Wirdaniel

Wirdaniel
Terbongkar Dan Akhir



Jika ingin jatuh cinta, maka kita harus siap jatuh terlebih dahulu, baru setelahnya cinta, bukan begitu?


Aku bingung, ini sudah 3 minggu aku menjauh dari Daniel, tak ingin bertatap muka, bahkan tak pernah membalas pesan ataupun mengangkat telepon pemuda itu. Aku masih di zona bimbang, sementara sebentar lagi Daniel lulus.


"Tante harap kamu gak lupa minum obatnya, sekarang kondisi kamu mulai membaik."


"Iya tante dokter keyra." ucapku yang langsung di sambut kekehan kecil dari sang empu.


"Tapi tan, emang harus banget ya aku minum obat itu? Terus sama obat tambahannya juga?" lanjutku.


"Kamu harus minum obatnya, kalo nggak kondisi kamu menurun. Jangan sampe kejadian kemarin-kemarin terulang lagi."


"Iya tante dokter Keyra, Ndah ngerti kok. Orang yang punya riwayat lemah jantung mah gini, hidupnya juga pasti gak akan lama."


"Eh, kamu gak boleh ngomong kayak gitu, masa depan kamu masih panjang. Tante yakin kamu bisa sembuh." tutur tante Keyra, dan hal itu berhasil membuatku sedikit kecewa.


"Seberapa persen aku bisa sembuh tan?"


Setelah mendengar pertanyaan yang aku ajukan, tante Keyra diam, dia bungkam. Aku tahu dia hanya tak ingin memberitahuku karena itu akan menyakitkan, dia tak bisa berbohong karena setiap dokter pasti mengucapkan sumpah.


"Dah, tadi Wildan telepon tante, katanya bentar lagi dia jemput kamu. Dan hasil check up nya nanti tante kasih langsung ke bunda kamu." alibi tante Keyra yang mulai mengalihkan pembicarakan, namun aku tak sebodoh itu.


"50%,, Aku cuman pengen tahu tan."


Aku lihat tante Keyra hanya diam menunduk, aku penasaran dengan hasilnya. Sejak dulu kak Wildan tidak pernah menperlihatkan hasil check up milikku, dia hanya akan membicarakannya bila hasilnya bagus. Bundapun sama, bunda tak akan menerima hasil check up milikku jika hasilnya tak memuaskan, itu sudah diatur oleh kak Wildan dan tante Keyra.


"Jantung aku ini semakin lemah ya, tan?" tanyaku lagi, selama aku tak mendapat jawaban aku hanya akan mendesaknya terus-menerus.


"Wir." panggil seseorang dari arah belakang, aku dan tante keyra langsung berbalik menatap siapa yang memanggil. Dan ya, aku terkejut, sepertinya dia mendengar semuanya.


"Kak." lirihku dan berusaha untuk menetralkan jantungku kembali.


...***...


"Jadi, bisa lo jelasin sekarang?" tanya Ayla yang sudah duduk di depanku.


Sejak sepeninggalan rumah sakit tadi, aku mengajak Ayla ke cafe dekat rumah sakit, dan mungkin ini saatnya aku menceritakan semuanya pada Ayla. Toh, dia juga sudah dengar tadi. Wajah kebingungannya masih kental dan tak pernah berubah, sepertinya dia benar-benar ingin tahu.


"Sejak dulu aku udah sakit kak, jantung aku makin melemah. Aku berusaha buat rahasiain semua ini dari orang lain selain keluargaku."


"Termasuk Daniel?" kata Ayla dengan secepat kilat, aku hanya mengangguk membenarkan.


"Aku gak mau kak Daniel tahu masalah penyakitku."


"Lo tahu? Dulu jauh sebelum Daniel kenal sama lo. Dia itu laki-laki yang susah diatur, keras kepala, nakal, dia sering ikut balapan. Dia gak pernah ngobrol sama nyokap-bokapnya kalo gak penting-penting banget. Tapi setelah dia kenal sama lo, dia banyak berubah, Wir. Dia jadi sering ceritain lo sama nyokapnya, dia berhenti balapan karena dia tahu, lo gak suka sama orang yang sering kebut-kebutan di jalan raya. Padahal dulu balapan itu dunia malam Daniel." jelas Ayla dengan mimik wajah yang sulit dijelaskan.


