Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
9



Malam harinya ....


Kaili datang menemui Siena, ia membawa sebuah kotak hitam yang disuruh oleh Siena. "Nona, ini biola milikmu," ucap Kaili kepada Siena.


"Letakkan saja di sana, kamu boleh istirahat sekarang, oh! Iya! Bagaimana kabar mereka Kaili?" tanya Siena kepada Kaili.


"Mereka baik-baik saja Nona, semuanya berjalan dengan lancar. Tadi, Ibuku juga sempat memberikanmu baju, Nona." Kaili memberikan baju kepada Siena, Siena yang melihat baju tersebut sangat menyukainya. Ibu Kaili memang paham sekali dengan dirinya.


"Terimakasih banyak Kaili, sekarang kamu boleh istirahat." Kaili pun pamit undur diri.


Suasana kamar milik Siena sangatlah sepi, ia tidak mau memiliki pelayan di kamarnya. Baginya, apa yang ia lakukan bisa dilakukannya sendiri.


"Sepertinya, banyak bintang di luar," ucap Siena, sembari membawa biolanya dan melangkahkan kakinya menuju ke belakang Istana.


Udaranya sangat menyejukkan, berbeda dengan dijamanku, batin Siena.


Siena pun mulai memainkan lagu River Flows In You–Yiruma, lagu ini bisa membuat hatinya tenang, ditambah lagi dengan suasana tenang seperti ini. Jelas, dirinya bisa menghayati setiap alunan musik yang ia mainkan. Hembusan angin malam, membuat dirinya nyaman dalam memainkan musik tersebut, seakan dirinya jatuh di sebuah padang rumbut yang menyejukkan.


Karna suara yang Siena timbulkan terlalu indah? Sampai-sampai membuat semua orang di dalam Istana datang ke kediaman Siena. Tapi, Siena belum menyadari kehadiran mereka, lantaran dirinya terlalu asik dengan dunianya sendiri.


"Wah? Indah sekali suaranya, bukankah? Dia yang memainkan alat musik ini, sewaktu acara festival kemarin?" ucap Putri lainnya.


"Iya! Aku yakin, dialah orangnya."


"Aku tidak menyangka, dirinya bisa memainkan alat musik seindah ini."


Tiba-tiba semua Pangeran, bahkan Kaisar pun datang di kediaman Siena.


"Salam Yang Mulia." ucap penghuni Istana memberi salam kepada Pangeran dan Kaisar.


Ternyata dialah orangnya, batin Pangeran Fengying.


Wanita ini? Di sini? Batin Pangeran keempat.


Setelah Siena selesai memainkan lagu tersebut, ia pun hendak pergi ke dalam untuk beristirahat. Namun, Siena terkejut apa yang ia lihat.


"Maaf, apa saya mengganggu kalian?" tanya Siena kepada mereka semua.


"Oh tidak-tidak, kami datang kemari untuk menikmati indahnya musik anda, Nona," ucap seorang Pangeran keempat.


"Benar, apakah kamu yang memainkan pada saat acara festival kemarin?" tanya sang Kaisar kepada Siena.


Siena sengaja tidak menutupi rahasia ini terlalu lama, toh! Untuk apa juga ia menyimpan identitas dirinya itu. Tapi, dengan santainya, Siena masih sempat memasang wajah datarnya, diikuti oleh senyumannya itu.


"Benar, itu saya Yang Mulia. Tapi, yang saya gunakan adalah nama belakang saya, Alexandra," ucap Siena seperti biasanya—tanpa menundukan kepalanya di depan Kaisar.


Siena orangnya males ribet, walaupun dirinya selalu membaca komik dan buku sejarah. Tapi, ia malas jika harus tunduk atau bersujud, yang penting baginya—ia harus menjaga tata krama dan kesopanannya.


"Baiklah, aku memaafkanmu. Tapi, bisakah? Kau memainkannya lagi?" pinta sang Kaisar kepada Siena.


"Maafkan saya Yang Mulia. Tapi, saya sudah sangat lelah, lain waktu saja bagaimana?" ucap Siena, sementara sang Kaisar hanya manggut-manggut.


"Baiklah, karena hari semakin gelap. Mungkin kita bisa melanjutkannya besok," ucap Kaisar.


Sang Kaisar pun kembali ke Istananya untuk beristirahat, begitupun para pelayan, dan beberapa istri Pangeran juga, ikut mengundurkan diri.


"Siena, kau luar biasa," puji Putri Indriana.


Bagaimana bisa? Seorang Putri Indriana memuji orang lain? Batin Putri Ruolan—selir resmi  Pangeran Fengying.


"Terimakasih banyak, sebaiknya kamu jangan memuji seseorang berlebihan, itu tidaklah baik," saran Siena kepada Putri Indriana.


Wanita yang berbeda, batin Putri Indriana.


Sebaiknya aku biarkan dia berbicara dengan Putri lainnya, batin Pangeran Fengying, ia pun pergi meninggalkan Siena yang sedang mengobrol dengan Putri lainnya.


Aku akan mengunjunginya lagi, besok, batin Pangerann keempat.


"Nona Siena, tadi itu luar biasa sekali!" lagi-lagi dirinya dipuji oleh Wenying.


"Kamu tidak usah memanggilku Nona lagi, sekarang kamu sudah menjadi seorang Putri," ucap Siena kepada Wenying.


"Terimakasih banyak Siena."


"Siena! Bolehkah, besok aku mengunjungimu lagi?" ucap Putri Juan.


