Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
10



Keesokan harinya ....


Siena duduk di kasur sambil mengingat kejadian semalam yang menimpa dirinya, ia dibuat terkejut dengan perlakuan Pangeran Fengying terhadap dirinya, karna takut salah paham kepada istri-istri lainnya, ia memaksa Pangeran Fengying untuk menurunkannya—dengan mengancam akan melukai dirinya sendiri.


"Siena ...," panggil seseorang.


"Ada apa kemari?" tanya Siena kepada selir Chunhua, Luili, dan Juan. "Masuklah."


Mereka bertiga pun masuk ke dalam kamar Siena, seakan Siena tahu apa yang akan ditanyakan kepada ketiganya itu.


"Aku tidak menyukainya," ucap Siena.


"Kami tahu itu, tapi bukan itu maksud kedatangan kami kemari," ucap selir Luili


"Kami ke sini hanya ingin berterimakasih kepadamu, Siena," ucap selir Indriana mewakilkan kedua selir tersebut.


Siena yang mendengar ucapan terimakasih dari mereka—hanya memandang bingung, ia merasa dirinya tidak melakukan apapun, dirinya hanya melakukan hal biasa yang sering ia lakukan saja. Tapi, Siena merasa ada perubahan pada selir Indiriana. Pertama kali dirinya melihat selir Indriana, ia merasa jika selir Indriana adalah orang yang begitu arogan, tak hanya itu saja. Banyak yang bilang, jika selir Indriana adalah selir yang kejam.


"Berterimakasih atas dasar apa ya?" tanya Siena bingung.


"Kami sudah belajar banyak darimu Siena, setiap ucapanmu membuat kami tertegun," jelas selir Luili.


"Tidak, itu hanya sebatas kata-kata biasa, kalian tidak perlu seperti itu," ucap Siena, dirinya tidak suka jika terlalu dipuji berlebihan.


"Kenapa kamu tidak jujur, saat kamu didorong oleh Wenying ke dalam kolam?" tanya selir Luili,  yang disenyumi oleh Siena.


Siena hanya tidak mau memperumit masalah sepele seperti itu, di balik itu semua. Siena sudah tahu, jika Wenying memiliki maksud yang tidak baik terhadap dirinya.


"Aku tidak mau memperumit masalah sepele seperti itu, lagian ... aku juga tidak mau membuang tenaga jika harus bertengkar dengannya," jelas Siena dengan santai.


...***...


Semua orang dalam Istana, kecuali para penjaga Istana—datang untuk melihat Siena bermain biola.


Kali ini dirinya memainkan musik Lighters–Eminem, perlahan Siena mulai menggesekkan senarnya, lalu keluarlah alunan musik yang membuat siapa saja terhipnotis. Sambil memejamkan kedua matanya, Siena yakin! Jika ibunya saat ini sedang melihat dirinya, menghibur orang lain.


Hati Siena sudah sangat tertutup rapat, hingga tidak ada celah untuk memasuki hatinya. Trauma yang ia alami, membuat dirinya takut untuk jatuh hati pada seseorang. Sebenarnya, dirinya mau membuka hatinya. Tapi, ia takut—setiap ia memikirkan masa lalunya, bayangan hitam seakan memenuhi jalan hidupnya.


Apa Ibu melihat aku bermain? Ini untuk Ibu, dan juga untuk mereka, datanglah Bu di dalam mimpiku, ucap Siena dalam hatinya, dirinya berharap bisa bertemu dengan ibunya, walau hanya sebatas mimpi saja.


Walau Siena memainkan musik yang bahagia. Tapi, dirinya selalu diselimuti kesedihan setiap ia mengingat ibunya.


Tanpa Siena sadari, air matanya perlahan membasahi pipinya. Semua orang yang melihat itu, terkejut dengan keluarnya air mata Siena.


"Kenapa dia menangis, apa itu air mata kebahagiaan?"


"Benar, dia menangis."


Ada apa dengannya, kenapa dirinya menangis, batin seorang Pangeran yang bersembunyi tidak jauh dari Siena.


Kenapa dia menangis? Batin Pangeran keempat.


"Wanita ini, benar-benar berbeda," ucap seorang Pangeran yang memiliki rambut berwarna putih—tengah melihat Siena.


Permainan pun telah usai, Siena baru menyadari jika dirinya mengeluarkan air mata. Dengan cepat ia seka air matanya, semua orang bertepuk tangan melihat permainan Siena.


"Terimakasih," ucap Siena.


Permaisuri kaisar dan ibu Suri, mendekati Siena. "Luar biasa! Kau memiliki bakat yang luar biasa," ucap sang ibu Suri.


"Terimakasih Yang Mulia."


"Kau datanglah nanti di kediamanku, aku akan membuatkanmu makanan yang lezat," ucap ibu Suri kepada Siena.


