
3 hari kemudian ....
Setelah semua masalah terselesaikan, Siena memenuhi janjinya untuk merawat kedua adik pelayan tersebut. Sebelumnya, Siena menjelaskan kepada adik–kakak itu. Jika, kakak mereka sudah tiada, mereka sempat tidak percaya apa yang dialami oleh kakak mereka. Tapi, syukurlah ... mereka berdua, lambat laun menerima apa yang sudah terjadi.
Dan saat ini mereka berdua tinggal bersama dengan Siena dan lainnya, kini keluarga Siena bertambah. Ia berharap, semoga yang dirinya lakukan bisa membuat mereka bahagia, dan Siena tidak tahu apakah, ia akan kembali ke masa depan, atau menetap di sini untuk selamanya. Sampai saat ini, ia juga tidak tahu apa tujuannya kemari.
"Kak Siena, coba lihat! Aku membuatkanmu kalung," ucap Ning'an dengan antusias memberikan kalung kepada Siena.
"Wah! Ini bagus sekali." Siena mengambil kalung tersebut dan memakainya, Ning'an tampak terlihat sangat senang, melihat kakak angkatnya, mengenakan kalung buatannya itu. "Terimakasih Ning'an."
"Sama-sama Kak Siena," balas Ning'an, sembari memeluk Siena.
"Oh iya Ning'an, Kakakmu di mana?" tanya Siena.
"Kakak Junqing, sedang belajar bersama Kakak Kaili." Siena mengangguk, adik–kakak ini ... sangat mandiri.
"Kak Siena!" Ning'an melepaskan pelukannya dari Siena.
Siena menoleh ke belakang, melihat seseorang yang memanggilnya itu. "Iya Chio, ada apa?" tanya Siena.
"Ada Yang Mulia Pangeran," ucapnya, membuat Siena mengerutkan keningnya.
Pangeran yang Chio sebutkan tadi, kini berada di belakang bocah itu. Sementara Siena, menatap heran kepada Pangeran tersebut. Di sana, ia menyuruh Ning'an untuk pergi bermain dengan Chio, akhirnya mereka berdua pergi bermain. Kini, hanya menyisakan dua makhluk yang saling menatap satu sama lain.
"Ada keperluan apa, Pangeran Fengying kemari?" tanya Siena.
Pangeran Fengying berjalan mendekati Siena, dan duduk bersampingan dengannya.
"Aku ingin, kamu menjadi Permaisuriku." mendengar ucapan Pangeran Fengying, Siena menoleh ke arah Pangeran tersebut, sembari menatapnya dengan tatapan hangat, dan tersenyum kepadanya.
"Pangeran Fengying, aku tidak bisa ... selir Luili sangat menyayangimu, walaupun dirinya memperbolehkanmu untuk menikahiku. Tapi, aku bisa merasakan apa yang dirinya rasakan." Pangeran Fengying terkejut mendengar penuturan Siena, bagaimana dirinya bisa mengetahui pembicaraannya dengan selir Luili.
"Bagaimana, kamu bisa mengetahuinya."
"Saat aku di Istana waktu itu, aku sempat bertemu dengan selir Luili, dan berbincang sebentar dengannya."
"Apa kamu benar-benar tidak bisa menerimaku ...," lirih Pangeran Fengying.
Siena tersenyum, sembari menyentuh punggung tangan Pangeran Fengying. "Selir Luili, adalah wanita yang sangat sayang padamu Pangeran Fengying, dirinya selalu menutupi rasa sakitnya itu, dengan cara tersenyum padamu. Seakan, ia baik-baik saja, jaga dirinya Pangeran Fengying. Jangan sampai kamu menyakitinya, aku akan selalu ada untukmu. Tapi, tidak harus menjadikanku sebagai Permaisurimu, kapanpun kamu membutuhkanku, kamu bisa menemuiku," jelas Siena, dan melepaskan tangannya dari tangan Pangeran Fengying.
Sementara Pangeran Fengying, dirinya menatap Siena dengan tatapan sendu, dengan diikuti senyum getirnya. Wanita yang ia cinta, ternyata menolaknya, dirinya juga tidak bisa memaksa Siena untuk menjadi Permaisurinya.
"Terimakasih Siena, aku harus segera kembali ke Istana." Pangeran Fengying bangkit dari duduknya, dengan raut wajah sendunya itu.
"Maafkan aku." mendengar ucapan Siena. Pangeran Fengying berbalik dan mendekatinya, sembari menyentuh pucuk kepalanya.
"Kamu tidak bersalah Siena, aku lah yang terlalu bertekad untuk menikahimu." Siena tersenyum, dan Pangeran Fengying perlahan pergi dari pandangannya.
Siena kembali duduk di taman belakang rumahnya, dirinya termenung akan kehadirannya di masa lampau ini.
