
Malam harinya, Siena memainkan biolanya di tempat penginapan miliknya, ia sengaja memainkan biola hanya untuk sekedar menghibur para tamu.
"Terimakasih, selamat malam, dan selamat beristirahat," ucap Siena, mengakhiri permainannya.
Siena pun hendak melangkahkan kakinya—pergi keluar dari penginapan, saat itu juga, Max. Melihat kakaknya baru saja keluar dari sana, dan segera mendekatinya. Dirinya ingin memberitahukan kepada Siena, tentang percakapannya dengan Pangeran Fengying, sore tadi.
"Kak," panggil Max.
"Hmm."
"Kak," panggilnya lagi.
"Hmm." lagi-lagi respon yang diberikan Siena kepadanya sama, dan itu membuat Max kesal.
"KAK!" pekik Max.
"Ada apa?" tanya Siena kepada Max.
"Aku ingin berbicara denganmu." Siena menoleh ke arah Max, dan menatap bingung adiknya itu.
Siena mengajak Max pulang ke rumah, agar obrolan mereka tidak didengar oleh orang lain, mungkin Max ingin berbicara sesuatu yang penting, atau tidak. Ntahlah, Siena sendiri juga bingung melihat tampang Max yang begitu aneh baginya.
"Jadi?" tanya Siena, sembari duduk di sisi ranjang, begitu juga dengan Max.
"Pangeran Fengying menyukaimu," celetuk Max, membuat Siena tertawa terbahak-bahak.
Aku merasa ada sesuatu yang aneh di sini, sesuatu yang mengerikan, aku rasa ... Kak Siena tidak normal ..., batin Max, yang menatap kakaknya dengan mengerutkan keningnya.
"Terus? Aku harus bagaimana, senang, bahagia, atau harus merayakan?" tanya Siena, yang masih sedikit tertawa.
"Memang Kakak tidak menyukainya?"
"No, sedikit pun aku tidak suka sama dia, udahlah ... tidak usah bahas masalah ini, begini ya Max, aku sekarang sedang fokus pada permasalahanku sendiri. Jadi, percuma kamu memberitahukan hal itu padaku, aku sudah tahu itu, hanya pura-pura bodoh saja hahaha," jawab Siena dengan sedikit lelucon.
Masalah apa yang Kak Siena, miliki? Pikir Max.
Max menatap Siena dengan tatapan menyelidiki, dirinya mencurigakan kakanya sejak makan bersama, dan benar saja. Kakaknya memiliki masalah yang tidak ia tahu, sementara itu ... Siena yakin, pasti adiknya itu penasaran dengan masalah yang ia miliki. Namun, di sisi lain ... Siena tidak ingin membahayakan nyawa adiknya itu. Tapi, bagaimana pun juga ... Max adalah adiknya, ia berhak tahu akan masalahnya.
"Pasti, penasaran dengan masalahku," tebak Siena, yang mendapat anggukan mantap dari Max.
"Hem! Ceritakan, Kak." Siena melipatkan tangannya di bawah dada, sembari sedikit mendongakkan wajahnya, dan melirik ke arah Max, yang menatapnya dengan memasang puppy eyes.
"Jawab pertanyaanku dulu, baru aku akan menjelaskannya," tegas Siena, yang lagi-lagi mendapat anggukan dari Max. "Max, di dalam tasmu, kamu membawa apa saja?" tanya Siena.
Max pun mengingat-ingat barang ia bawa kemari. "Beberapa koin emas, baju, selimut, kamera, dan buku," jawab Max.
Siena mendapatkan sesuatu dari salah satu barang, yang Max sebutkan tadi, yap! Kamera. Siena membutuhkan kamera jika sewaktu-sewaktu di Istana terjadi sebuah masalah, bukan hanya itu saja, Siena sudah mempersiapakn sesuatu rencana yang sudah is buat sendiri, untuk melakukan sesuatu hal.
"Masih hidup, tidak?"
"Masih, aku sama sekali tidak menggunakannya, semenjak aku berada di masa lampau ini."
"Bagus, bawa kemari kameramu."
Max kemudian pergi ke kamarnya untuk mengambil kameranya, dirinya sempat bertanya-tanya, apa yang akan kakaknya lakukan pada kameranya. Dan itu, semakin membuat Max penasaran dengan Siena. Setelah mengambil kamera, Max pun kembali ke kamar kakaknya.
"Ini Kak." Max memberikan kamerannya kepada Siena, ia pun kembali duduk di samping Siena.
"Baiklah, aku pinjam dulu ya, Max."
"Untukmu saja Kak, aku sudah tidak membutuhkannya. Jadi, ceritakan masalahmu Kak."
"Baiklah, aku akan menceritakannya."
Siena pun mulai menceritakan masalahnya kepada Max, yang mendengar kakaknya bercerita hanya manggut-manggut. Tapi, sesekali terkejut mendengarnya, setelah itu diikuti oleh gelengan.
"Jadi, apa rencanamu, Kak?" tanya Max.
Siena tersenyum, ia sudah lama mempersiapkan rencana yang selama ini berada di dalam pikirannya.
...***...
Keesokan harinya ....
Siena pergi menemui ibu Rong, dirinya ingin dibuatkan sebuah baju yang ia desain sendiri.
"Ibu Rong, bisakah anda membuatkan aku baju seperti ini?" tanya Siena, sembari menunjukan hasil desainnya.
"Itu sangat mudah," jawabnya, dan itu membuat Siena senang.
"Aku membutuhkan 4 pasang, dengan warna hitam," ucap Siena.
"Baiklah, saya akan segera membuatkannya."
