
"Gue pulang ya, Wir." ucap Agatha padaku yang sudah turun dari mobilnya.
"Gak mampir dulu?"
"Gak usah, takut kemaleman nantinya."
Aku menatap mobil Agatha yang perlahan mulai menghilang dari pandanganku. Dengan berjalan gontai, aku membuka pintu gerbang dan melihat bunda yang sedang duduk di kursi teras sambil memotong tangkai dan daun dari bunga mawar. Sepertinya bunga di taman sedang berbunga lebat.
"Assalamu'alaikum, bunda." ucapku yang duduk di kursi dan menyalami tangan bunda.
"Waalaikumussalam, tumben dianterin sama temen kamu."
"Ohh, itu tadi Ndah abis main bareng sama temen-temen Ndah. Jadi pulangnya agak sorean juga." aku menatap bunda yang menggelengkan kepalanya mendengar pembelaanku yang tak mau kena semprot.
Namun ada yang kurang menurutku, aku menatap sekitar, dan akupun heran kenapa mobil milik kak Wildan tidak ada? Apa dia belum pulang? Atau masih menungguku di sekolah? Ah, tapi itu tidak mungkin.
"Bun, kak Wildan belum pulang?" tanyaku pada bunda.
"Belum? Emang tadi kamu gak ketemu dia? Kan katanya dia mau jemput kamu,"
"Tapi tadi Ndah pulang duluan sama temen-temen Ndah."
"Mungkin aja dia lagi ke studio, nanti malem juga pasti pulang." ucap bunda yang berusaha menenangkanku.
"Semoga aja nanti dia gak marah sama Ndah."
"Yaudah mandi sana. Sekalian ini bunganya taro di kamar kamu." ucap bunda yang kemudian memberikan vas bunga yang berisikan beberapa bunga mawar yang masih segar dengan tangkainya yang terendam air.
Aku berjalan memasuki rumah, namun saat sampai di ruang tamu aku melihat sebuah kotak besar yang entah milik siapa. Dengan rasa penasaran lantas aku kembali lagi ke teras untuk bertanya pada bunda.
"Bun, itu kotak punya siapa?" tanyaku yang muncul di daun pintu.
"Oh, itu yang diatas meja katanya paket punya kamu,"
"Oh..."
Aku kembali kedalam dan mengambil kotak itu bersamaku. Aku yakin, ini pasti dari orang itu lagi.
...***...
"Ndah, makan malemnya udah siap," teriak bunda dari arah dapur.
Wirda yang sedang mengerjakan tugas di kamarnya itu langsung bergegas menemui sang bunda.
"Bun, kak Wildan belum pulang juga?" tanya Wirda yang mulai duduk dimeja makan.
"Belum, mungkin dia sibuk." bunda menuangkan nasi dan menaruh beberapa lauk serta sayuran di piring milik anaknya itu.
Wirda yang memang saat itu sedang lapar, ia langsung makan dengan lahap. Aneh bukan? Sebelumnya Wirda tak pernah mengkhawatirkan kakaknya sampai seperti ini. Biasanya Wirda tak terlalu memperdulikan kakaknya entah akan pulang jam berapapun. Tapi kali ini berbeda, perasaan Wirda aneh. Dia merasa sedikit takut dan cemas dengan kakaknya itu. Lebih parahnya, handphone milik Wildan tak bisa di hubungi.
"Bun, Ndah ke kamar dulu, ya. Tugas Ndah belum selesai semua." kata Wirda yang mulai berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan sang bunda yang sudah selesai makan.
"Yaudah, iya. Belajar yang bener ya, sayang." bunda tersenyum ramah pada putrinya itu yang langsung di beri anggukkan oleh sang empu.
Sesampainya Wirda di kamarnya, ia langsung kembali duduk di meja belajarnya berniat ingin menyelesaikan tugasnya yang akan di kumpulkan esok. Namun dirinya terfokus pada kotak yang tadi sore. Dengan rasa penasaran ia langsung membuka kotak itu, dan ya. Isinya benar-benar mengejutkan Wirda. Ini sebuah gaun yang sangat indah, bahkan manik-manik yang seperti kristal itu seperti sungguhan. Ah, mungkin saja benar itu sungguhan.
Sebelum Wirda mengambil gaunya, ia terlebih dahulu mengambil selembar kertas yang ada diatas sebuah buku, entah buku apa itu.
Aku harap kamu menyukai hadiah yang aku beri ini. Gunakanlah gaun ini saat kamu akan tampil bermain biolamu. Dan aku menulis beberapa note balok dibuku itu, aku harap suatu hari nanti kamu memainkannya.
