Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
22



Setelah berhasil mengambil bahan yang tabib itu suruh, mereka pun segera kembali ke rumah. Tanpa menunggu lama lagi, tabib tersebut segera menumbuk bahan yang sudah mereka ambil. Setelah semuanya tercampur, tabib itu pun meminumkan obat tersebut ke mulut Siena, mereka berharap. Siena segera sadar, dan bisa kembali seperti sedia kala.


Tak lama, jari Siena bergerak. Matanya, perlahan terbuka, walau belum sepenuhnya jelas. Mereka semua yang ada di sana merasa sangat senang akhirnya seseorang yang mereka nantikan sadar juga. Siena berusaha untuk duduk dari tempat tidurnya, sembari memegang kepalanya yang masih terasa sakit, tabib itu pun dengan cepat membantu Siena untuk duduk.


"Terimakasih, siapa kamu?" tanya Siena kepada tabib itu.


"Saya Liu Chengseng, seorang tabib yang membantu menyembuhkan anda," jawabnya.


"Terimakasih tabib Liu." tabib itu tersenyum kepada Siena.


Aneh, kenapa aku tidak bisa merasa apa-apa pada tabib ini, sama seperti aku yang tidak bisa merasakan apa-apa pada Pangeran Xanras, batin Siena heran.


"Apa yang terjadi, ke mana Pangeran Yu Ting, dan Pangeran Fengying," tanya Siena kepada mereka bertiga.


"Yang Mulia, baru saja dipanggil oleh Yang Mulia Kaisar untuk segera kembali ke Istana," jawab Fengfeng.


Siena lupa, jika dirinya belum berkenalan dengan pengawal Pangeran Fengying itu. "Oh iya, pengawal Pangeran Fengying, siapa namamu?" tanya Siena.


"Nama saya Fengfeng yin, Nona."


"Senang berkenalan denganmu Fengfeng." Fengfeng tersenyum mendengar balasan dari Siena yang begitu ramah padanya.


"Maaf Nona, saya harus segera pergi," pamit tabib Liu kepada Siena.


Kini Siena mengarahkan pandangannya kepada tabib tersebut, Siena penasaran dengan topeng yang digunakan oleh tabib Liu. Tapi, segera ia singkirkan rasa penasarannya itu.


"Baiklah, Kaili ... bisakah kamu mengambilkan 10 keping emas, untuk tabib Liu," perintah Siena, Kaili pun hendak pergi mengambil emas tersebut. Namun, dirinya dicegah oleh tabib Liu.


"Tidak perlu, cukup melihat anda sembuh, sudah membuat saya senang Nona," ucapnya, dan itu membuat Siena tersenyum.


Akhirnya, tabib Liu pun pergi. Sementara Siena, merasa ada sesuatu yang berbeda di dalam tubuhnya. Dirinya pun bertanya kepada Kaili dan juga Fengfeng, apa yang terjadi padanya saat dirinya terkena racun itu. Mereka berdua pun menjelaskan kepada Siena, jika ia diseret oleh pelayan Istana dan juga Wenying ke dalam sebuah kolam.


Apa lagi yang akan terjadi pada diriku, batin Siena.


"Fengfeng, apa kolam itu ajaib?" tanya Siena penasaran. Sementara Falresia dibuat terkejit, sekaligus ingin tertawa mendengar ucapan aneh Siena itu.


"Adik, itu tidak mungkin ...." ucap Falresia, yang diikuti oleh anggukan Fengfeng.


Sementara Kaili dibuat tertawa olehnya, bagi Kaili, kakaknya ini belum sepenuhnya sembuh. Siena yang melihat adiknya tertawa lepas itu, hanya memasang raut wajah datarnya.


"Benar Nona, itu hanya kolam biasa."


Lalu, kenapa saat dirinya tercebur ke dalam kolam itu, dirinya merasakan ada sesuatu yang aneh. Bahkan, ia bisa merasakan niat seseorang, akibat dirinya tercebur ke dalam kolam tersebut.


"Nona Siena! Apa kamu baik-baik saja." tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar Siena, dan langsung memeluknya dengan erat.


"Ibu Rong, tenanglah ... aku sekarang sudah membaik," ucap Siena, membuat ibu Rong Li merasa lega mendengarnya.


"Syukurlah, aku akan membuatkanmu bubur."


"Tidak perlu repot-repot Ibu Rong."


"Tidak apa Nona, saya hanya ingin membuatkanmu bubur saja." Siena tidak bisa menolaknya, akhirnya. Ibu Rong Li pergi, untuk membuatkannya bubur.


"Fengfeng, kira-kira hukuman apa yang akan diberikan oleh Yang Mulia Kaisar," tanya Siena penasaran.


"Saya rasa, besok mereka akan dieksekusi mati," jawabnya.


Siena mengangguk, itu adalah hukuman yang impas dengan perbuatan mereka kepada selir Juan, dan selir Chunhua. Siena meminta kepada Fengfeng untuk mengajaknya ke Istana besok, dirinya ingin melihat bagaimana keadaan tiga orang itu.


...***...


Keesokan harinya ....


