
Terlihat di sana, Pangeran Xanras tengah menunggu seseorang, untuk mendapatkan sebuah informasi tentang keadaan pasukan Kerajaan Huarong sekarang ini.
"Lapor Yang Mulia," ucap seorang pria, yang berada di belakangnya.
Pangeran Xanras berbalik dan mendapati pengawalnya, yang sudah kembali dari perbatasan. "Bagaimana, Yuwen?" tanya Pangeran Xanras.
"Yang Mulia, pasukan dari Kerajaan Huarong akan menyerang, saat menjelang petang nanti," jelasnya.
Sebuah daun jatuh di depan mata Pangeran Xanras, Pangeran tersebut dengan cepat mengambil daun, yang hendak jatuh tersebut, dirinya kemudian memainkan daun itu, dengan cara membolak-baliknya, seakan Pangeran Xanras sedang memikirkan sesuatu.
"Terimakasih Yuwen, silakan kembali ke perbatasan. Jika, ada informasi lagi, cepat beritahu padaku."
"Baik, Yang Mulia."
Setelah mendapatkan informasi dari Yuwen, ia pun pergi untuk menemui Kaisar Xin, dan memberitahukan kepadanya. Agar semua pasukan di Istana, segera bersiap di tepat masing-masing, yang sudah direncanakan.
"Ada apa Liu Chengseng," tanya Kaisar Xin, saat menyadari kedatangan Pangeran Xanras di aula.
Semua orang yang ada di dalam Istana tidak ada yang tahu, jika Liu Chengseng adalah seorang pangeran dari Kerajaan Huarong, mereka mengira ... Liu Chengseng adalah seorang pejabat militer, sekaligus teman dari Siena, dan juga Max.
"Yang Mulia, pasukan Kerajaan Huarong akan menyerang saat menjelang petang nanti," ucap Pangeran Xanras, memberitahukan kepada Kaisar tersebut.
"Kita harus segera bertindak, Yang Mulia," sahut Perdana Menteri Gongyu.
"Maaf Perdana Menteri, kita jangan bertindak gegabah, agar gerak-gerik pasukan kita, tidak diketahui oleh lawan," saran Max, dan mendapatkan anggukan dari Perdana Menteri Gongyu.
"Benar, kita akan gunakan rencana pertama, setidaknya kita masih memiliki harapan, agar Kerajaan Huarong membatalkan penyerangan ini," ucap Kaisar Xin, dirinya berusaha untuk membuat keadaan sedikit tenang.
Selesai berdiskusi, Pangeran Xanras pergi untuk menemui Siena, yang sedang menghibur para selir, putri, dan anak-anak yang ada di dalam Istana. Wajah Siena yang begitu bersemangat memainkan biolanya, membuat Pangeran tersebut tersenyum simpul melihatnya.
Di sana, Siena memainkan Chopin Nocturne Op. 9, No. 2, lantunan yang ia mainkan, membuat siapa saja merasa terkagum. Bahkan, Pangeran yang lain pun, datang untuk melihat permainan Siena, mereka semua tampak terlihat sedang menikmati. Sampai akhirnya, permainan pun selesai.
"Ayo, mainkan lagi," sorak mereka kepada Siena.
"Baiklah, aku akan memainkan lagi untuk kalian."
Kali ini Siena memainkan Mozart Symphony No. 40, lantunan ini membuat mereka tidak berkedip, saat melihat Siena memainkannya.
"Wow! Luar biasa."
"Dia begitu bersemangat memainkannya."
"Air mataku sampai mengalir, aku sangat suka mendengarnya."
Siena, kamu tidak pernah berubah, dalam kondisi seperti ini, kamu masih sempat menghibur mereka, batin selir Luili, yang sedang tersenyum kepada Siena.
"Terimakasih," ucap Siena.
"Kak, ayo kita bernyanyi," ajak Max, sambil membawa gitarnya di dekat Siena.
"Aku kira, gitarmu tertinggal di Kerajaan Huarong," ucap Siena heran.
"Apa Kakak lupa? Kalo Adikmu ini pintar, sudahlah jangan dipikirkan, lebih baik kita mulai bernyanyi." Siena hanya mengedikkan kedua bahunya, ia pun mengangguk, dan bernyanyi dengan adiknya itu.
Melihat mereka senang di dalam Istana. Tapi, berbeda dengan nasib Kaili dan Fengfeng, yang sedang berjuang mengirim surat untuk Kaisar Tao, perjuangan mereka sungguh luar biasa. Mulai dari mengendap-endap, menahan tawa, dan masih banyak lagi perjuangan mereka.
...***...
Kaili, dan Fengfeng Yin telah sampai di perbatasan, mereka melihat ada banyak sekali prajurit yang sedang berlatih.
"Dengar, kita tidak boleh berpisah," ucap Fengfeng Yin kepada Kaili, yang berada di depannya.
Perjalanan mereka semakin lama semakin sulit, keduanya tetap berhati-hati. Walaupun di sana Kaili menyamar menjadi seorang wanita, dengan menggunakan hanfu. Sementara Fengfeng Yin, ia juga menggunakan hanfu pria. Jika dilihat, mereka berdua layaknya sepasang kekasih.
Setelah sampai di hutan, mereka berdua turun dari atas kuda, dan menuntun kuda tersebut. Agar tidak menimbulkan suara, yang akan membuat para prajurit Istana curiga.
