
Sepulang dari kediaman sang Ratu, kini Siena pergi ke kediaman selir Yuyan, ia ingin mengambil biola miliknya itu. Tapi, sebelumnya Siena sempat meminta kepada sang Ratu, untuk membujuk Kaisar, agar membatalkan peperangan dengan Kerajaan Harumsy. Namun, Ratu tersebut tidak bisa melakukannya, lantaran peperangan itu adalah kehendak dari Kaisar sendiri.
"Selir Yu, saya kemari ingin mengambil barang, yang anda ambil," tagih Siena.
"Apa kau berhasil melakukannya?"
"Tentu saja sudah, di mana biolaku, anda tidak ingin menggagalkan rencanaku 'kan? Saya punya kejutan untuk anda, maka dari itu ... kembalikan barang milikku."
Mendengar ucapan dari Siena, selir Yuyan meminta pelayannya untuk mengembalikan barang milik Siena. Di sana, Siena sangat senang, rencana yang ia susun berhasil, tanpa adanya halangan.
"Saya akan memainkan biola ini di lapangan, dekat aula, datanglah dan saksikan apa yang akan terjadi pada Ratu Xiu," ucap Siena, ia pun berlalu pergi ke lapangan dekat aula.
Siena juga berharap, saat Max mendengar dirinya memainkan biola tersebut, mereka berdua sudah keluar dari Istana ini.
Tepat di tengah lapangan, Siena mulai melantunkan Beethoven Virus. Semakin lama, semakin banyak yang datang untuk melihatnya bermain, sang Ratu juga ikut melihat pertunjukkannya, termasuk selir Yuyan, yang juga ikut melihat pertunjukkannya.
Belum selesai dirinya bermain biola, sang Ratu tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri, dan itu membuat semua orang di dalam Istana panik, dan langsung membawa sang Ratu ke kediamannya, Siena berhenti memainkan biolanya, dan menatap ke arah selir Yuyan.
Ternyata ini yang ingin ia tunjukkan kepadaku, batin selir Yuyan.
Siena tampak senang, akhirnya selir Yuyan masuk ke dalam perangkapnya, setelah ini ia akan menyamar dan kabur dari Istana, dan ini sudah menjelang petang, saatnya ia beraksi.
"Kerja bagus Siena," ucap selir Yuyan, saat Siena melewatinya.
Sementara Siena hanya tersenyum, dan berlalu pergi meninggalkan selir Yuyan. Ia harus segera pergi dari Istana, dirinya tidak ingin membuang waktu lagi, dengan cepat. Siena langsung mengganti pakaiannya, sembari memasang kumis palsu, dan membawa biolanya di atas punggungnya.
Kerja bagus Max, tunggu aku di sana, pikir Siena.
Setelah selesai, Siena pun berusaha untuk memanjat tembok yang lumayan cukup tinggi, dan untungnya situasi di dalam Istana sedang tidak baik, sehingga penjagaan tidak terlalu ketat.
"Tinggi sekali pagar dinding ini," gumam Siena.
"Butuh bantuan ...," ucap seorang pria, sembari mengulurkan tangannya untuk membantu Siena.
Siena pun mendongak, melihat siapa yang ingin membantunya itu. "Pangeran Xanras ... apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya heran.
"Cepat, kamu mau kabur dari sini, 'kan?" Siena mengangguk, lalu merima uluran tangan Pangeran Xanras.
Mereka berdua kini berdiri sejajar, kemudian Pangeran Xanras memeluk pinggang Siena dengan erat, dan itu membuatnya sedikit terkejut, akan perlakuan Pangeran Xanras kepadanya.
Pangeran Xanras ternyata hanya membantunya, untuk turun dari pagar dinding yang tinggi itu.
"Ikuti aku," ucap Pangeran Xanras dengan dingin, Siena pun mengikutinya dari belakang.
Mereka berdua berjalan di tengah kerumunan, tepatnya di sebuah pasar, banyak dari mereka tidak menyadari penyamaran Pangeran Xanras. Jika, Pangeran tersebut tengah berada di dekat mereka.
Tiba-tiba kereta kuda Kerajaan datang melewati pasar tersebut, sepertinya Pangeran Mahkota sudah kembali dari Istana dingin.
Siena yang masih melamun di sana, tangannya dengan cepat ditarik oleh Pangeran Xanras, untuk bersembunyi, agar tidak ketahuan oleh Pangeran Mahkota.
Ini terlalu dekat, siapapun tolong aku, batin Siena.
Jarak antara wajahnya dan wajah Pangeran Xanras, sangatlah dekat hingga membuat dirinya tidak bisa bergerak sedikitpun, dan seakan ia terhipnotis dengan ketampanan yang dimiliki Pangeran Xanras.
"Eumm ... Pangeran Xanras, sepertinya sudah aman," bisik Siena dengan sedikit gugup.