"Tentu saja tidak."


Aku gagal lagi, untuk mendekatinya, batin Pangeran keempat, yang kembali ke temoat kediamannya.


...***...


Di kediaman ibu Suri ....


Siena sengaja mengajak selir Chunhua, selir Luili,  dan selir Juan. Untuk, menemani dirinya.


Saat Siena bertemu dengan ibu Suri, ia bisa melihat dari mata ibu Suri. Jika, ibu Suri ini tidak menyukai selir Luili.


"Ada perlu apa kau kemari? Selir Luili," tanya ibu Suri dengan nada tidak suka.


"Saya yang mengajaknya Yang Mulia," sela Siena.


Terlihat jelas dari wajah ibu Suri, jika dirinya enggan untuk melihat selir Luili.


Apa yang membuat ibu Suri, membenci selir Luili, pikir Siena.


Siena dan selir lainnya dipersilahkan untuk duduk, canggung! Begitulah suasana yang mereka rasakan saat ini. Tapi, Siena berusaha untuk mencairkan suasana. Salah satunya adalah, memperbaiki hubungan ibu Suri dengan selir Luili.


"Ibu Suri, apakah anda tau? Jika Putri Luili memilki bakat yang begitu hebat dalam bertongkat," ucap Siena membuka obrolan.


"Aku tidak peduli, semua orang bisa melakukannya," cetusnya.


Di sana Siena memegang tangan ibu Suri, dan itu membuat para pelayan terkejut, bukan hanya pelayan saja. Bahkan, ketiga selir itu juga terkejut melihatnya.


"Maaf Yang Mulia, apa yang anda ucapkan itu benar. Tapi, tidak semua orang bisa melakukannya, karna mereka memiliki bakat tersendiri. Lihat! Selir Chunhua memiliki bakat menari, sementara selir Juan memiliki bakat kerajinan," jelas Siena.


Sementara mereka bertiga, hanya terdiam mendengar ucapan Siena. "Apa maksudmu?!" tanya ibu Suri yang mulai tersulut emosi kepada Siena.


"Kenapa Ibu Suri, membenci selir Luili?" cetus Siena, dan itu membuat ibu Suri tidak bisa berkata apa-apa.


"Ibunya sudah membuatku kehilangan anak pertamaku, aku membencinya!" ucap ibu Suri dengan nada tinggi.


Siena apa yang akan kamu lakukan, batin selir Luili yang tidak bisa berkutik.


Apa yang Siena lakukan, batin selir Chunhua.


Apa dia sudah gila? Batin selir Juan.


"Yang berbuat seperti itu Ibunya, bukan selir Luili. Bahkan, selir Luili sendiri tidak tau apa yang Ibunya dulu lakukan. Bukankah? Anda senang, karna Ibu Luili sudah tiada? Untuk apa terus membenci seseorang, anak Yang Mulia juga sudah tenang di sana. Aku juga memiliki seseorang yang membuatku kesal setiap kali melihatnya, dia adalah orang yang sudah menbuatku kehilangan Ibuku, tetapi aku sudah memaafkannya. Karna aku sadar, jika aku terus membencinya, itu berarti aku tidak jauh berbeda dengannya—" jelas Siena panjang lebar. "Satu hal yang bisa membuat hati anda menjadi tenang. Yaitu, dengan cara berdamai dengan masa lalu."


Di sana ibu Suri terdiam, ia merenungkan ucapan yang baru saja Siena lontarkan padanya. Mendengar penuturan Siena, ibu Suri merasa hatinya tersentuh dengan ucapan tersebut.


Berdamai dengan masa lalu, memaafkan seseorang yang telah tiada. Saat itu selir Luili masih sangat kecil, dirinya tidak mengetahui apa-apa. Tetapi, setiap aku melihatnya, aku sangat membencinya. Lantaran, dirinya sangat mirip dengan Ibunya, pikir ibu Suri.


Tanpa disadari selir Luili meneteskan air matanya untuk pertama kali, Siena tahu perasaan selir Luili saat ini. Tapi, saat Siena hendak mendekati selir Luili ... ibu Suri sudah mendahuluinya.


"Maafkan aku, maafkan aku yang selalu menyakitimu," ucap ibu Suri sembari memeluk selir Luili dengan sangat erat.


"Saya sudah memaafkan anda Yang Mulia," ucap selir Luili yang berusaha menenangkan ibu Suri.


Di sana selir Luili menatap Siena dengan tatapan berterimakasih kepada Siena. Siena, yang melihat selir Luili hanya bisa mengangguk dan tersenyum kecil.


Hati Siena begitu baik, batin selir Chunhua.


Siena, siapa kamu sebenarnya, batin selir Juan.


Tbc