Violin Girl And Prince

Violin Girl And Prince
36



Keesokan harinya ....


Matahari menembus sela-sela jendela kamar Siena, ia pun perlahan membuka kedua matanya.


Kenapa aku bisa ada di kamar? Atau jangan-jangan ..., batin Siena, wajahnya langsung memerah.


"Tidak mungkin, berpikirlah yang waras Siena," ucapnya pada diri sendiri.


Mengingat hari ini ia harus segera ke Istana, Siena pun langsung pergi untuk bersiap-siap, setelah itu. Ia pun segera menemui Pangeran Xanras dan lainnya, ia tidak ingin terlambat memberitahukan kepada Kaisar tentang masalah ini.


"Ayo, kita harus segera ke Istana," ajak Siena, dirinya melihat raut wajah Max, yang terlihat terkejut sekaligus khawatir. "Ada apa denganmu, Max?" tanya Siena.


"Mereka sudah membangun perkemahan militer di perbatasan, Kak."


Mendengar kabar tersebut, ia berharap masih ada harapan untuk bisa membuat sebuah rencana dengan Kaisar, dan para Pangeran lainnya.


"Bagaimana Pangeran Xanras, kita harus segera ke Istana sekarang juga." kekeh Siena, ia pun langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari yang lainnya.


"Siena, apa kamu sudah siap? Memberitahukan hal ini kepada Kaisar," tanya Pangeran Xanras, Siena berhenti dan membalikkan badannya, kemudian menatap Pangeran Xanras dengan tatapan yakin, serta anggukan mantap darinya.


Akhirnya, mereka bertiga pergi ke Istana, seperti yang Siena duga, Kaisar dari Kerajaan Huarong pasti sudah mencurigainya, dan juga Max. Tapi, saat dirinya berhadapan langsung dengan Kaisar Tao dari Kerajaan Huarong, Siena merasakan ada dendam yang begitu mendalam, di dalam hati Kaisar tersebut. Dirinya juga tidak tahu, dendam apakah yang dimiliki oleh Kaisar Tao terhadap Kerjaan Harumsy.


"Aku harap, peperangan ini tidak terjadi," ucap Siena, tubuhnya tiba-tiba lemas, lantaran membayangkan peperangan yang akan terjadi.


"...."


"Tenanglah Kak, kita pasti bisa menghadapi mereka," ucap Max, berusaha untuk membuat kakaknya kembali semangat.


Sesampainya di Istana, Siena melihat Pangeran Yu Ting sedang berjalan menuju aula, dan tanpa sengaja mata mereka saling menatap satu-sama lain. Pangeran Yu Ting, yang melihat kedatangan Siena langsung berlari ke arahnya, dan memeluk Siena secara tiba-tiba.


"Ke mana saja Kamu, Siena ... aku sangat merindukanmu," ucap Pangeran Yu Ting, yang masih memeluk Siena dengan sangat erat.


"Maaf Yang Mulia, anda tidak boleh sembarangan, memeluk wanita milik orang lain," ucap Pangeran Xanras, dengan nada dingin. Membuat Pangeran Yu Ting, melepaskan pelukannya.


Apa-apaan ini? Wanita milik orang lain, batin Siena, sembari mengernyitkan dahinya.


Pangeran Xanras kemudian mendekati wanita itu, dan menggenggam erat telapak tangan Siena. Melihat hal tersebut, membuat Pangeran Yu Ting hanya bisa tersenyum pahit, saat wanita yang sangat ia cinta, kini bersama dengan pria lain.


Eh ..? Ke-kenapa dia, heh ...? Batin Siena gugup, ia tidak tahu harus berkata apa, melihat perlakuan Pangeran Xanras terhadap dirinya.


"Ada apa kalian kemari?" tanya Pangeran Yu Ting.


"Pangeran Yu Ting, kami ingin berbicara dengan Yang Mulia Kaisar," sahut Max.


"Kebetulan, Ayah ada di dalam aula."


Mereka berempat pun masuk ke dalam aula bersama, saat memasuki aula. Siena melihat Pangeran Fengying, yang terlihat enggan melihat kedatangannya, ia pun memaklumi hal itu, lantaran Siena tahu. Jika, Pangeran Fengying berusaha untuk melupakan dirinya.


Siena yang merasa risih, karna tangannya digenggam oleh Pangeran Xanras, membuat Pangeran tersebut seakan tahu apa yang Siena rasakan. Ia pun, melepaskan genggamannya, dan itu membuat Siena merasa lega.


"Salam Yang Mulia," salam mereka bertiga, membuat Kaisar Xin mengernyit bingung, saat melihat kedatangan Siena, Max, dan seorang pria yang tidak ia kenal.


"Ada keperluan apa kalian kemari?" tanya Kaisar Xin kepada mereka bertiga.


"Prajurit, dan para pelayan yang lain, silakan keluar dari aula," perintah sang Kaisar, mereka pun pergi meninggalkan aula. "Jelaskan padaku, bagaimana kalian bisa mengetahuinya."


Siena pun menjelaskan kepada Kaisar Xin, bagaimana ia mengetahui penyerangan tersebut, mulai dari dirinya yang diculik oleh Pangeran Mahkota dari Kerajaan Huarong, hingga dirinya mengetahui penyerangan itu.


