
Dua bulan setelah pernikahan mereka kemudian ....
Siena dan Pangeran Xanras yang terlihat hidup bahagia itu, kini berjalan berdua menyusuri tepi danau. Banyak sekali perjuangan yang ia lakukan demi seseorang yang sangat ia cintai itu––wanita yang saat ini tengah menggenggam tangannya dengan erat, begitu juga dengan dirinya.
"Pangeran Xanras, jika Yang Mulia akan menjodohkanmu dengan Putri dari Kerajaan lain, apa kamu akan mengikuti kemauannya?" tanya Siena, sembari memandang pria di sampingnya itu.
"Kamu tahu Siena ... aku pria yang tidak suka melanggar janji, kamu adalah satu-satunya wanita yang aku cintai, dan selamanya akan tetap seperti itu. Yang Mulia tidak akan menjodohkanku lagi Siena, karna aku sudah berkata kepadanya. Kalau hatiku hanya untukmu, dan aku tidak ingin berbagi dengan wanita manapun," ucap Pangeran Xanras, diikuti dengan senyumannya yang tulus.
Siena tersenyum kepada Pangeran Xanras, dirinya percaya. Bahwa, pria yang sudah menjadi suaminya itu hanya memiliki dirinya seorang. Ternyata dirinya selama ini salah, tidak semua laki-laki jahat, seperti yang dipikirkan oleh dirinya.
"Terimakasih," ucap Siena.
"Sekarang giliranku bertanya padamu ... bagaimana jika Pangeran Yu Ting masih ingin mengajakmu menikah dengannya, apa kamu mau Siena?"
Siena tertawa kecil, dirinya tidak habis pikir, ternyata suaminya ini masih ingat saat kejadian Pangeran Yu Ting ingin mengajaknya menikah. Padahal, Siena hanya menganggap Pangeran Yu Ting hanya sebatas teman biasa.
"Tentu saja ... aku akan ...."
"Menolaknya," potong Pangeran Xanras.
"Tentu saja aku akan menerimanya––" Siena melihat raut wajah Pangeran Xanras, menahan api cemburunya, "Pangeran Xanras, aku akan menolaknya, bagaimana bisa seorang Putri Xandra, menikah dengan Pangeran Yu Ting. Dari nama saja tidak ada kemiripan sama sekali, walaupun huruf pertama kami bersampingan, tapi aku lebih suka hurufnya menyatu. Seperti Pangeran Xanras, dan Putri Xandra, di mana huruf depan kita tidak akan terpisah, karna keduanya sudah menjadi satu."
Pangeran Xanras merasa bahagia, saat dirinta mendengar ucapan Siena. Belum pernah ia merasakan kebahagiaan seperti ini, rasa kesepiannya seakan lenyap begitu saja, rasa sakit yang ia rasakan seketika berubah menjadi rasa kebahagiaan, saat melihat wanita yang ia cintai bersama dirinya. Pangeran Xanras berharap, hubungan mereka berdua berjalan dengan baik, sampai dirinya wafat.
"Terimakasih istriku, aku harap kamu tidak pergi meninggalkanku," ucap Pangeran Xanras kepada Siena, sembari memeluk istrinya dari belakang.
"Tidak akan pernah, kalaupun aku pergi. Kita harus pergi bersama-sama, Pangeran Xanras."
Siena melepaskan pelukan Pangeran Xanras, ia kemudian menghadap, dan menatap wajah tampan suaminya itu.
"Oh iya, apa Kaisar Xin dari Kerajaan Harumsy tau, kalau kamu adalah Pangeran dari Kerajaan Huarong," tanya Siena, dirinya lupa mengatakan hal ini kepada suaminya.
"Sudah, bahkan saat aku menginjakkan kaki di Istana, Yang Mulia Kaisar Sudah mengenal diriku."
"Wow, itu keren ...."
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan mereka menyusuri bibir danau.
