
Di tempat penyiksaan ....
Pangeran Mahkota dikejutkan dengan adanya jeruji besi yang terbuka lebar, bukan hanya itu saja, besi yang mengikat Pangeran Xanras––juga ikut terbuka. Pangeran Mahkota tidak percaya, jika yang melakukan ini semua adalah perbuatan Siena.
"Yang Mulia, besi ini sangatlah kuat. Orang yang bisa melakukan ini, pasti memiliki kekuatan yang begitu luar biasa," ucap seorang pengawal.
Apa benar, yang melakukan semua ini adalah Siena, pikir Pangeran Mahota.
Ia pun pergi ke kediaman Siena, diikuti oleh pengawalnya, sesampainya di sana. Dirinya melihat Siena tengah tertidur di atas ranjang, Pangeran tersebut harus tahu apa yang Siena lakukan selama di tempat penyiksaan itu.
"Salam Yang Mulia, ada perlu apa Yang Mulia datang kemari?" tanya Jia Li, pelayan Siena.
"Bangunkan dia," perintah Pangeran tersebut, sembari melirik ke arah Siena.
"Maaf Yang Mulia, Nona Siena sedang sakit."
"Berani sekali kau! Menolak perintahku!" bentak Pangeran Mahkota.
"Ampun Yang Mulia, saya tidak berani." Jia Li pun membangunkan Siena. "Nona Siena ... bangun ...."
Siena tetap tidak sadarkan diri, Jia Li berusaha membangunkannya kembali, tetapi hasilnya tetap sama. Ingin rasanya, ia membunuh Pangeran Mahkota itu, dengan tangannya sendiri.
"Kalian berdua yang merencanakan ini?" tanya Pangeran tersebut kepada Jia Li.
"Tidak Yang Mulia, Nona Siena tadi sedang tidak sadarkan diri."
"Ada apa ini ribu-ribut." ucapan tersebut, berhasil membuat Jia Li tersenyum, akhirnya Siena sadar juga.
Siena bingung, kenapa di tempatnya ada Pangeran Mahkota, padahal tadi dirinya sedang bersama Pangeran Xanras––lalu ke mana Pangeran itu. Dirinya kembali mengingat apa yang terjadi padanya, tak lama Siena pun ingat. Jika, tadi dirinya sempat tidak sadarkan diri, akibat menahan rasa sakit di kepalanya.
Dan Siena tahu, kenapa Pangeran Mahkota datang kemari. Ini dikarenakan, melihat jeruji besi yang terbuka lebar, begitu juga besi yang mengikat Pangeran Xanras.
"Jelaskan padaku, bagaimana kau bisa melepaskan Adik ketiga," ucapnya, berusaha meminta penjelasan kepada Siena.
Sementara di sana, Siena menyeringai, ini kesempatannya untuk membalas perbuatan Pangeran tersebut, karna sudah mengancam dirinya.
"Baiklah, akan kutunjukkan kepadamu, berikan tanganmu." Pangeran tersebut menyodorkan sebelah tangannya kepada Siena.
Hahaha, aku harap kamu bisa menahan rasa sakitnya Yang Mulia, batin Siena.
Siena pun memegang tangan Pangeran Mahkota dengan kedua tangannya, hanya lewat pikirannya––ia bisa mematahkan tangan Pangeran tersebut.
Krak!
"AKH!" jerit Pangeran Mahkota.
"Yang Mulia! Anda baik-baik saja," ucap pengawalnya.
"Ka-kau! Mematahkan tanganku!" gertak Pangeran Mahkota kepada Siena.
Siena hanya bisa tersenyum, dan bersikap tenang. "Yang Mulia, kamu sendiri yang meminta penjelasan kepadaku, dan aku ... dengan senang hati langsung menunjukkannya kepadamu. Oh iya, tulang manusia lebih keras dari sebatang besi jeruji loh," jelas Siena, membuat Pangeran Mahkota menahan amarahnya.
"Lin, antar aku ke tabib We," ucap Pangeran tersebut.
"Baik Yang Mulia." mereka berdua pun pergi meninggalkan kediaman Siena.
Siena tersenyum penuh kemenangan, dirinya tidak menyangka bisa mendapatkan telekinesis. Pasti ada alasan kenapa dirinya tiba-tiba memiliki kekuatan ini, ia harus mencari tahu semua yang berkaitan dengan kedatangannya ke masa ini.
"Nona, anda luar biasa! Berani melakukan hal itu kepada Yang Mulia. Nona Siena, sangat kuat ternyata," puji Jia Li, membuat Siena hanya terkekeh geli mendengarnya.
"Kamu tahu Jia Li? Aku adalah Adik dari Scarlet Witch dan Hulk," canda Siena, tapi percuma saja, Jia Li tidak akan tahu siapa kedua tokoh super hero itu.
