
Keesokan harinya ....
Siena tidak paham pada pria itu, kenapa tiba-tiba Pangeran tersebut akan mengeluarkan dirinya dari sini. Padahal ... sewaktu dirinya meminta pria itu untuk menunjukkan jalan keluar, justru Pangeran tersebut seolah tidak membolehkannya keluar dari tempat ini.
"Jia Li, kenapa Pangeran Xanras tiba-tiba ingin mengeluarkan aku dari tempat ini," tanya Siena kepada Jia Li.
"Maaf Nona, saya tidak bisa menjawabnya, biarkan Pangeran Xanras sendiri yang menjawabnya." Siena tampak bingung, dirinya merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Pangeran itu.
Pangeran Xanras secara tiba-tiba masuk ke kamar, dan mengajak Siena untuk ikut bersamanya.
"Salam Yang Mulia."
"Jia Li, di mana pakaianku?" tanya Siena.
"Akan saya ambilkan, Nona." Jia Li pergi mengambil pakaian milik Siena.
Jia Li memberikan pakaian kepada Siena, baiklah. Hari ini adalah hari terakhir dirinya berada di sini, pasti ia sangat merindukan Jia Li yang sangat baik kepadanya. Semua orang yang ada di sini sangat ramah padanya, hanya saja ... dirinya tidak bisa tinggal di sini lebih lama. Lantaran, ia masih memiliki sebuah tanggung jawab di rumah.
"Terimakasih, Jia Li. Aku ada sesuatu untukmu," ucap Siena sembari memberikan sesuatu di tangan Jia Li.
"Nona, apa ini tidak berlebihan?" tanya Jia Li tidak percaya menerima sebuah kalung dari Siena.
Siena hanya tersenyum, dan menggeleng. Bagi Siena, harta bukanlah segalanya. Kalung yang Siena berikan kepada Jia Li, adalah kalung pemberian ayahnya dulu, Siena tidak bermaksud untuk menghilangkan kenangan dari ayahnya itu. Hanya saja, dirinya hanya ingin memberikan kepada seseorang yang ia anggap pantas menerimanya.
Sementara Pangeran Xanras, hanya diam dan kagum, melihat perlakuan Siena yang sungguh baik kepada pelayannya.
"Jaga kalung itu baik-baik, anggap saja sebagai tanda pertemanan kita," ucap Siena, Jia Li tersenyum dan langsung memeluk Siena.
"Terimakasih," ucap Jia Li, sembari melepaskan pelukannya.
"Sama-sama, baiklah ... aku harus pergi sekarang, sampai jumpa." Siena pun pergi bersama Pangeran Xanras.
Mereka berdua pun, pergi ke dalam sebuah hutan yang letaknya tidak jauh dari kediaman Pangeran tersebut. Sesampainya di depan gua yang berbeda. Siena memandang Pangeran Xanras, dengan tatapan penasarannya, alasan kenapa Pangeran tersebut menyuruhnya pulang secara tiba-tiba.
"Kamu tidak akan aman, jika bersamaku," ucap Pangeran Xanras tiba-tiba, baru saja dirinya ingin bertanya, ternyata Pangeran tersebut sudah tahu apa yang ingin Siena tanyakan.
"Kenapa?" tanya Siena.
"...."
"Jawab," tegas Siena, dirinya benar-benar sudah diselimuti oleh rasa penasarannya.
"Banyak yang menginginkan nyawaku," jawabnya, membuat tubuh Siena mendadak lemas.
Bukankah? Kehidupannya sudah cukup menderita? Kenapa, masih ada orang yang ingin membunuhnya? Batin Siena.
Siena diam, dirinya tidak bisa menahan rasa sakit apa yang pria itu rasakan. Siena bingung, dirinya ingin sekali menolong pria yang ada di sampingnya itu. Tapi, di sisi lain ia harus menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu.
Siena sangat muak melihat seseorang yang mengambil kebahagiaan milik orang lain, rasanya ia ingin menghajar orang yang berniat membunuh pria itu. Kehidupan di dalam Istana sangat kejam, tidak pernah terpikirkan oleh Siena. Jika, ada yang lebih kejam dari pikirannya itu.
"Jangan mengkhawatirkanku, aku bisa mengatasi mereka sendiri," ucap Pangeran Xanras, sembari mengusap pucuk kepala Siena.
