
Setelah dua hari aku tak sekolah, akhirnya aku kembali untuk berangkat kesekolah, alasannya juga simpel, aku sakit. Aku kembali dirawat di rumah sakit tempat tante Keyra.
"Bunda." sapaku yang turun dari tangga dan duduk di kursi sebelah kak Wildan.
"Loh, kok kamu pake seragam?" tanya bunda.
Bunda ini bagaimana sih, sudah jelas aku pakai seragam.
"Ndah mau sekolah bun."
"Tapi, kan. Kamu baru pulang semalem."
"Beberapa minggu lagi Ndah ulangan akhir semester bun, Ndah gak mau ketinggalan pelajaran. Lagian Ndah udah sembuh kok."
"Sembuh sih sembuh, tapi tuh muka masih pucet." sosor kak Wildan yang memasukan sepotong roti kedalam mulutnya.
Aku yang mendengar sindiran itu hanya memelototinya dan menginjak kakinya yang ada di bawah meja, dan hal itu berhasil membuat kak Wildan meringis kesakitan.
"Sakit Dah. Ganas banget sih jadi cewek." ringisnya yang memegang kakinya di bawah meja.
"Biarin, kakaknya sih ngeselin. Kayak---"
Aku terdiam, seketika mulutku susah untuk mengatakan namanya. Ada apa ini, aku kembali mengingatnya?
"Kayak siapa hayoh?" kak Wildan mulai menggodaku, dia selalu bersikap menyebalkan.
"Ihh, bunda. Kak Wildannya ngeselin." rengekku pada bunda, tapi reaksi bunda hanya diam dan menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Udah yuk berangkat, kakak ada kelas pagi ini. Kalo kesiangan nanti berabe."
"Ndah baru aja mau makan rotinya."
Disepanjang perjalanan menuju sekolah aku hanya mengumpat kak Wildan dengan kata-kata tak enak, entah itu tentang kak Wildan agar tak mendapat jodoh, atau putus dengan semua pacarnya. Aku tahu kak Wildan tak mungkin mempunyai pacar kurang dari dua. Sebelum kak Wildan membuat komitmen khusus, dia pasti akan terus seperti ini, bersikap brengsek dan bajingan.
"Udah jangan di tekuk aja tuh muka, sekolah sana." tutur kak Wildan yang memberhentikan mobilnya di depan gerbang sekolah.
Aku hanya menghela nafas gusar, dan tentunya turun dari mobil dengan membanting pintu mobil kasar. Aku tak peduli lagi omelan kak Wildan yang mengatakan mobilnya bisa rusak bila kubanting, aku tak peduli lagi tatapan semua orang yang tertuju kearahku. Aku hanya fokus pada jalanan dan ingin secepatnya sampai di kelas.
"Pagi-pagi udah murung aja, kenapa bu?" tanya Agatha yang sedari tadi duduk di bangku, aku hanya bersikap acuh tak acuh.
"Wir, lo tahu gak? Pagi ini gue dapet gosip baru." kata Renata yang ikut menimbrung.
Sepertinya Renata sedang serius, gosip apa yang ia dapat? Apa tentang Daniel?
"Tadi pagi itu, anak-anak gosipin lo. Katanya, lo dianterin sama cowok ganteng. Tapi yang paling penting, lo di bilang udah move on dari Daniel terus cowok itu gantinya."
"Emang siapa sih yang nganterin lo pagi tadi?" sambung Renata.
Kak Wildan? Yang benar saja, mereka semua menganggap kak Wildan pacarku? Aku rasa itu konyol. Dan sepertinya aku bisa memanfaatkan situasi sekarang.
"Pengen tahu?" tanyaku dengan nada menggoda, dan itu berhasil membuat mereka mati penasaran.
Mata Renata dan Agatha menatapku dengan sangat serius, dan tubuh merekapun sedikit mencondong kearahku. Mereka sungguh menggemaskan.
