Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
24



Setelah menikmati jalan-jalan bersama mereka, Siena dan yang lainnya kembali ke rumah. Begitu juga dengan Pangeran Yu Ting, yang membuntuti mereka dari belakang. Bagi Siena, Pangeran Yu Ting seperti tidak memiliki perkerjaan lain selain mengikutinya terus, ia yakin ... ada sesuatu yang diinginkan oleh Pangeran tersebut pada dirinya.


"Kak Falresia, kalian berempat pulanglah lebih dulu, aku akan menyusul kalian," bisik Siena pada Falresia.


"Baiklah." akhirnya, Falresia mengajak Yunqing Luwon, Ning'an, dan Chio. Untuk ikut bersamanya, sedangkan Siena sendiri ... ada urusan dengan Pangeran Yu Ting.


Setelah mereka berempat pergi, Siena menarik Pangeran tersebut untuk pergi ke tepi sungai––tidak jauh dari rumahnya.


"Kenapa kamu mengajakku, ke sini? Di sini sepi, atau jangan-jangan ...." mata Pangeran Yu Ting tertuju pada Siena, seakan-seakan dirinya menebak apa yang ingin Siena lakukan.


Saat dirinya berkata seperti itu kepada Siena, Pangeran Yu Ting langsung mendapatkan tatapan tajam darinya. Dengan cepat, Pangeran Yu Ting langsung mengalihkan padangannya dari Siena.


"Pangeran Yu Ting," panggil Siena.


"Iya."


"Apa tujuanmu yang selalu mengikutiku," tanya Siena, semberi menyipitka  matanya kepada Pangeran Yu Ting.


Yang ditatap hanya bisa menelan salivanya, dan menatap Siena dengan tatapan ketakutan, seaka  dirinya sedang berhadapan dengan serigala yang kelaparan.


"Eumm ... it-itu ... karna aku seorang Pangeran. Jadi, aku bebas mau ke mana saja."


"Yakin, hanya itu saja? Tidak ada yang lain––" Pangeran mengangguk dengan cepat, setiap pertanyaan yang diberikan kepadanya. "Baiklah, aku percaya padamu. Tapi?! Jika kamu berbohong, aku tidak akan segan-segan, memberikan tubuhmu kepada 12 ekor buaya yang kelaparan," lanjut Siena, yang lagi-lagi mendapatkan anggukan dari Pangeran tersebut.


Wanita ternyata lebih mengerikan, pikir Pangeran Yu Ting.


"Aku tidak berbohong."


"Hahahahaha." melihat Siena tertawa membuat dirinya bingung, apa yang sedang ditertawakan oleh Siena. "Aku hanya bercanda Pangeran Yu Ting, aku tidak akan benar-benar melakukannya hahaha," ucap Siena.


Mendengar ucapan Siena, yang berhasil mengerjainya itu. Pangera  Yu Ting langsung mengangkat tubuh Siena, sembari memutar-mutarkannya.


"Pangeran Yu Ting, turunkan aku!" pekik Siena panik, ia terkejut saat tubuhnya tiba-tiba diangkat oleh Pangeran Yu Ting.


"Tidak akan, sebelun kamu meminta maaf padaku."


"AKU MINTA MAAF!"


Pangeran Yu Ting pun, langsung berhenti dan menurunkan Siena dari gendongannya itu.


"Pangeran Sialan," umpat Siena, sembari memegang kepalanya yang pusing, dan diikuti rasa mual, akibat dirinya diputar-putar oleh Pangeran Yu Ting.


Melihat Siena seperti itu, Pangeran Yu Ting langsung mendekatinya, dan khawatir melihat raut wajah Siena yang terlihat pucat.


"Kamu tidak apa-apa, Siena?"


Tidak apa-apa, gimana? Aku nyaris saja, mengeluarkan semua isi perutku, batin Siena.


"Sudahlah, aku tidak apa-apa, lebih baik kita kembali saja ke rumah."


Mereka berdua pun, berjalan kembali ke rumah. Di sana, Pangeran Yu Ting ingin bertanya kepada Siena. Jika, selama ini ia sangat menyayangi wanita yang berada di sampingnya itu. Tapi, di sisi lain ... dirinya takut, jika Siena malah justru menjauhinya.


"Siena, apa kamu pernah mencintai seorang pria?" tanya Pangeran Yu Ting secara tiba-tiba.


Siena terdiam mendengar itu, dirinya selalu menghindari yang namanya perasaan terhadap seseorang. Trauma yang ia alami bersama ibunya, akibat perbuatan buruk ayahnya kepada mereka berdua. Membuat Siena takut, untuk menjalin hubungan dengan seorang pria. Sampai saat ini, yang Siena rasakan ... cinta yang ia miliki, sepenuhnya sudah diberikan kepada ibunya dan juga adiknya. Ntah, dirinya bisa atau tidak, membuka kembali hatinya untuk seseorang.