Fengfeng datang menjemput Siena untuk mengajaknya ke Istana. Sementara Kaili, ia pulang ke Kerajaan Zhufen, karna tiba-tiba pengawal pribadinya memberikan pesan kepadanya. Jika, Permaisuri saat ini sangat membutuhkannya. Siena pun menyuruhnya untuk kembali, walau ... Max sangat berat untuk meninggalkan, kakaknya itu.


"Siena," sapa keduanya Pangeran itu kepada Siena.


"Bolehkah aku menemui Wenying, untuk terakhir kalinya," pinta Siena kepada Pangeran Fenying.


"Baiklah, aku izinkan."


Siena pun mendekati mereka bertiga. Sementara itu, semua orang yang melihat Siena mendekati mereka, terheran-heran.


"Kau senang? Melihatku seperti ini," sinis Wenying kepada Siena.


"Wenying, aku bukan tipe orang, yang berbahagia di atas penderitaan orang lain."


"Cih! Omong kosong."


"Walaupun kamu salah, aku masih menganggapmu sebagai saudaraku. Wenying, aku menemukan gelang ini, saat kamu turun dari kereta kudaku." Siena mengeluarkan gelang giok dari saku celananya.


Wenying yang melihat gelangnya itu, terdiam. "Aku bisa merasakan, jika gelang ini ... sangat berarti bagimu, orang yang memberikanmu gelang ini adalah ... Kun Qiang, apa itu benar?" tanya Siena.


Air mata Wenying tiba-tiba mengaliri pipinya, dirinya tidak percaya. Jika, Siena mengetahui seseorang yang sangat berarti baginya.


"Ba-bagimana ... kau bisa mengetahuinya ...."


"Ternyata benar, aku memimpikannya. Dia berkata padaku, jika kamu sebenarnnya adalah wanita yang baik, dan penuh kasih."


"Siena, terimakasih ... kau sudah menyadarkanku, dan masih menganggapku sebagai saudaramu, aku akan menerima eksekusi ini. Dan aku ingin segera menemui Kun Qiang," ucapnya.


Siena langsung memeluk Wenying, kini Siena merasa kesedihan yang amat mendalam, dari mereka bertiga.


Setelah berbicara dengan Wenying, Siena mendekati Pelayan tersebut, dan bertanya kepadanya. Jika, dirinya terpaksa melakukan ini, lantaran tidak ingin disiksa, dan ia melakukan ini semua karna, demi adik-adiknya. Dirinya menjadi pelayan juga karna terpaksa––harus menjadi tulang punggung keluarganya, kedua orangtua pelayan itu sudah lama tiada, dan dirinya tinggal bersama dengan 2 adiknya yang berumur 15, dan 9 tahun.


"Kamu tinggal di mana," tanya Siena kepadanya.


"Saya tinggal di dekat toko kayu, disekitar Istana ini."


"Siapa nama Adik-adikmu."


"Ning'an, dan Junqing luwon."


"Aku akan merawat dan menjaga mereka berdua, seperti Adikku sendiri." pelayan tersebut terkejut mendengar ucapan Siena, dirinya tidak menyangka, ada seseorang yang peduli dengan kehidupannya itu.


"Terimakasih banyak, Nona. Dengan begini, aku bisa pergi dengan tenang."


Siena tersenyum, dan mengangguk. Dirinya pun berjalan mendekati selir Ling Ling, selir itu sejak tadi menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Terimakasih," ucapnya kepada Siena.


Siena bingung mendengar ucapannya itu, Siena pun bertanya padanya, kenapa ia berterimakasih kepadanya. Selir Ling Ling menjawab pertanyaannya itu, dan berhasil membuat Siena terkejut. Kehidupan selir Ling Ling sebelum masuk ke dalam Istana sangatlah menyedihkan, sejak kecil ... dirinya dibuang oleh kedua orangtuanya, dan saat itu ia diangkat oleh orangtua angkatnya. Namun, saat dirinya dewasa, selir Ling Ling dijual di rumah bordil, oleh orangtua angkatnya itu. Sampai pada akhirnya, selir Ling Ling bertemu dengan Pangeran kedua, dan menjadikannya sebagai gundiknya.


"Selir Ling Ling, kamu adalah wanita yang kuat, dan tegar."


"Terimakasih, berkatmu ... aku bisa bebas dari penderitaan ini," ucap selir Ling Ling.


Setelah berbicara dengan ketiga wanita itu, Siena pun berjalan menghadap sang Kaisar, dan memintanya untuk memberikan eksekusi yang pantas untuk ketiganya.


"Mereka bertiga berniat membunuhmu, kenapa kau meminta padaku untuk memberikan eksekusi yang pantas. Dan mereka juga, sudah membunuh selir Chunhua, dan selir Juan, dengan cara tidak wajar," jelas sang Kaisar.


"Sejahat-jahatnya perbuatan mereka, mereka masih manusia, dan masih memiliki perasaan. Mereka melakukan semua ini karna merasakan penderitaan yang begitu menyedihkan, saya mohon kepada Yang Mulia Kaisar, untuk memberikan eksekusi yang pantas untuk mereka bertiga." Siena langsung berlutut, dengan kedua tangannya saling menggenggam di depan keningnya.


Mendengar jawaban dari sang Kaisar, mereka berdua terkejut, begitu juga dengan para saksi yang ada di sana.


Tbc