Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
15



Siena mendekati pria tersebut, lantaran dirinya ingin bertanya, ke mana arah jalan keluar dari tempat ini. Tapi, dirinya justru dikagetkan oleh wajah pria yang tidak asing baginya itu.


"Senang bisa bertemu denganmu kembali," ucap pria tersebut, sementara Siena hanya bisa tersenyum canggung.


Ternyata sudah sembuh, syukurlah kalau begitu, pikir Siena.


"Maaf, aku ingin bertanya padamu, jalan keluar dari tempat ini di mana ya?" tanya Siena kepada pria tersebut.


Di sana Siena tidak merasakan apapun pada pria itu, ntah ... niat pria tersebut baik atau buruk padanya. Toh! Yang penting dirinya harus segera keluar dari tempat ini, dan segera bertemu dengan adiknya.


Tapi, pria yang ada di hadapannya saat ini hanya tersenyum, dan membuat Siena merasakan ada sesuatu dibalik senyumannya itu. Jangan sampai, pria itu berbuat yang tidak-tidak padanya.


"Aku akan membantumu. Tapi, dengan satu syarat," ucap pria itu, Siena mulai malas jika harus berurusan dengan syarat.


Apa ini? Ada syaratnya, lebih baik aku mencari jalan keluar sendiri, pikir Siena.


"Tidak, terimakasih ... aku bisa mencari jalan keluar sendiri," tolaknya.


Siena diam, dan hanya memasang raut wajah datarnya. Dia benar-benar sudah malas berurusan dengan orang yang ada di hadapannya itu, ia pun pergi meninggalkan pria aneh tersebut, dan mencari jalan keluar sendiri.


Kita lihat, apa kamu bisa keluar dari sini, batin pria tersebut.


Sudah 1 jam dirinya tak kunjung mendapatkan jalan keluar, kali ini dirinya sudah pasti tersesat, dan ditambah lagi perutnya meminta makanan.


"Huft! Aku lapar sekali, nyari makanan di hutan kali, ya? Siapa tau ada pohon buah." Siena pun pergi mencari buah-buahan di dalam hutan.


Setelah mecari pohon buah, akhirnya ia melihat pohon apel yang berada tidak jauh darinya. Siena pun segera mendekati pohon tersebut, saat Siena berlari ke arah pohon apel itu ... tiba-tiba dirinya tersandung oleh akar pohon yang besar, untung saja biolanya tidak apa-apa. Siena melanjutkan perjalanan menuju pohon tersebut, akhirnya ia pun sampai di depan pohon apel itu. Tapi, saat Siena memanjat pohon tersebut, tiba-tiba ada sesuatu yang melilit di lehernya.


Ular, aku tidak bisa melepaskannya, aku tidak bisa bernafas, apa aku akan tewas di sini? Batin Siena, dirinya tidak bisa melepaskan ular tersebut dari lehernya.


Kesadaran Siena pun perlahan menghilang, dan tubuh Siena yang berada di atas pohon pun hendak jatuh ke bawah. Tapi, untungnya ... seorang pria datang dengan cepat untuk menolong Siena, pria tersebut membantai ular tersebut habis-habisan. Pria itu, kini mengkhawatirkan keadaan Siena, dan segera membawanya di kediamannya.


"Kamu, wanita yang keras kepala," ucap pria tersebut.


Sesampainya di kediamannya, pria tersebut meletakkan Siena di kamar miliknya, dan menyuruh pelayannya untuk menggantikan pakaian Siena, serta menjadi pelayannya. Sementara pria itu, sedang meminta tolong kepada tabib untuk menyembuhkan Siena, ia tidak ingin melihat wanita itu terluka, akibat dirinya terlambat menyelamatkannya.


"Nona Siena baik-baik saja, untung saja Yang Mulia datang tepat waktu untuk menolongnya," ucap tabib tersebut kepada pria itu.


"Terimakasih tabib Hongli, anda boleh kembali." tabib yang bernama Hongli pun, kembali ke kediamannya.


"Maafkan aku, aku terlambat menolongmu, cepatlah sadar," ucap pria tersebut, sembari mengusap pucuk kepala Siena, dan berlalu meninggalkannya.


...***...


3 jam kemudian ....


Siena akhirnya sadar dari pingsannya, ia pun tampak bingung dengan keberadaannya sekarang, dirinya saat ini berada di dalam sebuah kamar dengan ukuran yang begitu luas. Tiba-tiba ada seorang wanita di sampingnya bangun, dan langsung mendekati Siena.


