
Para putri dan selir, sudah kembali ke Istana dengan membawa hasil buruannya. Siena juga membawa hasil buruannya, mereka semua diperintahkan oleh Kaisar untuk segera berkumpul,mengingat hari menjelang petang.
Banyak dari mereka memburu burung, kijang, kelinci, dan tupai. Bagi Siena, buruan mereka biasa-biasa saja.
"Nona Siena, di mana hasil buruanmu," tanya sang Ratu kepada Siena.
Dengan senang hati, Siena langsung menunjukkan hasil buruannya itu kepada Kaisar, dan Ratu. Alhasil, Siena mendapatkan ejekan dari para putri dan selir.
Kenapa wanita itu masih hidup, batin Tianlan Ru geram.
"Hanya ikan, yang benar saja."
"Wanita tidak berguna."
Setiap ejekan Siena terima, sebenarnya ia mendapatkan seekor burung elang yang berukuran cukup besar, hanya saja ... dirinya tidak tega membunuh burung tersebut. Jadi, ia memutuskan untuk mengambil ikan yang ada di sungai.
Di sana, ibu Pangeran Jung tampak terlihat memperhatikan Siena, ia merasa jika wanita tersebut, bisa ia manfaatkan.
"Kenapa kau membawa ikan, apa tidak ada hewan lain untuk diburu?" tanya sang Ratu kepada Siena.
"Sebenarnya ada, tapi saya lebih suka menangkap ikan," jawab Siena dengan santai.
Anak ini tidak memandang lawan bicaranya, batin Ratu tersebut.
Karna hasil buruan sudah terkumpul, kini Kaisar dan Ratu memilih peserta yang pantas mendapatkan hadiah. Para selir dan putri, mereka semua mengharapkan hadia itu. Kecuali Siena, ia sama sekali tidak berharap dirinya untuk menang, baginya ini hanyalah sebuah permainan yang tidak ada gunanya.
Diantara buruan mereka, terlihat ada satu buruan yang berukuran cukup besar, milik putri Chuming, Siena rasa. Putri Chuming lah, yang akan memenangkan buruan ini
Dan benar saja, yang memenangkan perburuan ini adalah putri Chuming, lantaran dirinya berhasil memburu seekor kijang yang berukuran besar.
Putri tersebut sangat senang dan bangga dengan hasil buruannya, sang Ratu memberikannya hadiah, berupa gelang giok yang terlihat begitu mahal dan langka.
"Lebih baik aku kembali, dan memasak ikan ini, untuk dinikmati bersama Jia Li, dan juga Max," gumam Siena, ia pun melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.
Sesampainya di kediaman, Siena meminta kepada Jia Li untuk memasak ikan hasil tangkapannya itu, sebentar lagi menjelang malam. Dirinya harus memikirkan rencana B, Siena berharap, rencananya kali ini akan berjalan dengan lancar.
"Psst, Kak Siena!" panggil Max, membuat Siena sedikit terkejut.
"Bisa tidak, membuat suara langkah kaki," protes Siena kesal, sementara Max hanya memamerkan sederet gigi putihnya.
"Sorry."
Max yang melihat Siena menggambar, ikut memperhatikan apa yang sedang dilakukan kakaknya itu, dan gambaran yang dibuat oleh Siena, membuat Max langsung paham maksud dari kakaknya itu.
"Max, besok menjelang petang, pergilah ke Hutan, bersama dengan Jia Li, dan menyamarlah agar kamu tidak diketahui oleh penjaga Istana."
"Bagaimana denganmu."
"Jangan khawatirkan aku Max."
Di sana Siena menjelaskan kepada Max, jika dirinya akan mengalihkan para penghuni Istana, dengan cara memainkan biola miliknya itu, sehingga banyak orang yang berkumpul untuk melihat dirinya.
Dan setelah mengalihkan para penghuni Istana, Siena akan menyamar sebagai prajurit, dan kabur dari Istana. Dan Siena juga meminta kepada Max, untuk meninggalkan jejak di dalam hutan, dan menunggunya di sana.
"Nona, ikannya sudah matang," ucap Jia Li memberitahukan kepada Siena.
Max yang mendengar suara Jia Li, langsung menoleh ke sumber suara, dan itu membuat Jia Li sedikit gugup berada di dekat Max.
"Jia Li, duduklah di sampingku," perintah Siena.
"Ta-tapi Nona ...."