Jadi, selama ini dia berada di Kerajaan Huarong. Tapi, kenapa Pangeran Mahkota menculik Siena, batin Pangeran Yu Ting.


"Kapan mereka akan melakukan penyerangan?" tanya Kaisar tersebut kepada Siena.


"Maaf Yang Mulia, saya kurang tahu," jawabnya.


Di sana Siena tampak sedang berpikir, dendam apa yang sebenarnya yang dimiliki oleh Kaisar Tao, andai dirinya mengetahui masalah dendam tersebut. Tiba-tiba Siena ingat, jika adiknya memiliki kemampuan membaca pikiran seseorang.


"Max, apa kamu tahu? Dendam apa yang dimiliki oleh Kaisar Tao," bisik Siena kepada adiknya.


Max sedang mengingat, dirinya sempat membaca pikiran Kaisar Tao, saat pesta pemilihan selir Kerajaan saat itu.


"Aku tahu, Kak."


Siena tersenyum puas, ia sangat senang, lantaran Max memiliki kemampuan membaca pikiran seseorang, dengan begitu, ia akan lebih mudah mengetahui inti dari penyerangan ini.


"Yang Mulia, Kaisar Tao ingin membalaskan dendamnya, atas kematian Adiknya yang bernama Ching Cheng," jelas Max.


Ternyata hanya sebuah kesalahpahaman saja, batin Kaisar Xin


Sementara itu, Pangeran Xanras hanya memasang tatapan dinginnya.


"Pangeran Jianying, dan Nona Siena. Silakan ikuti aku, sementara yang lain. Buat rencana, jika sewaktu-waktu Kerajaan Huarong menyerang. Dan Panggil Jenderal Long Wu kemari, untuk mengatur pasukan," perintah Kaisar tersebut kepada mereka semua.


Siena dan Max, mengikuti Kaisar tersebut ke sebuah taman kediamannya. Sepertinya, ada hal yang sangat penting, yang ingin ia sampaikan kepada keduanya.


"Sebenarnya Ching Cheng, meninggal dunia akibat penyakit yang dideritanya," ucap Kaisae Xin, membuat kepala merasa sedikit pusing, lantaran pemikiran Kaisar yang sulit dimengerti.


"Ceritakan Yang Mulia," pinta Siena.


Kaisar Xin mulai menceritakan kepada mereka berdua, di mana saat itu dirinya baru saja diangkat menjadi seorang Kaisar, dan hubungan Kaisar Xin dengan Ching Cheng sangatlah dekat, bisa dibilang, mereka bersahabat. Dan disaat itu juga Ching Cheng pergi menemuinya untuk memberitahukan, tentang penyakit yang dideritanya, dan ia meminta kepada Kaisar Xin, agar dirinya tinggal di Kerajaan Harumsy. Kaisar Xin, sempat menolak permintaan Ching Cheng, tapi saat dirinya melihat mata sahabatnya itu yang penuh harapan, membuat Kaisar Xin mempebolehkan Ching Cheng untuk tinggal bersamanya. Selang beberapa hari, keadaan Ching Cheng semakin memburuk, semua tabib Istana berusaha untuk menolongnya. Namun, Ching Cheng meminta semua tabib untuk pergi meninggalkannya, kecuali sahabatnya itu.


Kaisar Xin terduduk lemas, melihat keadaan sahabatnya yang semakin memburuk, tapi Ching Cheng memintanya untuk tidak mengkhatirkan dirinya. Di sana Ching Cheng berkata kepada Kaisar Xin, alasan dirinya tinggal di Kerajaan Harumsy, lantaran ia tidak ingin membuat kakaknya mengetahui keadaannya, dan tidak ingin melihat kakaknya terpuruk atas kepergiannya. Ching Cheng sangat menyayangi kakaknya, begitu juga dengan kakaknya yang menyayangi Ching Cheng. Kaisar Xin hanya bisa diam, dan berusaha menahan tangisnya, ia merasa bodoh, karna tidak mengetahui penyakit yang diderita sahabatnya––sebuah benjolan yang ada di dalam kepalanya, biasanya kalau orang modern bilang, penyakit itu sebuah kanker ganas.


"Kaisar Tao mengira, aku yang membunuh Adiknya, karna pada saat itu aku tidak ikut mengantar jenazah Ching Cheng ke Kerajaan Huarong. Saat itu juga, aku sedang terpuruk atas meninggalnya Ching Cheng. Tapi, Ching Cheng sempat meninggalkan surat, dan giok untuk Kaisar Tao, dia meminta kepadaku untuk memberikannya di saat waktu yang tepat, dan inilah waktu yang tepat," jelas Kaisar Xin.


"Yang Mulia, bagaimana jika pengawal saya, dan pengawal Pangeran Fengying, yang mengantarkan surat tersebut kepada Kaisar Tao, saya rasa mereka berdua bisa diandalkan," saran Siena kepada Kaisar tersebut.


"Baiklah, kalau begitu panggil mereka berdua kemari."


"Max, kamu panggil pengawal Pangeran Fengying, sementara aku akan mengajak Kaili kemari," ucap Siena, dan mendapatkan anggukan dari Max.


Mereka berdua pun pergi dari kediaman Kaisar Xin.


Tbc