"Nanti aja." ucapku acuh tak acuh dan mengambil handphone di sakuku.
Terdengar helaan nafas gusar dari samping dan depanku, sudah di pastikan itu nafas gusar milik Renata dan Agatha, biarkan saja mereka seperti ini, biar mereka tahu apa artinya kesal karena menggantung sebuah jawaban.
Bukankah merekapun sering seperti itu padaku.
...***...
Selepas mengembalikan buku di perpustakaan tadi, aku berencana menyusul Renata dan Agatha di kantin. Toh, akupun sudah lapar. Hidupku sudah terlalu banyak drama, jadi kali ini biarkan aku istirahat sejenak. Aku lelah menjalani peran seperti tokoh wanita utama.
"Dasar pelacur, harusnya lo mikir. Orang bilang lo lebih baik dari gue. Tapi ternyata nggak, lo bahkan lebih buruk dari gue."
Brukk...
Samar-samar aku mendengar suara itu dari arah koridor sana. Ada yang tidak beres. Aku yang sudah di selimuti rasa penasaran akhirnya memberanikan diri melihat apa yang terjadi.
Dan, ya. Aku benar-benar terkejut, bagaimana bisa seseorang yang dulunya sangat pemberani dan percaya diri, kini terdiam menunduk dihadapan 5 orang dengan bajunya yang sudah basah kuyup. Tidak bisa dibiarkan, ini perisakkan namanya.
Dengan perasaan yang sudah tercampur aduk antara marah, kesal dan kasihan. Aku berjalan menghampiri mereka.
"Kakak gak apa-apa?" tanyaku yang memegang tangan Ayla yang terasa dingin.
"Gak papa, kok. Gue baik-baik aja." Ayla tersenyum getir kearahku, tatapannya seolah menyimpan luka yang amat dalam.
Aku yang tak tega melihatnya lantas menariknya untuk pergi. Namun, Yerin serta teman-temannya sudah menghalangi kami dari berbagai arah. Ya, kami terjebak.
"Lo itu lugu, atau bego sih Wirda? Dia udah ngerebut Daniel dari lo." kata Yerin dengan menunjuk wajahku dengan telunjuknya.
"Kak Yerin gak tahu apa-apa tentang hubungan aku sama kak Daniel. Jadi gak usah ikut campur. Dan masalah sama kak Ayla, aku gak akan tinggal diam. Ini perisakkan. Kakak gak bisa di biarin aja."
"Berani lo lapor ke kepala sekolah? Gue bakalan bikin hidup lo hancur."
"Jangankan kepala sekolah, bahkan aku berani laporin kakak ke kantor polisi."
"Lo..."
"Berani lo sentuh dia. Lo bakalan berurusan sama gue,"
Aku yang mendengar suara tegas itu langsung membuka kembali mataku dan menatap kearah samping.
"Kak Daniel..." aku bergumam sambil menatapnya lekat.
"Daniel..."aku menatap Ayla yang tersenyum menatap Daniel yang berjalan kearah kami.
Sakit. Hatiku sedikit tergores saat melihat Ayla yang begitu antusias saat kedatangan Daniel.
"Turunin tangan lo. Gue gak suka tangan kotor lo nyentuh cewek sama sahabat gue."
Apa katanya tadi? Apa aku tak salah dengar? Bukankah Daniel bilang jika hubungan kami sudah berakhir? Tapi tadi dia bilang... Ahh, rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang sedang beterbangan dalam perutku. Dan pipiku, rasanya ini memanas.
"Niel, aku bisa jelasin." Yerin menggapai tangan Daniel, namun di tepis oleh sang empu hingga gadis itu tersungkur di lantai.
Kasihan bukan...
"Jangan sentuh gue! Gue jijik liat sikap lo yang gak pernah berubah. Gue peringati, sekali lagi lo gangguin Ayla. Gue gak akan biarin hidup lo tenang." ancam Daniel yang kemudian memegang tangan kiri Ayla.
