
Di ruang keluarga ....
Semuanya berkumpul di sana, menikmati kebersamaan, Mereka adalah keluarga baru bagi Siena. Bahkan mereka selalu ada disaat Siena membutuhkan teman, terutama ibu Rong, beliau sangat sayang sekali kepada Siena. Siena pun bisa merasakan kembali kasih sayang dari seorang ibu, begitu juga dengan Falresia.
"Jadi ... bisnis kita, keadaanya bagaimana?" tanya Siena kepada Falresia.
"Bisnisnya berjalan dengan lancar, bahkan ... omzet yang kita dapat, lumayan cukup besar," jelas Falresia, yang membuat Siena senang.
Sementara di sana. Max, tidak percaya apa yang ia dengar, ternyata kakaknya memiliki sebuah usaha yang cukup maju, dirinya sangat bangga memiliki kakak seperti Siena.
"Kak, aku senang ... ternyata Kakak, pandai berbisnis," ucap Max, sembari menepuk pundak Siena.
Siena pun tersenyum mendengar ucapan adiknya itu, setelah selesai membahas masalah tersebut. Falresia mengajak semuanya untuk makan siang, mereka tampak terlihat sangat bahagia. Bagi mereka ... Siena adalah seorang malaikat yang merubah kehidupan mereka yang susah, menjadi lebih baik.
Dibalik itu, Siena khawatir dengan seseorang yang berada di dalam Istana. Dirinya merasa jika Wenying, memiliki rencana yang jahat—lewat pikirannya. Sejak kejadian dirinya tercebur ke dalam kolam, ia bisa merasakan ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Ia juga bisa merasakan seseorang yang benar-benar tulus menyukai orang lain, dan mana yang tidak. Namun, di sisi lain ... Siena merasa bersalah kepada Pangeran Fengying, lantaran dirinya meminta Pangeran tersebut untuk menikahi Wenying. Dirinya tidak tahu apa yang akan terjadi, ke depannya.
"Kak, apa ada masalah? Sejak tadi aku memanggilmu," tanya Max.
"Maaf Max, aku tidak apa-apa," jawab Siena.
Nona Siena, pasti memikirkan sesuatu yang disembunyikannya, batin Kaili.
"Kakak yakin?" tanya Max.
"Iya, ayo makan lagi," ajak Siena, mereka semua kembali menyantap makanannya.
Tanpa Siena sadari ... jika, mereka semua merasakan ada sesuatu yang disembunyikan olehnya. Tapi, mereka sengaja membiarkan Siena sendiri, yang akan memberitahukan kepada mereka apa yang sedang ia pikirkan.
"Chio udah selesai, Chio mau main dulu," ucap Chio, yang sudah selesai makan.
"Hati-hati ya, Chio?!" ucap Falresia mengingatkan.
Belum lama Chio keluar, dirinya pun kembali masuk lagi, dan membawa seorang pria yang berada di belakangnya. Siena yang melihat pria tersebut hanya diam, dan pergi ke dapur.
"Salam Pangeran Yu Ting," ucap mereka berempat.
Ada urusan apa dia kemari? Pikir Siena.
"Nona Siena, bisakah kita bicara berdua?" tanya Pangeran Yu Ting, Pangeran keempat.
Siena hanya menghela nafas kasar, kemudian meminta Max, Falresia, ibu Rong, dan Kaili, untuk meninggalkan dirinya dengan Pangeran Yu Ting. Akhirnya mereka pergi, dan menyisakan Siena dengan Pangeran tersebut.
Mereka berdua duduk di taman belakang rumah, sembari menikmati indahnya taman tersebut.
"Ada urusan apa kemari?" tanya Siena.
Sementara Pangeran tersebut menoleh ke arah Siena. "Aku hanya ingin kenal dekat denganmu," jawabnya, diikuti seulas senyum manisnya.
Siena rasa ... tidak ada salahnya orang lain mengenal dirinya, lagian ... Pangeran yang saat ini duduk di sampingnya, tidak memiliki niatan jahat terhadapnya.
"Huft ... kamu sudah tau namaku, apa yang ingin kamu tanyakan, tanyakanlah," ucap Siena.
"Sebenarnya ... kamu berasal dari mana?"
"Aku berasal dari Negeri yang sangat jauh dari sini, kamu tidak akan tahu itu." Siena harap, manusia yang berada di sampingnya bisa berhenti bertanya padanya.
