
"Pangeran Xanras, aku ingin pergi sekarang juga," pinta Siena.
"Tapi––"
"Kumohon, jangan membuatku tersiksa," lirihnya.
Pangeran Xanras menunduk, kemudian mendongak––menatap Siena. "Baiklah," ucap Pangeran tersebut.
Saat Siena mengemasi semua barang-barang miliknya, ia mengambil tusuk rambut pemberian dari Pangeran Xanras, dan memandanginya dengan raut wajah sedihnya. Kemudian ia mengganti pakaian dengan pakaian saat dirinya pertama kali datang di masa lampau, di sana Siena merasa menjadi orang yang jahat, lantaran meninggalkan mereka yang sangat menyayangi dirinya itu.
Selesai mengemasi barang-barang miliknya, Siena pun menemui Pangeran Xanras, Max, Yuwen, dan Jia Li. Tapi, ada kereta kuda dari Istana datang mendekati mereka, saat seseorang yang berada di dalam kereta tersebut turun, orang itu terlihat tidak asing bagi Siena dan lainnya.
"Pangeran Yu Ting ...," gumam Siena.
Pangeran Yu Ting yang melihat Siena mengenakan pakaian aneh, serta tas yang dipakai oleh Siena, dan juga biola yang dibawanya. Seakan-seakan Pangeran tersebut tahu, jika Siena akan meninggalkan Kerajaan Harumsy.
"Siena ... bukankah kamu sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku?" ucap Pangeran Yu Ting.
"Maaf ... aku harus pergi, ah iya! Pangeran Yu Ting––" Siena mengeluarkan sesuatu dari balik saku bajunya, dan memberikannya kepada Pangeran Yu Ting. "Aku dulu pernah berjanji padamu, kalau aku akan menjelaskan tentang planet pluto, bacalah kertas ini ... semuanya sudah kujelaskan di sana," ucap Siena, sembari memberikan kertas tersebut.
Pangeran Yu Ting menatap kertas yang di sodorkan kepadanya, kemudian ia mengambil kertas tersebut dari tangan Siena, dan di saat itu juga ... Pangeran Yu Ting langsung memeluk Siena, sebagai tanda perpisahan mereka.
"Pergilah Siena, selama itu membuatmu bahagia ...," bisiknya di telinga Siena.
Mendengar bisikan dari Pangeran Yu Ting, Siena hanya bisa tersenyum hambar. Dirinya tidak tahu, kenapa semua orang menginginkan dirinya bahagia.
"Terimakasih ... titip salam untuk Pangeran Fengying." mereka pun melepaskan pelukan.
Tatapan Pangeran Yu Ting kini tertuju pada Pangeran Xanras, dirinya menatap Pangeran Xanras seperti tidak asing baginya.
"Bukankah? Kau adalah Pangeran Xanras dari Kerajaan Huarong ... kenapa kau bisa ada di sini?" tanyanya.
"Iya, aku adalah Pangeran Xanras dari Kerajaan Huarong, dan akulah tabib Liu," jawab Pangeran Xanras.
Pangeran Yu Ting sudah lama mencurigai tabib Liu, ternyata benar selama ini dugaannya, tabib Liu adalah Pangeran Xanras.
Ternyata Siena lebih memilih Pangeran Xanras daripada diriku, batin Pangeran Yu Ting.
"Jaga Siena, jangan sampai kau melukainya walau hanya seujung rambut," pintanya, sembari menepuk pundak Pangeran Xanras.
"Tenang saja, aku pasti akan melindunginya, meski nyawaku menjadi taruhannya."
Dan di sanalah mereka berpisah, Pangeran Yu Ting tidak percaya jika wanita yang selama ini ia cinta justru meinggalkannya, rasa sakit yang dirinya rasakan hanya bisa ditutupi oleh senyuman pahitnya itu.
"Selamat tinggal Siena ... aku berharap, dikehidupan selanjutnya, aku bisa memilikimu." raut wajah Pangeran Yu Ting terlihat murung.
"Yang Mulia ... apa anda baik-baik saja?" tanya pengawalnya.
"Ayo kembali ke Istana."
Di dalam kereta kuda, Siena terlihat sedang merenung dan itu membuat Pangeran Xanras mengerutkan keningnya, ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh wanita di sampingnya itu. Sementara Jia Li sendiri, ia juga tampak terlihat sedih, lantaran Max tidak akan pernah kembali lagi.
Mereka semua larut di dalam pikiran mereka masing-masing, perpisahan kali ini benar-benar membuat hati mereka merasa gelisah.
"KAK! KAKAK SIENA!" teriak seseorang dari arah belakang kereta kuda mereka.
Siena yang merasa terpanggil itu kemudian mengeluarkan kepalanya dari jendela kereta kuda, di sana ia melihat Junqing Luwon menunggangi kudanya, dan melambaikan tangannya kepada Siena.
"HATI-HATI DI JALAN KAK! JANGAN LUPAKAN KAMI!" teriaknya, Siena pun membalas lambaian Junqing Luwon.
"TIDAK AKAN!" balas Siena.
Siena kembali duduk. "Apa kamu baik-baik saja ...?" tanya Pangeran Xanras, sembari menyentuh pundak Siena.
"Aku baik-baik saja ...."
Perjalanan masih panjang, sesekali mereka berhenti untuk beristirahat, karna lelahnya berada di dalam kereta kuda. Mereka turun di dalam hutan, sembari mencari aliran sungai untuk memabasuh wajah atau untuk menyejukkan tubuh mereka.