"Hey-hey, bagaimana jika kita menjadi partner, setelah aku menyelesaikan masalahku, aku akan membantumu," ajak Siena, sementara Pangeran itu hanya tersenyum.
"Aku tidak ingin kamu terlibat."
"Aku punya bakat menjadi seorang mata-mata, ayolah ... mari kita berkerja sama," rayu Siena.
Pangeran Xanras memegang kedua bahu Siena, matanya tertuju pada mata Siena.
Baiklah, jika itu maunya, aku tidak bisa memaksa, batin Siena.
...***...
Akhirnya mereka sampai, di sana Siena dan Pangeran, melihat sebuah tenda yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Siena menoleh ke arah pria yang ada di sampingnya itu, rasa ingin membantunya semakin besar.
"Pergilah, mereka sudah menunggumu. Aku akan terus mengawasimu," bisik Pangeran tersebut di telinga Siena.
"Apa? Mengawasi?" tanyanya bingung.
Yang ditanya justru hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Siena, yang masih berdiri dalam keadaan bingung itu.
Kamu hanya milikku, tak akan kubiarkan orang lain menyakitimu, batin Pangeran Xanras, kemudian dirinya hilang dalam kegelapan.
Siena pun segera mendekati tenda tersebut, semakin Siema mendekat, semakin dirinya mendengar suara Max. Siena tidak percaya, jika dirinya membuat mereka khawatir.
"Max!" panggil Siena, sembari melambaikan tangannya kepada Max. Tapi, justru mereka yang ada di sana langsung menoleh ke sumber suara.
"Kak Siena! Syukurlah kamu selamat Kak," ucap Max, langsung memeluk Siena dengan sangat erat.
Sementara kedua Pangeran itu, merasa iri lantaran tidak mendapatkan sebuah pelukan dari Siena.
"Ehem!" dehem kedua Pangeran tersebut, mereka berdua pun melepaskan pelukan.
"Kak, hanfu siapa yang kamu pakai?" tanya Max.
Di sana Siena bercerita sedikit tentang dirinya yang menghilang, Siena bercerita. Jika, dirinya tersesat di dalam sebuah hutan, dan ditolong oleh seseorang. Dan selama itu ia membantu orang yang sudah menyelamatkannya, dengan membantu orang tersebut memainkan alat musik yang ia bawa. Siena sengaja berbohong kepada mereka bertiga, ia tidak ingin mereka mengetahui hal yang sebenarnya terjadi.
"Tapi, hanfu yang kamu kenakan, adalah hanfu yang biasa dipakai oleh Putri Kerajaan," ucap Pangeran Fengying.
Siena terkejut, dan bingung harus berkata apa keada mereka. Siena mulai memikirkan sesuatu hal yang masuk akal, untuk dijadikan sebuah jawaban.
Untung saja rambutku tidak dihias, hanya digerai saja, batin Siena lega.
"Pemilik pakaian ini sangat baik padaku, Ayahnya mungkin seorang pejabat. Mungkin saja ia membeli sendiri pakaian ini, lagi pula tidak harus Putri Kerajaan, 'kan? Yang memakainya?" ucap Siena berbohong.
Baiklah, hari ini aku sudah banyak membohongi mereka, pikir Siena.
"Baiklah, yang penting sekarang dirimu kembali dengan selamat, mari kita kembali ke Istana. Siena kamu naik kuda bersamaku," ajak Pangeran Fengying.
"Tidak, Siena harus bersamaku," tolaknya.
"Aduh!" gumam Siena, menepuk keningnya. "Aku bersama Max, saja."
"Kak, aku membawa tenda. Jadi, tidak bisa bersamamu," jawab Max.
Siena pun berpikir, agar dua makhluk itu tidak merebutkan dirinya. Akhirnya ... sebuah lampu muncul dari kepalanya, ia memiliki sebuah ide yang cukup bagus.
"Baiklah, begini lebih baik," ucap Siena dengan antusias.
"Lebih baik dari mana?" protes Pangeran Yu Ting.
Jadi, di sana Siena meminta maaf Pangeran Yu Ting untuk duduk, di atas kuda milik Pangeran Fengying. Jadi, intinya mereka berdua satu kuda, sementara Siena menunggang kuda sendirian.
"Mari kita pulang," ajak Siena, mereka pun kembali ke Istana.
Tbc