Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
12



Keesokan harinya, di Paviliun Bai Meigui....


Terlihat jelas wajah Siena yang sangat bahagia bisa bertemu dengan adiknya, bukan hanya itu saja. Ini juga, kesempatannya untuk kabur dari Istana, agar dirinya bisa bebas-bukan seperti burung yang terus terkurung di dalam sebuah sangkar.


Di sana Siena bertanya kepada Max, adiknya. Kenapa dirinya bisa masuk ke masa lampau, dan Max menjawab. Jika, waktu itu dirinya akan mengikuti kompetisi band di sekolahnya. Namun, saat Max hendak masuk ke dalam ruangan—di mana kompetisi itu berlangsung, dirinya justru masuk ke jaman ini.


Kini giliran Max yang bertanya kepada Siena, Siena pun bercerita jika dirinya masuk ke jaman ini. Karena membaca sebuah buku lusuh yang ada di dalam perpustakaan, dan muncul sebuah portal, hingga membawa dirinya masuk ke masa lampau.


"Max, apa kamu jadi anak angkat Permaisuri?" tanya Siena kepada Max, sementara Max mengangguk.


Max, mulai bercerita awal di mana dirinya diangkat oleh seorang Permaisuri, awalnya Max berada di dalam sebuah ruangan yang cukup besar, dan tanpa sengaja dirinya melihat seorang wanita yang hendak dibunuh oleh seseorang menggunakan pisau dari arah belakangnya. Dengan sigap, Max langsung menghadang pembunuh itu, hingga dirinya lah yang tertusuk di bagian dadanya. Untungnya penjaga Istana mendengar keributan tersebut, dan segera menuju ke tempat di mana Max tertusuk. Max, sempat mengalami koma selama 5 hari, saat dirinya sadar ... tiba-tiba seorang wanita langsung memeluk dirinya, dan terus mengucapkan rasa terimakasih kepada Max. Bukan hanya itu saja, sang Kaisar juga mengucapkan terimakasih kepada Max, mulai dari sanalah Max diangkat menjadi seorang Pangeran, dan namanya diganti oleh sang Kaisar menjadi Pangeran Jianying. Tetapi Max sempat menolak nama tersebut, lantaran namanya adalah pemberia dari kedua orangtuanya. Namun, Permaisuri berkata, jika ini demi kebaikannya. Dan akhirnya, Max menerima nama tersebut.


"Wow, itu sungguh luar biasa Max. Tapi, apa kamu diperlakukan dengan baik di sana?" tanya Siena.


"Tentu saja, Kak! Mungkin ... tidak semua orang di dalam Istana menyukaiku, tapi aku tidak mempedulikan mereka," ucap Max dengan santai. Namun, tiba-tiba Max bertanya sesuatu hal yang Siena hindari.


"Oh iya Kak! Bagaimana kabar Ibu?" tanyanya, yang membuat Siena seketika membeku, dan menundukkan kepalanya.


"Ibu sudah tiada, Ibu meninggal satu tahun setelah kehilangan dirimu." mendengar ucapan Siena, wajah Max berubah menjadi sendu. "Ini semua bukanlah kesalahanmu Max, ini semua ... karna perbuatan Ayah kepada Ibu," lirih Siena.


"Ceritakan kepadaku, Kak," pinta Max.


Siena akhirnya menceritakan kematian ibu mereka berdua, di mana setelah Max menghilang, ibu Siena selalu memikirkan Max. Ibunya berkali-kali meminta ayahnya untuk mencari keberadaan Max. Namun, ayahnya selalu menolak dan pergi menemui seseorang, hingga setahun kehilangan Max. Ibunya jatuh sakit, Siena sangat sedih melihat keadaan ibunya itu. Tapi, berbeda dengan ayahnya yang justru membawa pulang seorang wanita lain ke dalam rumah. Dan itu membuat keadaan ibunya semakin memburuk, di saat seperti itu ... ayahnya meminta kepada ibu mereka untuk bercerai. Tak lama dari perceraian tersebut, ibu mereka meninggal dunia.


"Kak, aku berjanji tidak akan meninggalkan Kakak lagi," ucap Max, sembari memeluk Siena dengan sangat erat, seakan dirinya takut melihat kakaknya kesepian lagi.