Tatapannya yang kosong tertuju pada daun yang terjatuh, tanpa ia sadari. Daun itu, perlahan berkumpul dan berterbangan.
Saat Siena sadar dari lamunannya, daun yang tadinya berterbangan, kini kembali terjatuh seperti semula. Siena bangkit dari duduknya, dan pergi ke kamarnya untuk mengambil biolanya. Ia ingin menghilangkan kegelisahannya, dengan memainkan biola––ia bisa melupakan sedikit beban pikirannya itu.
Siena pun kembali ke taman, dan mulai menggesekkan senarnya itu. Dirinya memainkan musik buatannya sendiri, Siena memejamkan kedua matanya, dan menikmati setiap nada yang keluar dari biolanya. Saat dirinya perlahan membuka kedua matanya, Siena dibuat terkejut dengan dedaunan yang menglilinginya, dan di saat itu juga, daun tersebut kembali terjatuh seperti semula.
"Apa yang baru saja terjadi?" gumamnya pada diri sendiri.
Dirinya meletakkan biolanya di atas bebatuan, dan Siena berlutut––mengamati kolam yang ada di hadapannya itu, air yang ia amati, perlahan membentuk gumpalan air kecil yang berterbangan ke atas, gumpalan itu semakin lama semakin membesar.
"Ini ... ini telekinesis, sejak kapan aku memilikinya, apa Ibu dulu memiliki kekuatan ini," gumamnya. "Atau, ini karna aku masuk ke dalam kolam di Istana, waktu itu."
"Kak Siena!"
BYUR!
Siena terkejut dirinya dipanggil oleh seseorang, hingga membuat gumpalan air itu, jatuh kembali ke kolam.
"Kak ... itu tadi apa?" tanya Chio pemasaran.
Siena bingung harus menjawab apa. "Eumm ... itu tadi ... air jatuh dari atas pohon," bohong Siena. Sementara Chio, ia hanya ber-oh-ria.
"Kak, Kakak diajak sama Kak Falresia jalan-jalan."
"Chio ... ajak Kakak Ning'an, dan Kakak Junqing juga, ya?" suruh Siena pada Chio.
"Baiklah Kakak Siena, aku akan mengajak mereka juga."
Chio pun pergi, sementara Siena mengambil biolanya, untuk dibawa masuk ke dalam. Setelah itu dirinya menemui Falresia dan yang lainnya.
"Kakak Siena, lihat! Ada bakpao yang berbentuk lucu," ucap Chio, sembari menunjuk ke arah pedagang bakpao itu.
"Chio mau? Ning'an, sama Junqing mau juga?" tawar Siena.
Mereka bertiga mengangguk, di sana Siena menyuruh mereka untuk membeli bakpao tersebut. Sementara Falresia dan Siena, tampak terlihat sangat bahagia, melihat mereka bertiga sangat akrab.
"Aku juga mau bakpao itu," bisik seseorang di telinga Siena.
Siena terkejut, dan langsung melihat siapa yang membisikinya itu. Dan ternyata, Pangeran Yu Ting.
"Kamu mau? Ambilah, tapi bayar sendiri," ucap Siena, membuat Pangeran Yu Ting cemberut mendengarnya.
"Dasar pelit."
"Kamu ini Pangeran, masa tidak memiliki uang sedikitpun."
"Kamu merendahkanku, jangankan bakpao, dirimu juga ... bahkan, bisa aku beli." Siena menatap tajam ke arah Pangeran Yu Ting, dan yang ditatap, nyalinya langsung menciut seketika.
"Mau kupatahkan lehermu, Pangeran Yu Ting? Atau mau kupotong-potong tubuhmu itu," tawar Siena, membuat Pangeran tersebut bergidik ngeri mendengarnya.
Falresia yang sejak tadi memperhatikan dua makhluk itu, hanya bisa terkekeh, "hihihi, kalian berdua ini ... selalu bertingkah aneh," celetuk Falresia.
"Dia yang aneh Kak, makhluk seperti dia ini, pasti datang dari planet Pluto," ceplos Siena, yang berhasil membuat keduanya bingung.
"Planet Pluto? Apa itu," tanya keduanya secara bersamaan.
"Planet Pluto adalah ...," ucapan Siena terhenti.
Gimana ya? Jelasin ke mereka, mana orang jaman dulu, belum terlalu paham dengan luar angkasa, pikir Siena.
"Apa?" tanya mereka lagi.
"Eumm ... Planet Pluto itu, intinya ... di mana Pangeran Yu Ting itu berasal," jawab Siena dengan asal.
Hehehe, baru kali ini aku mengerjai seorang Pangeran, pikir Siena.
"Aku tidak berasal dari sana," protes Pangeran Yu Ting.
"Sudahlah, lain kali ... akan aku jelaskan."
Tbc