"Pangeran Xanras, aku ingin menemui Max, dan saudaraku yang lainnya," pinta Clora.
Pangeran Xanras tersenyum, sembari mengangguk, ia akan menuruti kemauan istrinya, asalkan dirinya selalu ada di samping istrinya itu. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk, menimpa istrinya yang sangat ia sayangi.
"Tapi aku harus mandi dulu," ucap Pangeran Xanras.
Di sanalah muncul sifat jail Siena, ia mengarahkan kedua tangannya ke arah air danau, perlahan-lahan air tersebut terangkat ke udara. Setelah air tersebut sudah cukup bergumpal besar, Siena pun kemudian mengarahkannya ke atas kepala Pangeran Xanra, air yang awalnya bergumpal. Kini, menjadi butiran-butiran air, seperti hujan. Semua tubuh Pangeran Xanras basah kuyup, sementara Siena tertawa bahagia, lantaran dirinya berhasil menjaili suaminya itu.
"Ahahaha, sekarang kamu sudah mandi, suamiku ahaha."
"Siena ...." Pangeran Xanras mengejar Siena, dan ia pun berhasil menangkap istrinya itu.
"Ahahahaha."
Pangeran Xanras, menggendong tubuh Siena ala Bridal Style.
"Pangeran Xanras, apa yang akan kamu lakukan, hei! Turunkan aku," pekik Siena.
"Kita mandi bersama," ucapnya dengan santai.
"Eh ..? Apa! Tidak-tidak turunkan aku ...."
Kemudian ia melemparkan tubuh Siena ke dalam air, begitu juga dirinya––menyemplungkan dirinya ke dalam air bersama dengan istrinya.
...***...
Setelah adegan mandi di danau, ah tidak. Lebih tepatnya berenang di danau, mereka berdua pun pergi ke Kerajaan Harumsy, di mana Max, Jiali, dan lainnya tinggal. Siena dan Pangeran Xanras, mereka masing-masing menaiki kuda yang berbeda. Tetapi, di belakang mereka diikuti Yuwen, pengawal pribadi Pangeran Xanras.
"Aku merasa sedih sekaligus senang, senang saat melihat kedua manusia itu bahagia, dan hidup bersama. Sedihnya hidupku, yang masih sendiri ini huhu," ucap Yuwen, saat menatap 2 insan itu saling mencintai satu sama lain. Kemudian dirinya tidur, yang berada tidak jauh dari kedua insan itu.
Melihat perjalanan mereka masih cukup jauh, mereka bertiga pun seperti biasa beristirahat di dalam hutan, sembari melepaskan semua rasa lelah yang mereka rasakan.
"Terimakasih untuk semuanya, Siena ...," ucap Pangeran Xanras, tak lama dirinya pun ikut terlelap juga.
Keesokan harinya ....
Mereka sudah memasuki kawasan Kerajaan Harumsy, Siena terlihat sudah tidak sabar lagi ingin memeluk adiknya, dan ia harap adiknya itu segera memiliki Max kecil.
Sesampai di rumahnya yang dulu, di sana melihat ada banyak sekali perubahan semenjak dirinya tinggal di Kerajaan Huarong, mulai dari bangunannya yang dilapisi oleh emas. Dan, interior yang ditata dengan begitu cantik.
"Kak! Aku rindu sekali padamu," pekik Max, saat melihat kakaknya sudah berada di dalam rumahnya, ia pun langsung memeluk kakaknya itu.
"Aku juga merindukanmu Max," balas Siena.
Max pun melepaskan pelukannya, ia menatap kakanya yang semakin lama semakin terlihat sangat cantik, ditambah lagi ia sangat senang. Akhirnya, kakaknya itu sudah menemukan seseorang yang sangat ia cintai.
"Max, di mana Jia Li?" tanya Siena.
"Jia Li sedang ada di dalam kamar, Kak. Akan aku panggilkan dia." Max, berlari menuju kamarnya.