Oh iya, Scarlet Witch, dan Carry White, setahuku ... mereka sama-sama memiliki kekuatan telekinesis, pikir Siena.
...***...
"Putraku, apa yang terjadi dengan tanganmu," tanya sang Kaisar kepada Pangeran Mahkota.
"Salam Yang Mulia Kaisar."
"Tidak apa-apa Ayahanda, tanganku hanya terkilir saja. Ayah, aku ingin mengadakan pemilihan selir Kerajaan, untuk menjadi selirku," pinta Pangeran Mahkota kepada sang Kaisar.
"Baiklah, aku akan urus semuanya."
Kaisar pun pergi meninggalkan Pangeran Mahkota dengan pengawalnya, Pangeran tersebut sangat puas, semua permintaannya dikabulkan oleh ayahnya. Bukan hanya itu saja, ia juga sudah merencanakan sesuatu untuk membalas perbuatan wanita itu kepadanya.
"Yang Mulia, saya rasa wanita itu, sangat berbeda dengan wanita lainnya," ucap pengawal Lin.
"Aku juga merasa begitu, tapi aku punya rencana untuk mengetahui, seberapa berbedanya wanita itu."
"Maksud anda, apa Yang Mulia?"
"Aku ingin melihat, kemampuan apa saja. yang dimilikinya," jawab Pangeran tersebut, sembari tersenyum licik.
...***...
Saat Siena sedang memikirkan sebuah rencana untuk menjebak Pangeran biadab itu, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Ada ap––" belum selesai dirinya berbicara, Siena sudah dibuat senang, dengan adanya gitar yang dibawa oleh adiknya itu. "Wah! Kamu membawanya Max!"
Siena langsung mengambil gitar tersebut, dari tangan Max. Sementara Max sendiri, hanya bisa tersenyum senang, saat melihat kakaknya bahagia.
"Aku sengaja membawanya, aku pikir. Setelah kembali dari Kerajaan Huarong, aku langsung pergi ke Kerajaan Harumsy, dan membawakannya untukmu," jelas Max.
Yang diajak berbicara justru asik dengan gitarnya, Max merasa kakaknya sudah terhipnotis oleh gitarnya itu, sampai-sampai melupakan dirinya, yang sedang menjelaskan kepadanya.
Jreng ....
"Nona, Nona Siena ...," panggil Jia Li, membuat Siena bingung melihatnya begitu panik.
"Ada apa, kenapa kamu panik seperti itu?" tanya Siena.
"Nona, Kaisar akan mengadakan pemilihan selir untuk Pangeran Mahkota," ucap Jia Li, berhasil membuat Siena tertawa mendengarnya.
Wah-wah, apa lagi yang akan dia rencanakan, pikir Siena.
"Aku tidak akan ikut dalam pemilihan selir Kerajaan," tolaknya.
"Nona, pemilihan selir itu wajib dihadiri, jika tidak. Para pelayan akan menanggung semua akibatnya." Siena sangat geram dengan pemikiran orang yang ada di dalam Istana ini.
Siena menatap Max, begitu juga dengan Max. Ia merasa, jika kakaknya memiliki sebuah rencana.
"Ah iya, Jia Li. Perkenalkan ... ini Max, Adik kandungku," ucap Siena memperkenalkan Max, kepada Jia Li.
Saat Jia Li berbalik, dirinya terkejut melihat ketampanan Max, ia tidak tahu. Jika, Pangeran dari Kerajaan Zhufen sejak tadi ada di sini, ia benar-benar tidak menyadarinya. Ini akibat dirinya dibuat panik, akan jamuan yang diadakan malam nanti.
Bukan hanya Jia Li saja yang terkejut, Max juga sama-sama dibuat terkejut, akan kecantikan yang dimiliki oleh seorang pelayan.
Wanita ini sangat cantik, dan baik terhadap Kak Siena, pikir Max.
"Salam kenal Yang Mulia Pangeran Jianying, saya Jia Li, pelayan Nona Siena," ucap Jia Li.
"Panggil aku Max."
"Ta-tapi ...." Jia Li terkejut mendengarnya.
"Ini perintah," ucap Max, yang mendapat anggukan dari Jia Li.
Sementara Siena merasa, jika mereka berdua saling menyukai satu sama lain. Dirinya tidak akan melarang Max, jika adiknya itu menyukai seorang pelayan, toh! Pelayan juga seorang manusia.
"Baiklah, saya permisi Nona Siena, dan ... Max," ucap Jia Li, pamit undur diri.
Namun, saat Jia Li melewati Max, dirinya sempat mendapatkan bisikan dari Max, yang berhasil membuat jantugnya berdetak lebih cepat.
"Aku akan melindungimu," bisik Max kepada Jia Li.
Tbc