
6 bulan kemudian ....
Toko baju, tempat penginapan, rumah makan dan rumah milik Falresia, semuanya sudah selesai, bukan hanya itu saja. Siena dan Falresia, sudah memiliki pegawai sendiri, banyak yang bekerja dengan mereka berdua.
Jangan lupakan Kaili—ia sekarang bekerja sebagai pelayan Siena, sementara ibunya Kaili, bekerja di toko baju—karena ibunya memiliki bakat menjahit yang luar biasa bagus.
Siena lega, akhirnya ia bisa pergi mengelilingi negeri ini, tanpa harus khawatir lagi. "Kaili ...," panggil Siena.
"Iya, Nona." Siena sudah memberitahu Kaili bahwa dirinya adalah seorang wanita, Kaili sempay terkejut mendengarnya, namun, Siena memaklumkannya.
"Ayo kita keliling Negeri ini, aku sudah menyiapkan kebutuhan kita selama diperjalanan, kamu ambil saja di pojokan dekat kamar." Kaili mengangguk dan segera mengambil apa yang Siena suruh.
"Adik Siena, hati-hati di jalan, aku akan selalu mendoakanmu," ucap Falresia.
Di sana Chio berlari ke arah Siena, sambil menangis tersedu-sedu. "Kak Siena, jangan lama-lama perginya," ucap Chio sambil memeluk erat Siena.
"Chio tenang saja, Kak Siena, gak bakalan lama kok," ucap Siena berusaha menenangkan Chio, yang tak kunjung berhenti menangis.
"Kakak janji?"
"Janji." mereka berdua, Chio dan Siena menyatukan jari kelingking mereka.
"Berhati-hatilah Nona Siena. Kaili, jaga Nona Siena dengan baik, jangan sampai terjadi sesuatu padanya," ucap ibu Kaili dengan was-was.
"Tenang saja Ibu, aku akan baik-baik saja, aku titip mereka berdua padamu, sampai berjumpa lagi, dah ...!" Siena pun pergi sembari melambaikan tangannya kepada Chio, Falresia, Ibu Kaili, dan para pegawai mereka.
Selama diperjalanan, Siena menghidupkan lagu lewat handphone miliknya, untungnya masih ada 98% dan untungnya Siena membawa power bank— yang masih penuh dayanya. Tapi, saat Kaili mendengar lagu tersebut tampak keheranan.
"Nona, aku baru pertama kali dengar suara ini, apa ini, Nona?" tanya Kaili bingung.
"Ini namanya musik pop, coba kamu lihat ini—" Siena menunjukan gawainya kepada Kaili, Kaili yang melihat gawai itu hanya bisa mengerutkan keningnya. "Musiknya bisa diganti dengan musik yang lain, bukan hanya itu saja, kita berdua bisa foto lewat handphone ini."
Siena pun membuka apk kamera yang ada di handphonenya, dan mengarahkan kamera depan di hadapan wajah mereka berdua.
Ckrek!
Lihat ini, Siena menunjukan foto mereka berdua kepada Kaili. "Wah! Keren sekali, bagaimana kau bisa mendapatkan benda ini?" tanya Kaili kepada Siena.
Siena tidak mungkin akan berkata jika dirinya berasal dari masa depan. "Aku kemarin menemukannya di dalam hutan, untung saja, aku tahu cara menggunakannya." di sana Kaili mengangguk paham.
...***...
Seorang pria sedang berjalan tertatih-tatih, sambil menahan sakit di perutnya yang terluka sangat parah.
"Aku akan membalas kematian Ibuku, sshh!" desah pria itu sambil menahan sakit di perutnya—ia tengah bersandar di pohon besar.
Hari mulai menjelang sore, awan mulai berkumpul, dan siap untuk menurunkan hujan. Tidak membutuhkan waktu lama, setetes air hujan pun jatuh—hingga hujan lebat mengguyurnya.
Siena yang menghidupkan senter hpnya, untuk menerangi perjalanannya, tiba-tiba melihat seseorang yang sedang duduk di sebuah pohon besar.
"Kaili berhenti." Kuda yang di bawa Kaili dan Siena pun berhenti. "Nona, tunggu aku, hati-hati Nona."
"Astaga! Kaili, cepat bawa pria ini ke dalam kereta, dia terluka parah," ucap Siena yang terkejut itu.
Kereta yang mereka naiki berjalan dengan sangat cepat, baru pertama kali ini, Siena melihat seseorang yang terluka sangat parah, ia sangat takut bahkan panik melanda dirinya.