"Ayo..."
Aku, Daniel dan Ayla meninggalkan Yerin bersama teman-temannya di koridor sana. Ayla yang basah kuyup menjadi pusat perhatian murid-murid yang lewat.
Dalam perjalanan, aku pergi ke kelas dan mencari baju cadangan dalam loker milikku. Beruntung aku selalu menyimpannya untuk berjaga-jaga.
Setelah mengambil baju itu, aku kembali berlari kearah toilet. Dan sesampainya disana, aku melihat Ayla dan Daniel yang menunggu diluar.
"Gue ke kantin dulu mau pesenin lo bubur. Nanti kalo udah selesai lo nyusul." ucap Daniel pada Ayla saat aku datang. Dan dia pergi begitu saja melewatiku tanpa melirikku sedikitpun?
"Wir," aku yang mendengar panggilan itu langsung mengambil kembali kesadaranku dan menatap Ayla dengan penuh senyuman.
"Eh, iya. Ini kak, tadi aku ambil baju di lokerku. Semoga aja ini muat sama ukuran baju kakak." aku memberikan seragam milikku.
Namun, belum sedikitpun Ayla meraihnya. Aku justru sudah menjatuhkannya. Aku memegangi dadaku yang terasa sangat sakit dan akhirnya aku terduduk dilantai yang dingin itu. Beruntung tak ada orang yang melihatnya.
"Wir, lo kenapa?" aku melihat wajah Ayla yang terlihat panik.
Aku hanya menggeleng kecil, lalu mengambil beberapa butir obat dengan jenis yang berbeda dari saku rokku, yang sebelumnya sudah bunda siapkan dan memasukkannya kedalam wadah kecil yang bisa aku kantungi. Dalam sekejap aku menelan semuanya tanpa bantuan dari air. Iya, aku sudah terbiasa seperti ini.
"Wir, gue panggilin orang dulu, ya?" Ayla bergegas pergi, namun lengannya aku tahan.
"Gak usah kak, aku udah baikkan kok."
"Serius?"
"Iya, mending kakak ganti dulu aja bajunya. Aku tunggu disini."
...***...
Aku dan Ayla berjalan mencari meja yang kosong di kantin. Baru saja aku akan mengajak Ayla untuk bergabung dengan Renata dan Agatha, dia sudah menarikku kearah meja di pojok kantin.
"Niel." panggilan itu keluar dari mulut Ayla, dia melambaikan tangannya kearah Daniel yang duduk di sana.
"Kak, aku pergi aja ya. Gak enak sama temen-temen aku yang nungguin." ucapku pelan saat sudah di depan meja.
"Yaelah, disini aja kali. Makan bareng kita." ujar Ayla yang kemudian menarikku untuk duduk di depan Daniel, dan dia duduk di sampingku.
"Gue masih banyak urusan. Lo makan aja sama dia," kata Daniel yang beranjak dari duduknya.
"Mau kemana? Gak ikut makan?" tanya Ayla heran dengan Daniel yang pergi begitu saja.
"Gak."
Aku menatap kepergian Daniel yang perlahan mulai ditelan oleh kerumunan. Aku menatap bakso di depanku yang kemudian mengingatkanku pada hari itu. Hari dimana ketika aku dan Daniel untuk pertama kalinya makan bersama, dimeja yang sama, namun kali ini aku hanya sendiri.
"Samperin gih," ujar Ayla sambil menyenggol lenganku.
"Emang gak papa. Kak?" tanyaku polos.
"Ya gak papalah, emang siapa yang mau larang lo? Gak ada, kan?"
...***...
Hallo kalian semua,,
makasih yang udah baca cerita WirDaniel.
Maafkan jika ada kesalahan.
Salam kasih dari author😊
Mohon vote, comment & like nya, ya.
...terimakasih...