Siena menggangguk dan tersenyum. "Datanglah, kapan pun kalian mau," jawab Siena kepada mereka.


"Siena! Bagaimana jika kita besok latihan tongkat lagi? Caramu berlatih membuatku ingin bertarung denganmu," ucap Putri Luili.


Semua selir pun pergi meninggalkan kediaman Siena, kecuali satu. Ada satu selir yang bersembunyi di belakang kediaman Siena, selir itu memasang seringaian di wajahnya.


"Aku akan menyingkirkan semua selir Pangeran Fengying, terutama dirimu Siena."


...***...


Siena yang belum tidur itu, hanya bisa memikirkan adiknya, dan ibunya. Jika memang ada jalan untuk keluar dari jaman ini, pasti ia tidak akan keluar dari sini. Siena tahu sakitnya saat melihat ibunya diaakiti oleh ayahnya—dirinya selalu mengingat kejadian pedih itu.


"Kamu sedang memikirkan apa?" tanya seseorang di balik pintu.


Siena pun menoleh ke sumber suara, ia benar-benar kesal dengan pria yang ada di hadapannya saat ini. "Ada urusan apa?" tanya Siena dengan dingin.


"Apa kamu bersedia menjadi Permaisuriku?" tanya Pangeran Fengying, sementara Siena hanya diam dan menatap malas Pangeran tersebut.


Sementara itu, ada seorang selir yang melewati kediaman Siena, dan tanpa sengaja mendengar pembicaraan Siena dengan Pangeran Fengying.


"Kamu sudah memiliki banyak istri, untuk apa mencari istri lagi, aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai." Pangeran Fengying yang mendengar ucapan Siena, mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat.


Ternyata, apa yang Siena ucapkan itu benar, dirinya dipaksa oleh Pangeran Fengying untuk tinggal di Istana, batin selir itu, kemudian dirinya pergi dari sana.


Sementara itu, di sisi lain ....


Sudah kuduga, Pangeran Fengying menyukai Siena, aku harus membuat Pangeran Fengying membenci Siena, batin selir yang bersembunyi di belakang kediaman Siena.


"Apakah dia seorang Pangeran? Apakah dia lebih tampan dariku?" tanya Pangeran Fengying—mendekati Siena, kini jarak wajah mereka 10 cm.


Tapi Siena tetap memasang wajah datarnya seolah-olah tidak ada yang terjadi. "Bisakah, kamu menjauh dariku? Aku akan menjawab pertanyaanmu itu."


Akhirnya, Pangeran Fengying menjauhkan wajahnya dari Siena. "Dia hanya orang biasa," ucap Siena.


"Hahaha! Lebih baik kamu bersamaku, aku akan selalu berada di sisimu," ucapnya, lagi-lagi mendekatkan wajahnya pada Siena.


Tapi, Siena dengan cepat menjauhkan dirinya dari Pangeran Fengying. Bukan hanya itu saja, Siena hanya tersenyum mendengar ucapan dari bibir Pangeran Fengying.


"Ini sudah larut, kamu sebaiknya pergi," usir Siena kepada Pangeran Fengying.


"Baiklah, aku akan pergi, kamu beristirahatlah." akhirnya, Pangeran Fengying pun pergi dari kediaman Siena.


Saat Siena hendak menutup pintunya, Siena melihat Wenying berada di sampingnya. "Siena, aku ingin berbicara denganmu, mari ikuti aku." Wenying menarik tangan kiri Siena.


Firasatku tidak enak, apa yang akan dibicarakan olehnya, batin Siena.


Aku akan membuatmu basah kuyup malam ini, batin Wenying.


Sesampainya di atas jembatan, Siena terus saja menatap Wenying. Siena tahu, pasti Wenying memiliki maksud yang tidak baik.


"Apa yang mau kamu sampaikan?" tanya Siena.


"Tunggu sebentar," ucap Wenying, yang berjalan ke arah belakang Siena.


Dan benar saja, Wenying mendorong Siena dari arah belakang.


BYURR!


"Hahaha, Pangeran Fengying itu milikku," ucap Wenying. "Tolong! Tolong!" pekik Wenying meminta tolong, aktingnya luar biasa.


Untung saja di sana Siena bisa berenang, Siena tahu Wenying sangat menyukai Pangeran Fengying. Tapi, caranya salah.


"Siena! Apa kamu baik-baik saja?!" tanya Putri Luili, yang terus memanggil Siena. "Aku akan memanggil Pangeran." Putri Luili yang hendak memanggil Pangeran pun, dicegah oleh suara Siena.


"Tidak perlu Putri!" ucap Siena yang sedang berenang gaya punggung.


Aku merindukan kolam renangku, air ini ternyata sangat menyejukkan, batin Siena.


Sial! Aku gagal mencelakainya, batin Wenying.


"Apa kamu ingin bergabung? Putri Luili?" ajak Siena, yang digelengi oleh Putri Luili. "Hahaha, lain kali aku akan mengajarimu."


Semua pelayan, penjaga, dan para Pangeran datang menghampiri tempat di mana, Wenying meminta tolong.


"Apa yang kamu lakukan!" tanya Pangeran Fengying dengan nada khawatir.


"Tenanglah, kenapa semuanya kemari? Aku bukan pertunjukan, aku hanya ingin berenang saja," ucap Siena dengan santai, ia pun menepikan dirinya di pinggir kolam.


Pangeran Fengying yang melihat Siena pun langsung menggendong Siena ala Bridal Style.


Tbc