"Nona, syukurlah anda sudah sadar," ucap wanita itu dengan ramah.


"Siapa kamu? Aku berada di mana, sekarang?" tanya Siena yang masih dalam kebingungannya. Di sana juga, Siena tersadar jika pakaian yang ia kenakan sudah berbeda.


Sementara itu, Siena mencoba untuk mengingat kembali apa yang baru saja menimpa dirinya, dan Siena ingat, jika tadi dirinya dililit oleh seekor ular besar.


Oh, tidak! Biolaku, Pikir Siena, yang memikirkan biolanya itu.


"Di mana Tuanmu? Aku ingin bertemu dengannya," pinta Siena kepada Jia Li.


"Baiklah Nona, mari ikuti saya." Jia pun mengajak Siena untuk menemui Pangeran Xanras, seorang Pangeran yang telah menyelamatkan nyawanya itu.


Di sana ... Jia menyuruh Siena untuk mendekati Pangeran Xanras sendiri, sementara dirinya undur diri, lantaran tak ingin mengganggu mereka berdua.


Siena melihat tubuh Pangeran Xanras dari arah belakang, dirinya sedang memperhatikan Pangeran tersebut, yang terlihat sedang mengamati pohon yang ada di hadapannya itu.


WUSSHH!


Angin pengunungan menyusup dibalik baju Siena, hawa dingin perlahan menelannya. Tapi, ini demi biolanya, ia tidak akan pergi sebelum bertanya di mana biola miliknya itu.


Siena mendekati Pangeran Xanras. Tapi, justru Pangeran Xanras sudah mengetahui keberadan Siena, dirinya berbalik dan tersenyum kepada Siena. Tiba-tiba Pangeran Xanras melepaskan mantelnya, dan memakaikannya di badan Siena. Siena yang melihat itu hanya diam dan bingung, dengan perlakuan Pangeran itu kepadanya.


Ternyata dia seorang Pangeran, hmm? Aku tidak peduli, yang penting biolaku kembali kepadaku, batin Siena.


"Jangan sampai dirimu sakit," ucap Pangeran tersebut.


"Tidak perlu, aku sudah biasa." Siena melepaskan mantel tersebut, dan memberikannya kembali kepada pria itu.


"Jangan sampai aku membuatmu, terkurung di dalam kamar selama 7 hari," ucap Pangeran Xanras dengan nada dingin.


Karna tidak mau membuang waktu, akhirnya Siena kembali memakai mantel tersebut, dan segera menanyakan di mana biola miliknya itu.


"Pangeran Xanras, di mana kamu letakkan biola milikku, sebuah kotak hitam yang aku bawa tadi," jelas Siena kepada Pangeran Xanras.


"Kurasa ... kotakmu masih tertinggal di sana." mendengar ucapan Pangeran tersebut, membuat tubuh Siena mendadak lemas, dan segera ingin mengambil biola miliknya di sana.


"Antarkan aku ke sana ...," ucap Siena dengan nada dingin.


"Kondisimu masih kurang sehat, aku akan meminta pengawalku untuk mencari kotakmu," ucap Pangeran Xanras.


Siena mulai ftustasi, dan memegang kepalanya dengan menjambak rambutnya. Ia tidak ingin mengecewakan ibunya, dirinya berjanji akan menjaga biola itu, dan ia juga tidak ingin kehilangan kenangan satu-satunya dari mediang ibunya.


"AKU TIDAK PEDULI DENGAN KONDISIKU! BIARKAN AKU MENCARI BIOLAKU!" pekik Siena frustasi, jika sampai biola miliknya hilang, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.


"Apa benda itu lebih penting daripada dirimu sendiri?" tanya Pangeran Xanras dengan nada dingin.


"Iya, lebih tepatnya ... benda itu sangat penting daripada nyawaku," gumamnya, sembari mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat, dan diikuti air mata yang mulai membasahi pipinya.


Sementara Pangeran Xanras hanya diam, dan terus memperhatikan Siena yang frustasi akibat biolanya tertinggal di bawah pohon apel. Namun, di sisi lain ... ia tidak ingin melihat kondisi Siena semakin memburuk, terpaksa dirinya harus membuat Siena tidak sadarkan diri––Pangeran Xanras dengan cepat, menahan tubuh Siena, agar tidak terjatuh, ia pun menggendong Siena untuk dibawa ke kamarnya.


"Aku sendiri yang akan mencari benda itu," ucap Pangeran Xanras, sembari membaringkan tubuh Siena di atas kasur.


Tbc