
Semua pasukan dari Kerajaan Harumsy kembali ke perkemahan militer, termasuk juga siena. Ia berlari menuju tenda kesehatan, untuk melihat keadaan Pangeran Xanras, sesampainya di sana, Siena melihat Pangeran tersebut terbaring lemah, dengan kain yang membalut lukanya itu. Siena duduk di samping ranjang Pangeran Xanras, sembari menatap wajahnya.
"Maafkan aku, kumohon cepatlah sadar ... hiks!" Siena pun akhirnya menangis, ntah kenapa saat melihat pria itu terluka, membuat hatinya terasa sangat sakit.
"Kak, jangan menangis ... aku yakin, pasti dia akan segera sadar," ucap Max, sembari menyetuh pundak Siena, agar kakaknya itu berhenti menangis.
"Max, jika Pangeran Xanras belum sadar juga, aku ingin membawanya pulang ke rumah, biarkan aku merawatnya, hingga dia sadar," jelas Siena, yang mendapatkan anggukan dari Max.
"Iya Kak."
Di dalam tenda kesehatan itu, ternyata ada Pangeran Yu Ting––berada tidak jauh dari Pangeran Xanras, yang juga sedang terbaring lemah di sana. Siena pun, bangkit dari duduknya, dan berjalan mendekati Pangeran Yu Ting.
"Pangeran Yu Ting ...," panggil Siena, tiba-tiba tangan Pangeran tersebut menarik tubuh Siena kedalam pelukannya.
"Siena, aku ingin kamu menjadi istriku, apa kamu masih tidak bisa menerimaku?" suara itu terdengar seperti sebuah lirihan.
Mendengar hal tersebut, Siena kemudian melepaskan pelukan Pangeran Yu Ting, ia pun duduk di sisi ranjang. Dirinya tersenyum kepada Pangeran Yu Ting, dan memegan tangan Pangeran tersebut.
"Aku akan memikirkannya," ucapnya, Pangeran Yu Ting tersenyum lebar, saat mendengar ucapan Siena.
"Terimakasih Siena."
"Istirahatlah, aku akan pergi menemui yang lain." ia pun pergi meninggalkan Pangeran Yu Ting.
Siena pun berjalan keluar tenda, yang diikuti oleh adiknya, di sana Max tersadar. Jika, lengan kakaknya itu terluka akibat goresan sebuah pedang.
"Kak, lenganmu terluka," ucap Max khawatir
"Tidak apa-apa Max, nanti akan aku obati."
Max yang sudah ditahan melihat luka tersebut, segera menarik tangan Siena, dan menyuruh kakaknya itu duduk tenang, di hadapannya, sementara dirinya akan mengobati luka tersebut.
"Kak, jangan menyiksa dirimu, luka ini bisa membuatmu terinfeksi. Jadi, biarkan Adikmu ini mengobati luka Kakaknya," omel Max, membuat Siena tekekeh geli mendengarnya.
"Siap, Pak Dokter!"
Selesai mengobato luka Siena, mereka berdua pun keluar dari tenda kesehatan, sembari berjalan menuju ke tempat, di mana semua para prajurit berkumpul, sembari menikmati makanan yang dihidangkan. Pangeran Fengying juga terlihat di sana, ia juga sedang menikmati hidangan tersebut.
"Siena, lenganmu terluka," tanya Pangera Fengying, dengan nada khawatir.
"Tidak apa-apa, ini juga sudah diobati oleh Max," sahut Siena, dengan diikuti senyumannya.
"Duduklah di sampingku, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu." ia pun duduk di samping Pangeran Fengying, begitu juga dengan Max yang duduk di samping kakaknya itu.
"Apa yang ingin ditanyakan?" tanya Siena.
"Banyak prajurit yang melihatmu melayangkan sebuah pedang, apa itu benar?"
Kemampuanku sudah tidak bisa, disembunyikan lagi, batin Siena, sembari menghela nafasnya.
"Iya, itu benar."
"Jelaskan padaku," pintanya kepada Siena.
Siena pun menjelaskan tentang kemampuan telekinesis yang dimilikinya, kepada Pangeran Fengying. Mendengar penjelasan dari Siena, membuat Pangeran tersebut, tidak percaya apa yang Siena jelaskan kepadanya. Jelas saja dirinya tidak percaya, jika kolam yang ada di Istana tersebut, bisa membuay Siena memiliki kemampuan itu. Tapi, mau bagaimana lagi, memang itu kebenaranya.
"Kemampuan yang aku miliki bukanlah sebuah sihir, tetapi telekinesis, sebuah kemampuan yang bisa dikendalikan hanya dengan melalui pikiran saja," jelas Siena kepada Pangeran Fengying.
"Kakak, lain kali. Kakak harus berhati-hati, jangan sampai kehilangan kendali," sahut Max, yang mengingatkan kakaknya itu.
"Iya Max."
"Sekarang beristirahatlah, besok kita kembali ke Ibukota Shing," suruh Pangeran Fengying, membuatnya mengangguk.
Siena kemudian pergi menuju tenda kesehatan, membuat Max bingung melihat kakaknya itu.