Tidak lama, Max pun kembali bersama dengan Jia Li, yang sudah memiliki perut buncit. Yap, Max dan Jia Li sudah menikah, 2 hari setelah pernikahan Siena dan Pangeran Xanras. Siena yang melihat perut Jia Li, yang membesar merasa senang, tidak lama lagi ia akan memiliki keponakan.
"Wah! Kamu hamil Jia Li?" tanya Siena senang.
"Iya Kak, aku hamil. Kakak belum?" tanya Jia Li, membuat wajah Siena memerah.
Pangeran Xanras kemudian berjalan mendekati Siena, dan berbisik tepat di telinga Siena, "apa kamu mau membuat anak, sayang?" mendengar bisikan itu, membuat sekujur tubuh Siena merinding.
"Menjauh dariku," usirnya, sembari mendorong tubuh suaminya itu. Melihat raut wajah Siena yang malu, membuat Pangeran Xanras, dan lainnya tertawa.
Tiba-tiba di sana ada seseorang yang memanggil Max, ternyata itu adalah Kaili.
"Tunggu sebentar, aku akan memanggil yang lain," ucap Kaili, ia pun pergi berlari memanggil yang lain.
Kaili pun kembali membawa Falresia, Chia, Ibu Rong, Ning'an, dan Junqing Luwon kemari. Mereka sangat senang, seseorang yang selama ini mereka nantikan, akhirnya datang dengan raut wajah yang amat bahagia. Falresia mendekati Siena, dan memeluk adiknya itu dengan sangat erat, tanpa sengaja tatapannya tertuju pada Yuwen, yang sejak tadi memperhatikan Falresia. Keduanya pun mengalihkan pandangannya, membuat Max yang menyadari hal itu hanya bisa tersenyum.
"Ehem! Ehem! Sepertinya, akan ada yang menikah," celetuk Max.
Siena dan Falresia melepaskan pelukan, Siena memandang Falresia dan juga Yuwen, terlihat keduanya memiliki perasaan yang terpendam.
Pangeran Xanras mendekati Siena, sembari melingkarkan tangannya di pinggang kecil Siena, kemudian dirinya berbisik keada istrinya.
"Sayang, bagaimana jika kita membuatkan sebuah pesta pernikahan untuk Yuwen dan Falresia," bisik Pangeran Xanras.
"Aku setuju, mereka sangat cocok."
"Iya, mereka sangat cocok," balas Pangeran Xanras, menyetujui ucapan istrinya.
"Ibu Rong, bisakah Ibu membuatkan gaun pengantin yang sangat cantik, dengan bahan yang sangat bagus," ucap Siena, membuat wajah Falresia dana Yuwen memerah.
"Iya sayang, Ibu akan membuatkan yang terbaik untuk Kakakmu," celetuk Ibu Rong.
"Ti-tidak, aku dan Yuwen hanya ... hanya––"
"Hanya saling menyukai!" timpal Max, memotong ucapan Yuwen, yang kini tidak bisa berkata apa-apa.
"Kak, biar aku dan Pangeran Xanras yang akan mengurus pernikahanmu," ucap Siena.
"Yang Mulia terimakasih banyak, anda tidak perlu repot-repot seperti itu," ucap Yuwen.
"Tidak apa-apa Yuwen, kau sudah berkorban banyak demi diriku, kau berhak bahagia," ucap Pangeran Xanras.
Di dalam ruangan itu terlihat semuanya bahagia, walaupun mereka tidak memiliki hubungan sedarah, tetapi ikatan kekeluragaan mereka sangatlah erat, seakan tidak bisa terputus.
...***...
...Pesan untuk kalian: Jangan bosan untuk berbuat baik dengan siapapun, jangan lelah berbuat baik, walaupun kebaikanmu sering terlupakan. Ingat, tuhan tidak tidur, setiap kebaikan yang kamu lakukan pasti akan dibalas oleh sang maha kuasa....