"Max, bagaimana jika kita hari ini kembali ke rumahku saja, dan aku akan memperkenalkanmu dengan seseorang," ajak Siena kepada Max, Max pun menyetujuinya.


"Baiklah Kak, aku akan meminta izin kepada Kaisar untuk pulang dari sini." Siena mengangguk mantap mendengar ucapan dari Max.


...***...


Akhirnya Siena dan Max diperbolehkan pulang. Namun, mereka sempat tidak diperbolehkan oleh Pangeran Fengying, lantaran dirinya tidak mau berpisah dengan Siena. Tapi, Kaisar meminta kepada Pangeran Fengying untuk tidak bersikap egois, dengan terpaksa akhirnya Pangeran Fengying membiarkan Siena kembali ke rumahnya.


"Selir Luili, selir Chunhua, dan selir Juan. Jaga diri kalian baik-baik, ya? Kalian harus menjaga satu sama lain, susah senang kalian harus tetap bersama," ucap Siena, sembari memberikan sebuah gelang giok.


"Terimakasih Siena, apa kamu akan mengunjungi kami lagi?" tanya selir Luili.


"Iya, tapi aku tidak bisa janji. Tapi, akan kuusahakan," jawab Siena dengan senyumannya.


"Hati-hati di jalan," ucap selir Juan, dan selir Chunhua, Siena pun mengangguk dan pergi meninggalkan Istana.


Sesampainya di rumah Siena ....


Falresia yang menyadari kedatangan seseorang, langsung keluar dari rumah yang diikuti oleh Chio dan ibu Kaili.


"Kak Siena ...," panggil Chio, sembari berlari ke arah Siena, dan memeluknya dengan sangat erat. "Chio kangen sama Kak Siena, kok Kakak lama banget, sih," tanyanya.


Siena pun berjongkok dan mengelur puncak kepala Chio. "Kakak, mampir dulu di rumah teman Kakak, coba tebak siapa yang Kakak bawa," ucap Siena, menunjuk seseorang yang berada di sampingnya.


"Siapa dia, Kak?" tanya Chio.


"Ini adalah Kakak Max, dia adalah Adik kandung Kakak," ucap Siena memperkenalkan adiknya itu.


"Wah! Tampannya––" ucap ibu kaili. "Jauh sekali dengan Kaili," lanjutnya, membuat Kaili hanya memadang ibunya dengan tatapan datar.


"Oh iya Max, ini adalah Ibunya Kaili, namanya Ibu Rong Li. Sementara, di samping Ibunya Kaili adalah Falresia, Kakak dari Chio," ucap Siena memperkenalkan mereka semua kepada Max.


Akhirnya mereka semua memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, dan melepas rindu kepada Siena.


...***...


Di sisi lain ....


Seorang pelayan tengah menuangkan minuman kepada selir Wenying. "Ternyata dia sudah pergi juga dari Istana. Tapi, aku tidak akan melepaskannya begitu saja," ucap selir Wenying.


"Nyonya, apa anda tau? Jika selir Juan, selir Chunhua, dan selir Luili, adalah selir yang sering dikunjungi oleh Yang Mulia. Anda harus menyingkirkan mereka jika ingin mendapatkan perhatian Yang Mulia," ucap pelayan tersebut.


Wenying yang mendengar ucapan dari pelayan itu hanya menyeringai, seakan ada sesuatu yang sudah ia rencanakan di dalam kepalanya. Dirinya tahu, apa yang harus ia lakukan kepada ketiga selir tersebut.


"Itu sangatlah mudah untukku, yang harus kau lakukan adalah ...," ucap Wenying, sembari membisikkan sesuatu di telinga pelayan tersebut.


"Baik, Nyonya." pelayan tersebut pun pergi.


"Setelah aku berhasil menyingkirkan tiga selir itu, aku akan mengurusmu Siena ... agar Yang Mulia tidak memikirkanmu lagi," ucap Wenying, yang diikuti oleh senyuman liciknya itu.


Bagi Wenying, harta dan kasih sayang Pangeran Fengying adalah segalanya. Setelah dirinya mendapatkan itu semua, maka tidak ada satu orang pun yang berani menghina bahkan menjatuhkannya.


Tbc