Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
8



Di taman ....


Siena sedang melihat foto dirinya dan ibunya di layar hp, dirinya sangat merindukan ibunya itu.


"Maaf Nona ... bagaimana jika kita kabur saja dari Istana ini?" ucap Kaili yang tiba-tiba berada di samping Siena, Siena kembali memasukkan hpnya ke dalam saku celananya.


"Tidak mudah untuk kabur dari sini, bagaimana jika kamu pulang, untuk memberi tahu kepada Falresia jika kita sedang berada di Istana. Dan bilang padanya, jangan khawatirkan aku, karna ada dirimu bersamaku—" Kaili mengangguk paham. "Oh iya! Bawakan aku biola yang ada di kamar, kamu tahu 'kan kotak hitam yang selalu kubawa," lanjut Siena yang lagi-lagi diangguki Kaili.


Saat Siena sedang duduk tenang menghirup udara pagi, tiba-tiba datang dua orang wanita cantik ke arahnya.


Sungguh susah untuk hidup tenang ya? Batin Siena.


"Bukannya kau adalah penjual minyak wangi waktu itu 'kan?" tanya seorang wanita yang mengenakan pakaian berwarna ungu, dan menurut Siena wanita yang ada di depannya ini sangat tidak asing.


"Oh! Benar, apakah kamu selir Chunhua?" tanya Siena kepada wanita itu.


"Ternyata kau masih mengingatku, iya aku selir Chunhua. Oh! Iya! Kenapa kau bisa berada di Istana ini?" tanyanya.


Siena menjelaskan secara rinci kepada keduanya, mereka berdua yakin, jika Siena tidak berbohong. Karena, dari nada bicara Siena dapat diketahui jika dirinya tidaklah berbohong.


"Maaf sebelumnya, yang di samping selir Chunhua siapa ya? Namanya?" tanya Siena dengan polos.


"Nama saya selir Juan," ucapnya memperkenalkan diri.


"Senang berkenalan denganmu selir Juan," jawab Siena sembari mengulurkan tangannya di hadapan selir Juan, kebiasaan Siena saat berkenalan dengan seseorang adalah bersalaman. Dirinya lupa jika sedang berada di jaman kuno.


"Heum ... selir Chunhua, selir Juan. Boleh saya meminta tolong kepada kalian berdua untuk mengumpulkan istri-istri Pangeran? Aku mempunyai sebuah cerita dari negaraku, aku akan menceritakannya di sini."


Siena tidak yakin jika keduanya mau melakukan apa yang ia suruh kepada keduanya. "Kami bukan pelayan," ucap selir Chunhua.


"Jika aku memiliki hak, aku akan melakukan apa yang akan aku lakukan. Tapi, sayangnya aku tidak memiliki hak, aku di sini hanyalah sebatas tamu."


Akhirnya mereka berdua menyetujui ucapan Siena, mereka berdua pergi menemui Pangeran mahkota.


...***...


Semuanya sudah berkumpul di taman, mereka semua siap mendengarkan cerita dari Siena. Semua selir-selir Kerajaan memiliki wajah yang amat cantik, termasuk Wenying—dirinya sudah dinobatkan sebagai seorang dayang kelas dua. Berbeda dengan Siena, yang berpenampilan seperti laki-laki dengan mengikat rambutnya seperti ekor kuda.


"Selamat siang, namaku Siena Alexandra, di  sini aku akan menceritakan tentang seorang Putri yang membutuhkan kasih sayang dari seorang Pangeran." suasana tampak terlihat sangat hening, itu cukup membuat Siena tenang, dan mudah untuk menceritakan kisah Putri yang membutuhkan kasih sayang seorang Pangeran. Siena pun mulai bercerita, semuanya memperhatikannya.


"Karena Pangeran tersebut memiliki banyak istri. Jadi, banyak istri yang cemburu kepada Pangeran tersebut lantaran Pangeran tersebut hanya mencintai satu Putri yang menurutnya sangat berharga bagi hidupnya—" yang Siena ceritakan adalah tentang istri-istri Pangeran yang cemburu kepada Pangeran, hingga istri-istri tersebut melakukan hal yang sangat kejam kepada istri Pangeran lainnya dengan cara meracuni, atau bahkan memfitnah Putri lainnya.