"Terimakasih Ibu Rong, aku menyayangimu," ucap Siena, sembari memeluk Ibu Rong dengan sangat erat, ibu Rong tersenyum saat dirinya dipeluk oleh Siena.
"Nona Siena," panggil seseorang, dan ternyata seseorang itu adalah Kaili.
"Ada apa, Kaili?" tanya Siena.
"Nona mau ke mana, boleh aku ikut denganmu?" Siena mengangguk, akhirnya Kaili ikut bersama dengan Siena.
Sampai di depan toko senjata, Kaili tampak terlihat bingung. "Kenapa Nona datang ke toko ini?" tanyanya bingung.
"Aku ingin membeli beberapa aksesoris."
Aksesoris apa? Di toko senjata ini, pikir Kaili.
Kaili hanya duduk, diam, dan melihat barang apa yang akan dibeli oleh Nonanya itu, di sana Siena mendekati Kaili, sembari membawa sebuah pedang yang berukuran sedang kepadanya. Siena bertanya kepada Kaili tentang pedang yang ia bawa, Kaili mengambil dan meneliti pedang tersebut.
"Pedang ini ringan, tajam, dan tidak terlalu besar, cukup bagus," Siena tersenyum, sembari mengangguk.
Untuk apa pedang itu? Pikir Kaili.
Di sana Siena berkeliling mencari sesuatu barang, yang mungkin saja bisa membuat dirinya tertarik. Saat ia berjalan tak jauh dari tempat pedang yang berukuran panjang, dirinya melihat ada banyak ketapel di sana. Ia pun, mengambil 3 ketapel tersebut.
"Kaili kemari, kamu pilihlah senjata yang kamu inginkan," tawar Siena kepada Kaili.
"Eh?! Senjata, untuk apa?" tanyanya bingung.
"Sudah ... pilih saja, biar aku yang membayarnya hoho."
Sejak kapan Nonaku menjadi sombong seperti ini, pikir Kaili sembari menepuk keningnya.
"Aku tidak sombong Kaili, hanya berbaik hati saja hihi." Kaili terkejut mendengar ucapan Siena, bagaimana bisa Nonanya itu tahu apa yang sedang ia pikirkan. "Raut wajahmu yang mengatakannya, sudahlah ... ayo kita segera kembali ke rumah."
Setelah mencari barang yang mereka cari, mereka berdua pun segera kembali ke rumah. Tapi, saat di perjalanan mereka bertemu dengan Pangeran Yu Ting.
"Salam Pangeran Yu Ting," ucap Kaili, sementara Siena tersenyum, dan memasang wajah bingungnya itu.
"Ada apa Pangeran Yu Ting," tanya Siena.
"Tidak ada, aku hanya ingin main saja hehe," ucapnya dengan memamerkan sederet giginya itu.
Siena pun mengajak Pangeran Yu Ting ke rumah, kebetulan sekali, hari ini dirinya ingin membuat steak. Sekaligus memperkenalkan makananya itu kepada Pangeran Yu Ting, siapa tahu Pangeran tersebut menyukainya. Ini juga sebagai ucapan terimakasihnya kepada Pangeran Yu Ting, karna sudah mengajaknya ke tempat yang begitu indah.
"Silakan dinikmati," ucap Siena, sembari menyodorkan piring yang berisi steak kepada Pangeran Yu Ting, dan Kaili.
"Terimakasih, ngomong-ngomong di mana, Falresia, dan Pangeran Jianying?" tanyanya.
"Kak Falresia sedang ada urusan, dan Max sedang keluar."
Siena pun duduk di samping Kaili, sembari melihat mereka berdua yang terlihat begitu lahap saat menyantap steak buatannya. Saat sedang menikmati melihat mereka berdua makan, Siena ingat dengan pesannya kepada Pangeran Yu Ting waktu itu.
"Mmm ... ini enak sekali, apa nama makanan ini?" tanya mereka berdua.
"Namanya adalah steak, makanan ini cukup populer."
"Steak?" mereka bingung dengan nama makanan tersebut. Tapi, mereka tidak peduli dengan nama itu, yang terpenting makanan yang mereka makan, kali ini sangatlah enak.
"Pangeran Yu Ting, apa pesanku sudah disampaikan kepada, Pangeran Fengying?" tanya Siena, yang membuat Pangeran Yu Ting menepuk keningnya.
"Aku lupa memberitahukannya."
Untung saja belum memberitahukannya, baiklah ini sesuai rencana, pikir Siena.
"Bagus!" ucap Siena yang diikuti gebrakan mejanya.
BRAK!
Hingga membuat Pangeran Yu Ting, dan Kaili tersedak.
"Uhuk! Uhuk!"
"Pangeran Yu Ting, sebaiknya jangan memberiahukan dia dulu, aku punya rencana ...," ucap Siena
"Rencana, apa?" tanyanya, sembari meminum air.
"Bayar 5 juta keping emas dulu, baru aku akan memberitahukanmu."
BRUSSHH!
pangeran Yu Ting tanpa sengaja, menyembur air yang ada di dalam mulutnya ke wajah Siena, Kaili yang melihat Nonanya itu terkejut.
"Siena ... maaf-maaf aku tidak sengaja," ucapnya, yang langsung membersihkan wajah Siena, menggunakan pakaian yang ia kenakan.
Kaili yang melihat raut wajah Nonannya itu merasa ketakutan, betapa cerobohnya Pangeran Yu Ting ini, bisa-bisanya menyembur air di wajah Siena. Padahal, Kaili tahu jika Nonanya itu hanya sekedar bergurau saja.
Tbc