"Kak Siena, Kakak mau ke mana?" tanya Max.
"Tapi Kak ...."
"Tidak apa, kamu istirahatlah, Max."
Max mengangguk, dan pergi ke tenda lain untuk mengistirahatkan tubuhya itu. Sementara Siena tidur dalam keadaan duduk, di samping ranjang Pangeran Xanras, dengan kedua tangannya menjadi alas kepalanya.
...***...
Keesokan harinya ....
Mereka semua bersiap untuk kembali ke Ibukota Shing, dan mereka bisa beristirahat penuh setelah pulang dari sini.
Siena yang masih tertidur, tiba-tiba dibangunkan oleh seseorang. "Nona Siena, bangun ...."
Siena mengedipkan kedua matanya, dan melihat seorang pria asing berada tepat di depannya. "Siapa kamu?" tanyanya
"Saya Yuwen, pengawal pribadi Pangeran Xanras, saya akan membawa Yang Mulia kembali ke kediamannya," ucap Yuwen, membuat Siena terdiam.
"Yuwen, biarkan Pangeran Xanras aku yang mengurusnya, dan bawalah dia pulang ke rumahku," pinta Siena.
Nona Siena sangat baik kepada Yang Mulia, batin Yuwen, dengan diikuti senyumannya.
"Baik, saya akan membawanya ke rumah anda, Nona."
Sampai detik ini juga, Pangeran Xanras belum juga sadar, Siena ingin sekali bertukar posisi dengan Pangeran Xanras–– lebih baik dirinya yang terluka, ia tidak tega melihat seseorang terluka akibat melindunginya.
Akhirnya mereka semua melakukan perjalanan menuju Ibukota Shing, sepanjang perjalanan, Siena menjaga Pangeran Xanras, yang berada di dalam kereta kuda tersebut, bersama dengan adiknya, dan juga Yuwen. Di sana, rambut Pangeran Xanras yang berwarna putih, kini berubah menjadi warna hitam––kembali seperti semula.
"Rambutnya berubah," ucap Siena terkejut.
"Efek obat yang diminum oleh Yang Mulia, sudah habis," jelas Yuwen, keduanya pun mengangguk.
Kepala Pangeran Xanras yang berada di atas pangkuan Siena, membuat Siena sedih, saat melihat raut wajah Pangeran Xanras, yang tenang dan tidak menunjukkan sebuah pergerakkan.
Kapan dia akan sadar, batin Siena.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, mereka pun sampai di rumah, dan Yuwen segera mengangkat tubuh Pangeran Xanras, ke dalam rumah, dan membawanya ke kamar Siena. Yuwen pun membaringkan tubuh Pangeran Xanras, di atas kasur.
Tiba-tiba di dalam kamar Siena, datang Ning'an, Junqing Luwon, Chio, Jia Li, dan ibu Rong. Mereka panik saat melihat keadaan Siena, namun Falresia meminta mereka untuk tidak panik, dan tidak menimbulkan suara gaduh di kamar Siena.
"Kalian tunggulah di taman belakang, aku akan membersihkan tubuhku dulu, setelah itu aku akan menjelaskan kepada kalian," ucap Siena, mereka berlima pun pergi ke teman belakang rumah.
"Max, yuwen. Kalian pergilah mandi, aku akan mandi, setelah membersihkan tubuh Pangeran Xanras," ucap Siena, berhasil membuat keduanya diam. "Jangan salah sangka dulu, aku hanya membersihkan tubuh, bagian atas dan wajahnya saja."
"Baiklah Kak, mari Yuwen kita mandi bersama," ajak Max, membuat Yuwen melototkan kedua matanya.
"Saya masih normal, anda duluan saja." Max tertawa saat mendengar jawaban dari Yuwen. Akhirnya, Max memutuskan untuk mandi lebih dulu.
Sementara Yuwen masih tetap berada di kamar Siena, sembari melihat tubuh tuanya yang sedang dibersihkan oleh Siena.
"Yuwen, aku ingin meminta tolong padamu, apa boleh?" tanya Siena.
"Tentu saja boleh, Nona."
"Tolong jaga Pangeran Xanras, aku akan membersihkan diri sebentar, apa kamu tidak keberatan?" tanyanya lagi.
"Anda tidak perlu sungkan Nona, saya pasti akan menjaganya, ini juga sudah menjadi tugas saya, untuk selalu mendampingi Yang Mulia." Siena tersenyum, kemudian pergi untuk membersihkan diri, di kamar mandi satunya.
Setelah selesai membersihkan diri, Siena melihat di sana, Max sedang menjaga Pangeran Xanras.
"Max, tinggalkan saja, aku tahu ... kamu pasti ingin bertemu dengan Jia Li, sana pergilah. Aku akan menyusulmu, nanti." wajah Max memerah, ia pun pergi menuju taman belakang rumah.
"Cepatlah sadar Pangeran Xanras, aku menunggumu di sini," ucap Siena kepada Pangeran Xanras, sebelum dirinya pergi untuk menemui mereka yang sudah menunggunya di taman.
Tbc