Kaili membawa mereka ke rumah sang tabib, untungnya Kaili paham daerah ini.
Sesampainya di rumah tabib, Siena berusaha membawa turun pria tersebut—dibantu oleh Kaili. "Permisi, Pak, tolongin teman saya," ucap Siena, sembari mengetuk pintu rumah tabib tersebut.
Tak lama, seorang pria tua membuka pintunya, dan tampak teelihat terkejut apa yang ia lihat. Segera pria tua tersebut, menyuruh mereka untuk masuk ke dalam rumah.
"Selamatkan dia," ucap Siena yang masih memasang wajah paniknya itu.
"Nona, tenanglah ... tabib akan segera menolongnya." Kaili berusaha untuk menenangkan Nonanya itu.
"Luka ini bisa disembuhkan Nona, kau tenanglah—" Siena mengangguk. "Kalian berdua bisa istirahat di sini, hujan turun sangat lebat di luar sana," ucap pria tua tersebut.
Di sana Siena dan Kaili setuju dengan tabib tua itu, lagian rumah ini lumayan cukup besar. Selain itu, ada banyak kamar di rumah ini. Tapi, Siena memilih untuk tidur di kursi yang berada tepat di samping ranjang pria yang sedang terbaring lemah itu.
"Nona, biar aku saja yang tidur di sini," ucap Kaili.
"Tidak perlu, kamu tidurlah di tempat lain," tolak Siena kepada Kaili, Kaili pun menurut kepadaa Siena, akhirnya ia tidur tak jauh dari Siena dan pria tersebut.
...***...
Pagi harinya ....
Pria yang terluka itu terbangun dari tidurnya, ia melihat seorang wanita tengah tidur dengan berbantalan lengannya.
Siapa wanita ini? Batin pria tersebut.
Tiba-tiba wanita tersebut terbangun dari tidurnya, dan kemudian melihat seorang pria tampan yang tengah menatapnya dengan keheranan.
"Ah! Kamu ternyata sudah bangun, tabib!" panggil Siena kepada Dokter tersebut yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kondisinya sudah membaik, untuk sementara waktu, kau istirahat terlebih dahulu, untuk memulihkan lukamu. Aku akan pergi untuk mencari obat." tabib itu pun pergi meninggalkan mereka berdua, sementara Kaili, ia masih setia memejamkan kedua matanya. Siena tahu, jika Kaili sangat kelelahan.
"Namaku Siena, siapa namamu?" tanya Siena sebelum pria tersebut bertanya padanya, sembari menyodorkan telapak tangannya di hadapan pria tersebut.
Apa tanganku kotor, ya? Kok tidak mau salaman, aish! Ini orang. Batin Siena.
Siena pun menarik kembali tangannya. "Oh, eumm ... kenapa kamu semalam memanggil Ibumu terus? Memangnya ada apa dengan Ibumu?" tanya Siena kepada pria tersebut. Tapi, belum juga ada jawaban dari pria aneh itu.
"Ibuku meninggal, karena dibunuh oleh seseorang, dan aku berniat untuk membalaskan dendam." Siena melihat pria tersebut mengepal tangannya dengan sangat erat, Siena tahu rasanya kehilangan seorang Ibu, Siena tahu itu.
Siena menundukkan kepalanya, sejujurnya ia sangat merindukan ibunya, Siena tidak tahu, kenapa ayahnya tega menceraikan ibunya saat sakit—hingga akhirnya ibunya meninggal, bukan hanya itu saja, ayahnya juga selalu menyakiti ibunya. Karena itulah, Siena ragu untuk mencintai seseorang.
Apa aku salah berbicara? Batin pria yang tengah menatap Siena.
"Apa dengan cara membalaskan dendam, kamu akan puas? Dan dengan kepuasanmu, apakah Ibumu akan kembali kepadamu?" ucap Siena kepada pria tersebut.
Ternyata masih ada yang peduli denganku, Batin pria tersebut, yang terus menatap wajah manis milik Siena.
"Istirahatlah, aku akan segera melanjutkan perjalananku, ini ada beberapa keping emas, kamu bisa gunakan untuk membeli makanan dan beberapa pakaian." Siena pun beranjak dari tempat duduknya.
"Kaili bangun, ayo kita lanjutkan perjalanan,"ucap Siena, berusaha membangunkan Kaili dari mimpinya itu, dan untungnya, Kaili bangun juga.
Tbc