^^^Seseorang yang sangat merindukanmu”^^^
Wirda yang selesai membaca surat itu langsung beralih mengambil buku yang ada di dalam kotak itu dan membukanya. Namun belum ia melihatnya, pintu kamar sudah terbuka dan menampakkan Wildan yang menatap datar Wirda.
"Kak Wildan. Kakak ngagetin aja deh," ucap Wirda yang menaruh kembali buku itu kedalam kotak dan berjalan kearah ranjang miliknya.
"Kamu tahu kesalahan kamu dimana?" tanya Wildan yang ikut duduk di sisi ranjang.
"Ya maaf, tapikan Ndah udah chat kak Wildan kalo Ndah pulang duluan. Lagian kakaknya juga belum datang waktu itu. Jadinya Ndah sama temen-temen Ndah deh pulangnya, sekalian main bareng dulu." jelas Wirda yang sedikit memberi pembelaan pada dirinya.
"Maksud kamu?" Wildan yang tak paham maksud adiknya itu langsung mengernyitkan dahinya.
"Maksudnya, tadikan kak Wildan telat jemput Ndah. Nah, jadinya Ndah pulang sama Agatha, terus mampir dulu deh kerumah dia."
"Bukannya tadi kamu abis jalan-jalan ya sama kakak? Terus kamu juga ngasih ini buat kakak." Wildan mengeluarkan kotak kecil dari saku jaket miliknya.
"Nggak. Aku ketemu kakak cuman tadi pagi sama sekarang."
Wildan menatap lekat Wirda yang menatap heran padanya. Ia bingung sekarang, tak mungkin Wirda berbohong padanya seperti ini. Dan itu tak lucu sama sekali. Tapi aneh, mimik wajah Wirda tak menunjukkan kebohongan. Bahkan dia juga terlihat bingung dengan kakaknya yang bertingkah sangat aneh.
"Kak." panggil Wirda yang menepuk tangan Wildan hingga membuat sang empu langsung tersadar.
Dengan wajah kebingungan Wildan langsung pergi meninggalkan Wirda dan pergi ke kamarnya. Ia yang dirundung beribu pertanyaan memilih membuka kotak yang ia dapat tadi siang. Dan ya, isinya sebuah arloji yang sangat indah dan bisa terbilang sangat mahal jika dilihat ini adalah arloji branded ternama. Dan disana ada sebuah note yang membuat Wildan semakin penasaran.
“Aku harap kakak mengenaliku.
^^^Aku rindu kakak”^^^
Wildan yang menyadari sesuatu langsung berlari begitu cepat hingga Wirda yang ada dikamarnya langsung terkejut melihat Wildan yang berlari begitu saja. Iya, dia melihatnya karena Wildan tak menutup pintunya saat keluar tadi, sedangkan kamar Wildan ada di sebelah kamar Wirda.
Dengan perasaan yang menggebu-gebu, dan mata yang mulai memerah Wildan berlari keluar dari rumahnya tanpa menggunakan kendaraan apapun. Ia berlari kesetanan membuat pak Budi yang sedang duduk di kursi taman keheranan melihat anak majikannya itu.
Wildan tak lagi bisa berpikir jernih, pikirannya sangat kacau. Dan saat menyadarinya ia sudah ada di depan kompleks, tepatnya di depan jalan raya. Wildan memijat pelipisnya dan melirik kanan-kiri seolah ia mencari seseorang. Namun nihil, rasanya percuma saja. Ia tak tahu orang itu ada dimana, dan bodohnya ia tak menyadarinya sejak awal.
Perasaannya hancur, dan saat ia akan berbalik untuk kembali. Sekilas ia melihat seseorang yang berdiri disebrang sana yang menatapnya dengan senyuman yang sulit diartikan. Dan itu juga yang membuat Wildan menghela nafasnya lega.
Ia langsung berlari begitu saja tanpa menghiraukan kendaraan yang berlalu-lalang dan memberinya klakson tanda peringatan. Sekejap Wildan langsung memeluk tubuh mungil itu, rasa rindu, senang, sedih dan lega, bercampur aduk dalam diri Wildan. Ia bahkan tak dapat membendung airmatanya lagi.
"Maaf... Maaf karena telat menyadarinya," ucap Wildan lirih sambil sesekali mencium pucuk kepala gadis itu.
...***...
Hallo kalian semua,,
Makasih yang udah baca cerita WirDaniel.
Maafkan jika ada kesalahan. Mohon dukungannya ya kalian.
Salam kasih dari author😊
Mohon vote, comment & like nya, ya.
...terimakasih...