"Duduk," perintahnya lagi, akhirnya Jia Li duduk di sampingnya. "Makanlah," ucap Siena, sembari menyodorkan nasi dan ikan, di hadapannya.
"Jia Li, apa Ratu adalah Ibu dari Pangeran pertama?" tanya Siena.
"Iya, semenjak Pangeran pertama dikurung di Istana dingin, sifat Yang Mulia Ratu agak sedikit berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
"Yang Mulia Ratu bersikap sedikit dingin, tidak seperti dulu yang memiliki sikap yang begitu hangat."
Dapat disimpulkan, jika sang Ratu adalah ibu dari Pangeran pertama, dengan begitu Siena dengan mudah menjalankan rencananya.
"Kak, kamu merencanakan apalagi?" tanya Max tiba-tiba.
"Eh ..? Itu, ada deh ...."
Itu anak bisa baca pikiranku? Batin Siena.
...***...
Di Kerajaan Harumsy ....
Pangeran Yu Ting selalu datang ke rumah Falresia, dan selalu menanyakan kepulangan Siena. Sudah 4 hari Siena tidak kunjung kembali ke rumah, membuat Falresia khawatir dengan keadaan adiknya itu.
"Adik Siena belum kembali Yang Mulia, saya tidak tahu kapan dia akan kembali," ucap Falresia kepada Pangeran Yu Ting.
Sementara Pangeran Yu Ting hanya bisa menghela nafasnya, "baiklah, kabari aku jika dia sudah kembali."
"Baik Yang Mulia." Pangeran Yu Ting pun kembali ke Istana.
Selepas peninggalan Pangeran Yu Ting, Falresia tampak mencurigai Kaili, lantaran Siena tidak biasanya meninggalkan mereka begitu saja, dan biasanya Kaili selalu ikut bersamanya. Falresia pun pergi menemui Kaili, ia ingin meminta penjelasan yang sebenarnya kepada Kaili.
Di sana Falresia, melihat Kaili sedang sibuk mengurusi dokumen yang ada di atas meja. Melihat kedatangan Falresia kemari, membuat Kaili merasakan ada sesuatu yang ingin ditanyakan kepadanya.
Aku harap, Nona Falresia, tidak menanyakan tentang Nona Siena, batin Kaili.
Falresia duduk tepat di hadapan Kaili, tatapannya yang intens, membuat Kaili tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kaili, ceritakan kepadaku, apa yang sebenarnya terjadi kepada Adik Siena," tegas Falresia.
Sudah 4 hari ini, Nona Siena tak kunjung kembali, apa aku harus memberitahukan yang sebenarnya, pikir Kaili, dirinya saat ini dilanda kebingungan.
Ia sudah berjanji kepada Nonanya untuk tidak menceritakan yang sesungguhnya, kepada Falresia dan lainnya, di sisi lain juga Kaili merasa khawatir akan keselamatan Nonanya itu.
"Sebenarnya ... Nona Siena diculik oleh 3 orang, yang sama sekali tidak aku kenal." Mendengar penjelasan tersebut, membuat Falresia terkejut dan khawatir dengan keadaan adiknya itu.
Tapi di sana, Kaili meminta Falresia untuk tidak menceritakan hal ini kepada Pangeran Yu Ting, dan juga Pangeran Fengying, cukup dirinya dan Falresia saja yang tahu.
"Kenapa kamu sembunyikan ini, Kaili?"
"Nona Siena, melarangku untuk memberitahukan kepada kalian, tentang apa yang sebenarnya terjadi."
"Aku takut terjadi sesuatu pada dirinya."
"Tenanglah Nona, aku yakin! Nona Siena pasti baik-baik saja."
"Bagaimana aku bisa tenang! Dirinya diculik dan kamu tidak tahu, di mana keberadaan-Nya sekarang," ucap Falresia frustasi.
Sementara Kaili hanya bisa menghela nafas, dirinya tidak tahu keberadaan Nonanya itu. "Percayalah Nona, Nona Siena adalah wanita yang cerdas, dia tidak mungkin sebodoh itu, untuk ikut dengan seseorang yang tidak dia kenal."
Apa yang diucapkan oleh Kaili, membuat Falresia mengangguk lemah, walaupun ia percaya jika Siena adalah wanita yang cerdas. Namun, rasa khawatirnya tidak bisa dipendam, karna dirinya masih mengingat kejadian, saat Siena terkena racun di Istana. Dan itu membuat Falresia, takut kehilangan seseorang yang telah menolongnya hingga saat ini.
Tbc