarang.
Dengan sekuat tenaga Wirda menarik Wildan kearah wahana halilintar. Ia meminta untuk menaiki wahana itu, namun Wildan melarangnya dengan alasan kalau dia takut jantung Wirda kambuh lagi.
"Kak..." rengek Wirda pada Wildan.
"Nggak! Itu bahaya Ndah,"
"Terus kalo ini-itu gak boleh, percuma dong kita kesini." kesal Wirda yang kemudian berhenti disalah satu wahana yang menurutnya tepat.
"Kak Wildan," panggil Wirda dengan tersenyum manis pada Wildan.
Wildan yang tahu maksud adiknya langsung menggeleng, "Nggak!"
"Kak, sekali aja."
Helaan nafas panjang terdengar dari mulut Wildan, dan dengan terpaksa ia mengangguk mengiyakan.
Wirda jelas sangat bahagia, ia langsung mengajak Wildan menaiki wahana bianglala dan setelah naik. Bianglala itu bergerak. Wirda sangat senang saat itu, namun tidak dengan Wildan yang hanya diam menatap datar adiknya.
"Kak," Wirda mengambil sesuatu di dalam tasnya dan menyodorkannya pada Wildan yang duduk dihadapannya.
"Apa ini?" tanya Wildan saat menerima kotak kecil yang diberikan adiknya.
"Hadiah buat kakak, dibukanya nanti dirumah."
"Serius? Sejak kapan kamu baik banget sama kakak?"
Wirda mengetuk-ngetuk dagunya seolah ia sedang berpikir, "Emm, mungkin sekarang." katanya yang kemudian disusul gelak tawa dari Wildan.
"Dasar."
...***...
Hallo kalian semua,,
Makasih yang udah baca cerita WirDaniel.
Maafkan jika ada kesalahan.
Oh iya, mungkin beberapa part lagi cerita WirDaniel bakalan end. Dan kita bakalan lanjut ke S2-nya. Author usahain supaya sering-sering update. Mohon dukungannya ya kalian.
Salam kasih dari author😊
Mohon vote, comment & like nya, ya.
...terimakasih...