Max berjalan mendekati kakaknya itu yang sejak tadi merenung. "Kak, apa ada yang sedang Kakak pikirkan? Aku sampai tidak bisa membaca pikiranmu."
"Tidak apa-apa Max, aku baik-baik saja ... jangan khawatirkan aku."
"...."
Siena hanya diam, sembari mencerna ucapan yang dilontarkan Max padanya. Melihat kakaknya tidak kunjung menjawab ucapannya itu, ia pun pergi untuk menemui jia Li, yang terlihat ingin menangis.
"Jia Li ... ada apa? Kenapa matamu memerah?" tanya Max, membuat tangis Jia Li akhirnya pecah.
"Max! Kamu tidak akan melupakanku 'kan? Hiks!" Max tersenyum dan menggeleng, ia pun kemudian memeluk Jia Li, agar wanita itu bisa tenang.
Sementara Pangeran Xanras sejak tadi memperhatikan Siena dari balin pohon, Yuwen yang melihat Tuannya itu, kemudian mendekati Pangeran Xanras.
"Yang Mulia ... apa anda yakin? tidak ingin menyatakan perasaan anda kepada Nona Siena?" tanya Yuwen.
"Aku rasa ... Siena sudah mengetahui perasaanku, aku tinggal menunggu dirinya membalas perasaanku, atau ... sebaliknya."
"Yang Mulia ...."
Kisah cinta mereka sungguh rumit, tapi kasihan juga Yang Mulia ..., batin Yuwen.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan, hari pun perlahan mulai gelap, dan lagi-lagi mereka istirahat di dalam hutan, sembari membangun sebuah tenda untuk mereka istirahat.
Keesokan harinya ....
Perjalanan panjang mereka sebentar lagi akan berakhir, Siena yang melihat dirinya akan segera sampai di tempat tujuan hanya terdiam. Dirinya sama sekali tidak berani menatap pria yang ada di sampingnya itu, ia justru menatap Jia Li dan Max, yang telihat sedang menahan sesuatu di hati mereka.
Max sangat mencintai Jia Li, dia rela meninggalkan Jia Li demi kebahagiaanku, apa aku bertindak egois? Sampai-sampai kebahagiaan orang lain tidak aku pikirkan, batin Siena.
"Yang Mulia, kita hampir sampai," ucap Yuwen yang mengedarai kereta kuda.
Akhirnya mereka sampai juga di depan mulut gua, Siena dan yang lainnya pun turun dari kereta kuda. Siena hanya berdiri mematung di sana, kakinya terasa sangat berat sekali untuk melangkah masuk ke dalam gua.
'Jangan membohongi perasaanmu, Kak. Pangeran Xanras sangat mencintaimu ... dia hanya takut kau menjauhinya.'
Ucapan Max terus teringiang-ngiang di dalam kepalanya.
"Siena ... ada apa?" tanya Pangeran Xanras, membuyarkan lamunan Siena.
"Ti-tidak, ayo masuk."
Mereka berlima berjalan menyusuri mulut gua, mereka juga tidak menyangka ada gua yang cukup panjang. Sepanjang perjalanan, mereka melihat cahaya biru dari arah depan, mereka pun mengikuti sinar tersebut. Hingga akhirnya, mereka sampai di ujung gua, di sana terlihat ada portal yang membawa Siena dan Max kembali ke masa depan.
"Kak, portalnya memudar! Kita hanya memiliki dua pilihan, menetap di sini atau kembali ke masa depan. Keputusan ada di tanganmu, kak!" ucap Max.
Sementara Siena masih berdiri mematung di sana, ia menoleh ke arah Pangeran Xanras yang berada tepat di belakangnya.
"Pergilah Siena ... jangan pikirkan aku ...," ucap Pangeran Xanras.
Apa jalan yang aku ambil ini sudah benar? Batin Siena.
Siena kembali menatap portal di hadapannya yang perlahan-lahan memudar, ia pun melangkahkan kakinya menuju portal tersebut, bersamaan dengan Max. Namun, Siena tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadap Pangeran Xanras, dan berjalan mendekati pria tersebut.
"Siena ... ada apa?" tanya Pangeran Xanras.
"Kak ...," panggil Max.
Portal itupun perlahan-lahan mengecil, membuat Yuwen dan Jia Li bingung, dengan apa yang akan dilakukan oleh dua kakak beradik itu.
"Pangeran Xanras ... bagaimana jika kebahagiaanku adalah bersamamu ...," ucap Siena, berhasil membuat Pangeran Xanras tersenyum dan memeluk Siena dengan sangat erat. "Apa aku boleh berada di sisimu untuk selamanya?" tanyanya.
"Tanpa kamu meminta, aku sudah memintamu lebih dulu untuk berada di sisiku selamanya," balas Pangeran Xanras.
Di sana Max dan Jia Li juga terlihat senang, akhirnya mereka bisa bersama juga, berbeda dengan Yuwen yang terlihat sedang menggambar di atas tanah.
"Ibu, anakmu ini kapan mendapatkan jodoh hiks!" lirih Yuwen, saat melihat kedua pasangan itu saling berpelukan.
"Siena ...." Pangeran Xanras melepaskan pelukannya, dan menatap kedua bola mata indah milik Siena. "Maukah kamu menjadi istriku satu-satunya?" tanya Pangeran Xanras, membuat Siena tersenyum.
"Aku menerimamu, Pangeran Xanras ...."
END