"Kau terlihat tampan ternyata," bisik Kaili, dan berhasil membuat bulu kuduk Fengfeng Yin berdiri, karna merasa geli saat mendengar ucapan dari Kaili.
"Diamlah."
"Siapa itu di sana!" ucap salah-satu prajurit yang melihat mereka berdua.
"Saya Liangyin Yaoushan, dan istri saya Wenyi Ling, kami sedang mencari peliharaan kami yang lepas," jelas Fengfeng Yin.
Tiba-tiba di sana, Kaili langsung mencium bibit Fengfeng Yin, dan membuat kedua prajurit tersebut melongo saat melihat mereka. Kemudian Fengfeng Yin melepaskan ciuman Kaili, dan menatap tajam pada kedua prajurit tersebut.
"Apa kalian masih mau tetap di sini?" ucap Fengfeng Yin dengan dingin, membuat kedua prajurit itu menggeleng dengan cepat, dan langsung pergi dari hadapan mereka berdua.
"HUEK! Menjijikan sekali," ucap keduanya.
"Kau gila, ka––"
"Setidaknya, kita berhasil membuat mereka pergi," potong Kaili, dengan nada santainya. Walaupun begitu, wajah Fengfeng Yin mendadak menjadi memerah.
"Pfftt! Wajahmu memerah, apa aku merebut ciuman pertamamu?" goda Kaili, membuat Fengfeng Yin hanya memasang wajah datarnya.
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan, menuju Istana. Surat dan giok tersebut, harus segera sampai kepada Kaisar Tao. Hari sebentar lagi, menjelang petang. Kuda yang mereka berdua tugangi, berlari dengan begitu cepat.
Perjalanan yang begitu jauh, kini membuahkan hasil, mereka sudah berada di dekat Istana, penjagaan terlihat begitu ketat. Mereka berdua pergi bersembunyi di balik pohon, yang tidak jauh dari tembok pagar Istana.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kaili heran, saat melihat Fengfeng Yin yang melepaskan pakaiannya itu.
Ternyata, Fengfeng Yin memakai 2 pakaian sekaligus. Namun, yang satunya adalah pakaian yang biasa ia pakai.
"Sialan, aku lupa tidak memakai 2 pakaian," ucap Kaili yang merutuki dirinya sendiri, ia pun tetap memakai hanfu wanita.
"Kau tunggu di sini, aku akan masuk ke dalam."
"Apa?! Tidak-tidak, aku juga ikut bersamamu," tolak Kaili.
"Dengan pakaian seperti itu?" ucap Fengfeng Yin, sembari menatap pakaian yang dikenakan oleh Kaili.
"Humph! Baiklah, pergi sana," usirnya, sembari mendengus kesal, ia pun duduk di bawah pohon tersebut, sembari menunggu Fengfeng Yin keluar dari Istana.
"Lihatlah, wanita jadi-jadian sedang menunggu prianya," gerutu Kaili, yang sedang menggambar di atas tanah, dengan menggunakan sebatang ranting kecil.
Sementara Fengfeng Yin, dirinya sedang mengendap-endap di atas atap, ia berusaha mencari keberadaan Kaisar Tao. Dan untungnya, ia melihat Kaisar Tao tengah berjalan menuju aula, Fengfeng Yin pun mengikutinya.
Saat Kaisar tersebut telah memasuki aula, Fengfeng Yin langsung turun dari atap tersebut, dan ikut masuk ke dalam aula, kebetulan di sana tidak ada yang menjaga pintu aula.
Para Perdana Menteri, dan semua orang yang ada di dalam aula tersebut bingung, melihat seseorang yang berada Kaisar Tao.
"Yang Mulia Kaisar," panggil Fengfeng Yin, Kaisar Tao langsung membalikkan badannya, dan melihat seorang pria asing berada di hadapannya.
"Siapa kau, berani-beraninya masuk ke dalam Istanaku," geram Kaisar Tao.
"Aku hanya ingin memberikan ini kepada anda Yang Mulia." Fengfeng Yin memberikan surat kepada Kaisar Tao. "Surat itu dari Kaisar Xin," jelasnya.
Kaisar Tao kemudian membuka surat tersebut, dan betapa terkejutnya ia, saat mengetahui tulisan tangan Ching Cheng, yang bearada di atas kerta tersebut.
"Ada satu lagi, Yang Mulia." Fengfeng Yin mengeluarkan sebuah giok dari sakunya, dan memberikannya kepada Kaisar tersebut. "Saya rasa, ini hanya kesalapahaman saja."
Giok ini milik Adik Ching Cheng, batin Kaisar Tao.
"Yang Mulia, mereka hanya membohongi kita, bisa saja surat itu buatan mereka sendiri," sahut Perdana Menteri Zhu.
"Diam, kau tidak tahu." Perdana Menteri tersebut, langsung terdiam.
"Salam Yang Mulia," ucap prajurit yang tiba-tiba datang. "Yang Mulia, kapan kita akan memulai penyerangan?" tanya prajurit tersebut.
"Batalkan penyerangan, beritahukan hal ini kepada Panglima dan juga Jenderal Jung."
"Baik, Yang Mulia."
Syukurlah, akhirnya tidak terjadi peperangan, pikir Fengfeng Yin, dirinya merasa lega.
Tanpa mereka sadari, seseorang tengah memata-matai mereka.
"Tidak semudah itu, untuk membatalkan peperangan."
Tbc