"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Siena.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengetahuinya saja."


"Bicaralah yang benar."


Aku tidak bisa menahannya lagi, batin Pangeran Yu Ting, dirinya tidak bisa memendam perasaannya terhadap Siena terlalu lama.


Lagi, apa mereka menganggapku sebuah mainan, kenapa dengan mudahnya menyatakan cinta kepadaku. Disaat mereka berdua sudah memiliki istri, batin Siena.


Membuat Siena tidak habis pikir dengan kedua Pangeran, yang telah menyatakan perasaan mereka kepadanya.


"Maaf Pangeran Yu Ting, kamu sudah memiliki istri, lagi pula aku tidak mencintaimu," tegas Siena.


Pangeran Yu Ting sudah menebak, jika semua ini akan terjadi. "Kenapa?" tanyanya.


"Kembalilah ke Istana, aku ingin menyendiri," ucap Siena, diikuti dengan senyumannya.


"Tidak akan."


"Jangan harap, kamu bisa bertemu denganku lagi." Siena pun melangkahkan kakinya, meninggalkan Pangeran Yu Ting, yang tengah berdiri menatap kepergian Siena.


Di sana, Pangeran Yu Ting sangat menyesal, telah menyatakan perasaannya itu. Tapi, dirinya benar-benar tidak bisa menahannya lebih lama lagi.


"Siena!" panggil Pangeran Yu Ting, membuat Siena berhenti melangkah. "Aku akan berusaha mencintai selirku. Tapi, aku mohon kepadamu, untuk tidak menjauhiku," lanjutnya.


Siena berbalik dan menatap Pangeran Yu Ting. "Berhenti mencintaiku, maka aku tidak akan menjauhimu."


...***...


Malam harinya ....


Setelah Siena menghibur tamu di tempat penginapannya, dirinya kemudian berjalan untuk kembali ke rumah––sembari mendengarkan musik, lewat earphone TWS miliknya itu. Tapi, saat di tengah perjalanan ... Siena melihat seseorang yang mendekati dirinya, semakin lama––orang itu ... semakin dekat dengannya. Siena pun, perlahan berjalan mundur. Namun, dirinya justru menabrak seseorang dari belakang.


Kini, seseorang yang mendekatinya berada tepat di hadapannya. Seseorang yang mengenakan masker tersebut menodongkan pisau di kulit lehernya, begitu juga dengan seseorang yang berada di belakangnya. Dirinya, sudah diapit oleh dua orang misterius itu.


"Wow-wow Bro, ini benda tajam loh," ucap Siena, berusaha untuk bersikap tenang.


"Kau harus ikut kami," ucap mereka berdua secara bersamaan.


"Jika aku menolak bagaimana?"


"Kau ingin pelayanmu itu, mati di sini." pria yang ada di hadapan Siena, menunjuk ke arah Kaili.


"Nona! Pergilah, jangan khawatirkan aku," pekik Kaili.


Mereka ini, berani sekali menjadikan Kaili sebagai tawaran, pikir Siena.


"Baiklah, aku akan ikut dengan kalian. Tapi, lepaskan dia," tegas Siena, akhirnya Kaili dilepaskan oleh seseorang yang tidak ia kenal.


"Nona Siena ...," lirih Kaili.


Di sana Siena meminta kepada kedua pria asing itu, mengizinkan dirinya untuk berbicara dengan Kaili. Akhirnya, Siena diizinkan. Tapi, kedua pria itu tetap berada di sampingnya, Siena tidak habis pikir, masalah apa yang ia perbuat, sampai-sampai dirinya menjadi tawanan.


"Kaili, bilang pada Kakak Falresia dan lainnya, jika aku ... pergi ke rumah teman lama, jangan bicarakan yang sesungguhnya. Aku tidak ingin mereka khawatir denganku, apalagi jika hal ini terdengar sampai di telinga, Pangeran Fengying, dan Pangeran Yu Ting." jelas Siena kepada Kaili.


Sementara itu, Kaili sangat takut terjadi sesuatu pada Nonanya itu. "Nona ...."


"Jangan khawatir Kaili, apa kamu meragukanku?" Kaili menggeleng. "Sekarang pulanglah, aku akan baik-baik saja, dan jangan berusaha untuk mengikutiku secara diam-diam," lanjut Siena, sembari mengukir senyumannya, agar dirinya bisa membuat Kaili sedikit tenang.


Kaili sama sekali tidak beranjak dari tempatnya berdiri, dirinya terus memandangi Siena yang perlahan pergi bersama tiga orang, yang tidak ia kenal. Kaili sangat berharap, ada seseorang yang bisa menolong Nonanya itu.


"Semoga Nona Siena, baik-baik saja."


Tanpa disadari, seseorang sejak tadi memperhatikan mereka.


Tbc