Kemudian ada seorang selir yang berdiri dan berbicara kepada Siena. "Maksudmu, kami melakukan sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh Putri Amelia dan Putri lainnya!" di sana Siena hanya menepuk jidatnya, beginikah jika harus berhubungan dengan wanita jaman dulu.


"Baiklah selir, silakan anda untuk duduk kembali. Aku akan menjelaskan makna dari cerita tadi," ucap Siena yang menenangkan selir bodoh tadi. "Jadi makna dari cerita tadi adalah ... cinta seseorang tidak bisa dipaksa, jika seseorang itu hanya mencintai wanita itu dalam hidupnya, kita tidak bisa mengubah perasaannya. Bahkan jika kita melakukan hal licik pun, orang tersebut akan tetap mencintai wanitanya itu hingga akhir hayatnya, itu adalah cinta sejati. Jadi, cinta itu tumbuh di hati kita, cinta itu memiliki rasa kasih sayang terhadap apa yang kita miliki, cinta tidak memandang siapa yang kita cintai, dan cinta akan mengorbankan dirinya jika orang itu sudah tidak mencintai kita lagi, dan kita harus bahagia melihat dirinya bahagia bersama yang lain. Dengan begitulah hati kita akan belajar menerima kepergian orang yang kita cinta, walau berat untuk melepaskannya pergi." akhirnya Siena selesai juga menceritakan makna dari ceritanya itu.


Bagi Siena, apa yang ia ceritakan ini sangatlah mustahil diterima oleh para selir, seseorang yang telah menikah dengan seorang Pangeran atapun Kaisar, jelas tidak bisa dekat dengan lelaki manapun. Mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan perhatian dari orang yang sudah menikahinya, jika tidak ... mereka akan merasakan kesepian. Sia-sia dirinya menceritakan hal yang tidak akan dilakukan oleh mereka, jelas mereka tidak ingin merasakan kesepian.


Omong kosong! Wanita mana yang mau menyerahkan laki-laki yang dicintai kepada orang lain, batin Wenying yang juga ikut medengarkan cerita Siena.


"Eum ... bolehkah, saya bertanya kepadamu?" tanya seorang selir yang terlihat sangat lembut, bertanya kepada Siena.


"Tentu boleh, mungkin aku bisa menjawabnya," ucap Siena dengan semangat.


"Siapa orang yang kamu cintai ...." Siena terdiam, hanya ada satu orang yang tidak akan pernah hilang di hatinya, dan akan terus menetap di hatinya. Hingga ajal menjemputnya.


"Ibuku ...." semuanya tampak terlihat terkejut dengan jawaban Siena, seseorang pasti akan menjawab para Pangeran. Tapi, kali ini berbeda. "Ibu segalanya bagiku, dia yang mengurusku hingga aku besar, dia yang sudah memberiku petunjuk ke mana aku akan berjalan. Tanpa dirinya seakan aku tersesat," jelas Siena kepada mereka.


"Ibuku membenciku," ucap selir Chunhua diikuti air mata yang mengalir di pipinya, Siena tidak tinggal diam. Ia pun mendekati selir Chunhua dan berlutut di depannya.


"Tidak ada seorang Ibu yang membenci anaknya, mungkin Ibumu memiliki alasan mengapa ia membencimu." Siena mengusap air mata selir Chunhua.


Tangan ini sangat lembut, dan hangat, batin selir Chunhua.


Siena memeluk selir Chunhua secara tiba-tiba, dan itu membuat selir Chunhua terkejut. "Sayangi Ibumu selagi masih ada, walau dirinya membencimu," ucap Siena.


Dia ..., batin selir Chunhua.


Akhirnya mereka saling berpelukan, dengan sangat erat, seakan mereka saling memahami satu–sama lain.


Aku bisa merasakan, wanita ini memiliki hati yang begitu baik, batin selir Luili.


Aku tidak menyangka, jika wanita ini sangat peduli kepada orang lain, batin selir Juan.


Tanpa mereka sadari, dua orang Pangeran tengah memperhatikan Siena.


"Dia milikku, aku akan segera menjadikanmu permaisuriku," ucap Pangeran Mahkota.


Tbc