Untungnya, Pangeran Yu Ting hanya ber-oh-ria, Siena lega mendengarnya. Tapi, ada hal yang membuat Siena teringat, ya! Dirinya akan meminta tolong kepada Pangeran Yu Ting untuk membantunya menyelidiki niat Wenying.
"Pangeran Yu Ting, bolehkah? Aku bercerita?" ucap Siena, yang diangguki oleh Pangeran Yu Ting.
"Ceritalah, dengan senang hati aku akan mendegarkanmu." Siena tersenyum mendengar ucapan Pangeran tersebut.
Di sana Siena menceritakan awal pertemuannya dengan Wenying, sampai di mana ... Wenying menjadi seorang selir Pangeran Fengying. Tapi, Siena merasa bersalah, lantaran dirinya meminta Pangeran Fengying untuk menikahi Wenying. Karna saat itu, dirinya tidak punya pilihan lain, sementara itu ... Wenying juga menyukai Pangeran Fengying, bagi Siena itu adalah kesempatan Siena untuk meminta Pangeran tersebut menikahi Wenying. Dan! Semenjak dirinya tercebur ke dalam kolam, ia mendapat sebuah gambaran. Jika, akan terjadi masalah besar di dalam Istana Guang, yang diakibatkan oleh satu selir.
"Bisakah, kamu mengawasi Wenying, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres dengannya. Dan ... sampaikan maafku kepada Pangeran Fengying, aku akan bertanggung jawab. Jika, ada sesuatu hal buruk yang menimpa Istana Guang, akibat perbuatan Wenying," jelas Siena, yang saat ini tertunduk lemas.
"Kamu tidak bersalah, aku akan membantumu untuk mengawasi Wenying, dan menyampaikan pesanmu itu."
"Terimakasih," ucap Siena, yang mendapat senyuman dari Pangeran Yu Ting.
WUSHHH!
Angin sejuk menyapu kulit Siena, di sana ... dirinya merasa sedikit lega, sudah menceritakan tentang masalah yang terus memenuhi pikirannya itu.
"Siena ... bagaimana besok, kamu ikut aku ke suatu tempat yang sangat indah," ajak Pangeran tersebut kepadanya, Siena senang mendengar ajakan dari Pangeran Yu Ting.
Jelas dirinya dengan senang hati jalan-jalan ke tempat yang begitu indah, apalagi Pangeran Yu Ting, lebih banyak tahu tempat yang indah di wilayah ini. Jadi, ia menerima ajak tersebut.
"Boleh, mengajak Adikku?" tanya Siena.
"Tentu saja, kenapa tidak?" Siena tersenyum bahagia mendengarnya.
Sementara di sana ... Pangeran Tu Ting, terus memandangi wajah Siena. Dirinya merasa ada yang berbeda dengan Siena, Siena yang pertama kali ia lihat—dingin, dan tidak tersentuh, bahkan saat Siena masuk ke dalan Istana saja ... tatapannya tidak berekspresi. Namun, berbeda dengan Siena saat ini, semenjak wanita yang berada di sampingnya itu bertemu dengan adiknya ... sifat wanita itu nyaris berubah drastis.
Setidaknya, aku bisa menjadi teman dekatnya dulu, batin Pangeran Yu Ting.
"Pangeran Yu Ting, apa kamu bahagia tinggal di dalam Istana?" tanya Siena.
Sementara Pangeran Yu Ting hanya bergeming, Siena tahu ... pasti, Pangeran Yu Ting membutuhkan waktu untuk menjelaskannya.
"Istana bukanlah tempat yang indah ...."
Siena tersenyum mendengarnya, dan melanjutkan ucapan Pangeran Yu Ting. "Bagi orang luar Istana, kalian––orang dalam Istana, sangat bahagia tinggal di dalamnya. Namun, sebenarnya ... kalian hanya berpura-pura bahagia," jelas Siena.
"Kamu benar, orang seperti kami terlalu banyak yang memakai topeng, sehingga sangat sulit untuk percaya kepada orang lain."
Orang masa lampau, tidak jauh berbeda dengan orang masa depan. Terkadang masih banyak sekali orang yang memakai topeng, untuk menutupi kejahatannya itu.
"Tapi, tidak semua orang seperti itu. Ada juga yang benar-benar baik, dan ada juga yang jahat." Pangeran Yu Ting kagum mendengar ucapan Siena.
"Tapi, manusia yang benar-benar baik di dalam Istana, sangat jarang ditemukan."
Kenapa, semenjak kedatanganku ke sini, aku semakin bijak saja ya? Pikir Siena, dirinya terkekeh geli di dalam pikirannya.
Tbc