"Gue beruntung, karena dengan hadirnya lo buat dia. Dia berubah drastis. Lo gak tahu, seberapa besar cinta dia buat lo, sampe-sampe dia gak pernah ada pas gue butuh dia." lanjut Ayla.


"Maksud kakak?" aku menautkan kedua alisku. Heran, apa yang dimaksudnya?


"Yang lo liat pas di taman itu cuman salahpaham. Gue lagi butuh Daniel, Redgar mutusin gue. Dia di jodohin sama orang tuanya, dan setelah lulus mereka bakalan menikah. Disitu hati gue hancur, dan yang ada dalam pikiran gue cuman satu, yaitu Daniel. Dia tempat yang bikin gue merasa tenang pas gue hancur. Dulu sebelum Daniel kenal lo, dia emang pernah suka sama gue, tapi gue sukanya sama Redgar."


Sudah kuduga, dulu saat aku bertanya Daniel pernah suka pada Ayla atau tidak. Dia tak menjawab, jadi benar dugaanku.


Tak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan dengan salah satu diantarnya tidak memiliki perasaan yang lebih.


Sekarang aku harus bagaimana?


"Maaf kak, aku gak bisa. Aku gak mau kak Daniel terus bergantung sama aku, aku gak punya banyak waktu. Aku selalu di kejar waktu, mungkin yang lebih tepat buat kak Daniel, kak Ayla. Aku gak mau liat kak Daniel sedih kalo nanti aku pergi." lirihku penuh dengan rasa penyesalan.


"Daniel berhak tahu tentang penyakit lo, Wir." aku hanya menggelengkan kepalaku, rasanya tak sanggup untuk memberitahunya.


"Jangan kasih tahu dia kak, jangan kasih tahu siapapun. Aku mohon sama kakak." mohonku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Terdengar suara helaan nafas panjang dari Ayla, "Gue gak akan kasih tahu dia, tapi gue gak bisa janji. Jadi sekarang apa rencana lo selanjutnya?"


"Aku boleh minta sesuatu?"


...***...


"Apa?" tanyaku heran, tumben sekali Daniel mengajakku bertemu tanpa menjemputku.


Kali ini Daniel memang berbeda, dia banyak berubah. Bahkan tatapannya menjadi datar tanpa ekspresi.


"Kenapa teleponku gak pernah di angkat? Setiap pesan yang aku kirimpun gak pernah kamu bales? Kamu ngehindar dari aku?" tanya Daniel dengan tegas, sungguh ini membuat bulu kudukku merinding.


"Aku gak menghindar dari kakak."


"Bohong, sebenernya apa yang kamu sembunyiin dari aku, Dah?"


"Aku gak sembunyiin apa-apa dari kakak!"


Aku menatap mata tajam Daniel, mata tajam itu memiliki ketenangan tersendiri untukku, mata tajam itu memiliki banyak cinta untukku. Aku bodoh, aku egois, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Biar takdir yang memperjelas.


"Waktu itu kamu bilang ke aku, kalo kamu mau kita putus bukan? Kamu minta putus cuman karena hal sepele. Jadi ayo, kita akhiri disini." ucap Daniel dengan entengnya.


Rasanya sakit, sakit sekali. Benarkan Daniel mengatakan itu? Kenapa harus seperti ini? Tanpa disadari air mataku mulai menetes membasahi pipiku, air mata ini tak diminta untuk keluar, tapi kenapa keluar?


"Ma-maksud kakak?"


"Seperti yang kamu mau, kita putus." jelas Daniel lalu pergi meninggalkanku.


Tega. Satu kata itulah yang terlintas di pikiranku.


Diatas gedung sekolah ini, rooftop ini menjadi saksi bisu antara aku dan Daniel. Aku sudah kehilangan Daniel sekarang, aku harus berpegangan pada prinsipku, pengobatanku lebih penting. Aku harus melepas Daniel, jelas yang sangat tersakiti di sini adalah Daniel, aku yang salah, aku yang egois. Tapi ini sudah menjadi keputusanku sejak lama. Jantungku semakin melemah, kadang aku selalu merasakan sakit yang amat menyiksaku, sekarang aku hanya bergantung pada Tuhan serta obat-obatan yang membantuku. Salahkan sikapku terhadap Daniel ini?


...***...


Hallo kalian semua,,


makasih yang udah baca cerita WirDaniel.


Maafkan jika ada kesalahan.


Salam kasih dari author😊


Mohon vote, comment & like nya, ya.


...terimakasih...