"Kenapa? Apa kamu malu, dekat denganku?"
"Eh, tidak ... ayo kita lanjutkan perjalanan," ajaknya kepada Pangeran tersebut.
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan menuju hutan yang Siena maksud, akhirnya sampai juga mereka berdua di dalam hutan, kini Siena mencari sebuah tanda yang diucapkan oleh Max.
Setelah beberapa menit dirinya mencari tanda tersebut, akhirnya Siena melihat sebuah ranting yang tertancap, dengan sebuah ikatan kain di ujung ranting tersebut.
"Pangeran Xanras, aku sudah menemukannya, sekarang kamu bisa kembali ke Istana," ucap Siena, namun ucapannya sama sekali belum mendapatkan respon dari Pangeran Xanras.
"...."
"Baiklah, kalau kamu ingin ikut, silakan saja."
Dan pada akhirnya, Pangeran Xanras ikut bersama dengan Siena, mereka berdua pergi dengan mengikuti tanda yang sudah dipasang oleh Max.
"Terimakasih." Siena terkejut, mendengar ucapan Pangeran Xanras, yang secara tiba-tiba.
"Untuk?"
"Sudah memberitahukan kepada Yang Mulia Ratu, mengenai permasalahanku, dan Kakak pertama."
"Ba-bagaimana ... kamu bisa tahu ...."
Pangeran Xanras hanya tersenyum simpul, Siena yang berada tepat di hadapan Pangeran Xanras, berjalan mundur, lantaran Pangeran tersebut, berjalan mendekatinya. Hingga akhirnya, tubuh Siena menumbur sebuah pohon besar yang ada dibelakangnya. Sementara Pangeran Xanras sendiri, menyanggahkan sebelah tangannya tepat di samping telinga Siena, sembari mendekatkan wajahnya, tepat di depan wajah Siena.
Siena hanya diam––menatap bingung ke arah Pangeran tersebut, sembari menelan salivanya.
"Bukan berarti aku senang, melihatmu menghadapi bahaya sendirian, jangan lakukan hal ini sendirian lagi," ucap Pangeran Xanras dengan dingin.
Perasaan apa lagi ini? Kenapa jantungku berdegup kencang, batin Siena.
"Ba-baiklah," jawabnya.
KRESEK! KRESEK!
Tiba-tiba terdengar suara, dari arah depan mereka berdua. Pangeran Xanras dengan cepat, langsung menarik tangan Siena untuk bersembunyi.
Siena mencoba untuk mengintip, siapa yang sedang berjalan di dalam hutan.
"Max! Jia Li," panggil Siena, dengan nada rendah.
Mendengar panggilan dari kakaknya, Max langsung berlari medekati Siena, sembari menarik tangan Jia Li, untuk ikut bersamanya.
"Kak, akhirnya ... kamu bisa keluar juga dari Istana," ucap Max, merasa sangat senang.
"Kenapa kamu kembali ke sini?" tanya Siena penasaran.
"Tidak apa-apa, aku khawatir. Kakak tidak bisa menemukan petunjuknya."
"Kamu kira aku bodoh apa? Bagaimana keadaan perbatasan, Max."
"Aman, mereka belum membangun tenda di sekitar perbatasan, kita harus segera keluar dari Kerajaan ini Kak." Siena menggangguk dan menyetujui ucapan adiknya itu.
Pandangan Siena kini beralih ke Pangeran Xanras, tampaknya Pangeran tersebut ikut menyetujui ucapan Max.
"Aku akan membantu kalian," ucap Pangeran Xanras.
Max, tiba-tiba penasaran dengan pria yang ada di samping kakaknya itu, "Kak, siapa pria yang ada di sampingmu, kekasihmu?" tanya Max, berhasil membuat Siena mencubit pipinya. "Aw-aw, maaf Kak." Siena melepaskan cubitannya.
"Jia Li, kamu tahu 'kan siapa dia?" ucap Siena, sembari melirik ke arah Pangeran Xanras.
"Tidak, Nona."
"Hah ..? Pria ini adalah Pangeran Xanras, Jia Li." Jia Li langsung terkejut, dan tak percaya dengan ucapan Siena.
"Ya-Yang Mulia ...."
"Penyamaranmu sungguh luar biasa, membuatku dan Jia Li, sampai tidak bisa mengenalmu," puji Siena, membuat Pangeran tersebut hanya tersenyum simpul.
"Kita tidak punya banyak waktu, ayo segera pergi dari sini," ajak Max kepada mereka bertiga.
Akhirnya mereka berempat melanjutkan perjalan menuju Kerajaan Harumsy, hari mulai menjelang malam. Karna perjalanan masih sangat jauh, mereka memilih untuk istirahat di dalam gua, dan melanjutkan perjalanannya besok.
Tbc